Hermeneutika Ayat-ayat Perang
Oleh Luqman Hakim, S.Fils.
Dalam kenyataannya, ayat-ayat perang meski bernuansa universal, tetapi ditulis untuk sekelompok pendengar di masa lampau (in illo tempore). Karena itulah, pemeluk agama apapun hendaknya bisa menangkap mana nilai-nilai universal dari perintah jihad dan perang.
Komentar
Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu’alaikum wr. wb.
Salam mesra untuk pengunjung JIL.
Bagi mereka yang cukup dengan syarat-syarat beritjihad, saya rasa mereka mengerti bahwa untuk menafsir ayat ayat Alqur’an tidak perlu dengan menggunakan kaidah hermeneutika.
Jangan kita rusak Alqur’an seperti Injil telah dirusak oleh tangan-tangan manusia yang durjana.
Cukuplah kita mengatakan bahwa Allah itu Mahaesa. Semua manusia bisa paham akan maknanya. Tidak saperti kaum Kristiani yang terpaksa mengunakan hermeneutika bagi memahami “tuhan itu satu dalam tiga dan tiga dalam satu”.
Alquran telah diturunkan dalam bahasa Arab yang masih utuh hingga hari ini dan Allah mengatakan tidak ada yang bercangah di dalamnya.
Wassalam,
Sa’at b Mohamed Singapore
Assalaamu’alaikum wr. wb.,(untuk yang beragama Islam)
Setelah membaca artikel ‘Hermeneutika Ayat-ayat Perang’ saya jadi memiliki pertanyaan buat Anda bagaimana dengan konsep Islam bahwa Islam itu berlaku sepanjang zaman. Kalau ayat-ayat al-Qur’an itu hanya diperuntukkan untuk masa awal (Nabi) bagaimana dengan umat Islam sekarang, berarti kehilangan ajarannya dong? Bukannya Islam itu rahmatan li al-‘alamiin. dan bukankah dalam usfiq itu “sebab khusus itu berlaku untuk universal”.
Saya berterima kasih atas dibukanya tanggapan dalam artikel ini.
Wassalamu’alaikum wr. wb.
Assalaamu’alaikum wr. wb.
Setiap agama memiliki kelompok radikal dan fundamentalis yang menafsir Kitab Suci-nya secara literal, terpotong-potong, dan sepihak. Sudah tiba saatnya kaum Muslimin saling menyadarkan satu sama lain mengenai kaidah-kaidah penafsiran yang salah. Tulisan Luqman Hakim ini adalah salah satu contoh yang baik. Alqur’an harus ditafsir menurut konteks sosial di masanya dan membawa nilai-nilai kebenaran universal ke konteks masa kini, sambil menghargai nilai kemanusiaan dan kebudayaan setempat. Orang Indonesia tidak harus menjadi orang Arab apalagi menjadi Arab primitif. Bravo, Bang Luqman.
Wassalam, Bambang Kris
——- mengintip milis tetangga———-
Hermeneutika tidak sesuai untuk kajian al-Qur’an, baik dalam arti teologis atau filosofis. Dalam arti teologis, hermeneutika akan berakhir dengan mempersoalkan ayat-ayat yang zahir dari al-Qur’an dan menganggapnya sebagai problematik. Diantara kesan hermeneutika teologis in adalah adanya keragu-raguan terhadap Mushaf Utsmani yang telah disepakati oleh seluruh kaum Muslimin, baik oleh Muslim Sunni ataupun Syi’ah, sebagai “textus receptus.” Keinginan Muhammad Arkoun, misalnya, untuk men-“deconstruct” Mushaf Utsmani, adalah pengaruh dari hermeneutika teologis ini, selain dari pengaruh Jacques Derrida. Dalam artinya yang filosofis, hermeneutika akan mementahkan kembali akidah kaum Muslimin yang berpegang bahwa al-Qur’an adalah Kalam Allah. Pendapat almarhum Fazlur Rahman yang mengatakan bahwa al-Qur’an adalah “both the Word of God and the word of Muhammad” adalah kesan dari hermeneutika filosofis ini. Semua itu tidak menguntungkan kaum Muslimin, dan hanya menurunkan derajat validitas al-Qur’an seolah-olah sama dengan kitab yang lain. Sebenarnya memang ada kemungkinannya orang Kristen semakin maju dengan hermeneutika, tetapi kaum Muslimin hampir pasti akan mundur ke belakang dengan hermeneutika itu. Sepertimana bahasa Arab telah menjadi standar bahasa Hebrew dan bahasa-bahasa Semit yang lain, maka al-Qur’an semestinya juga menjadi benchmark bagi kitab suci yang lain, karena al-Qur’an adalah kitab suci yang terakhir dan yang authentic di antara kitab-kitab yang lain. Dengan perkataan lain, kajian al-Qur’an, terutamanya mengenai penafsirannya, tidak memerlukan hermeneutika. Kita khawatir akhir-akhir ini kita begitu bergairah mengimpor istilah hermeneutika untuk kajian al-Qur’an tanpa menyelidiki dahulu latar belakang istilah itu sendiri yang mempunyai muatan pandangan hidup berlainan dengan pandangan hidup Islam. Sebenarnya jika akan digunakan bahasa asing juga, maka istilah exegesis atau pun commentary yang selama ini digunakan sudah cukup memadai untuk al-Qur’an. Kenapa kini exegesis atau commentary mesti ditukar dengan hermeneutics?
Saya punya logika yang gampang saja tentang tulisan di atas. Kalau ada anggapan bahwa teks qur-an, yang sangat diyakini komunitas muslim merupakan kalamullah—bisa di-hermeneutika-kan (didekonstruksikan—dalam arti lain), maka akan jauh lebih-lebih-lebih sangat wajar apabila “teks-teks” yang ditulis penulis (yang notabene “kalam” manusia) akan juga lebih baik didekonstruksi saja.
Thanx.
Pengutipan ayat-ayat Qur’an yang bernuansa jihad sering disalahartikan oleh sebagian ummat Islam yang hanya memandang ayat-ayat tersebut secara tekstual saja. Dan hal tersebut menjadi pembenar atas tindakan teror yang mengatasnamakan ISlam. padahal Islam menurut asal katanya “damai”, “selamat” “sejahtera”. Jadi sebenarnya tindakan yang membuat teror bagi orang lain bertentangan dengan Islam itu sendiri. Bukankah Islam diperuntukkan bagi seluruh manusia? Jangan jhanya terjebak oleh formalisme islam. Islam bukan agama melainkan nilai-nilai yang harus diterpakan setiap orang dalam kehidupan. Ia adalah sistem yang mengatur kehidupan seluruh umat manusia buykan hanya sebatas orang yang menyatakan dirinya beragama islam.
Ummat Islam harus menebarkan salam bagi seluruh alam. Lihatlah sholat kita selalu diakhiri dengan salam, yang maksudnya setiap aktivitas apapun salamlah yang akan kita tuju. Bukankah Allah mengajak kita ke darussalam? Wa allahu yad’u ila darussalam (QS.10:25). Maka dari itu menebarkan teror tidak pantas disebut sebagi muslim.
George Bush tampil cool, calm, confidence sambil mabuk menegak anggur putih, berkata sebentar lagi irak akan kita kuasai, dan Islam akan kita kebiri, korban sipil jatuh, justru itu yang kita cari dengan dalih yang tak tentu arahnya, disertai bukti-bukti yang tak pernah ada, opini publik, berita bohong, serta manipulasi laporan, maka pada akhirnya Amerika dapat menyerang Irak, disertai dengan bujukan iblis.
Dan inilah terorisme yang sesungguhnya, dan wajib hukumnya memerangi mereka di mana saja mereka berada, dan menuntut seluruh umat Islam untuk menegakan keadilan dan menentang sikap sewenang-wenang, dan sudah semestinya Islam liberal pun menentang Amerika habis-habisan. nyatanya…...........nihil.
Jihad untuk memerangi mereka wajib hukumnya, dan ada baiknya islamlib tidak membuat opini yang mengaburkan makna jihad itu sendiri, dan ajaran islam berlaku hingga akhir zaman.
Di saat dunia dipenuhi dengan segala kamaksiatan dan pengkaburan opini di mana seseorang dapat memutar balikan fakta dengan seenaknya, dan ini adalah hasil dai penerapan sebuah hukum positif, dengan mengesampingkan hukum-hukum Allah.
Dan menurut siapa Amrozi bersalah, bisa jadi dia tengah difitnah, dan mengapa dia terseyum bisa jadi fitnah itu yang menyebabkan dia tersenyum, sekali lagimenurut siapa, Anda tidak akan pernah mengetahui kebenaran, karena kebenaran itu mutlak dari Allah, bisa jadi saya berkata anda adalah seorang wanita, adalah hal yang sah-sah saja, karena Anda belum pernah mengetahui tentang Anda. seperti apapun manusia mencoba untuk mengkaburkan hukum Allah, tidak akan membuat dirinya bisa terlepas dari hukum Allah. Dan ketahuilah sesungguhnya siksa Allah itu sangat keras.
——-
Komentar Masuk (7)
(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)