22/05/2009

Ilmu-Ilmu Teoritis dan Kebahagiaan Teoritis

Oleh Ulil Abshar Abdalla

Dalam pandangan filosof Muslim, kebahagiaan teoritis adalah kebahagiaan paling tinggi, sebab kebahagiaan pada level itu tercapai melalui fakultas mental yang jauh jaraknya dari dunia inderawi yang bersifat badaniah. Makin jauh suatu kebahagiaan dari hal-hal yang inderawi, makin tinggi pula kualitas kebahagiaan itu. Makin mendekat kita kepada Wujud dengan “W” besar, makin tinggi pula “stasis” atau kedudukan kita dalam tangga kebahagiaan.

22/05/2009 13:02 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (28)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 2 dari 2 halaman < 1 2

Kebahagian? Hmmmm sy kutip kt mutiara dari blogger tetangga “happiness is a journey not a destination”, jadi menurut saya kebahagian itu datang dari dalam diri sendiri yg harus kita manage, saat kita jatuh cinta mungkin kita merasa bahagia tp sebaliknya saat patah hati, dada kita terasa remuk atau anak2 membuat kita bahagia tp ada saatnya nanti mereka jauh dari kita, jadi bukan orang lain yg dapat membuat kita bahagia, kapanpun kita dapat merasa bahagia selama kita mengkondisikan keinginan seperti itu. Salaam

#21. Dikirim oleh always  pada  16/06   01:46 AM

Dear all,

Kalau orang mengomentari bentuk atau cara penulisan seseorang, itu benar. Kalau orang mengomentari makna dan esensi penulisan, itu juga benar, menurutku bentuk seperti apapun komentarnya adalah benar dan nyambung. Itu soal sudut pandang dan “kemampuan” orang itu.
Biarlah berkomentar, karena pesan yang ditangkap sesuai dengan alam pikirnya.

Orang kan selalu ingin dirinya nyaman, kenyamanan biasanya identik dengan “kebahagiaan”. Ketika sudah menyangkut teori, beragam rumusan, bahkan sekaliber filsuf-filsut top memberikan beragam teori, makanya mas Ulil menyebut sebagai “kebahagian teoritis”.
Yang kita sadari bahwa teori-teori para filsuf adalah subyektifitas alam pikir filsuf itu sendiri, banyak yang sesuai banyak juga yang tidak sesuai di alam praktek diluar subyektifitas para filsuf itu. Singgungan antara “faith” satu dengan “faith” yang lain merupakan manifes beragam teori tadi. Singgungan bisa merupakan sesuatu yang membuat “kebahagian” ada yang membuat “kedukaan”.

Kalau mencermati tulisan Mas Ulil, bahwa pesan yang ingin disampaikan adalah “bingkai kebahagiaan” universal,kemudian mencoba menggali pola pemikiran yang sering dianggap berseberangan namun intinya adalah reduksi dari subyektifitas yang “bisa diterima” banyak orang.
Itulah kenapa Mas Ulil banyak menyebut istilah “klasik” dan “modern”, “barat” dan “muslim”, bisa jadi barangkali bukan Mas Ulil seorang yang menyebutnya.
Paling tidak,  pesan Mas Ulil adalah untuk “orang banyak” yang artinya majemuk di dalam keseluruhannya ada benang penyatunya.


Konsep “teori kebahagiaan” yang paling simpel menurutku apa yang ditawarkan oleh Gede Prama.

Gitu dulu ya semoga nyambung….
Salam seratus kali lebih hangat dari yang sebelumnya.

#22. Dikirim oleh Aloysius ST  pada  18/06   03:27 AM

membaca tulisan ini bagaiskan mengunjungi taman yang ingin selalu aku kunjungi di waktu sibukku
komentarku hanyalah “terimakasih pak ulil”. mudah2an nyambung.

#23. Dikirim oleh mulyadi  pada  19/06   06:54 AM

Maaf sebelumnya, saya kurang sependapat dengan pendapat tersebut. Karena dalam hadits diterangkan bahwa saat paling bahagia adaah orang yang bisa meliha dan lain sebagainu.

#24. Dikirim oleh Luqman Hakim  pada  19/06   07:10 PM

Anda sudah mulai menghargai khazanah Islam klasik dan tidak lagi mengagumi pemikiran cendikia Barat an sich! “al-muhaafazdah ala qadiim al-shaalih” itu sangat kita butuhkan untuk memandang modernisme.

#25. Dikirim oleh alex  pada  23/06   06:59 AM

saya sependapat tentang tulisan tersebut.

#26. Dikirim oleh Khairi  pada  16/07   03:39 PM

Setuju Mas, kebahagiaan itu wilayah rasa dan wilayah abstrak (Kasyaf) bukan berada dalam tataran (Kasab). Sebab yang abstrak itulah yang sejati. sejatining roso, roso sejati roso manungso. Al-murad, yang namanya kebahagiaan bagi kebanyakan orang adalah ketika ia hidup bahagia ditengah manusia lain dalam situasi dan kondisi yang sama-sama bahagia.
Tapi Mas, untuk mencapai kebahagiaan teory bukankah kita harus mengalami kekacauan praktis terlebih dahulu. “Annusus almutahaniyyah wal waqi’u ghoiru mutahaniyyah” sehingga hukum Tuhan bisa selalu aptudite untuk setiap zaman dan tempat.

#27. Dikirim oleh Nurul Mubin  pada  31/07   05:21 AM

intinya ada pada pemahaman ... dalam banyak kasus pemahaman memberikan persepsi kebahagiaan tersendiri, yang terkadang sulit “dirasonalisasi”.

bagi seorang muslim, kebahagiaan ada dalam islam. Sehingga banyak sekali kisah yang sudah tertinggal bagaimana sosok muslim yang secara fisik dan mental berada dalam tekanan, tapi dia masih bisa merasakan kebahagiaan. bahkan di dalam penderitaan itulah dia merasakan kebahagiaan. Anehkan.

Saya rasa Mz Ulil sudah banyak sekali membaca kisah para sahabat ... yang akan sampai pada kesimpulan mengherankan. Kok bisa ...  merasakan kebahagiaan dalam tekanan fisik dan mental.

oleh karena itu menurut saya “pemahaman” memiliki “korelasi positif” dengan “kebahagiaan.” Inilah permasalahannya ... pemahaman orang itu beda-beda, dan dari perbedaan ini pun bisa memunculkan kebahagiaan. apalagi kalau bukan “DEBAT” ha ha haaaa ... ups !!! sekedar mengungkap pemahaman smile

#28. Dikirim oleh manusia online  pada  02/08   02:49 PM
Halaman 2 dari 2 halaman < 1 2

Tulis Komentar

Nama:

Surat-e:

Lokasi:

Situs:

Ingat data pribadi saya

Ingin dikirim setiap umpan balik komentar yang masuk?