Editorial
15/07/2008

Gus Dur di Mata Dunia

Oleh Saidiman

Posisi Gus Dur sebagai politisi dan pejuang HAM sekaligus adalah sesuatu yang memang langka. Dan kemampuannya melakukan pembedaan secara jernih mengenai posisinya itu adalah sesuatu yang mengagumkan. Perjuangannya untuk tetap membela hak-hak minoritas tak pernah surut kendati tampak tidak menguntungkan secara politik. Ketika kebanyakan politisi angkat tangan dan bungkam terhadap kasus minoritas Ahmadiyah, Gus Dur justru tampil di garda depan sebagai pembela hak-haknya. Bagi Gus Dur, adalah hak pengikut Ahmadiyah untuk hidup sebagaimana rakyat Indonesia pada umumnya. Jaminannya adalah Konstitusi.

15/07/2008 11:09 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (117)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 1 dari 6 halaman 1 2 3 >  Last »

Pertanyaan saya bagaimana tanggapan Gusdur terhadap perbuatan Israel
kepada bangsa Palestina hingga hari ini. Israel yang dianiaya bangsa
Eropa tapi merampas tanah Palestina dan sampai hari ini justru
Palestina jadi pecundang.

saya memahami sikap Gus Dur berbanding lurus dengan pilihan
perkawanannya. Siapa yang jadi kawannya hari ini ya itu pula model
perjuangannya sikapnya. termasuk sumber pendapatan materinya yang
memang mengharuskan dia bersikap dan berjuang dengan cara itu

#1. Dikirim oleh Irsad  pada  15/07   12:40 PM

Gus Dur memang salah satu ulama yang begitu dekat dengan semangat
keindonesiaan, tetapi dari segi keulamaannya yang selama ini dianggap
membelok oleh kalangan ulama salaf adalah salah satu indikasi bahwa gus
dur telah keluar dari jalur ulama salaf.

di Jawa Timur, misalnya. banyak kalangan ulama yang mengatakan gus
dur tidak konsisten dengan ilmu pesantren yang semasa mudanya ia
pelajari.

ala pesantren salaf gus dur telah tiada. ia sekarang adalah seorang politisi, cendekiawan barat dan tidak pro terhadap Islam.

#2. Dikirim oleh Makhsis  pada  15/07   01:22 PM

Bagaimana Hak2 kaum mayoritas yang dijajah minoritas??? Pembunuh itu
minoritas di Indonesia, tapi kan meraka juga disebut penjahat dan layak
dibumi hanguskan.....

#3. Dikirim oleh Usamah  pada  15/07   05:28 PM

Yesus ditolak dan dibunuh dengan keji oleh orang Yahudi, bangsanya
sendiri. Mahatma Gandhi dibunuh oleh orang India, seorang Hindu yang
fanatik. Jadi fenomena seperti ini tidak aneh, bahkan sangat wajar.

#4. Dikirim oleh denny tjahjanto  pada  15/07   09:49 PM

memang kalo kita ingin mengetahui pola pikir gusdur harus mengikuti
polo-pola pikir sebelumnya jadi apa yang mungkin dilontarkan ke publik
seharusnya dicerna dan dipahami secara mendalam

#5. Dikirim oleh slamet  pada  16/07   05:33 AM

Seandainya saja Gus Dur tetap dalam jalur perjuangannya yaitu
gerakan kultural, tidak terlibat dan terjebak dalam pusaran arus
politik praktis seperti halnya tokoh yang lain, maka tidak sulit bagi
awam domestik untuk tetap menempatkan Gus Dur sebagai pemikir, tokoh
perubahan dan pejuang kebebasan pembela minoritas di negeri ini.

Sayang baju “politisi” nampaknya terlalu sempit Bagi Gus Dur dan
telah “merendahkan” Gus Dur di mata awam. Apapun alasannya, ketika Gus
Dur juga larut dalam politik, bahkan sarat dengan konflik, maka sulit
bagi awam untuk tidak melihat Gus Dur sama dengan lainnya:
memperebutkan kekuasaan.

Padahal kekuasaan yang sesungguhnya adalah kemampuan untuk melakukan
perubahan. Dan itu ada pada Gus Dur dengan gerakan kulturalnya. Bukan
Gus Dur dengan gerakan politik praktisnya sekarang.

Namun, bagaimanapun kontribusi Gus Dur bagi negeri ini tidak akan
terbantahkan. Diakui atau tidak diakui, saya yakin Gus Dur tidak butuh
akan pengakuan.

#6. Dikirim oleh A. S. Kurnia  pada  16/07   06:44 AM

GD bagi sebagian orang adalah pembela hak kaum minoritas. Itu kita ketahui bersama.

Tapi ada beberapa hal yang dianggap orang kebanyakan justru perusak nilai-nilai demokratis.

GD yang berangkat dari seorang kyai (katanya sih...) tapi justru
menafikan kehadiran Ahmadiyah yang jelas2 menodai Islam secara
gamblang.

- Ahmadiyah memiliki kitab sendiri, Nabi sendiri tapi minta diakui
sebagai Islam. Dimana letak pembelaan GD yang notabene adalah seorang
‘Kyai’?

- Apakah akidah mengalahkan HAM?

- Apakah atas nama demokrasi menginjak2 harkat martabat Islam?

- Mengapa Ahmadiyah --yg jelas2 dimanapun mereka berada didunia ini
tidak diakui sebagai Islam-- justru dibela mati2an GD? Trs, dimana
letak ke’kyai’an GD?

Saya rasa GD TIDAK PANTAS DIKATAKAN KYAI!!!

Dan GD BUKAN KYAI!! GD adalah politikus! Politikus bussssuukk yang
haus akan kekuasanaan, yang ngotot pengin jadi presiden RI, yang ngotot
pimpin PKB (Partai Keluarga Besarnya).

JANGAN TERJEBAK KEBESARAN GD!

GD JADI BESAR KARENA KOMENTAR2NYA YANG NYLENEH!

GD memang dipandang besar oleh mereka yang diluarnegeri karena persamaan kepentingan, tapi…

didalam negeri sendiri saya rasa pengakuan itu perlu dipertanyakan.

GD jadi presiden karena ‘jasa Amien Rais-Poros Tengah’ bukan kehendak mayoritas.

Bagi mereka pembela GD pasti akan bilang “Orang awam/kebanyakan
belum mampu mengikuti pemikiran GD”. Saya hanya mengingatkan, GD adalah
manusia biasa yang tidak lebih dari kita. GD bukan wali!

Jangan terjebak dengan kultus individu.

**buat moderator, biar seimbang jangan diedit tulisan ini**

#7. Dikirim oleh Broer  pada  16/07   07:46 AM

begitulah cara negara2 kafir memecah belah islam di indonesia, yaitu
dengan memberikan penghargaan kepada tokoh yg jelas2 menjauhi islam..

sesungguhnya yang hak & bathil itu jelas..

#8. Dikirim oleh deny  pada  16/07   08:56 AM

Gusdur bukan ulama islam, tapi dia seperti orang Bugis mengataka
“Ula’wae = Cacing air”. Perkataan yg diucapkan kerap kali
membingungkan. bagaimana tidak demikian, dia hanya mngandalkan
pengikutnya yang tidak mengerti agama. laskar yg mengaku anti besi
segala macam. dalam agama hal itu bukan sesuatu yang terpuji, bahkan
bisa masuk hukum syirik.

#9. Dikirim oleh Abdul halim  pada  16/07   09:06 PM

Mmah Dur adalah salah satu orang yang tidak mengerti untuk apa ia
hidup,ia masih di beri kesempatan hidup harusnya bersyukur,bukan palah
membela la’natullaah ahmadiyah yang nyata2 sesat TITIk.

#10. Dikirim oleh din  pada  17/07   02:58 AM

Gus dur, saya hanya bisa berdo’a untuk kebaikan dan hidayah untuk kamu Anda.

Semoga Allah SWT senantiasa memberi jalan di jalan yang di ridhoinya
untuk bekal kehidupan akhiroh nanti yang kekal selama-lamanya.

Buat semua anggota JIL, mari menangis kala 1/3 malam terakhir
meminta petunjuk dari Allah SWT yang menghidupkan dan mematikan kita
semua makhluknya.

Amin ...

#11. Dikirim oleh Amin  pada  17/07   07:12 AM

Gur Dur adalah tokoh biasa seperti halnya manusia yang lain, tidak
ada keistimewaan yang ada pada dirinya. beliau adalah tokoh yang
membahayakan bagi keutuhan NKRI ini, lontaran-lontaran kata-katanya,
inkonsisten & sering menimbulkan kekacauan.

Gus Dur bukanlah teladan yang perlu dibela habis-habisan...... karena pemikirannya jelas2 menyesatkan

#12. Dikirim oleh mahdi  pada  17/07   07:22 AM

Bung Saidiman

Hebat nian anda tampil sebagai pengkultus GD. Adalah wajar orang
memperoleh pujian dan cacian atas kiprahnya, karena bagi orang
sekaliber Nabi Muhammad SAW pun demikian adanya. Yang perlu diingat,
barang kali, adalah alasan sebagai acuan bagi seseorang/ sekelompok
orang itu memuji atau mencaci. Dalam kasus GD, pastilah mereka yang
sepaham termasuk anda akan memuja-mujanya. Pertanyaannya, adakah
manfaat - dunia akhirat menurut patokan agama (Islam tentunya)- jika
anda atau mereka tampil sebagai pemuja GD.  Yang pasti, dari
setiap perilaku GD, pada tataran kini tak ada manfaat yang dirasakan
bagi umat Islam dalam arti seluas-luasnya. Justru mereka yang tak suka
Islam (kelompok minoritas menurut anda) yang akan memetik manfaat dari
tiap perilaku GD tsb. Tengok bagaimana sikap GD terhadap Palestina dan
Israel.  Kalau mau dilihat, Palestina itu adalah kaum minoritas di
tengah-tengah arogansi mayoritas Israel dan Amerika.  Tapi GD tak
tergerak untuk membela minoritas yang satu ini.  Akh dasar ...

#13. Dikirim oleh alar  pada  17/07   10:04 AM

Konstitusi secara tekstual telah memberikan kebebasan dalam
beragama. Begitu pula kepada penganut kepercayaan. Sangat tepat jika
Gusdur berdiri sebagai seorang budayawan atau sosiolog. Stigma beliau
sebagai ulama justru menjadi bumerang bagi sebagian kalangan Islam.
Bisa jadi pengikut fanatik Gusdur di grassroot terseok-seok. Pemahaman
mereka tentang keislaman selama ini menjadi sesuatu yg ganjil. Sebab
menyentuh prinsip dasar yg dianggap sakral bagi umat Islam, “Nabi
Terakhir.”

Mengemukakan “prinsip/pemikiran pribadi” memang kebebasan setiap
orang. Namun jika ‘dia’ sudah jadi panutan banyak orang, bahkan diikuti
ucapan dan pemikirannya, bukankah sebaiknya bisa berhati-hati untuk
bersikap dan bertindak.Gusdur bisa berdialog dengan pihak lain bahkan
memperoleh penghargaan. Bukankah lebih indah jika ‘dia’ juga mampu
berkomunikasi dengan kalangan Islam di negerinya sendiri.

Sedih, bila orang besar & ternama seperti Gusdur menjadi ‘alat’
bagi orang lain/pihak lain/negeri lain yg mengatasnamakan ‘kebebasan.’
Jangan-jangan kita sudah menjual ‘kebebasan’ nurani kita sendiri.
Kebebasan nurani akan kedamaian di sekitar kita,lingkungan kita,negeri
kita. Saat kita menganggap pemahaman/pemikiran keislaman kita lebih
mumpuni bukan berarti lantas berdiri di seberang jalan. Pencerahan
butuh kebersamaan, lebih arif,lebih bijak,lebih sabar,dan lebih empati.

#14. Dikirim oleh mahmudbudi  pada  17/07   10:53 AM

secara kelimuan,saya setuju dengan gusdur akan konsep HAM,demokrasi dan kebebasan berfikir kritis.namun buruknya,sifat gusdur yang kerap kali ngeles dan nyeleneh. kebebasan dan pluralisme yang dianut nya mungkin terlalu tinggi untuk otak berfikir kebanyakan orang indonesia,jadi ada baiknya gus dur juga memberikan pengetahuan cara berfikir seperti dirinya sehingga orang di negeri ini bisa menerima argumennya.

#15. Dikirim oleh Moon Child  pada  20/07   12:53 PM

janganlah memakan bangkai saudara kamu sendiri.
tengoklah dengan arif dan bijaksana. jangan menjadi generasi yang terputus.
tengoklah kisah dan peran Gus Dur dari masa orde baru. dan anda akan terkejut, betapa peran serta dalam proses demokrasi ini sangat besar.

#16. Dikirim oleh tri  pada  21/07   12:32 PM

Bagaimana pendapat BUng Saidiman, dengan “kebakaran jenggotnya” Mbah Dur setelah kalah di MA atas KOnflik PKB dengan Kelompok Cak Imin?,
Kalau memang MBah Dur seorang “Guru Bangsa” kenapa dia “menghasut” rakyat untuk Golput dalam pesta demokrasi di Indonesia.

#17. Dikirim oleh acim  pada  21/07   03:42 PM

Saya sangat bersyukur dengan kehadiran.messiah seperti GD ini yang dapat mengakomodasi kepentingan pemuka agama lain seperti saya. Saya yakin dibalik jubah muslimnya dia akan membantu saya menyesatkan kaum mayoritas di RI atau kaum kedua dari kepercayaan samawi di dunia ini.Saya yakin ambisi eropa kuno dan evangelis akan berhasil dengan Gus dur.
Amin yak

#18. Dikirim oleh John Wiloto  pada  21/07   03:56 PM

GD saya bisa menyebarkan sendiri kok kamu ga usah ikut2an..karena kamu agak aneh dan sesat.bela mana ni orang?jangan2 kamu cari tenar doang

#19. Dikirim oleh John Wiloto  pada  21/07   04:15 PM

saya setuju dengan pendapat bahwa gus dur hanyalah manusia biasa yang pasti punya kelebihan dan kekurangan.  jadi kalau pujian itu dilontarkan kepada yang bersangkutan rasanya hanya karena ada kepentingan tertentu yang diinginkan oleh pihak pemuji (baca: barat).  mereka hanya akan menghancurkan kekuatan islam melalui komentar dan pendapat gus dur, yang barangkali menurut mereka gus dur mempunyai pengaruh yang kuat di akar rumput.  tapi sayangnya, barat telah salah melihat fenomena terakhir yang sangat bertentangan.

masyarakat indonesia (islam) sudah lebih pandai melihat realitas dunia mereka. mereka telah sadar bahwa hanya dengan persatuan dan harus dihindari adanya pengkhianatan-pengkhianatan dari dalam islam sendiri, yang dapat menyelamatkan islam sendiri.

apakah mereka tidak melihat dan merasakan, ketika gus dur menjadi presiden RI, apa yang diperbuat olehnya hanyalah melemparkan komentar-komentar kelas kacangan yang semuanya tidak berdasar, yang tidak menumbuhkembangkan kehidupan berdemokrasi di indonesia, malah justru membuat rakyat cemas dengan keadaan negerinya.

kita mencari tokoh yang sejuk yang pandai ‘melihat’ baik dengan hati maupun dengan pikiran untuk menentramkan negeri tercinta ini, siapapun orangnya, asal bukan gus dur…

#20. Dikirim oleh budi wiratno  pada  21/07   04:37 PM
Halaman 1 dari 6 halaman 1 2 3 >  Last »

Tulis Komentar

Nama:

Surat-e:

Lokasi:

Situs:

Ingat data pribadi saya

Ingin dikirim setiap umpan balik komentar yang masuk?