Hanung Bramantyo: “Agama Hanyalah Medium”
Film-film yang dibuat oleh Hanung Bramantyo belakangan ini selalu berhubungan dengan persoalan agama. Tercatat misalnya film Perempuan Berkalung Sorban, Ayat-Ayat Cinta dan Sang Pencerah. Untuk mengetahui latar belakang lahirnya film-film “religius” itu, Vivi Zabkie dan Saidiman Ahmad mewawancarai sang sutradara. Wawancara ini disiarkan langsung, Rabu, 27 Oktober 2010, dari KBR68H bekerjasama dengan Jaringan Islam Liberal (JIL) dan disiarkan 40 radio di seluruh Indonesia.
Komentar
tunjukkan semagatnya pemuda masa kini.
saya suka wawancara ini…
Seperti diri saya sendiri, yg meski terlahir sebagai muslim dan menjalankan segala ibadah yg disarankan para guru, ulama dan orang tua..tapi selalu ada pertanyaan besar dalam diri saya yang tidak membuat saya nyaman sebagai muslim. Tapi Allah SWT membantu saya mencari jawaban dalam hati saya, hingga saya juga merasa bahwa..Islam lebih besar dari semua perkataan ulama atau guru di masa kecil saya. Islam merahmati semua mahluk di dunia ini. Dan dalam keyakinan saya yang baru ini, saya lebih mencintai Islam lebih dari apa yg pernah saya rasakan sebelumnya. Alhamdulillah..
Semangat muda ya semangat muda…..tapi??????
weleh weleh ,,hanung…hanung…ckk ckk ckkk cape deeeh…kacian bener…
makin jauh aja ....
proses keislaman kita pd umumya berkutat pada tekstualitas seperti ngaji shalat dan ibadah2 lainnya. terkadang tak menjamin lahirnya kualitas keislaman yang paripurna. kualitas keimanan dan ketaqwaan kita terkadang lahir dari pemberontakan dan ke"nakal"an kita dalam beragama. seperti gunung yang makin kuat semburan laharnya maka dia makin kokoh. jadi jangan takut “melawan” tuhan.. karena dari perlawanan kita lahirlah sebuah ketulusan akan kehadiran-Nya yang begitu indah bagai cahaya di atas cahaya… so.. seperti kata alm. cak nur.. banyak pintu menuju tuhan… tinggal kita memilih yang mana…
Yah, maklumlah…
kalau agama Islam yang merupakan way of life dijadikan media.
apalagi media untuk cari duit buat ngisi kantong sendiri & mencekoki unsur-unsur hedonis ke dalam kehidupan Islam.
Yah maklumlah…
Hanung..you are not the only one who experiences difficulty in understanding ‘Islam’. My mother was Catholics and converted to Islam when I was in the High School..my Father is Muslim, definitely, but he never forced her (my mom) to convert to Islam..anyway..I myself was catholics for a while and converted to Islam since I was in the elementary school in Jakarta..during my childhood in the 80s, I witnessed Islam as a humble religion, until then by the end of 90s I witnessed Islam as ‘shown’ by the practices of some Muslims is no longer such a humble religion, it has turned to be sort of..outrageous..
Kalau bikin film tentang KH Hasyim Asyari, jangan lupa bikin juga film tentang buya Mohammad Natsir. Karena ketiganya memberikan corak keislaman di NKRI
sungguh pengalaman religiusitas yang jujur and apa adanya ..... salut buat mas hanung ..... walau saya bukan muslim saya semakin memahami bahwa Islam adalah rahmat untuk semua ... rencana film yang akan dibuat mengenai toleransi kita tunggu mas ... untuk film sang pencerah, mohon ijin saya jadikan materi resensi film di kelas yang saya ajar di salah satu sekolah teologi kristen ... dalam rangka pencerahan demi toleransi dan pluralitas ... sebab di lembaga seperti ini pencerahan harus dimulai ... terus maju mas Hanung ...
“AGAMA HANYA MEDIUM” V.S “AGAMA BUKAN HANYA MEDIUM” silakan setuju yang mana?
kalo yang berpikir pendek dan sempit pasti milih “AGAMA HANYA MEDIUM”
sedangkan kalo yang berpikir jauh dan luas, milihnya kan “AGAMA BUKAN HANYA MEDIUM”
Komentar Masuk (9)
(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)