Wawancara,
24/11/2003

Abdul Jalil, MA: Idul Fitri: Kembali ke Fitrah, Kembali ke Amanah

Oleh Redaksi

Banyak cara memaknai hari raya Idul Fitri. Bagi Abdul Jalil, MA, intelektual muda dari Kudus yang juga Koordinator Kajian Central Riset dan Manajemen Informasi (Cermin), Idul Fitri merupakan momen yang penting untuk berjihad menegakkan kembali amanah. Setelah sebulan penuh melakukan puasa, menurut alumnus santri Ma’had Aly Situbondo ini, mestinya umat Islam terbebas dari virus-virus yang menjadi penyebab kerusakan bangsa ini.

24/11/2003 00:33 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (1)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 1 dari 1 halaman

Wawancara ini terlalu hanya membicarakan masalah dipermukaannya saja, akibatnya terlalu melebar mulai dari puasa makan minum sampai antikorupsinya NU dan Muhamadiyah. Kurang mengulas intinya dan juga banyak yang membingungkan.

Satu contoh jawaban Mas Jalil mengenai mudik : ” Mudik untuk silaturahmi itu kan dalam Islam merupakan pesan universal”. Ini sangat membingungkan. Pertama budaya mudik seingat saya bukan berasal dari Islam. Sebelum Islam masuk Jawa, budaya ini sudah ada. Kedua dikatakan ini merupakan pesan universal. Anda ingin menyampaikan ini kemasyarakat dunia bahwa budaya mudik ini bisa menjadi suatu model? Saya mengerti bahwa manusia perlu melupakan kejenuhan rutin pada suatu saat, perlu juga bersilaturahmi kepada orang tua. Tapi mudik yang dilakukan bersamaan dalam waktu singkat saya rasa justru meningkatkan kepenatan.

Tidak sedikit pemudik melakukan tradisi ini dengan terpaksa, seperti suatu keharusan. Yang lebih membingungkan lagi mudik ini menurut Mas Jalil bisa memunculkan ide-ide baru yang lebih cerdas. Yang ada setelah mudik duit habis, yang harusnya bisa untuk membeli buku atau belajar hal-hal kreatif seperti menjahit, memasak, melukis dll. 

Maaf kalau tanggapan saya terlalu keras tapi sudah saat kita memikirkan tradisi idul fitri yang tidak pernah dibahas selama ini. Hal lain misalnya bagaimana penentuan hari H atau mengapa ada tradisi saling memaafkan. Mudah-mudahan JIL bisa tetap pada mottonya Islam yang mencerahkan dan membebaskan. 

Salam
——-

#1. Dikirim oleh Ali Imron  pada  25/11   10:11 PM
Halaman 1 dari 1 halaman

Tulis Komentar

Nama:

Surat-e:

Lokasi:

Situs:

Ingat data pribadi saya

Ingin dikirim setiap umpan balik komentar yang masuk?