Wawancara,
02/07/2006

Fauzi Isman: Iklim Kebebasan Kita Harus Disyukuri

Oleh Redaksi

Perubahan sikap eskrem dalam beragama sangat mungkin asalkan sang ekstremis mau membuka diri dan bergaul dengan banyak orang dari latar belakang berbeda. Itulah yang pernah terjadi pada Fauzi Isman, mantan aktivis Kelompok Warsidi yang getol memperjuangkan negara Islam di tengah rezim represif Orde Baru. Pria yang kini menjadi terapis akupuntur itu menuturkan pengalamannya kepada M. Guntur Romli dari Jaringan Islam Liberal (JIL), Kamis (22/6) lalu.

02/07/2006 23:20 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (7)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 1 dari 1 halaman

Pertama sekali, terima kasih kepada tim JIL dengan wawancara-wawancara berkualitas, seperti ini. Thanks juga untuk Mas Fauzan Isman atas sharing pengalaman berharga seperti itu.

Sudah jamak diketahui dan merupakan bagian dari kesadaran yang secara natural melekat dalam diri manusia bahwa kekerasan dalam bentuk apapun maupun motivasi apapun, selain unsur destruksi di dalamnya, juga akan menjadi bumerang bagi pelakunya, maupun bagi motivasi (baca: ideologi, syariat, anutan, dsb) di belakangnya.

Sejarah telah mengajarkan banyak hal kepada manusia. Bahkan termasuk pelajaran mengenai gagalnya ide-ide brilian, orang-orang hebat, dan bahkan pesan-pesan ‘surgawi’ atas nama agama karena ekspresi, implementasi, penyikapan, dsb, dalam dan terhadap kehidupan sehari-hari.

Semua agama besar di dunia ini, telah mengalami kegagalan seperti itu. Dan, sebagian agama juga sudah lebih menyadari hal itu dan berkomitmen untuk tidak lagi mengulagi sejarah buruk seperti itu. Kalau pun masih ada sekelompok kecil dari penganut agama tertentu yang ingin mengulangi ‘kegemilangan buruk dalam sejarah’ tersebut, biasanya dimotivasi oleh kecenderungan tertentu, kekurangpahaman, kesempitan wawasan, dan sikap pragmatisme konyol dalam memahami dan mengaplikasi keyakinan agamanya.

Dan, itulah yang saat ini sangat kelihatan jelas dalam dinamika kelompok radikal di Indonesia. Terus terang saja, merespons sikap kelompok-kelompok radikal di Indonesia yang mengatasnamakan Allah dan Nabi Muhammad, saya merasakan ada nuansa keseraman yang dilekatkan secara tidak sadar atas diri dua pribadi tersebut. Saya melihat wajah Allah dan Nabi Muhammad yang menakutkan seiring dengan seram dan angkernya wajah-wajah dan tindakan mereka yang mengatasnamakan tindakan mereka atas nama kedua pribadi tersebut. Dan, tentu saja, dengan cara seperti itu, tidak usah lagi bicara masalah dakwah kepada orang lain. Mereka telah di beri preview buruk yang tidak proporsional melalui pencitraan yang salah kaprah dengan tindakan-tindakan anarkhis.

Tetapi, syukur, karena kita [khususnya, saya pribadi] masih bisa belajar dan cari tahu sendiri sisi lain dari Allah dan Nabi Muhammad (Baca: Islam) melalui studi sendiri [melalui belajar Islamologi]. Tentu saja, juga melalui sosok-sosok ramah sejumlah tokoh Islam di Indonesia.

Banyak orang melupakan hal penting, yaitu bahwa ekpresi hidup, apakah itu wajah yang seram atau ramah, anarkis atau ramah, bijak atau ceroboh, dsb, merupakan preview praktis yang sangat menentukan terhadap respons orang lain terhadap anutan sebuah agama. Seringkali manusia lebih dahulu melihat orang [dan ekspresi wajahnya] sebelum melihat Kitab sucinya, Allahnya, Nabinya, dll.

Sekian tanggapan dari saya. Saya banyak belajar dari situs ini. Thanks a lot. GBU.

#1. Dikirim oleh Edin  pada  03/07   08:07 PM

Saya cuman bisa kagum dan salut atas pengalaman dan pemikiran mas Fauzi Isman ini dan cuman bisa bilang Allahu Akbar!

#2. Dikirim oleh Ahmad Arief  pada  04/07   09:07 AM

Wawancara ini bagus sekali, sayangnya pembacanya terbatas. Alangkah baiknya jika wawancara seperti ini dapat dimuat di surat kabar besar-besar atau televisi, agar orang yang radikal dapat berpikir ulang akan jalan yang diambilnya, di lain pihak aparat/penegak hukum dan kaum moderat yang selama ini takut-takut/ ragu menindak kaum radikal dengan pengetahuan ini dapat menjadi lebih berani untuk menindak mereka.

#3. Dikirim oleh Rati C.  pada  06/07   04:08 PM

Patut digarisbawahi pernyataan Fauzan, bahwa dulu ia dkk menjadi radikal karena mengalami represi dan demi utk melawan represi. Sama halnya misalnya dgn gerakan anak2 muda pro demokrasi yg radikal semacam Forkot atau PRD. Namun saat ini gerakan radikal di alam reformasi tdk utk melawan represi tetapi demi melakukan represi itu sendiri. Wow, betapa absurd dan jg sangat berbahaya bagi kelangsungan negara kita. Dia bersaksi jg bahwa memang Baasyir berkaitan erat dgn Abdullah Sungkar, dan terlibat dlm gerakan radikal. Masuk akal apabila AS marah2 melihat Baasyir dihukum ringan, pdhal dialah ulama yg mendorong Amrozi dkk melakukan aksi teror bom di Indonesia.

Untuk itu, sdh saatnya pemerintah tanpa ragu2 lagi segera memberangus gerakan anarkis ini spt FPI, HTI dan MMI, sebelum mereka benar2 menjadi gerakan militer dgn senjata. Sdh terlalu banyak bukti yg bisa digunakan utk mengirim mereka ke penjara, dan semoga seperti saran Bung Fauzan mereka menemukan pencerahan dan bertobat di penjara. Sehingga muka Islam tdk coreng moreng gara perbuatan mereka spt yg tjd saat ini.

#4. Dikirim oleh K.Hawani  pada  06/07   08:07 PM

Saya sangat sangat salut dan terharu membaca pengalaman Bang Fauzi. Dan semoga hal itu dapat mencerahkan hati-hati saudara kita yang masih keras membantu penuh emosi, bendi , dendam dan permusuhan dengan orang-orang yang berlainan faham, pendapat dan keyakinan.

Seharusnyalah orang yang katanya paling religius, bermoral, pintar ceramah agama, dan mengkliam bahwa agamanya yang paling benar mesti mampu memberi contoh dan menerapkan dalam prilakunya sehari-hari seperti : penuh kedamaian, kesejukan, arif dan toleransi serta menyayangi semua makluk dan alam ini. Jika oknum/kelompok itu hanya baru bisa mendoakan , membantu dan menyayangi kelompok/golongannya saja, maka sangatlah sempit, picik dan dangkal sekali wawasan/pengetahuan/pemahaman oknum/kelompok itu terhadap ajaran agamanya karena dia baru bisa menilai sesuatu dari kacamata atau sudut pandangnya sendiri saja !!

#5. Dikirim oleh sari  pada  07/07   02:07 PM

apa yang dirasakan oleh bung fauzi, pasti dirasakan banyak orang, itu sudah sunnatullah. karena keyakinan seseorang (baca:iman) seseorang mengalami metamorfosis, kadang naik-kadang turun. tapi metamorfosis yang dialami bung fauzi sungguh sangat positif, orang akan menilai bahwa dulu, waktu masih aktif jadi Islam radikal bung fauzi salah. dan ternyata sekarang ini fenomena tumbuhnya organisasi islam radikal sangat membuat negatif umat Islam. semoga pencerahan yang dilkaukan bung fauzi terhadap kawan-kawan yang masih radikal tercapai. achsin el-qudsy

#6. Dikirim oleh achsin el-qudsy  pada  11/07   11:07 PM

Terimakasih untuk kang Fauzi Isman yang telah memberikan pengalaman hidupnya. Sebuah pengalaman yang patut kita renungkan bersama, bahwa dalam keheningan, kesuraman dan kepengapan terali besi tidak membuntukan hati dan jiwa manusia tapi malahan memberikan sebuah pengalaman hidup yang tak terkira nilainya. That’s The God Style! HidayahNya akan diberikan pada seseorang yang tak pernah kita sangka. Ingatan saya kembali pada sebuah tanggapan pada situs ini, “Dunia ini bukan hanya milik mereka yang beragama dan tunduk pada Tuhan, tapi juga milik mereka yang tak berTuhan bahkan setan sekalipun”. Pemikiran sempit dan berwawasan rendah akan menjadikan bangsa ini terseok-seok pada sebuah kehinaan dan membuat manusia menjadi sombong dan congkak hati. Sebagian lagi terhipnotis dan tanpa tersadar telah menjadikan manusia (pemimpin) seperti layaknya Tuhan.  seorang pemimpin yang penuh bopeng kemunafikan dan kesombongan!!! Drama kehidupan inilah yang sedang kita nikmati saat ini. Sekali lagi terimakasih buat kang Fauzi, semoga segala tindakan Kang Fauzi diridoi Allah.  Buat JIL and the gang khususnya Mas Ulil Abshar-Abdalla salam hormat kami dari Bali and kapan nich ke Bali?
——-

#7. Dikirim oleh Ketut Wilet  pada  13/07   08:08 PM
Halaman 1 dari 1 halaman

Tulis Komentar

Nama:

Surat-e:

Lokasi:

Situs:

Ingat data pribadi saya

Ingin dikirim setiap umpan balik komentar yang masuk?