Reportase,
14/10/2008

Ilusi Khilafah Islam

Oleh Saidiman

Ketika Muhammad membangun komunitas politik di Madinah, dia tidak pernah mengemukakan satu bentuk pemerintahan politik standar yang harus diikuti oleh para penerusnya kemudian. Apa yang disebut politik Islami tidak lebih dari ijtihad politik para elit Islam sepeninggal Muhammad. Tidak ada mekanisme politik standar yang berlaku bagi pemerintahan Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali. Masing-masing terpilih melalui mekanisme politik yang berbeda. Pemerintahan-pemerintahan selanjutnya bahkan menjadi sangat lain, karena yang ada hanyalah pemerintahan berdasarkan garis keturunan.

14/10/2008 09:32 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (162)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 9 dari 9 halaman‹ First  < 7 8 9

InsyaAllah Khilafah akan tegak kembali, walaupun orang kafir & munafik mengingkari.

#161. Dikirim oleh askul  pada  03/10   02:06 PM

nampaknya kebanyakan yg bilang “khilafah akan tegak” masih belum bisa menjelaskan secara detail “apa khilafah itu”. dari komentar2 diatas sepertinya pengusung khilafah kebanyakan bersikap “pokoknya pokok” dalam hal ini pokoknya syariat, dan merujuk pada sejarah2 khulafaur rasyidin. persoalan syariat itu sendiri seperti kita tahu.. memberikan banyak penafsiran hingga timbul 4 mazhab. artinya jika syariat diterapkan.. masalahnya syariat yang mana? yang mayoritas? jika begitu bagaimana nasib yang minoritas? jika yang minoritas menolak, dihukumi apa? kafir? murtad? penentang? atau dihormati?.(tak bisa dibayangkan kalau dihukumi kafir, murtad, menentang… bisa2 terjadi banyak pembunuhan).
saya, dan barangkali seperti anda juga menyadari akan keinginan memajukan islam dalam banyak aspek. jika memang bisa maju dengan sistem khilafah, bentuk detailnya bagaimana? misalnya sistem pemilihan kepala negara (atau mungkin namanya khalifah?), itu jika memang ada NEGARA dalam sistem ini. jika masih ada NEGARA, nampaknya sudah jelas kalau sistem yg ada sekarang “kurang islami?”. jika tidak ada NEGARA dalam sistem khilafah, jelasnya bagaimana? memilih satu pemimpin untuk seluruh bumi? yg kita tahu terdapat definisi misal : geografis, kebiasaan, adat, bahasa dan semacam itu yg nota bene sudah merupakan kodrat yg diberikan Allah yaitu berbangsa-bangsa (dan ini merupakan suatu NIKMAT!!!!). dan setahu saya, Nabi Muhammad sendiri dalam piagam madinah, menghormati perbedaan dan kebiasaan masing2 suku yg ada pada waktu itu dan menggalang persatuan dan bekerjasama baik dari kaum yahudi, quraysi dan umat islam untuk memajukan komunitas masyrakat yg terbentuk pada waktu itu.
saran saya untuk para pengusung khilafah.. jelaskan secara detail apa itu khilafah.. jangan pokoknya pokok atau seperti para sahabat nabi lah.. atau pokoknya syariatlah.. atau hal-hal yg terkesan menggampangkan. jika hanya beranggapan harus khilafah dan mendadak orang jadi suci? hal yg patut dipertanyakan, sebab sistem apapun tetap saja “manusia” nya yg memegang kunci keberhasilan. sebab setahu saya, Nabi dalam piagam madinah tak membuat NEGARA AGAMA akan tetapi NEGARA BANGSA. (lucu juga kalau sampai islam menjadi negara agama sebab setahu saya satu2nya dibumi yg mengusung negara agama hanyalah VATIKAN).
saya sendiri punya bayangan khilafah islam saya sendiri, bentuknya begini : nanti sistem negara2 yang ada akan lebih mengedepankan nilai2 islam dalam corak pemerintahannya walau masing2 negara tak mengambil seluruh apa yg disebut syariat. yg masih perlu dicatat adalah dalam sistem itu masih ada NEGARA.
sekarang pun kita bisa melihat arahnya kesana.. misal sistem perbankan mulai banyak yg mengembangkan sistem perbankan syariah. tidak setuju dengan bayangan khilafah versi saya? BIASA!!! lha ini saja sudah menunjukkan bahwa manusia mempunyai keinginan dan penafsiran berbeda-beda…..
jadi? ngapain protes terus? mulailah bekerja dari sekarang untuk memajukan islam. dan tentu saja memajukan NEGARA INDONESIA. ingin makmur sejahtera? bekerjalah memajukan EKONOMI. ingin mempunyai daya tekan di kancah politik? bekerjalah memajukan sistem politik dan sebagainya.
(kita manusia hanyalah sekadar menafsirkan / berijtihad.. sedang Allah lah pemegang kebenaran mutlak)

#162. Dikirim oleh laksmana  pada  19/08   12:40 PM
Halaman 9 dari 9 halaman‹ First  < 7 8 9

Tulis Komentar

Nama:

Surat-e:

Lokasi:

Situs:

Ingat data pribadi saya

Ingin dikirim setiap umpan balik komentar yang masuk?