Dr. Rumadi dan Abd Moqsith Ghazali: Gus Dur Adalah Jendela, Garansi, Lokomotif
Oleh Redaksi
Buku Gus Dur terbaru, Islamku, Islam Anda, Islam Kita, yang pekan lalu diluncurkan (21/8), merekam konsistensi garis besar pemikiran dan sikap Gus Dur dalam soal-soal keagamaan dan kebangsaan. Gus Dur tetap kokoh di jalur keislaman, kebangsaan, dan kemanusiaan. Itulah setidaknya kesaksian dua intelektual muda NU, Dr. Rumadi dan Abd. Moqsith Ghazali kepada Jaringan Islam Liberal (JIL), Kamis (21/9) lalu.
Komentar
... Gus Dur adalah salah satu putra terbaik bangsa ini yang kita miliki, pemikirannya, pembelaannya dan nasionalismenya menjadikan kita banyak belajar menjadi manusia Indonesia yg sesungguhnya. Saya mengagumi sekaligus saya kuatir terhadap Indonesiaku jika nanti Gus Dur tiada. Siapa lagi penerus dan pelindung dan pembaharu cara berfikir umat Islam Indonesia, yang saya lihat orang-orang terbaik pemikir2 Islam sudah pergi mendahului kita, setelah kepergian Cak Nur dan hanya segelintir pemimpin yang kualitasnya baik yang ada di negri ini. Sialnya srigala-srigala diluar sana sudah terlalu banyak menunggu dan segera menerkam Indonesia ... sungguh saya hanya kuatir…
Apa yang dikabarkan Gus Dur lewat buku itu cukup bagus, bahwa islam memang identik dengan perbedaan. jadi kalau ada orang islam lalu tidak mengakui perbedaan, perlu ditanya atau di kontruksi kembali keislaman orang itu (apa sih kitab sucinya, atau al-qur’an yang mana sih yang ia pakai?). Namun demikian yang perlu dicermati adalah bagaimana menampilkan sebuah perbedaan di tengah-tengah masyarakat islam indonesia yang sudah kadong terlanjur taklid buta mengekor kepada hal-hal yang justru mengkerdilkan nilai orang itu sendiri (bukan islamnya yang kerdil). Saya kadang berfikir, islam itu harus maju dan memulai mencari jati dirinya yang sesungguhnya, meski pasti penilaian saya itu berbenturan dengan kredo umum tentang islam yang sudah muncul di masyarakat awam. Gus Dur memiliki keberanian itu dan patut kita dukung, kalau perlu, anak-anak muda Nu perlu diberi lahan karena saya yakin, anak-anak muda NU memiliki otak yang genius juga dalam rangka membumikan islam di tanah air. terima kasih, wassalam.
Saya teringat ketika saya membaca wawacara Gus Dur bertahun-tahun lalu tentang mengapa seorang kyai malah punya hobi mendengar musik klasik terutama Beethoven. Gus Dur hanya menjawab, musik klasik itu membawakan misi cinta dan perdamaian, apakah itu bukan ajaran Islam? katanya balik bertanya. Memang bayak kyai di pesantren NU yang tidak membatasi khazanah musiknya dengan irama gambus, namun dengan beragam musik kontemporer yang kadang sering diharamkan oleh sebagian orang. Peristiwa lain yang tidak saya lupakan pada saat Gus Dur sengaja datang kesuatu daerah di Jawa Tengah untuk menjadi melakukan pembelaan dalam pengadilan kasus gugatan sepasang suami istri Kong Hu Cu yang tidak bisa melakukan pernikahan di catatan sipil karena agamanya tidak diakui Negara. Tentu masih banyak kiprahnya yang mengkuhkan pandangannya sebagai seorang pluralis dan menjunjung tinggi paham kebangsaan. Tidak pelak lagi bahwa NU dengan Gus Dur berperan dalam membawa wajah Islam di Indonesia yang lebih membumi dengan tradisi lokal. Boleh saja banyak orang mencaci maki dan menghujatnya, tapi inilah orang yang sangat dihormati oleh para pimpinan berbagai agama di dunia termasuk Dalai Lama. Bila terjadi ketegangan antar agama, Gus Dur lah yang selalu menjadi tumpuan kalangan minoritas untuk menjadi penengah. Mereka percaya kepada Gus Dur karena wawasan kebangsaannya yang senantiasa memberikan tempat kepada setiap agama dan kepercayaan untuk berkembang tanpa diintervensi oleh negara dan kelompok manapun.
Buat Mas Gede: Kenapa kita tidak mulai dari kita sendiri? Tidak perlu terlalu khawatir kalau kita sendiri sudah mantap dengan apa yang kita yakini. Cak Nur sudah memberikan landasan teoretis. Gus Dur menunjukkan bagaimana berislam dalam kerangka keindonesiaan dijalankan. Masak kita masih ingin dibimbing lagi? Saya yakin kedua beliau itu akan bangga sekali jika setiap muslim di Indonesia tahu bagaimana harus bersikap sebagai ‘orang Indonesia yang muslim’. Tantangan akan selalu ada dan nanti kita sendiri yang harus menghadapinya, tidak perlu tameng Cak Nur atau Gus Dur lagi. Memang sulit dan butuh keberanian, tapi insya Allah, Tuhan Mahakuasa.
Bukan merupakan suatu keraguan lagi bahwa Gus Dur (GD) merupakan salah satu tokoh bangsa yg masih menjiwai kemajemukan bangsa ini. Banyak skrg tokoh yg terjebak dalam kotak2 sektarian dan golongan serta ekslusivisme keagamaan. Saya sangat mengkhawatirkan bilamana suatu saat GD tidak mampu lagi menyuarakan suara hatinya bagi bangsa ini, maka siapakah dari kalangan Islam yg masih bisa meyuarakan “Islam adalah rahmat bagi alam semesta” - bukan “bencana” bagi peradaban. Semoga Tuhan senantiasa memberi perlindungan bagi GD dan mereka yg mencintai kebenaran. Hari ini di koran “dagelan” Republika, Bp Juwono mengatakan bahwa kalangan radikal Islam telah mulai menyusupi partai2 politik persis seperti cara PKI jaman thn 1960. Saya telah puluhan kali menulis di website ini, bahwa sedang ada upaya2 gerilya politik kalangan fundamentalis utk mengambil alih negara ini menjadi sebuah negara teokratik. Boleh percaya boleh tidak, tp gerakan itu ada dan sedang berlangsung. Dan benar sekali, cara2 yg dilakukan pun seperti PKI. Boleh dibaca di Detik.com seperti pengakuan Jend Kivlan Zen yg menyatakan pertentangan2 ABRI “hijau” dan “merah putih” dan bagaimana ABRI2 santri bersama unsur2 radikal lainnya sudah “berahi” utk berkuasa. Mereka2 memang tentu saja berhak membantah, tp saya kira masyarakat tidaklah bodoh. Dan tentu saja dengan demikian kembali membenarkan sentilan2 GD dulu bahwa saat ICMI diresmikan, dia berkata di dalam Prakata buku “A Nation in Waiting” bahwa Soeharto telah melakukan kesalahan besar dgn melepaskan “singa buas” yg telah dapat dikurung. GD terus berkata bahwa NKRI tengah memasuki fase yg disebutnya sbg “point of no return”. Dan “singa buas” itu skrg sudah menyusup kemana2. Berhati2lah, mereka itu bisa saja saudara anda, relasi anda, tetangga anda, siapapun. “Singa” yg sedang berahi berkuasa - mengerikan sekali.
Sekali lagi saya membaca artikel ini, saya selalu ingin memberikan komentar mengenai artikel tentang Gus Dur dan NU. Bahwa Gus Dur adalah orang yang bisa dan sangat menghargai perbedaan, Gus Dur itu pluralist. Gus Dur selalu menjadi tumpuan dan harapan para minoritas yang merasa tertindas, baik melalui hukum yang diskriminatif maupun para golongan radikal yang bertindak semaunya!!! Ketika RUU APP diluncurkan, Gus Dur adalah salah satu yang menolak termasuk juga propinsi Bali, Papua, Sulut, NTT, dan Maluku. Kenapa propinsi2 itu menolak? Karena produk hukumnya ingin menyeragamkan, tidak menghargai pluralitas. Ah… andai saja semua orang muslim (terutama yang radikal) memiliki pemikiran seperti Gus Dur… Indonesia pasti akan damai!!!!
antik, stratejik, kadang yang benar selalu disalahin dan yang salah mang harus disalahin. jika memang gusdur orang yang berpengaruh maka seharusnyalah beliau yang jadi heronya indonesia. aku setuju bnget. love gus dur.
aksentris dan nyeleneh, itu mungkin hanya sekedar awalan ketika kita melihat seorang sosok gus dur sebagai putra bangsawan NU. Namun ketika kita mengikuti pemikiran gus dur maka kita akan begitu mengharapkan beribu-ribu seorang gus dur agar tidak ada lagi kesenjangan antara kaum yang merasa minoritas dan mayoritas. insya ALLAH Indonesia aman….......
satu hal yang dikatakan gus dur dalam satu kesempatan - insya alloh saya tidak akan pernah lupa - adalah tentang kebodohan kita sebagai umat (indonesia) yang bodoh dan belum banyak belajar.
mari kita teruskan belajar - tentang apa saja - dengan hati terbuka .. kita tularkan kemauan belajar bagi orang orang di sekitar kita
insya alloh, ribuan gus dur baru yang diharapkan muncul akan menjadi kenyataan .. mari kita doakan semoga yang kuasa memberikan umur panjang bagi gus dur .. indonesia masih memerlukannya.
Ass. para pembaca and para penanggap mengenai kontroversi mengenai Gusdur , saya berpikir kita wahai umat gajah sadar dan sadarlah wahai Gajah…... kita sebagai umat yang mayoritas Muslim kalau bukan kita siapa lagi yang mendukung umat-umat lain yang pengen merasakan kedamaian, saya sebagai masyarakat yang suka akan kedamaian, saya Orang Asal maluku yang tidak setuju dengan prinsip sebagian orang Muslim sendiri seperti banyak para Kyai yang beegitu paham tentang agama tetapi malah mereka yang lebih rusak moralnya, Ketika semua aktifis dan ulama serta pemuka agama dll… Kegiatan pornografi dan pornoaksi harus ditiadakan…. tapi mereka tidak pernah sadar bahwa yang terjadi di indonesia dari dulu hingga sekarang ini, Misalnya tempat Pelacuran dan Sex Bebas yang terjadi sekarang bahkan dari yang memproduksi hal inikan asalnya dari Djawa…ithu thidak lhain…..kamu Jawa aja yang banyak keliuran ditempat pelacuran tapi kenapa mereka ngotot sekali dengan APP, urus dulu tempat pelacuran dulu baru APP….....
Gus Dur itu orang bikin repot kok malah dipuja - puja, aneh! Gitu aja kok repot!
Gus Dur memang bikin repot, maksudnya bagi yang nggak cukup paham dan kurang ilmu.
Saya salut kpd Gus Dur, alur pemikirannya sulit ditebak dan kontroversial. Suatu saat nanti aku akan menjadi orang yang seperti dia. Hidup gusdur. Aku tunggu karyamu berikutnya. Saya paling senang dengan bukunya apalagi yang judulnya tuhan tak perlu dibela.
——-
Pada awalnya yang membuat saya kagum dengan Gus Dur adalah ketulusan dan keberaniannya dalam memperjuangkan hak-hak rakyat Indonesia. Gus Dur tahu rakyat Indonesia tidak kaku. Beliau tidak sok jaga image, sementara banyak sekali tokoh-tokoh lain yang “sok suci”.
GUS DUR MEMANG MANUSIA LANGKA. HIDUP GUS DUR !!!
dimana suara Gusdur ketika pecah perang sara diambon awal tahun 2000an yang banyak sekali memakan korban terutama dari kaum muslimin sepertinya tidak ada tindakan nyata dari pemerintah saat itu yang sedang dipimpin gusdur
Komentar Masuk (16)
(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)