Hukum Nikah Beda Agama
Oleh Abdul Moqsith Ghazali
Memilih pasangan hidup makin tak mungkin dibatasi sekat geografis, etnis, warna kulit, bahkan agama. Jika dahulu orang-orang di Indonesia menikah dengan orang yang paling jauh beda kabupaten, sekarang sudah kerap dengan orang beda provinsi bahkan negara. Dahulu, biasanya orang menikah dengan yang satu etnis, kini menikah dengan yang beda etnis sudah jamak terjadi. Orang Jawa tak masalah menikah dengan orang Minang. Orang Sunda pun tak pantang menikah dengan orang Bugis. Tak sedikit orang berkulit sawo matang menikah dengan yang berkulit putih, juga hitam. Orang Arab menikah dengan yang non-Arab. Bule Amerika menikah dengan perempuan Batak.
Komentar
Ada qoidah ushul fiqh berbunyi: Dar ul mafaasid muqoddamun ‘alaa jalbil mashaalih (Menolak kerusakan harus didahulukan daripada mengambil kemahlahatan). Dalam hal nikah beda agama, pasti ada mafaasid maupun mashaalih. Karena ini menyangkut hal-hal yang bersifat transendental (nasib manusia di akhirat kelak), maka urusan pernikahan harus serius dasarnya. Seorang yg menikah mesti punya keinginan dari pernikahan ini: ibadah, anak shalih, sakiinah dll. sehingga terlalu gegabah jika dilakukan hanya sebagai eksperimen.
Begitu pun Al-Maidah 5 sangat jelas merujuk perempuan-perempuan ahlul kitab yang terpelihara (almuhshanaat) yang boleh dinikahi oleh laki-laki muslim, dan tak menunjuk sebaliknya. Jadi dimana letak tdk jelasnya dalil yang melarang perempuan muslim nikah dg laki2 ahlul kitab???
Saya yakin ulama ketiga itu lalah al-imam al-Dr Al-Moqsith Al-Ghazali, ..saya katakan demikian, karena jangankan hanya hukum nikah dalam Al-Quran, sedangkan seluruh Al-Quran ditolaknya. (Benar begitu bung alatif?)....fatamatta’u fasaufa taklamun
Dalilnya mana yang membolehkan dari Al-Qur’an, As-Sunnah, Ijma’ dan Qiyas tentang membolehkan Nikah modal Islamlib ini?
Bung Abdul Moqsith Ghazali,
Argumentasi Anda tak lagi relevan dengan zaman dan pola pikir masyarakat yang semakin pintar. Kalo menyitir lagunya “Tak Lekang Oleh Waktu - by Kerispatih”, tentu buah pemikiran Anda tak seirama dan senada dengan lagu pop itu.
but, Good try. Try again…
![]()
hi bapak.
saya mau nanya apakah hukum kawin kontrak/kawin dengan budak itu halal? ... nah misalkan saya dan pacar udah komitmen tapi pengen jajal kemampuan dulu. hehe.. boleh tidak dalam islam… ? mungkin dengan kawin kontrak atau kawin budak .. kata temen aq.. kalo kawin kontrak itu kawin berdasarkan waktu tertentu.. bisa siri. ga perlu kua, cukup disaksiin 2 saksi… kalo kawin budak itu.. cewek aq proklamasi jadi budak ... tus kawin ... kalo sama2 cocok baru nikah di penghulu….h eheh. emang berapa sih cewek dan cowok yg masih pirgin…tapi kita pengen yg halal dan memuaskan…
Walaupun saya bukan yang Islamnya kuat banget dan gak hapal keseluruhan Al Quran…tapi untuk menguji di awal Abdul Moqsith Ghazali ini gampang. Sudah hapal minimal 10 Juz Al Quran tanpa melihat dan paham seluruh tafsirannya…?
Kalo sudah hapal 10 juz dan paham tafsir 100% baru gue acung jempol.
Terus mau tanya bung Ghazali? kalo misal anaknya non-Islam (masih kecil hingga dewasa) terus Ibu / Bapaknya yang notebene beragama Islam berdosa gak…?
Pak Abdul, saya mau tanya, emang nikah itu buat apa sih? sekedar mengikuti rasa cinta saja kah?. Saya pikir sebagai seorang muslim yang berpikir panjang, tentu pikirannya tidak sebatas cinta.
Saya tidak tahu arah tulisan Bapak. Bapak itu mau mengarahkan umat ke arah mana? Membebaskan umat untuk menikah berdasarkan cinta atau membawa untuk kebaikan umat.
Anggaplah saya orang awam. Kalau saya ibaratkan, saya ingin menanam tanaman yang baik, tentu saya tidak mau mencampurkan yang buruk dengan yang baik. Karena memungkinkan tumbuh sesuatu yang tidak baik. Apa ruginya Bapak pun berpikir demikian. Ajaklah rekan-rekan sesama muslim untuk ke arah yang lebih baik. Ajak mereka untuk mencari teman pasangan yang seiman, setaqwa agar muslim akan semakin baik. Bukan begitu ?
Terima kasih.
kesan tulisannya ngetop banget…kayak jenius dalam agama…
Komentar Masuk (8)
(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)