Ilmu-Ilmu Teoritis dan Kebahagiaan Teoritis
Oleh Ulil Abshar Abdalla
Dalam pandangan filosof Muslim, kebahagiaan teoritis adalah kebahagiaan paling tinggi, sebab kebahagiaan pada level itu tercapai melalui fakultas mental yang jauh jaraknya dari dunia inderawi yang bersifat badaniah. Makin jauh suatu kebahagiaan dari hal-hal yang inderawi, makin tinggi pula kualitas kebahagiaan itu. Makin mendekat kita kepada Wujud dengan “W” besar, makin tinggi pula “stasis” atau kedudukan kita dalam tangga kebahagiaan.
Komentar
mas ulil tulisan nya bagus banget, silahkan kirimkan tulisan ataupun info - info buku di
memang ke-2nya adalah satu garis kontinum.akan tetapi bagi saya,dan yang saya rasakan adalah “kebahagiaan teoritis” lebih dapat membahagiakan;dengan demikian di atas “kebahagiaan praktis”.karena memang ke-2nya memiliki wilayah yang berbeda."kebahagiaan teoritis” lebih kepada wilayah psikologis(intelektual,mental,dan spiritual);sedangkan “kebahagiaan praktis"lebih kepada jasmani.meskipun saya sendiri juga merasakan ketidakseimbangan ke-2nya adalah sesuatu yang pincang;belum sempurna.
Salam. Tulisan yang bagus dan sangat membantu saya dalam “belajar mempelajari” lautan ilmu-Nya yang maha luas dan dalam. Saya tidak akan heran kalau artikel sebagus ini masih akan dikomentari miring oleh mereka yang mengaku golongan kanan (saking ke kanannya, malah keluar jalur lintasan, he, he, he...). Bravo mas Ulil, semoga kemuliaan dia yang esa senantiasa menyertai anda. Wassalam.
Mau ikt nimbrung nie
sebnarnya masalah utama knapa usul fiqh(teoritis) kurang diminati adalah pada “ruwet"nya kaidah2 terSebt ktika diterjmahkan ke bhs.indo,,hal ini brbeda dg fiqh atau hukum syariah yg sudah “siap santap”,,jalan keluarnya tentu saja harus ada pendalman bhs.arab dlu sblm memulai mengkaji ushul fiqh,,namun dmikian,saya rasa pesantren2 di jawa biasanya menerjmahan ktb2 smcm ushl fiqh menggunakan bhs jawa(pegon) yg susunan (tarkib) kalimatnya hmpir sama dg bhs arab.,,(sbg cntoh:mubtada’=utawi,khobar=iku,dsb)
jadi sy kira,kita juga harus menggunakan metode yg serupa dg tarkib atau grammar jawa (pegon) tadi,namun dg bhs indonesia,agar bisa menyerap ilmu ushul dg sempurna,,trima kasih
Ya, setuju, ini tulisan bagus. Namun, menurut saya, ushul fikih hanya memberikan abstraksi dari fikih. Dan, saya kira, belum sampai pada kebahagiaan teoritis pun.
Akan sampai kepada kebahagiaan yang hakiki apabila kita memahami sumber ilmu pengetahuan di dunia, yakni Al-Quar’an berikut tafsirnya.
Saya agak heran kalau ada temen-temen yang mengatakan bahwa di NU, agak kurang “dekat” untuk mengkaji tafsir Al-Qur’an.
Fiqih dan Ushul Fiqih itu pintu masuk Al-Qur’an. Jadi, Saudara Ulil jangan berhenti di disitu.
Kalau Bang Ulil iseng bertanya kepada anggota FPI dan dedengkotnya, yaitu Habib Riziek Sihab, bentuk kebahagiaan seperti apakah yang kalian inginkan? Maka jawabannya pasti terdiri dari, al :
1. Menghancurkan tempat main bilyard
2. Mengobrak-abrik warung makan yang coba-coba buka di bulan puasa
3. Membakar masjid milik ahmadiyah dan menempeleng para pengikut ahmadiyah
4. Menghadang semua demo-demo yang mendukung pluralisme dan kerukunan antar umat beragama
5. Meneriakan takbir berulang-ulang sambil membawa pentungan
6. Silahkan tambahin sendiri ..............
kebahagian tertinggi yang katanya bertemu dengan Sang Pencipta masih menjadi tanda tanya saya sampai saat ini. dengan kejadian alam yang begitu banyak dan kompleksnya masak cuma puncaknya bertemu dengan Nya saja. tolong kasih tahu saya alasan logisnya kenapa harus mempercayai ungkapan tersebut.
trims http://www.syariahbisnis.com/?id=wicak
Sebuah tulisan yang, sekali lagi, begitu mencerahkan...dari Mas Ulil....
Ranah Pemikiran Keislaman selama ini memang sudah terlalu sering “diracuni” oleh kecurigaan yang mendalam terhadap segala bentuk pemikiran yang dianggap nyeleneh, diimport dari Barat, alias serba Liberal.....Golongan ulama konservatif kerapkali menaruh kecurigaan yang berlebihan terhadap segala macam pemikiran baru yang ingin merevitalisasi dan menyegarkan kembali pemikiran Keislaman.....
Satu hal yang menarik untuk disimak, Apabila Kebahagiaan Teoritis dan kebahagiaan Praktis merupakan suatu “continuum” yang tak terpisahkan, lantas bagaimanakah setiap insan Muslim hendak mencapai titik keseimbangan dalam hidupnya di dunia yang serba modern sekarang ini, dimana pragmatisme akan selalu merongrong dari waktu ke waktu...??? dapatkah seseorang mengalami apa yang disebut sebagai kebahagiaan teoritis itu jika isi perutnya masih kosong ? inilah saya kira tantangan yang harus dipikirkan bersama oleh para pemikir Muslim kontemporer....
Wassalam
Sang Musafir
saya setuju dengan pendapat mas ulil karena pada dasarnya teori dan praktek berjalan seiring diamnapun kita berada, ketika kita berbuat sesuatu seperti menanggapi tulisan mas ulil ini, butuh penyatuan dari keduanya dan tidak bisa berjalan sendiri2, perbedaan dalam hal penafsiran seharusnya tidak menjadi substansi masalah, karena jika kita mau bertanya pada diri sendiri, darimanakah ide pemikiran berasal maka jawaban yang jelas hanya ada satu yaitu yang menjadi sumber dari segala sumber ilmu, maka berbahagilah bagi orang yang telah menyelam dalam keilumuan teoritis dan konsisten mengerjakannya.
kesadaran jiwa manusia untuk memahami substansi kebahagian,bukan hanya sebagai teoritis belaka,tapi bagaimana berusaha menemukan aplikasi idealisme kebahagiaan,teori yang di kemukakan oleh para filosof masih bersifat teoritis,relatif dan subjektif.Kita perlu mengkaji ulang reinterpretasi terhadap persoalan yang menyangkut ilmu sebagai teori,tapi bagaimana teori ilmu yang bisa membangkitkan semangat berusaha untuk meraih kebahagian yang esensi yang datang dari Tuhan.
Salam,
Seorang pengajar filsafat pernah berkata bahwa badai Plato belum berakhir. Ini mungkin relevansi dikotomi teori praksis yang sampai sekarang tampaknya masih dipercayai. Padahal ada kecenderungan bahwa ilmu-ilmu (bisa dibilang yang ushul)yang tadinya teoritis telah menjadi praksis lewat teknologi, di sini kita kenal istilah teknosains, sains yang bersifat praksis. Kebahagiaan (dunia) menurut saya tak lepas dari yang material. Ini perlu dibedakan dengan kebahagiaan akhirat yang non-material. yang teoritis dan yang praksis, ini seperti jiwa dan tubuh, seperti juga sains dan teknologi.
Hanya Allah yang tahu,
Budi Hartanto
Teori yang lahir berkat kejelian berpikir dari makhluk Tuhan yang bernama akal pikiran,sejatinya memang dapat membantu manusia menemukan Sang Pencipta dirinya,yaitu Yang Maha Esa(Supreme Spirite).namun hakekatnya,baik teori maupun kebahagiannya,belum secara total mampu menyentuh esensi daripada Sang Pencipta itu.sebab ‘teori’yang mengusung mainstream dari bagian kerohanian kita hanya mampu sampai tataran pemahaman agama secara konkret,sedang agama -apalagi Islam - harus dipahami secara abstraksif.Sebab,keseluruhan Agama berdiri atas pilar-pilar yang abstrak ( Ghoib ),lihat Qs.Al-Baqoroh ayat 3.Jadi pikiran boleh tamasya kemanapun sesuka hatinya,bahkan keranah dari esensi(Dzat) Tuhan pun tidak jadi persoalan,sebatas akal pikiran manusia itu mampu memaknainya.tapi tetap ‘ia’ -akal pikiran itu- hanya bisa meraih bagian kulit luarnya saja. oleh karenanya untuk mencapai model(bentuk) dari stasis(kedudukan)tertentu harus “mi’raj"(napak tilas)terlebih dahulu melalui beberapa ‘maqom’(tingkatan)dari stasis itu sendiri.artinya apa yang dipaparkan mas Ulil mengenai Teori dan Kebahagian teoritis hanyalah bagian yang sangat ‘kecil’ sekali dari Kebahagiaan yang Hakiki, Silakan anda para pembaca terus mencari dan mencari..bukankah Rosulallah SAW bersabda “carilah Ilmu -pengetahuan tentang Stasis yang dimaksud mas Ulil- minal mahdi ila lahdi,untill it sleep on rest in peace...” wallahu a’lamu bishshowab..
Kebahagian tidak ada yang teoritis ataupun praktis. Kebahagian itu abstrak. Kebahagian tercipta ketika kebutuhan akan tuntutan naluri, kebutuhan jasmani dan aqal terpenuhi. Hal ini berlaku untuk setiap manusia. Karena manusia memiliki potensi (fitrah) yang sama seperti: Aqal, Kebutuhan Jasmani, dan Naluri (terdiri dari naluri mensucikan sesuatu, naluri mempertahankan jenis dan naluri mempertahankan diri).
Aqal dituntut agar terisi berbagai informasi tentang alam, manusia dan kehidupan sehingga dgn informasi itu dia dapat memecahkan berbagai problem kehidupan dgn pemikiran cemerlang.
Kebutuhan jasmani yang menuntut pemenuhan seperti: makan, minum, buang hajat dll.,
Naluri Mempertahankan Diri yang menuntut pemenuhan seperti: rasa bangga, sombong, marah bila dihina dll.,
Naluri Mempertahankan Jenis yang menuntut pemenuhan seperti: dorongan sex, rasa keibuan, rasa sayang ke orang tua dll.,
Naluri Mensucikan sesuatu yang menuntut pemenuhan seperti: menyembah Pencipta hakiki, menyembah batu/arca, berdoa, berzikir dll..
Pemenuhan terhadap tuntutan Kebutuhan Jasmani tdk bisa ditunda karena akan menyebabkan kematian, sedangkan tuntutan pemenuhan potensi yang lain bisa ditunda/dipenuhi di waktu lain.
Semua tuntutan itu bila dipenuhi akan menimbulkan Kepuasan (Kebahagian), namun bila tuntutan itu pengaturannya diserahkan ke manusia akan menimbulkan kekacauan dan kehancuran peradaban manusia, cth: memuaskan kebutuhan jasmani ada yang bekerja dgn jerih payah sendiri ada pula yang mencuri, memuaskan naluri mempertahankan jenis ada yang dgn beda gender ada pula dgn yang sama gendernya. Semua pemuasan itu bila diserahkan kepada manusia pengaturannya maka sebagian manusia merasa puas (bahagia) sedangkan yang lain merasa terjajah/ hidup tidak sesuai fitrahnya.
Jadi, pengaturannya harus dari Pencipta hakiki (Allah SWT) yang mengetahui potensi manusia, Dia telah memberikan “manual book” paripurna yaitu Al Qur’an agar dalam pengaturan pemuasan potensi tsb. berjalan sejahtera dan meningkatkan derajat peradaban manusia (semua manusia merasa bahagia tanpa harus membuat yang lain terjajah/hidup tidak sesuai fitrahnya). Aturan2 itu berada di dalam Syariat Islam yang hanya bisa diterapkan dgn kaffah dalam Khilafah. Bagi setiap manusia yang memuaskan potensi2 tsb. sesuai Al Qur’an maka dia akan merasa puas (bahagia) karena sesuai kemauan Pencipta Hakiki sehingga Allah SWT ridho terhadapnya dan Dia akan memberi imbalan kepada setiap manusia itu berupa Jannah-Nya dimana manusia dpt bersua dgn Allah SWT.
Wallahu alam.
by daris.rangga
Senantiasa gurih goresan “pena” Mas Ulil ini. Sepakat. Di organisasi mana pun, saya kira, yang bersepakat berkumpul bersama untuk tujuan yang baik, akan senantiasa menggabungkan teori dan praktik. Berpraktik tanpa teori itu namanya bunuh diri. sebaliknya berteori tanpa praktek akan mendekatkan kita ke pintu kemunafikan, mari kita sebut saja ini kelompok resi.
Apakah kebahagiaan itu? mengikuti tata bahasa saja ke-bahagia-an=menuju kondisi bahagia/menjadi bahagia.Apakah bahagia itu? Adakah kebahagiaan atau bahagia yang bernilai universal, menjadi sebuah “hukum kebahagiaan” dan bukan sekedar “teori kebahagiaan?”
Platoisme teori-praktik, yg dikaitkan dgn kebahagiaan, tidak menjawab pertanyaan: Mengapa tidak terwujud kebahagiaan universal di era “kebahagiaan saya bukan kebahagiaan anda, kebahagiaan anda bukan kebahagiaan saya”.
Kemana hilangnya hukum kebahagiaan itu? Kebahagiaan universal bagi seluruh manusia dan semesta? Dan bukan sekedar kebahagiaan teoretis berbasis ilmu-ilmu teoretis.
Salam mas Ulil. Kalau saya membaca komentar di situs ini (di artikel apapun) saya sampai pada kesimpulan bahwa sebagian besar komentator (dan juga masyarakat kita masih rancu dalam memahami perbedaan antara “agama” dan “pemikiran agama”. Mas Ulil kan pandai mengemukakan pemikiran secara logis dan runtut (walau masih banyak yang tidak juga bisa memahami), kalau bisa tolong ditulis artikel tentang ini (kalau perlu dalam beberapa seri). Contoh: saya pernah baca di tulisan singkat mas Ulil di suatu media tentang apakah “al dhin = agama”. Terus terang saya tidak pernah belajar khusus agama di sekolah agama, tapi ngaji di kampung dan membaca secara otodidak, sampai 40 tahun usia saya, saya masih bingung. Alhamdulillah, “puji tuhan” (bisa dibilang berbau nasrani nih, he, he, he...) berkat pencerahan dari tulisan mas Ulil (dan ulama kontemporer lain tentunya) bisa menghilangkan kebingungan saya. Dulu saya selalu ragu dalam beragama, karena sedikit-sedikit bisa dibilang: dosa, awas masuk neraka, kufur, haram, tidak syah, tidak afdhol, bid’ah, tidak dapat pahala, , tidak boleh bilang sembahyang/puasa harus pakai kata shalat/shaum (katanya artinya beda), mau bergaul dengan orang beda agama ragu, dsb. Alhamdulillah, “segala puji bagi tuhan” (sudah agak nggak berbau nasrani nih ....) saya sekarang merasa mantap dan yakin (kata orang bilangnya harus pake kata istiqamah, padahal artinya sama saja, he, he, he...). Terus terang buat saya mas Ulil sudah saya anggap guru besar, mudah-mudahan gelar doktor bisa cepat menyusul. Akhirnya dengan mengucap Alhamdulillah “segala puji bagi Allah, tuhan seru sekalian alam” (nah yang ini baru islam bener he, he, he...)saya sangat bersyukur bahwa JIL tetap kokoh dan bergeming terhadap cercaan para kaum yang masih berada di jaman jahiliah (mohon maaf ya saudaraku....). Wassalam.
Dear Mas Ulil,
Menarik!!
Apapun tujuan manusia adalah sebuah “happiness”, baik selagi hidup maupun sudah tidak hidup lagi.Paling dahsyat ketika orang dapat meng"ekspreisikan" “bahagia dunia akherat”, bukan sekedar “bahagia lahir bathin”
Buat saya yang non muslim tetap menerima “konsepsi kebahagian” sebagai sebuah hasil “karya dari perjuangan spiritual yang mempesona”.
Kalau intinya sebuah kebahagian tentu merupakan sesuatu yang sangat subyektif, orang lain, agama, bahkan Tuhan sendiri “tidak mau tahu”.
Namun dalam sebuah “tatanan”, maka “W” tadi menjadi penghubung mata rantai menuju kebahagian universal, pinjam istilah orba “adil dan makmur”.
==
“Theoria” dan “praxis” adalah sebuah “continuum”, suatu garis dengan dua titik di ujungnya yang saling terhubung.
==
Sebenarnya menarik apabila ada lagi telaah yang mendiskripsikan melalui pola berpikir / metodologi eksistensial fenomena. Subyektifitas menjadikan “hutan belantara” yang susah ditembus. “W” akan menjadi sangat menuntut untuk menemukan rumusan, seperti sebuah bola, yang mengenalkan sebuah dimensi abstrak namun melahirkan wujud yang sama dari manapun sudut pandangnya. Barangkali juga sudah tidak ada kata “subyektif” kalau dimensi abstraknya sudah ketemu (kebahagiaan).
Salam seratus kali lebih hangat dari sebelumnya.
Dear all,
Sekedar diskripsi soal kebahagiaan:
Tubuh dan jiwa kita adalah bentangan lahan yang harus ditanami benih, kalau benihnya dari bibit yang berkualitas dan dirawat dengan baik maka hasilnya otomatis akan baik. Tanamilah tubuh dan jiwa kita dengan benih-benih yang baik, dengan perawatan sikap rendah hati, tentunya akan membuahkan kebahagiaan yang sejati. Benih itu adalah pikiran kita. Kalau kita selalu memikirkan hal-hal dari sisi negatif atau buruk, itulah yang akan tertanam dalam tubuh dan jiwa kita. Ingin selalu mengalahkan atau menjatuhkan, atau merasa dirinya yang terbaik, itu adalah pikiran negatif yang bukan merupakan wujud dari sikap rendah hati. Kemenangan atas orang lain tidak menghasilkan kebahagiaan sejati, tapi kemenangan atas dirinya sendiri adalah kemenangan yang sejati, karena harus melalui sikap rendah hati.
Kebahagiaan semu tidak akan muncul dalam diri seseorang yang rendah hati, kebahagiaan sejati akan bersinar dalam diri seseorang yang rendah hati.
Kebahagiaan yang sejati adalah kebahagiaan yang membuat orang lain juga bahagia.
yang jelas kebahagiaan bukanlah hanya sesuatu yang sudah, atau sedang atau yang akan datang. Dimensi ruang maupun waktu tidak membatasi kabahagiaan.
dear mas ulill
semoga tuhan selalu memberkatimu,
begitu bangga kita punya pemikir seperti mas ulil, dimana mampu untuk memberi pencerahan tentang berbagai hal dalam term agama dan sosial, sehingga kita tidak terjebak pada formalitas yang dibuat oleh sekelompok orang yang kemudian mengatas namakan tuhan dan agama yang ujungnya adalh premanisme, kapan,dimana,waktunya mereka diangkat menjadi wakil tuhan, sehingga prilaku mereka seakan-akan menjadi wakil tuhan?…
inilah skap pd yang terlanjur sehingga mereka terjebak dalam kebenaran pemikiran sendiri...saya punya usul bagaimana kalau JIL membuat sekolah atau diskusi gratis untuk mereka,,he,he,he,
salam sejahtera,
betapa eloknya tulisan mas ulil.. justru komentar teman-teman kagak nyambung mas.. ada satu hal yang perlu kita lakukan dalam membaca teks dan sosial-budaya masyarakat..
ulama`-ulama` klasik kaya sekali penguasaan ilmu pengetahuan baik ilmu filsafat-sosial-agama.. tapi ulama sekarang? hanya “penikmat” ilmu.. ulama-ulama dulu rajin meneliti tentang problem sosial dan membaca bukan duduk manis “dilapori” ummat.. sehingga mereka banyak menemukan teori bukan mencocok-cocokkan teori yang ada dengan realitas sosial.. contoh imam syafii meneliti tentang waktu haid, beliau menemukan teori hasil dari riset yang beliau lakukan ditengah-tengah masyarakat.. sebaliknya beliau juga membaca karya-karya filsafat kuno sehingga menemukan teori qiyas.. perpaduan antara kebahagian teoritis dan praktis nambaknya balance pada zaman dahulu…
pertanyaanya, mengapa sekarang tidak pernah kita lakukan hal yang sama? bahkan generasi muda kita lebih jendrung cuma mengkritik teori orang-orang terdahulu tanpa pernah mengerjakan hal yang sama seperti ulama-ulama terdahulu menemukan teori dari hasil riset dan menemukan teori dari hasil membaca?
pertanyaan yang paling urgen untuk mas ulil adalah KAPAN MAS ULIL SERIUS MELAKUKAN RISET DI MASYARAKAT SEHINGGA MENEMUKAN TEORI BARU?
KALAU MEMBACA.. MAS ULIL TIDAK DIRAGUKAN LAA SYAKKA!!!
kapan mas ulil grounded research? sehingga orinialitas mas ulil benar-benar pada maqom kebahagian teoritis dan kebahagiaan praktis?
kita berjuang bersama…
Komentar Masuk (28)
(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)