Editorial,
15/07/2008

Gus Dur di Mata Dunia

Oleh Saidiman

Posisi Gus Dur sebagai politisi dan pejuang HAM sekaligus adalah sesuatu yang memang langka. Dan kemampuannya melakukan pembedaan secara jernih mengenai posisinya itu adalah sesuatu yang mengagumkan. Perjuangannya untuk tetap membela hak-hak minoritas tak pernah surut kendati tampak tidak menguntungkan secara politik. Ketika kebanyakan politisi angkat tangan dan bungkam terhadap kasus minoritas Ahmadiyah, Gus Dur justru tampil di garda depan sebagai pembela hak-haknya. Bagi Gus Dur, adalah hak pengikut Ahmadiyah untuk hidup sebagaimana rakyat Indonesia pada umumnya. Jaminannya adalah Konstitusi.

15/07/2008 06:09 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (119)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 2 dari 6 halaman < 1 2 3 4 >  Last ›

saya kira Bung Saidiman hanya menyajikan fakta, bahwa GD harum di luar negeri, tetapi dicaci di dalam negeri (terutama lawan/musuhnya politiknya). Karena itu fakta, saya kira Bung Saidiman telah mendekati suatu kebenaran (berdasarkan fakta).

Sedangkan yang menentangnya, saya kira banyak yang berupa klaim subyektif, yang lemah argumentasinya.

Sayang sekali, komentator yang kontra terhadap Gus Dur kebanyakan orang yang belum terbukti jasa-jasanya. Meski dia adalah tokoh Islam:, apakah betul Islam berkembang akibat jasa tokoh itu. Saya melihat orang seperti Rizieg lebih banyak mendapat manfaat dari klaim-nya yang mengatasnamakan Islam. Saya berani sumpah Demi Allah, bahwa jika orang-orang seperti Rizieq ditakdirkan tidak lahir ke bumi ini, Islam tetap jaya dan terjaga—

Saya kira tugas agamawan adalah membela kaum tertindas, minoritas, wujudnya dia harus membela manusia yang ditindas;

Soal keyakinan, serahkan aja lah ke masing-masing orang..

#21. Dikirim oleh immaximuss  pada  21/07   02:36 PM

benarkah abdulrahman wahid seorang guru bangsa???

menurut saya klau beliau itu dianggap sebagai guru yg menyesatkan mungkin benar. kalau guru untuk menegakkan kebenaran….wah jauh kayaknya… mau dibawa kemana bangsa ini kalau seorang abdulrahman wahid dianggap sebagai seorang guru bangsa….???? buktinya aja ketika beliau memimpin negeri ini…apa yg telah beliau perbuat??? rakyat bisa menilai kok.. jauh sangaaaaaaat jauh…

#22. Dikirim oleh si buta  pada  22/07   08:05 PM

Memang benar adanya kalau gusdur itu termasuk orang yang memperjuangkan toleransi dan perdamaian, tapi masih dalam tanda kutip, sebab lebih sering yang dibelanya itu adalah untuk kepentingan kelompok dan dirinya sendiri alias dia ga tahu akar permasalahan, contoh membela Ahmadiyah yang jelas-jelas melakukan penodaan terhadap agama tertentu, kemudian masih ingat ketika dia membela habis-habisan penyanyi dangdut (inul) yang menyanyi dengan gaya vulgar,masih banyak lagi kasus, jadi dia tidak heran kalau orang luar banyak yang memberi penghargaan kepada beliau karena mereka sama-sama punya visi menghancurkan,jadi bukan pemikirannya yang maju tapi otaknya yang sudah salah.

#23. Dikirim oleh g.munte  pada  24/07   09:29 AM

Cuman mau ngingetin Gus Dur, anda belum menjawab tantangan mubahalah Habib Rizieq. Kalau merasa bener, layanin dong. Atau tidak berani karena tahu konsekuensinya dan itu ada contohnya dari Nabi.

#24. Dikirim oleh Lutfi  pada  24/07   09:35 AM

Renungan untuk Gus Dur & JIL

*Bashirah*
*(Kekuatan Mata Hati)*

Oleh KH. Rahmat Abdullah
*Bahkan manusia sangat tajam melihat dirinya sendiri, walau pun ia
melontarkan berbagai
alasannya” (QS.AI-Qiyamah: 14).***

Para penganut Al-Qur’an tak ragu sedikitpun akan kesempurna­annya. la cahaya
terang dan jalan lu­rus yang mengantar kepada kesela­matan dunia dan
kebahagiaan akhi­rat. la *bashirah *yang begitu jernih, tajam dan akurat
mewartakan kea­daan yang sesungguhnya, kemena­ngan yang terbentang dan
bahaya yang mengancam, dengan segala syarat, sebab dan penawarnya. la memuat
sejarah lampau, gambaran depan dan kaadaan sekarang.

Namun apa yang didapat orang yang menutup rapat-rapat matanya sendiri, dari
caha­ya terang di sekitarnya? Terik mentari diting­kahi ribuan lampu sorot,
tak menyelamatkannya dari terjerembab ke pelimbahan. Sebaliknya, lihatlah
tuna netra yang berjalan di gelap malam, dapat selamat dan beroleh rizki
mereka.

Allah Maha Adil, yang mengangkat sebagian orang dengan kekurangan fisiknya
dan menja­tuhkan lainnya walaupun berjasad sempurna. Tak ada makna kajian
tema apa pun dalam kitab suci, sementara hati pengajinya berjelaga. Ada
tikus mati dalam kandang, ada orang kehilang­an tongkat dua kali atau
terpagut ular dua kali di liang yang sama. Atau singa-singa mati lapar di
padang dan daging pelanduk dilahap seriga­la. Ada budak tidur di tilam
sutera, ada bangsa­wan berbaring di hamparan tanah.

*Bila Nurani Bergetar*

Berbahagialah pejuang yang tak mengko­rupsi kemenangan masa depannya,
walaupun hanya dengan sekedar rintih sesal didera lelah. Atau menumpang
popularitas dengan nikmat tanpa rasa malu kepada-Nya. Mereka yang berhati
nurani tak lagi melampirkan kesedihan, kesusahan, dan kelelahan kedalam
neraca laba-rugi. Hati nurani mereka selalu hidup dan berbinar. Begitulah
kiranya ketika *Alkhalil *Ibrahim AS meminta agar nabi yang dibangkit­ kan
kelak dari keturunan Ismail AS, bertugas “....membacakan kepada mereka
ayat-ayat-Mu, mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah dan me­nyucikan mereka..”
*(QS. AI-Baqarah: 129), *Allah mengijabah do’anya. Namun Ia menginginkan
langkah kedua sesudah memba­cakan ayat-ayat-Nya dan sebelum mengajarkan
Kitab dan Hikmah, satu kata kunci bagi keberha­silan da’wah ini,
yaitu’menyucikan mereka’ *(QS. Al-Baqarah: 15 1, Ali Imran: 164, Al jumu’ah:
2).*

Nurani yang hidup mampu menjembatani perbedaan dan meredam perpecahan.
“Ulama akhirat tak saling berbenturan, karena akhirat sangatlah luas. Ulama
dunia selalu bertikai dan bermusuhan karena dunia terlalu sempit untuk
mereka perebutkan.” (Imam Ghazali).

Allah menyebutkan perumpamaan ulama buruk *(suu’) *yang berhati nurani mati,
seperti *Bal’am *sebagai anjing, yang bila dihalau menju­lur dan bila
didiamkan tetap menjulur (QS. Al ­A’raf: 176). Anjing akan lari mengejar
tulang dengan sedikit daging segar. Dan tak akan tertegun memandangi
perhiasan di tangan pelemparseharga 1 milyar. Dan ketika melewati telaga,
sang anjing segera menerkam bayangan dirinya, karena mengira ada anjing lain
yang menggigit tulang. la ingin menguasai semua tulang. Alangkah rakusnya!
*siapa yang telah rasakan dunia*
*aku pun telah mengenyamnya*
*telah digiring kepadaku pahitgetirnya*
*aku tak melihatnya selain bangkai yang membusuk*
*dikepung anjing-anjing dengan hanya satu *semangat: *cabik dan tarik!*

#25. Dikirim oleh muadz rabbani  pada  25/07   11:49 AM

Lanjutan…

Renungan untuk Gus Dur dan JIL
.......
Seorang imam sangat kecut dan malu ketika ada orang datang meminta sesuatu.
“Oh, dosa apa yang kuperbuat, mestinya aku sudah me­nangkap hajatnya sebelum
ia menyatakan permintaannya” . Tidakkah panitia zakat merasa tersindir ketika
melihat kemiskinan hanya dari wajah pengemis profesional yang kerap
menim­bun harta melebihi keperluan. Al-Qur’an telah melekatkan sifat ‘jahil’
bagi mereka yang mengi­ra para mujahid yang menjaga air wajahnya de­ngan
menutup rapat-rapat penderitaan dan kemiskinan mereka, sebagai orang kaya.
Sebalik­nya sifat Rasul SAW disebutkan sebagai *ma’ri­fah *(kenal), karena
dengan kejernihan *bashirah *mampu menangkap hakikat.

Karena itulah mereka mendapatkan jaminan baik bagi kehidupan kelak;
“Beruntunglah or­ang yang tersibukkan oleh aib dirinya dari kesi­bukan
mempersoalkan aib orang lain. la infak­kan yang berlebih dari hartanya dan
menahan yang berlebih dari perkataannya”

Kemiskinan dan kesenangan tak masuk agenda fikiran para perempuan generasi
Salaf yang melepas keberangkatan para suami. “Hati-­hati terhadap harta yang
haram. Kami tahan terhadap kemiskinan tetapi takkan tahan terhadap neraka,”
begitu pesan mereka.

Di depan iring-iringan yang membawa Imam Ahmad bin Hambal ke penyidangan
yang zalim, menghadanglah seorang perempuan. “Wahai Imam, kami
perempuan-perempuan yang bekerja menenun. Hari-hari ini serdadu sultan
meningkatkan perondaan sepanjang malam dengan obor-obor mereka. Karena kami
bekerja dibawah pancaran cahaya obor serdadu sultan zalim itu, maka hasil
tenunan kami di atas atap rumah menjadi lebih baik dan kami mendapat
keuntungan tambahan. Halalkah kami memakan kelebihan untung
itu?”.Demikianlah radiasi
*bashirah *Imam yang tak kenal kompromi dengan kebathilan, merasuki hati
nurani rakyat yang menjadi begitu sensitif.

*Kematian Hati Nurani*

Berapa banyak orang menguasai teori ilmu serta dikenal dan dihormati sebagai
ilmuwan dan ulama, namun kehilangan potensi hati nurani.
*Bashirah*nya* *tertutup
limbah dunia, membuat cahayanya tak tembus menerangi jalan. Para
koruptoryang memiskinkan rakyat clan menguras kekayaan bangsa untuk
kepentingan diri sendiri adalah para pengkhianatyang mati rasa. Mereka yang
memproduk siaran cabul, menyiar­kan kebebasan seks, membuka rumah bordil,
memproduksi dan mengedarkan tuak, candu dan madat adalah makhluk yang padam
hati nurani. Kehidupan fisik tak mampu mengimbangi busuk akhlaq mereka yang
membuat tak nyaman lingkungan. Tak ada orang yang kerasan beriama­lama dekat
mereka. Hidup menebar bau busuk dan mati menuai amal busuk.

Mereka yang keruh nurani, selalu melihat dengan angan-angan panjang. “Seakan
kema­tian hanya berlaku atas orang lain”. Sejauh ini dosa dan kemaksiatan
merupakan pembunuh utama hati nurani. Hati menjadi keras membatu, watak
menjadi beku dan hati menyempit. Ayat-­ayat suci tak membekas di hati,
kematian tak menghasilkan ibrah, luapan syahwat dunia semakin tak
terkendali, wajah menggelap memantulkan kelam hati, hilang semangat beramal
dan lenyap kelezatan dzikir.

Lihatlah para penjual ayat yang dengan ringan berfatwa bathil demi kekayaan
diri. Do’a yang mereka bunyikan memang benar hanya bunyi. Dan bila ada kader
muslim yang merasa, inilah zaman keterbukaan, lalu membumi hanguskan tradisi
dakwah yang baik, mereka telah membunyikan lonceng kematian bagi hati
nuraninya. Bila berpolitik, mereka hanya tahu intrik. Tak ada rasa malu
merebut posisi, dengan berhias khayalan *syaithani. *Akulah Yusuf yang
*kredible
*dan* expert. *Padahal begitu jauh jurang memisah, mana Yusuf, mana pemimpi
di terik mentari. Golongan ini tak kenal *mihwar *tak* *kenal era, baginya
semua adalah *era naf’i dan mihwar maslahi *(era mengambil keuntungan dan
fase mengambil maslahat).

Orang-orang seperti itu harus kerap diajak menurunkan jenazah ke liang
lahat, melepas kerabat di akhir nafas, atau berbiduk di lautan dengan
gelombang yang ganas. Bila tak mem­pan, takbirkan empat kali bagi kematian
hati nuraninya.

(Semoga ditayangkan oleh admin)

#26. Dikirim oleh muadz rabbani  pada  25/07   11:50 AM

GD adalah pembela negara kolonialis dan penjajah Israel. Dia bukan seorang pembela kemanuasiaan. Yang dia bela adalah kepentingannya sendiri dan kelompoknya.

#27. Dikirim oleh Ichwan Sontani  pada  26/07   12:58 AM

Yang saya tahu, gus dur itu pelawak paling jenius di Indonesia! Humornya yang paling membekas bagi saya adalah sindiran yang dilontarkannya di Bali waktu itu. di dalam sebuah konferensi yang dihadiri kepala-kepala negara sedunia.

Pada waktu itu Gus Dur menjabat sebagai presidan dan megawati sebagai wakilnya…
Saat memberikan pidato Gusdur Berkata : “Kami berdua akan menjadi Tim yang sempurna, Saya tidak bisa melihat, dan dia (megawati) tak bisa bicara…...

#28. Dikirim oleh Luqman T. Perwira  pada  28/07   09:09 AM

Menurut saya gus dur tidak hanya buta matanya tetapi juga buta hatinya,terbutakan oleh kawan-kawannya yang yahudi

#29. Dikirim oleh sutama  pada  29/07   03:48 AM

buat semua yang benci atau cinta gus dur secara berlebihan….Gus Dur bagi saya adalah mujaddid Islam abad 21 yg dengan caranya yg khas telah menempatkan Islam di tempatnya yg terhormat….bagi para pembenci gus dur dari teroris berkedok tarbiyah…saya sudah males dialog dengan anda…kita fight aja deh….

#30. Dikirim oleh alfani  pada  29/07   10:42 PM

Masya Allah..
sudahlah pak dur ingat umur nikmati akhir sisa hidup dengan amal mulia bukan adu domba. allah telah mencabut nikmat penglihatanmu, tidakkah anda tidak berfikir sebagai GURU BANGSA (katanya…). sayang sekali kalau nikmat punya mulut harus di gunakan untuk mengadu domba “umatnya”.

Astaghfirullah…...

#31. Dikirim oleh Jovee  pada  30/07   01:08 PM

kita sibuk ngomentari.., tapi yg di kritisi baca nggak komentar semua yg ada?????..

udahlah…,mendingan kita mikir gimana caranya besok masih bisa makan.., Aqidah urusan masing2..!!!! SORGA - NERAKA 101% ada!!!!! terserah masing2 mau pilih yg mana????

wassalam

#32. Dikirim oleh iyan  pada  30/07   05:43 PM

HAM YG mana yg di bela oleh gus dur? selama ini gus dur tidak pernah “berkicau” tentang pembantaian muslim di ambon,NTT,poso dll padahal jika gus dur mau jujur itu jg merupakan pelanggaran HAM berat dimana umat muslim yg menjadi korban kekerasan.selama ini gus dur hanya membela umat yg kira2 bs memberikan manfaat kepada dia.contoh kasus ahmadiyah gus dur berlagak seperti superman(yg celana dalamnya diluar hex3)supaya pamornya bs terangkat bentar lg k pemilu,,,lumayan curi start.

#33. Dikirim oleh aswan budiarto  pada  01/08   03:11 AM

Astaghfirullah….
yg mengatakan lebih baik mikirin makan besok,berarti di di dlm otaknya hanya ada makanan dan kotoran,terus apa bedanya anda dengan kerbau yg hanya tidur + makan???

#34. Dikirim oleh aswan budiarto  pada  01/08   01:58 PM

Bagi saya, sosok Gusdur sangat unik. Kejujurannya dalam berpolitik, progresifitas pemikirannya sebagai Kiai, serta “keluguan” dalam komunitas ketokohan, menjadikannya sebagai manusia UNIK.

#35. Dikirim oleh zulfan syahansyah  pada  01/08   04:52 PM

Wahai saudara sekalian, islam mengajari kita untuk tawadlu dan menghormati orang lain,
Lantas kenapa kalian mengolok-olok GD, sesungguhnya yg mengolok2 belum tentu lebih baik dari yg diolok2, bila tidak setuju dg GD, bukan berarti kalian dapat membenci dan memperoloknya kan?
Boleh saja memgkritik, tp jgn sampai melecehkan.
Sesungguhnya setiap perbuatan ada balasannya walau sekecil atom

#36. Dikirim oleh Mugion  pada  03/08   08:13 AM

bagi yang ngomong sesat, dipikir2 dulu ya sebelum ngomong…!kita bukan Tuhan yang bisa menghakimi..soal sesat dan nggaknya biar itu urusan Tuhan!!!gitu aja kok repot….hidup sang Wali Allah!!!

#37. Dikirim oleh abdeee  pada  03/08   04:07 PM

jangan pernah anda mengatakan bahwa anda akan masuk surga ketika anda menyebut lafadz Allahu Akbar dan menggunakan pakaian serba putih jaminan anda masuk surga, mungkin saja ketika anda mengatakan lafadz Allahu Akbar kebencian di hati anda begitu hitam melebihi Hajar aswad, seperti anda membenci gusdur

#38. Dikirim oleh agus m abdilah  pada  03/08   04:38 PM

orang indonesia ini terlalu mudah mengatakan orang lain itu sesat tapi ga taunya dia yang berkata sesat orangnya lebih sesat dari pada orang yang di tuding sesat, padahal dalam kehidupan sehaarinya pun belum bisa beraahlak seperti orang islam sebagaimana mestinya, kalau anda orang islam jalankanlah apa yang diperintahkan nabi tunjukan dengan perbuatan bukan dengan omongan, anda itu islam keturunan masih saja sibuk untuk mengomentari orang lain itu sesat, padahal pengamalan orang islam indonesia bukan lagi pancasila yang berbunyi ketuhanan yang maha esa tapi sekarang keugan yang maha kuasa, kalau anda mengaku anda tidak sesat robahlaah keadaan umat islam sekarang ini seperti umat islam menjadi lebih baik.

#39. Dikirim oleh ujo  pada  03/08   05:02 PM

Gus Dur bagi saya adalah panutan, saya masuk Islam karena Islam yang dikenalkan GD adalah Islam yang santun tidak suka bawa pedang, menghargai perbedaan, tidak merasa paling benar. Sedangkan ulama yang lain seolah2 menjadi wakil Tuhan. Gus Dur ..... janganlah pernah berhenti berjuang… yang mencintai dan mengagumi anda lebih banyak tapi mereka diam

#40. Dikirim oleh Kristianto  pada  04/08   11:33 AM
Halaman 2 dari 6 halaman < 1 2 3 4 >  Last ›

Tulis Komentar

Nama:

Surat-e:

Lokasi:

Situs:

Ingat data pribadi saya

Ingin dikirim setiap umpan balik komentar yang masuk?