Kolom,
05/01/2004

Pentingnya menjadi Muslim Progresif Ibnu Rushd In Memoriam

Oleh Zuhairi Misrawi

Apa makna mengenang Ibnu Rushd bagi kalangan muslim, terutama muslim Indonesia? Maknanya sangat mendalam. Pemikiran-pemikiran Ibnu Rushd sebenarnya bukanlah pemikiran yang asing bagi kalangan pesantren. Hampir sebagian besar pesantren di seluruh tanah air mengajarkan salah satu buku terpenting Ibnu Rushd, yaitu Bidayat al-Mujtahid wa Nihayat al-Muqtashid. Dan bagi pemerhati Filsafat Islam, Ibnu Rushd menjadi salah satu inspirator menuju terbukanya “pintu filsafat” yang selama ini dikunci rapat-rapat dalam tradisi Islam.

05/01/2004 08:11 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (2)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 1 dari 1 halaman

Sudah tidak asing lagi bahwa Ibn Rushd merupakan ikon filosof Islam (baca: Arab, menurut Abed Al-Jabiri) “par exelence” yang pernah ada walaupun dalam tradisi filsafat Persia dia hanya dianggap “sebelah mata” jika dibandingkan dengan Mulla Shadra dan filosof iluminatif lainnya yang sebegitu “agung”. Hal ini diperkuat dengan komentar oleh “pihak-pihak simpatisan aliran iluminasi” bahwa filsafat Islam justru “lebih hidup dan berkembang” setelah kematian “ideologis” pemikiran Ibn Rushd di Barat. Apalagi hal ini didukung dengan adanya “mitos-mitos” bahwa Ibn Rushd pernah “takluk” dalam debat dengan Ibn Arabi yang menurut Dominique Urvoy, debat itu hanyalah “angan-angan Ibn Arabi” saja.

Yang saya coba katakan di sini, masih adanya “kekurangikhlasan” untuk mengakui “palu godam” pemikiran Ibn Rushd dari para simpatisan aliran iluminatif (baca: Irfani menurut Abed Al-abiri) bahwa hanya pemikiran merekalah yang superior dalam kancah “parenial philosophy”. Padahal sebaliknya,di Barat pemikiran Ibn Rushd sudah tidak perlu dipertanyakan kembali kontribusinya. Sebuah kenyataan yang menyedihkan memang dan kontradiktif tentunya. Oleh karena itu saya mengusulkan dalam kesempatan ini agar di Indonesia hendaknya dibuat pula “Averrous Centre” guna tetap menjaga “api ” (istilah Sukarno dalam membangun pemikiran Islam yang progresif), atau “spirit of Averrousisme” yaitu dengan cara menemukan metedologi “pembacaan baru” untuk merevitalisasi teks-teks Ibn Rushd yang telah lalu (sebagaimana yang telah dilakukan Abed Al- Jabiri) dan mencari signifikasi pemikirannya di era modern (sebagaimana yang telah dilakukan Abu Zaid dalam metode takwil ayat-ayat Alquran) agar lebih progresif dalam memproduksi makna bagi kemajuan umat manusia.

Hal ini bukanlah dimaksudkan untuk mengulang-ulang kembali debat thahafutul al falasifah vs thahafutul at thahafut, karena sejarah scientifisme Ibn Rushd juga tidak bisa terlepas dari hakikat “hukum besi” sejarah kesalahan science itu sendiri. Yang terpenting dari kesemua ini adalah bahwa umat Islam harus membangun kepercayaan dirinya di tengah-tengah pemikiran umat manusia bahwa mereka dulu juga pernah “superior” dan kontributif dalam pemikiran filsafat kemanusian sebagaimana yang telah dilakukan oleh Ibn Rushd pada dunia. Dengan penemuan semangat “ideologis” ini, diharapkan kita bisa “meng-upgrade” umat Islam yang sedang “loyo” dan menemukan “jati diri” kita yang sebenar-benarnya. 

Long Life Averrous!

Melbourne, 8 Januari 2004

MONASH Uni

Oke Darmawireja

#1. Dikirim oleh Oke Darmawireja  pada  08/01   12:01 PM

Salam,

Mengembangkan pola pikir yang jernih, dan ketulusan hati dengan selalu mengupayakan ijtihad terhadap agama, dalam interaksinya yang panjang dan terus-menerus dengan peradaban dan kehidupan manusia yang tidak menghendaki stagnasi, merupakan sebuah keniscayaan. Pemberdayaan ijtihad melalui perennial philosophy dalam konteks pluralitas dan kekinian, dan mendobrak literalisme syariah yang membekukan kebebasan bernalar, merupakan langkah maju untuk menghidupi kembali kehidupan manusia menggapai religiositas yang benar yang tidak pernah berhenti menuju ketundukan kepada Dia Yang Maha Benar.

Tidak terelakkan bahwa langkah-langkah mereka yang tercerahkan, dari berbagai tradisi agama manapun, yang mencoba melakukan pembaharuan agama dan penetrasi agama yang sudah sekian lama menjadi semacam “monument” dan idolatry baru, agar bisa mengimplementasikan pesan universal agama di dalam masyarakat, serta merta akan berhadapan dengan pemikiran-pemikiran lawannya yang cenderung stagnasi, alot dan fundamentalis serta mengidamkan kesakralan dan kesucian dalam wilayah agama. Terjadilah apa yang dinamakan ghazwul fikr (perang pemikiran), yang patut dicermati, ini tetaplah merupakan gejala yang sehat dalam konteks keberagaman, selama di antara mereka tetap menghargai pendapat masing-masing dan menempatkan pada proporsinya sebagai rahmat Tuhan serta tidak melakukan tindakan anarkis yang berujung bencana.

Mengenang mereka yang berjasa dalam pemikiran Islam yang progresif, seyogyanya ditindaklanjuti dengan menyebarluaskan dan menerapkan apa yang menjadi idaman pemikiran mereka, khususnya di Tanah Air ini, agar segenap masyarakat dapat mengakrabi dan menikmati keindahannya dalam tataran praksis yang senantiasa bergelut dengan problematika kompleks kesehariannnya; sehingga mampukah pemikiran-pemikiran progresif ini menjawab realitas yang ada yang penuh tantangan ini? []

Allah Haafiz,
——-

#2. Dikirim oleh Arief Rahman El-Katiri  pada  12/02   08:02 AM
Halaman 1 dari 1 halaman

Tulis Komentar

Nama:

Surat-e:

Lokasi:

Situs:

Ingat data pribadi saya

Ingin dikirim setiap umpan balik komentar yang masuk?