Ibn Warraq
Oleh Luthfi Assyaukanie
Kehadiran Ibn Warraq bukan hanya meresahkan kalangan Muslim “konservatif,” tapi juga para intelektual dan kalangan Muslim liberal yang selama ini memiliki pandangan kritis terhadap (beberapa doktrin) Islam. Ibn Warraq dianggap telah merusak proyek pembaruan keagamaan yang dilakukan oleh para intelektual Muslim. Apa yang dilakukannya lebih sebagai agenda destruksi ketimbang reformasi.
Komentar
Terima kasih kita padanya, karena Islam bukanlah agama yang instan.Islam itu adalah untuk mereka yang teguh serta senantiasa ber usaha dan tawakal. Islam untuk mereka yang terus berusaha dari waktu ke waktu, yang yakin. Karena yang akan merebut kemenangan memang diberikanNYA untuk segelintir orang. Lima kali sehari diingatkan pada kita, bahwa ; Hayya alla sholah, hayya allaffalah (mari tegakkan Sholat/Islam, mari merebut kemenangan). Kumpulkanlah semua fitnah itu olehnya, karena dengan itu kita bercermin bagaimana mereka memandang ajaran kita. Secara gratis ia telah memberikan checkpoin pada iman dan islam itu sendiri. berterimakasihlah kita kepada orang-orang seperti ini. yang menghabiskan waktu untuk memperjelas sisi Islam (bagi orang yang percaya dan bagi orang yang beriman teguh). Ia adalah contoh untuk tidak kita contoh ajarannya. Ia telah menjual diri, dengan hasil yang jelas-bahwa; kebodohanlah yang menyelimuti pikirannya.
Kepada yang terhormat Luthfi Assyaukanie
Buku2 tulisan Ibn Waraq ada yang benar ada juga yang salah. Buku Why I am not muslim sebaiknya di baca oleh ummat Islam di Indonesia karena AlQuran tidak hanya mengajarkan Monotheis tetapi juga mengajarkan HAM. Pelanggran HAM yang terjadi diseluruh negara berpenduduk mayoritas Islam sangat menyedihkan ummat Islam. Pelanggaan HAM tersebut tidak hanya dilaksanakan oleh masyarakat yang kurang mengerti hukum; tetapi juga sering dilaksanakan oleh Pegawai Negri yang melaksanakan Pemerintahan.
Pak Luthfi,
Sebagai seorang yang mempelajari sejarah bangsa-bangsa, banyak juga hal-hal yang bermanfaat dari tulisan Ibn Warraq, sebab memperluas wawasan kita mengenai hal-hal yang jarang sekali dibahas dalam literatur Islam (yang ditulis Muslim) baik yang klasik maupun kontemporer, terutama dalam hal tarikh. Justru sebagai Muslim, kita harus baca bukunya baik-baik, pahami, cerna, dan baru setelah itu kita refute satu persatu point2 yang dia ajukan, dengan memakai metode penelitian sejarah yang sama dengan yang dia pakai, dan kalau perlu dengan memanfaatkan temuan2 terbaru di bidang arkeolog.
Kalau kita bisa menyikapi buku Ibn Warraq sebagai suatu tantangan yang BISA kita hadapi dengan metode ilmiah, mudah-mudahan, Insya Allah, umat Islam tidak perlu takut dengan buah pena ex-Muslim yang satu ini. Semoga!
Saya sangat setuju Tulisan dari mas Luthfi, bahwa apa yang dipaparkan oleh Ibn Warraq merupakan suatu pandangan yang sempit dan negatif dalam memandang Islam. Ibn Warraq bukan seorang reformis agama melainkan penghancur ( destroyer ) Islam.
Wasaalam, Mhd. IqbaL
Mungkin sebaiknya JIL lebih sering memuat artikel semacam ini dalam arti artikel yg bisa lebih menunjukan dan menegaskan posisi JIL sebagai reformis Islam dan bukan institusi perusak aqidah Islam sebagaimana saya sering dengar2 dari khotbah2 di-mesjid. Paling tidak artikel ini mudah2an bisa membuka mata orang2 yg anti JIL bisa lebih melihat perbedaan antara kaum reformis dan kaum perusak Islam karena mereka biasanya cenderung men-generalisir keduanya sbg antek Orientalis dan Yahudi.
Yth. Bpk. Luthfi A.
Walaupun saya belum pernah membaca karyanya, tetapi Ibn Warraq menurut pendapat saya telah memperkaya perbendaharaan khasanah tentang Islam baik ataupun buruk, dan hal tsb sekaligus sebagai alat penguji bagi umat muslim yang konsisten terhadap agamanya, sejauh mana pemahaman & tanggung jawabnya sebagai pemeluk Islam.
Islam harus tetap tumbuh bukan karena kwantitas tetapi kwalitasnya pula, dan diperkaya dengan kajian,analisa,evaluasi, sebagai bentuk pembaharuan sesuai dengan pesatnya kemajuan dunia dan sesisinya.
Sebagai mana Alquran adalah mu’zizat sampai akhir jaman, maka Al-Quran akan terus menerus menumpahkan iilmunya sebagai bukti.
Tentu hal tsb harus ada pembanding sebagai parameternya, dimana umat Islam sendiri & yang anti islam sebagai pelakunya.
Sehinnga kita yakin terhadap kebenaran firman Tuhan : “Aku ilhamkan kebaikan dan keburukan sebagai penguji bagi hamba Ku”.
Demikian pula sebagai pembuktian eksistensi Tuhan bagi yang mengenal Nya, yang tumbuh dan hidup dalam tradisi agama seperti yang anda katakan.
Wassalam,
Mulad Hadi Negoro
Diabad ke-20 telah muncul pesaing2 dlm era globalisasi idiologi, pemikiran luas dan sempit harus kita pahami dalam memajukan kepercayaan yg kita anut. Mungkin banyak yg tdk sepaham dgn pemikiran ibn warraq tapi ini timbul dgn adanya kemajuan dan perkembangan zaman yg harus kita terima demi memajukan islam itu sendiri karena tanpa kritikan atau pendapat, baik atau tidak kita harus bisa menyikapi. Kapan bisa berkembang kalau tidak ada aksi dan reaksi karena ini penting sekali demi beradaban dunia. Kita bisa menyadari akan adanya kekurangan yang harus disempurnakan, bagaimanapun juga pada awal kehidupan manusia kita tdk mengenal sesuatu, baik berupa agama atau ilmu pengetahuan lain. Sekarang ini kita bisa terbuka, tidak boleh tertutup lagi agar kekurangan bisa disempurnakan.
Memang Islam bak mata air, kejernihan airnya hanya bisa didapati dari lapisan tanah terdalam. Sebetulnya banyak orang semacam Ibn Warraq, mereka kecewa dengan Islam yang ada saat ini. Ditambah oknum-oknum “Islam fundamentalis” yang justru memperburuk citra Islam itu sendiri.
Ironis memang, disatu sisi Islam dinyatakan sebagai agama penuh damai dan mengayomi seluruh isi alam semesta ini, tapi disisi lain Islam dicitrakan oleh para fundamentalis sebagai tersempurna yang tidak boleh diganggu karena kesempurnaannya (padahal dengan kesempurnaan manusia, ia tidak akan pernah merasa terganggu oleh apapun juga).
Saya kira Islam harus bisa mendewasakan diri dalam menyikapi papun persoalannya, tidak mudah emosi apalagi sampai bersikap distruktif.
Ibn Warraq Oleh Luthfi Assyaukanie
Kehadiran Ibn Warraq bukan hanya meresahkan kalangan Muslim “konservatif,” tapi juga para intelektual dan kalangan Muslim liberal yang selama ini memiliki pandangan kritis terhadap (beberapa doktrin) Islam. Ibn Warraq dianggap telah merusak proyek pembaruan keagamaan yang dilakukan oleh para intelektual Muslim. Apa yang dilakukannya lebih sebagai agenda destruksi ketimbang reformasi.
Komentar sebelumnya: Hal tsb sekaligus sebagai alat penguji bagi umat muslim yang konsisten terhadap agamanya, sejauh mana pemahaman & tanggung jawabnya sebagai pemeluk Islam. (mulad hadi negoro). Mungkin banyak yg tdk sepaham dgn pemikiran ibn warraq tapi ini timbul dgn adanya kemajuan dan perkembangan zaman yg harus kita terima demi memajukan islam itu sendiri karena tanpa kritikan atau pendapat, baik atau tidak kita harus bisa menyikapi.(karina). Mereka kecewa dengan Islam yang ada saat ini. Ditambah oknum-oknum “Islam fundamentalis” yang justru memperburuk citra Islam itu sendiri. (nano buana).
Assalamualaikum Inilah yang saya risaukan, sepertipun nano. karina, mulad, dll yang seharusnya dicermati dan kemudian diantisipasi oleh para ulama, mengapa hal tersebut bisa terjadi, yang menurut Mulad, Karina, Nano bahwa itu terjadi disebabkan oleh ulah kita sendiri dan sebagai cambuk untuk memperbaiiki diri. Yang menjadi masalah adalah mengapa kita tidak bersikap terbuka, dan berkehendak untuk mengevaluasi diri, percuma kita tiap subuh mendengar para ulama memberikan ceramah subuh di TV, radio, mesjid tanpa mau mngevaluasi hasil dari ceramah itu. Dalam suasana kemajuan teklogik demikian canggih, ternyata ceramah-ceramah tersebut tidak berbekas sedikitpun, seperti contohnya yang mudah diliat dan dirasakan: 1.sampah rumah tangga menumpuk di mana-mana,—-diangkut,—-ditimbun—-terjadi longsor, yang lainyya dibuang sembarangan sehingga got/ drainage tersumbat, yang mengakibatkan air hujan mengalir ke jalanan, dan ujung-ujungnya banjir. Tahun demi tahun terulang. (semua pelaku itu sebagian besar adalah orang yang menganut agama Islam). 2.berurusan dengan birokrat, apakah itu PNS-dari rt/rw –camat—dst, Polisi, pelaku hukum, dan lainnya selalu berhubungan dengan “pemerasan” duitlah yang berbicara. (semua pelaku itu sebagian besar adalah beragama Islam). 3.pemerintahan, wakil rayat di pusat maupun daerah juga berkelakuan sama, haus duit, sebagian besar pelakunya adalah beragama Islam). 4.hampit seluruh kehidupan di Indonesia tidak terlepas dari korupsi, KKN, dan ketidak disiplinan dalam menjalankan kehidupan. 5.para ulama yang tidak berkehendak melakukan evaluasi hasil ceramahnya yang tentunya menjadi membosankan.
Bukankah itu semua tugas kita bersama, untuk membenahinya, salah satu jalan terbaik adalah benahi dulu diri kita sendiri, dan merasa takut akan hukum Tuhan, sebagaimana yang diharapkan oleh para Nabi yang diwakili oleh para ulama pada saat ini. Percuma kita berkoar mengenai semuanya (dosa, api neraka, hukuman Tuhan) kalau seandainya pelaku tidak lagi takut akan siksaan tersebut. Kenapa mereka tidak takut, seperti contoh seorang camat “memeras” masyarakat yang memerlukan surat keterangan, yang akan lancar prosesnya kalau ada duit,—dan duit yang terkumpul itu digunakan untuk naik haji, kenapa kita soudon, karena tidak mungkinlah seorang camat punya uang lebih dari gajihnya untuk berhaji. Apakah Tuhan akan menghukumnya, tidak tuh, kecuali dihukum oleh perangkat hukum, itupun kalau ketahuan. Tuhan tidak lagi ditakuti karena pelaku telah menafsirkan ayat-ayat demi kepentingan dirinya dalam membenarkan apa yang dikerjakannya. Nah kalau semua berpikiran demikian, maka jangan salahkan sebagian umat sebel sama agamanya, dan “menerima” apa yang dilakukan oleh Ibn Warraq. Apakah para ulama akan tetap membiarkan (?), ataukah kita ber JIL agar kita bisa kembali kemartabat bangsa yang kita inginkan, paling sedikit seperti negara tetangga kita.
Wassalam.
Saya membaca “Bahaya Ibn Warraq” justru dari Tulisan dari Kawan Luthfie Assy, jadi saya belum pernah membaca buku2nya. Nampaknya menarik juga !!! Menurut saya,kajian dan pemahaman terhadap Agama/Keimanan terutama Islam adalah sangat luas, ilmiah, rasional sekaligus sangat menyentuh kedalaman spiritual/rohaniah dan emosional. Jadi semuanya melebur jadi satu antara yang pasti dan tidak pasti, tentu dan tak tertentu, kelihatan dan tak kelihatan, terasa dan tak terasa serta masuk akal dan aneh sekalipun. Semuanya itu kalau yang meyakini bahwa agama adalah sebagai jalan (bukan tujuan) maka akan menjalani suatu perjalanan/pendakian yang berliku liku dan belum tentu mengarah kepada suatu kebenaran yang mutlak terutama kalau menyangkut “Hakekat Tauhid” hingga pada akhir hayat manusia. Yang sering manusia kedepankan ketika menyangkut idealisme adalah “Pembenaran” yang belum tentu bisa dimaknai secara equal oleh individu lain. Jadi bagi saya kalau saya umpamakan sebagai suatu proses penelitian, maka sekecil atau sejelek apapun gagasan Ibn Warraq akan menjadi suatu variabel “koroboratif” yang bisa menjadi poin kritis dalam mencari “objektifitas”.
Jika anda ingin tahu tahu sepak terjang Ibn Warraq dan sekalibernya anda bisa lihat di www.faithfreedom.org. disini kita ditantang untuk berdebat dan berdiskusi secara ilmiah tentang Islam.
Bukan Akidah Islam yang salah tetapi yang salah indvidu-individunya. Seperti yang dikatakan H. Bebey bahwa para pemimpin yang ada di indonesia semuanya beragama Islam memang benar. Tetapi di dalam Agama islam kan lengkap semua yang diajarkan baik itu tauhid,akidah dan fikih. Yang menjadi puncak kesalahannya adalah kita sebagai orang islam tidak mempelajari islam itu sendiri secara menyeluruh dan sering melanggar aturan yang sudah diberikan oleh Allah SWT. Sebagai contoh Islam sangat menganjurkan kita utk menjaga kebersihan yang sebersih-bersihnya, menjaga hubungan kepada sesama manusia,jgn mengambil hak yang bukan merupakan hak kita. Allah berfirman Allah sekali-kali tidak lalai terhadap orang-orang yang berbuat zalim itu.Apakah dengan melakukan ibadah haji yang uangnya didapat dari memeras uang rakyat akan menjadi haji mabrur??? dan dapat memberikan kemaslahatan kepada masyarakat ?? Insya Allah tentu tidak akan bermanfaat bagi dirinya ataupun masyarakat.
Sangat disayangkan seorang yg memiliki potensi utk menjadi pemikir dan pembaharu islam harus tersesat dan jatuh kejurang kemurtadan. mungkin ini adalah contoh manusia yg pandai, cerdik, mujaddid yang jauh dari “hidayah Allah” sebagaimana yg telah disampaikan dalam hadits. Tapi ingat islam bukanlah agama “paksaan” baik untuk masuk atau keluar darinya. biarlah dia berjalan sesuai dengan kehendaknya dan berilah kebebasan padanya utk berfikir semaunya.
——-
Salam Sejahtera, untuk seluruh pemeluk Agama apapun…
Pendapat saya:
“Apapun Agama yg dipeluk oleh seseorang, selama oknum tersebut tidak menyerukan perpecahan, itu baik-baik saja kok.
Daripada yg merasa Organisasinya paling benar (paling kuat), tetapi kelakuan/akhlak jamaahnya tak ubahnya seperti Preman Jalanan yg suka dgn kekerasan. Apa itu…?.
Ingatlah (khususnya pemeluk Islam), Islam bukan Agama yg suka terhadap kekerasan! Tapi Rakhmatalil’alamin”.
NB: Jika belum memahami keseluruhan Ajaran Hakikat Islam, jangan mengklaim ajaran orang lain salah/sesat!!!.
Hormat:
Adi Sumaryono
.(JavaScript must be enabled to view this email address)
Apa yang salah dengan menyatakan kebenaran secara jujur? Kalau JIL punya pandangan di atas sangat tidak layak untuk menyandang titel ‘liberal’. Biar semua orang menyatakan pendapatnya sebebas mungkin. Tanpa harus mempersoalkan kehendak mayoritas. Sangat memalukan JIL punya pandangan seperti itu.
Mestinya menyikapi Ibn Warrag tidak perlu kebakaran jenggot seperti itu, disikapi biasa2 aja,seperti gereja menyikapi film da vinci code atau penemuan makam jesus. Saya sendiri seorang Islam yang pernah ikut tarekat dan sekarang memilih menjadi agnostik.
Mohon teman2 di JIL ini menyikapi kritik2 keras Islam baik dari luar maupun bagi yg telah keluar dari Islam dengan lapang hati dan tetap menganggap masih dalam konstruksi pemikiran. Sekali lagi saya kira Ibn Warraq tidak perlu disikapi berlebihan.
Nauzubillah!!
Seorang yg dibesarkan dlm lingkungan agamis harus murtad krn pemikiran yg terlalu `liar`.Yg jadi pertanyaannya benarkah dia muslim?ataukah pura2 muslim?
Saya pikir dia bukan org muslim,krn seliberal atau se sekuler2nya kaum muslimin tdk mungkin seperti itu.Waspadalah..Wapadalah!!!
Utk Ibn warraq: Islam adalah agama, manusia adalah pemeluknya. Islam tidak bisa menjadi salah , lantaran kesalahan pemeluknya.
Menurut saya, kita semua belum tau jalan pikiran Ibnu warraq ini, sebab isi tulisan yang dimuat oleh sdr.luthfie masih sebatas rangkuman dari buku-buku ibnu warraq.
Jadi belum pantas rasanya kita menyimpulkan apapun tentang ibnu warraq. sebaiknya jika boleh, buku-bukunya di terjemahkan saja dalam bentuk e-book, atau diterbitkan sekalian,biar kita semua tau seperti apa pikiran saudara kita Ibnu warraq ini.
saya petik tulisan dari Luthfi sendiri:
“Membaca dan mengikuti karya-karya Ibn Warraq, saya semakin yakin bahwa apa yang sedang dia lakukan sangat berbeda dari apa yang telah dan sedang dilakukan oleh para pembaru Muslim selama ini yang berusaha melakukan kritik-kritik terhadap (beberapa doktrin) Islam tapi dengan tujuan memperbaiki agama ini.”
“..... memperbaiki agama ini.” berarti memang ada yang tidak beres / tidak benar / masalah dalam keislaman itu sendiri bukan?
Memang agama itu pada dirinya sendiri mengandung masalah,yakni:
1. validitas wahyu (yang tidak bisa diverifikasi oleh pihak yang tidak percaya),
2. historisitas narasi-narasi dalam agama (yang tidak bisa diverifikasi oleh catatan sejarah pihak yang berlawanan),
3. ekslusivitas iman (yang selalu dipercaya lebih tinggi, murni dan sempurna dari pada agama lain), adalah sebagian kecil dari masalah dalam agama.
Para kritikus memang sudah seharusnya membongkar tembok-tembok penghalang ini semua. Demitologisasi teologi dan sejarah agama memang harus dilakukan, karena pemeluk agama, sadar atau tidak sadar, cenderung menutupi kelemahan / cacat tokoh sentral pendiri dan sejarah agama itu.
apa yang ditulis oleh Ibn Warraq adalah wajar dalam kapasitasnya sebagai kritikus, sebagaimana kritikus kristen / hindu / buddha mengkritisi agama tersebut.
Perkara ada kebencian yang ditabur dalam tulisannya, tidakkah Alquran dan Perjanjian Lama pun jelas-jelas mengandung ayat-ayat kekerasan kepada kaum lain?
Inilah titik tolak seorang manusia dewasa, yaitu melihat dengan jelas motif-motif dan latar belakang historis yang real, yang tersembunyi dibalik apa yang selama ini diaku-aku sebagai ‘wahyu’ yang “suci, sempurna, luhur, tiada tandingan dan tidak terbantahkan”.
Salam.
Komentar Masuk (25)
(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)