Gus Dur dan Media Islam
Oleh Alamsyah M. Dja’far
Sebagai orang yang “dibesarkan” media, kebebasan pers bagi mantan aktivis Prodem ini setarikan nafas dengan perjuangannya menegakkan demokrasi. Tak ada demokrasi tanpa kebebasan media, betapapun lemahnya kualitas media yang ada. Dalam tradisi ushul fikih (teori hukum Islam) dikenal kaidah, li al-wasail hukm al-maqashid (hukum perantara mengikuti hukum tujuan). Jika demokrasi sebuah kewajiban, maka penciptaan media yang bebas juga sebuah keharusan.
Komentar
Kalau dengan kelompok islam garis keras dan fundamental memandang Gusdur tidak pernah bener, yang ada menghujat, mencela, menghina bila perlu memfitnah pun halal., karena mereka meyakini kalau Gusdur adalah kafir tulen. jadi turun ke media masa nya juga begitu, mereka selalu muring muring dengan Gusdur, merasa paling islam..., merasa paling masuk surga…
jadi gak usah heran karena sudah di takdirkan untuk selalu marah marah dengan Gusdur..
pertarungan antara Gus Dur dengan media Islam sebetulnya hanyalah merupakan pertarungan atas numerik produk yang bernama Islam. sebagaimana yang kita ketahui bersama, Gus Dur memasarkan produk Islam sebagai bentuk ajaran rahmatan lil alamin, dimana dalam keislaman terdapat kebahagiaan, ketentraman, persamaan, dan kemerdekaan bagi semua makhluk yang diciptakan oleh Allah. Gus Dur meletakkan proporsi Islam sebagai hasil dari wahyu dari Allah pada Muhammad dalam wujud Allah yang maha Kuasa, Allah yang Maha Pemurah dan Allah yang maha menciptakan semuanya. Produk Islam ala Gus Dur ini mendapatkan tempat yang cukup luas bagi semua kalangan secara universal, mulai dari orang yang paling baik, seperti para ulama dan cendekiawan karena menunjukkan kekuatan logisnya, sampai pada golongan yang dianggab hina, seperti para orang kafir dan bahkan ateis.
Di sisi lain, penerimaan customer terhadap Islam ala Gus Dur ini, menyebabkan keirian dari produsen Islam ala lainnya sebagaimana yang ditampilkan oleh para media yang menyatakan dirinya Islam. Definisi produk “Islam” ala media islam ini cenderung terbatas, karena ketidakmampuan menembus batas-batas pasar yang dibuat kotak-kotaknya sendiri oleh mereka. Produk “Islam” yang mereka buat hanya laku dijual pada kalangan terbatas umat Islam tertentu saja, sehingga satu-satunya langkah yang cukup masuk akal untuk diambil adalah peningkatan intensitas definisi produk “Islam” yang ditawarkan.
Definisi produk “Islam” yang mereka buat ini semakin terpinggirkan oleh ide-ide besar Gus Dur. ketimpangan inilah yang menjadikan mereka secara psikologis menjadi sensitif, ibarat kondisi ekonomi makro yang lagi krisis. Setiap apa yang dibuat oleh pesaing maka akan diidentikasi sebagai suatu kondisi ancaman secara berlebihan, karena sudah berkaitan dengan keberlangsungan hidup mereka.
Pada titik yang ekstrim, mereka justru berusaha menggusur Gus Dur untuk tidak dikenali sebagai penghasil produk yang bernama “Islam”. Dengan segala reproduksi ide pendukung yang mereka sampaikan Gus Dur berusaha dipaksa untuk tidak lagi Islam dengan berbagai nama produk yang mereka paksakan seperti misalnya “kafir, agen yahudi” dan beberapa sebutan yang lain.
untung saja semua langkah pertarungan pasar itu tidak mampu menggusur Gus Dur. Gus Dur sendiri merupakan representasi dari Pesantren dan NU, sehingga ketika mengkafirkan Gus Dur maka mereka berarti juga akan berhadapan dengan produk pesantren dan NU. Siapa yang percaya? kalau mereka berusaha memakai senjata fundamentalisme, maka pesantren dan NU sudah lebih dulu fundamentalis sebagaimana yang terliat dari peristiwa 10 november 1945 dan pasca 30 september 1965.
Sebagai umat Islam, apapun pandangan hidup kita : liberal, tradisional, fundamentalis, dsb seharusnya memperjuangkan kejayaan Islam, baik di Indonesia / seluruh dunia. Tapi dari pandangan saya, Gus Dur memperjuangkan ( atau setidaknya membiarkan ) kebebasan beragama tanpa batas. Juga tampak selalu tidak senang dengan tokoh2 Islam lain, apalagi dengan MUI. Semoga amal ibadahnya diteima Tuhan YME .
Aswrwb, Saya tidak komentar soal Gus Dur-nya, harus diakui beliau makhluk langka, selangka Gus Mus, kalau ingin tahu mendalam tentang kiprah mereka, baca dulu yang banyak karya mereka, baru komentar. Yang saya mau komentari adalah “media islamnya”. Awal tahun 90an saya ikut membeli selembar saham media islam nasional, seharga 10 ribu rupiah, dengan harapan setidaknya saya ikut bartisipasi berdirinya media islam yang memberi pencerahan dan pembabasan sesuai nilai- nilai universal islam, keadilan, kesetaraan dan kasih sayang. Tapi apa jadinya sekarang ?, media tersebut sangat partisan dan tidak obyektif dalam memandang dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara indonesia yang multi agama dan kultur ini. Media tersebut sangat pro partai islam yang orientasinya sangat pro untuk meraih kekuasaan dengan segala cara, persis seperti yang dilakukan preman-preman berjubah. Contoh: terlepas suka atau tidak terhadap Megawati, masa dalam polling calon presiden pilihan masyarakat yang dilakukan media tersebut dalam Pilpres kemarin, nama Megawati tidak muncul sebagai salah satu calon presiden ?. Saya bukan pendukung Megawati, tapi lha ya kok lucu dan norak jadinya. Media tersebut adalah REPUBLIKA. Wasswrwb
Saya pikir kematian Gus Dur salah satu kematian Pluralisme yang meletakkan semua agama pada posisi yang sama benar. Padahal kalau kita bicara asal-usul sejarah kenabian hanya satu agama yaitu Agama Islam. Islama adalah agama yang dianut oleh Nabi Adama AS sampai Nabi Muhammad SAW. Jadi agama-agama di luar Islam kalau dilihat dari konteks kebenaran secara hakiki menurut sejarah tidak ada. Hanya ada satu agama yaitu agama Islam. Agama-agama di luar Islam hanyalah agama buatan tangan manusia yang munculnyapun jauh dari munculnya agama Islam. Jadi Pluralisme dalam arti menyamakan kebenaran Islam dan Agama-agama lain adalah sesat.
Kalau Pluralisme dalam arti menghormati dan menghargai kelompok atau “ agama “ di luar Islam adalah wajib sejauh mereka taat dan patuh pada hukum Islam. Hal ini merujuk pada sejarah Nabi Muhammad dan Para sahabat.
Karena itu bagi saya, pluaralisme yang meletakkan Agama Islama sama-sama benarnya dengan agama lain adalah sesat karena sama sekali jauh dari kebenarannya. Islam adalah agama yang diturunkan langsung oleh Allah SWT. Sedangkan yang lain adalah buatan tangan manusia.
Karena itu kematian Gur Dur adalah kematian salah satu pemikir yang berpengaruh yang membenarkan agama lain di luar agama Islam. Knapa pak Ustadz Abu Bakar B. Mengatakan Mr. Dur sesat karena Pak U ABB mengerti dengan baik dan benar isi Al-quran.
@Muhammad Daffa,
Saya sih setuju saja kalo islam diemban oleh para nabi sepanjang definisinya tidak dipersempit oleh jeruji2 formalistik. Bahkan tumbuhan dan binatang pun muslim bukan? Tafsiran saya bahkan lbh jauh lagi: bahwa kaum nasrani, yahudi, majusi, dll bisa jadi adalah muslim sepanjang mereka “berserah diri” kepada Allah.
Saya tdk berani mengatakan bahwa “yg lain” itu buatan manusia, karena Allah meminta kita untuk mengimani kitab-kitab lain bukan? Dan tidak semata-mata Ia memerintahkan demikian jika tidak ada kaum yg masih mengimani kitab2 tersebut. Tentu anda akan berkata bahwa kitab2 selain Al Quran itu sdh tdk berlaku. Silakan saja anda memiliki kebenaran itu, cuma jgn lupa ada berjuta-juta manusia yg memiliki kebenaran yg lain dan barangkali mereka takkan terlalu memusingkan kebenaran yg dimiliki anda itu.
Saya percaya Mr Baasyir rajin membaca Al Quran. Mudah2an beliau,& anda, bukan bagian dari orang2 yg tercantum dlm QS 6:108 dan 49:11-12. Semoga Allah memaafkan tuduhan anda & Mr Baasyir terhadap “kemurtadan” Gus dur.
Gus dur saya pandang sebagai yg menemukan kebenaran dalam beriman, karena buahnya jelas yaitu beliau bisa menghargai orang lain dalam arti luas dan tidah mengangkat diri menjadi hakim atas keimanan orang lain. Kebenaran yg sejati itu ibarat BIOS bagi sebuah komputer. Dia mengendalikan fungsi2 dasar dari perangkat keras. Sedang operating sistem sifatnya lebih diatas lagi. Jadi misal DOS atau Windows 3.1 dijalankan di dual core akan tampak aneh. Sekarang, islam mau dijadikan yg mana??
Kepada Saudara Muhammad Daffa
Tulisan anda sangat tendensiun sekali, harap anda ketahui bahwa kebenaran adalah relatif. Benar menurut anda belum tentu benar menurut orang lain. Mungkin sekali-kali anda hidup di eropa, jepang atau negara lain selain di Indonesia dan di arab. Pasti juga ada kebenaran2 lain. Apa yang anda harap benar, dan anda pertahankan mati-matian, tidak berarti buat mereka (yang tidak sepaham buat anda), jadi? mengapa anda mesti memaksakan kebeneran itu, padahal orang lain bisa mengklaim kebenaran lainnya. Toh kebenaran yg anda maksud, hanya diklaim oleh sedikit orang saja. Percayalah itu. Mungkin juga pemahamanan “kebenaran anda” itu karena miskin bacaan. yang anda tahu hanya arab doang. Mungkin juga anda perlu tinggal di negara-negara arab lainnya, bahwa disana ternyata lebih menghargai perbedaan. Apakah anda juga tahu kalau di negara-negara arab, paham keislaman selain yang anda anut juga bisa hidup berdampingan?
Gus Dur diapresiasikan untuk apa saja pasti cocok, sebagai pelindung bagi mereka yang tertindas, sebagai jendela dunia bagi mereka yang ingin melihat dunia, gudang ilmu bagi mereka yang ingin pintar, pencerah bagi mereka yang ingin tercerahkan, panutan bagi mereka yang merindukan seorang panutan bahkan Gus Dur bisa dijadikan musuh bagi mereka yang memang mencari musuh....
Kepada Saudara Muhammad Daffa,
Kalau saya hidup di jaman dahulu dan membuat agama, pasti dalam kitab suci akan saya buat agama saya yang paling benar dan langsung dari Yang Maha Kuasa.
Gampang saja menilai agama itu paling benar atau tidak. Apakah agama saya yang paling benar dan langsung “turun” dari Yang Maha Kuasa itu membuat umatnya benar ? dalam perilaku kehidupan.
Akan hanya ada teori teori saja tanpa adanya praktek dalam perilaku kehidupan.
Salam
Gini aja...kalo kalian ngrasa org islam.bka lagi Alqur`an.temukan ayat innaddiena `indallohilislam."Sesungguhnya Dien yg diridhoi di sisi Alloh adalah Islam”.Klo kalian menafikkan ayat itu,berarti kalian ga berpedoman kpd Alqur`an.Klo ga berpedoman kpd Alqur`an, kalian pasti bisa nilai sendiri
Semua hujatan dan tuduhan kepada Gus Dur telah terbantahkan dengan hadirnya puluhan ribu manusia dari berbagai agama, golongan dan belahan dunia pada pemakaman Gus Dur. Saya kira hal itu tidak mungkin terjadi pada para tokoh yang suka menghujat dan memfitnah Gus Dur ketika mereka mati besok..
lucu banget menggunakan kaidah fikhi yang tidak pada konteksnya.demokrasi bukanlah kewajiban melainkan keharaman.jadi,karna demokrasi bukanlah suatu keharusan maka kebebasan pers juga demikian.justru kebebasan perslah yang memicu keharaman terjadi dimana-dimana salah satu contoh gosip dan konco-konconya
Komentar Masuk (13)
(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)