Reportase,
14/10/2008

Ilusi Khilafah Islam

Oleh Saidiman

Ketika Muhammad membangun komunitas politik di Madinah, dia tidak pernah mengemukakan satu bentuk pemerintahan politik standar yang harus diikuti oleh para penerusnya kemudian. Apa yang disebut politik Islami tidak lebih dari ijtihad politik para elit Islam sepeninggal Muhammad. Tidak ada mekanisme politik standar yang berlaku bagi pemerintahan Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali. Masing-masing terpilih melalui mekanisme politik yang berbeda. Pemerintahan-pemerintahan selanjutnya bahkan menjadi sangat lain, karena yang ada hanyalah pemerintahan berdasarkan garis keturunan.

14/10/2008 09:32 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (162)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 3 dari 9 halaman < 1 2 3 4 5 >  Last ›

Buat salam imad

Gini nih orang yang katanya Islami dan bilang orang lain salah dgn ngancam “...selamat menunggu dikejar pasukan inkisyariaah (pasukan tentaranya islam-pen)untuk dipanah atau di sabet dengan pedaaaaaang”.Gimana mau jadi panutan dan menciptakan Islam yg rahmatan lil alamin kalo modelnya ngancam2. Kalo orang yang suka begini artinya ya lebih nggak ngerti agama titik. Gitu aja kok repot.

#41. Dikirim oleh Nurcahaya  pada  31/10   05:14 AM

Seorang kawan wanita saya tinggal di dekat kelompok yang mengusung khilafah. Dia merasa nggak nyaman justru di tengah mereka. Teman saya ini berjilbab modern (pake celana panjang dan baju sopan biasa dan berkerudung, bodinya juga nggak kelihatan menonjol/seksi) en toch tetap dibilang jilbabnya nggak bener, amalnya nggak diterima disisi NYa, dll. Mereka maunya persis spt yang mereka pake. Nggak boleh ada beda penafsiran yang jelas dianut oleh kelompok umat Islam lain. Jadi repot dah. Jadi kalo ada beda penafsiran pasti dia paling bener dan lainnya salah, masuk neraka. Beberapa kawan saya yang dulu juga pendukung khilafah akhirnya merasa lega setelah menjadi Islam yang merdeka/demokrat.

#42. Dikirim oleh Nurcahaya  pada  31/10   05:27 AM

Inilah bukti kalau kita sbg bangsa sdh tdk lg pny identitas!

#43. Dikirim oleh Begal  pada  01/11   02:08 PM

Didalam Allah menciptakan agama-agama hanya satu rumusan prosesnya, yaitu tiap-tiap agama empat besar Buddha A1-B1, Hindu A2-B2, Yahudi A3 -Nasrani B3 dan Islam Muhammad A4 - Ahmad B4 - dan Akhirat (D) sesuai Al Baqarah (2) ayat 4,5 (D) yang terakhir, adalah dijadikan berdasarkan ketentuan Yaasiin (36) ayat 13,14: Dua orang rasul A-B ditolak dan diperkuat oleh seorang rasul yang ketiga D (terakhir era globalisasi):
1. Ali Imran (3) ayat 79, Al Aan Aam (6) ayat 89, Al Jaatsiyah (45) ayat 16,17,18: Kitab A - Hikmah B - Nubuah D (terakhir).
2. Al Maidah (5) ayat 44 (A),46 (B),48 (D): Yahudi A - Nasrani B - yang kemudian D, kalau tidak sesuai proses demikian ini disebut jahiliyah.
3. Kitab A - Hikmah, Taurat A - Injil B sesuai Ali Imran (3) ayat 48.
4. Pada masa C1,2,3,4 sebelum D disebut syuhada sesuai nikmat A (Nabi), B (Sodikin), C (Syuhada), D Shalihin, sesuai An Nisaa (4) ayat 67,70 dan seluruh proses adalah A-B-C-D disebut karunia dan karunia disebut Agama Allah sesuai An Nashr (110) ayat 1,2,3 pada awal millennium ke-3 masehi.
5. Ali Imran (3) ayat 19,81,82,83,85, Al Maidah (5) ayat 3, Al Hajj (22) ayat 78, Al Baqarah (2) ayat 208, An Nasr (110) ayat 1,2,3: Agama disisi Allah adalah Islam (A-B-C), disempurnakan menjadi Agama Allah (D pada awal millennium ke-3 masehi masuk semua manusia berbondong-bondong dengan damai sesuai Ali Imran (3) ayat 103).

Wasalam, Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millennium ke-3 masehi.

#44. Dikirim oleh Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal  pada  01/11   09:08 PM

Saudara2ku Allah telah memberikan petunjuk kpda umat muslim dlm Al Quran mengenai bgm menjalankan pemerintahan yg baik yg mencaku bidang administrasi, hukum, politik dan ekonomi! Tinggal di laksanakan aja… Gitu aja kok repot

#45. Dikirim oleh Tu2  pada  02/11   01:02 PM

Dan kanyataannya, Ali Abdur Razik tidak terbiasa menulis. Dalam kurun waktu 14 tahun setelah lulus Al Azhar tidak pernah menghasilkan karya tulis dalam masalah sejarah dan politik, kecuali kutaib alias buku kecil tentang ilmu bayan. Dan dalam jangka 40 tahun setelah terbit buku yang membuat hidupnya terkucil dari masyarakat itu, ia tidak juga menghasilkan buku lain, bahkan untuk membela buku Al Islam wa Ushul Al Hukmi itu.

#46. Dikirim oleh zhoni  pada  03/11   07:58 AM

“Ilusi Khilafah Islam”

Khilafah Ilusi! yang benar? Kalau Khilafah hanyalah sebuah ilusi,
1. Mengapa USA dan gerakan Kapitalis Global begitu menentang Khilafah Islamiyah?,
2. Mengapa USA dan gerakan Kapitalis Global begitu pusing mengurusi dan mengekang setiap orang dan partai politik/ormas ISLAM yang menyerukan Khilafah Islamiyah? kan mereka (orang/parpol/ormas ISLAM penyeru Khilfah)hanya tengah berada di dalam ilusi?,
3. Dan mengapa juga Anda repot-repot bikin artikel yang menentang Ide Khilafah melalui cara “ahistory”?
Jelas Khilafah adalah institusi global saingan selanjutnya setelah komunisme-dan mereka berdua setara sama kuat. Jelas “Khilafah is dream”, “Pejuang Khilafah is Dreamer”, karena “Khilafah Is Dream Come True”, “Pejuang Khilafah “Sang Pemimpi” yang ingin mewujudkannya dalam tataran formal, karena mereka yakin “Khilafah Is Just Matter Of Time”, “Khilafah is Dream Come True”...Rise2 Khilafah….Spread Sharia…Down2 Capitalism….

#47. Dikirim oleh R. Rangga Pratama  pada  06/11   05:56 AM

Saya mengomentari pendapat para rekan-rekan dan saya golongkan menjadi 3, pertama yang pro khilafah, kedua yang tidak setuju khilafah, ketiga yang netral, artinya dari yang netral menyerahkan seluruh mekanismenya kepada rakyat untuk memilih apakah bersedia dikhalifahkan atau tidak. Khusus untuk yang pro khilafah, ada 2 komentar yang membuat saya miris, antara lain yang mengatakan kalau khilafah berdiri di Indonesia maka yang tidak setuju khilafah akan dipancung pertama kali, kemudian ada juga yang mengancam para penentang khilafah akan dikejar pasukan islam, lalu dipanah dan disabet dengan pedang!!! Astaga 2 komentator tersebut menurut pendapat saya amat mengerikan, mereka berdua dan yang sejenis dengan mereka akan semakin memperburuk citra agama islam. Kekerasan seolah-olah menjadi trade mark mereka. Mereka berdua cocoknya bergaul dengan amrozy, imam samudra, muklas, habib rizik, baasyir dll yang hobinya bikin ribut dimana-mana.

#48. Dikirim oleh yuliawati  pada  10/11   06:27 AM

Bagi saya NKRI harga mati!!!!!
Negara Khilafah Rasyidah Islamiyyah

#49. Dikirim oleh abu mifzal  pada  10/11   07:12 AM

menurut saya khilafah islamiyah bukanlah ilusi karena ada dalam sejarah meskipun cuma 30 tahun dan setelah itu adalah kerajaan islam… didalam hadits dikatakan ada 12 kholifah (HR Abu Dawud) dan telah ada 4 kholifah yaitu Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali… ini menunjukkan bahwa nanti akan muncul kembali khilafah islamiyah yang dipimpin oleh 8 kholifah yang tersisa diantaranya Imam Mahdi… tidak bisa dipungkiri bahwa kekholifahan adalah sistem pemerintahan yang sama sekali baru dalam sejarah peradaban manusia dan keberadaannya memang dibatasi karena membutuhkan kondisi khusus ...jadi jangan keburu mengatakan khilafah islamiyah adalah ilusi

#50. Dikirim oleh kusmardiyanto  pada  10/11   04:10 PM

ass. penulisan artikel semacam ini tentu berperan dalam merangsang terjadinya adu urat syaraf antar 2 kelompok yakni antara yang pro dan kontra.menurut saya yang terpenting adalah adanya sebuah perubahan sistmik atas ketidakadilan di negeri kita. kita sudah lama tercarut seperti ini, harga mahal, hukum diperjualbelikan, prostitusi dimana-mana….....

#51. Dikirim oleh ajam  pada  11/11   06:13 AM

Tidak penting mendebatkan wadah, bentuk dan namanya. Negara dibangun untuk menjamin manusia melaksanakan tugasnya sebagai hamba dan khalifah. toh al-Qur’an dan Hadis tidak menjelaskan hal itu secara gambalng.

#52. Dikirim oleh Mimin Macca Rita  pada  13/11   06:59 AM

stilah Khilafah dan Imamah sebetulnya sinonim, yang berarti sistem pemerintahan Islam. Namun oleh segelintir orang, kedua istilah itu dianggap berbeda pengertiannya. Ulil Abshar Abdalla, bekas Koordinator JIL (Jaringan Islam Liberal) misalnya, memandang ada perbedaan antara Khilafah dan Imamah, begitu juga istilah turunannya seperti imam dan khalifah. Ulil menyatakan, “Imam di sini adalah penguasa dalam pengertian umum.” Dalil-dalil agama tentang wajibnya mengangkat imam, menurut Ulil, hanya menegaskan saja hukum sosial yang sudah berlaku berabad-abad. Salah satu hukum sosial itu adalah bahwa setiap masyarakat selalu akan mengangkat seorang pemimpin yang mengatur dan menyelenggarakan kepentingan mereka. Dan pemimpin itu, kata Ulil, “Bisa kepala suku, lurah, camat, bupati, raja, sultan, khalifah, presiden, CEO, manager, dan lain-lainnya.” (www.harianbangsa.com).

Walhasil bagi Ulil, Imamah itu berarti kepemimpinan yang bersifat umum. Sedangkan, Khilafah, adalah kepemimpinan yang lebih khusus, yang kata Ulil, berdasarkan sejarah Islam bentuknya adalah kerajaan. Khilafah seperti ini, menurut Ulil, hanyalah suatu kebetulan sejarah (historical coincidence). Karena itu, sistem itu dapat diganti sesuai asas rasionalitas, yang bagi Ulil adalah aplikasi doktrin Ahlus Sunnah bahwa penentuan imam bukanlah berdasarkan teks agama (seperti pendapat golongan Syiah), melainkan berdasarkan ijtihad dan pilihan (ikhtiyar). Ujung-ujungnya, Ulil ingin menegaskan bahwa sistem republik (bukan kerajaan) saat ini yang berdasarkan demokrasi, adalah sudah final dan merupakan sistem paling ideal hingga saat ini. (www.harianbangsa.com)

#53. Dikirim oleh hamba Allah  pada  14/11   10:03 AM

saya sendiri kurang setuju dgn konsep khilafah yg di usung HTI,

#54. Dikirim oleh amiey  pada  14/11   11:13 AM

Coba kalau diskusi khilafa atau demokrasi dilihat isinya, konsepnya,kemudia practicenya. Jika kita mempelajari keduanya tidak dari perspektif agama, tapi 2 konsep yang exist dan pernah diterapkan, pasti Anda akan cenderung ke khilafah (meski anda bukan muslim, named :pencari kebenaran.
Karena secara konsep akan mengantarkan semua rakyatnya pada kesejahteraan, non racial, kebebasan beragama dan beribadah bagi pemeluknya, tidak miskin spiritualisme, kebebasan berpikir, dll.
Sementara demokrasi dan kapitalisme secara nyata mustahil, yang ada adalah pemiskinan, racial, tidak bebas berbicara yang benar, tidak bebas beragama (khususnya untuk muslim), bebas berbicara termasuk menghina, bebas bersexual ermasuk impor penyakitnya.
Please,lepaskan kacamata agama, be neutral, sistem khilafah menjamin keadilan untuk semua ras, agama,bahasa,budaya, dan semua….......

#55. Dikirim oleh Karena  pada  14/11   09:45 PM

Dukung khalifah!!!!!!!!!!!!!!

Lebih baek indonesia jadi negara islam aja jadi bisa  
menegakkan sistem Islam secara kaffah..

#56. Dikirim oleh jandul ubud  pada  15/11   12:46 AM

semoga mimpi itu datang kepada yg menganggap sitem kahlifah itu hanya mimpi….....

#57. Dikirim oleh buyunk  pada  15/11   10:17 PM

yang nulis artikel ini pasti lahirnya setelah Khilafah islamiyyah runtuh yang tiada jejaknya….. penulis pasti tau apa itu khilafah dan perdebatan mengenainya adalah melalui tulisan2 hasil karya penulis yang tidak merasakan hidup di jaman keemasan ke-khalifahan khulafaur rasyidin… jadi intinya yang nulis ini artikel cuma mengandalkan ilusinya tuk terangkan khilafah dan apa kaitannya dengan mode lainnya seperti imperium dsb. Andai ummat masa kini tau bahwa pengetahuan manusia itu tidak sekedar ilman yakin…maka betapa tercengangnya kita semua bahwa setelah mencapai ainul yakin justru yang menjadi persoalan bukan terletak pada ilusi kekhalifahan…. tetapi pada upaya nyata “sekecil dzarrah” yang berantai secara apik hingga berujung pada zat dan hal lebih besar lagi, sehingga lambat laun akan terjelma kekhalifahan secara ainul yakin…. sayang seribu sayang karena awal mula ummat modern tau khilafah dan seluk beluknya beranjak dari suatu tulisan tentang khilafah yang ditelan melalui nalariah maka ujung2nya adalah kumpulan tulisan pula tentang khilafah itu sendiri dan perdebatan yang menyertainya. Dan belum ada langkah sekecil dzarrah-pun tuk memulai quatum leaf ke arah terwujudnya khilafah secara kasat mata di alam nyata kehidupan modern….. ummat…ummmat ...pantaslah yang mulia Rasululloh mengandaikan kita sebagai buih dilaut…karena semuanya tak mau mengawali dari langkah sekecil dzarrah… padahal sebesar apapun bangunan pyramid tak mungkin menjelma jika tak ada atom silica pembentuk batu2 pyramid.

#58. Dikirim oleh kabayanist  pada  24/11   12:16 PM

Tolok ukur suatu negara dinyatakan sebagai Daulah Islamiyyah atau Daulah Kafirah adalah kondisi penduduknya, bukan sistem hukum yang diterapkan dan bukan pula sistem keamanan yang mendominasi negeri tersebut.

Daulah Islamiyyah adalah Sebuah daulah yang mayoritas penduduknya muslimin dan ditegakkan padanya syi’ar Islam seperti adzan, shalat berjamaah, shalat Jum’at, shalat ‘Id, dalam bentuk pelaksanaan yang bersifat umum dan menyeluruh. Dengan demikian, jika pelaksanaan syi’ar-syi’ar Islam itu diterapkan tidak dalam bentuk yang umum dan menyeluruh, namun hanya terbatas pada minoritas muslimin maka negeri tersebut tidak tergolong negeri Islam. Hal ini sebagaimana yang terjadi di beberapa negara di Eropa, Amerika, dan yang lainnya dimana syi’ar Islam dilakukan oleh segelintir muslimin yang jumlahnya minoritas.

Sehingga dengan demikian, negeri seperti Indonesia ini adalah termasuk negeri Islam. Karena syi’ar-syi’ar Islam, baik shalat berjamaah, shalat Jumat, shalat ‘Id, dilaksanakan secara umum di negeri ini. Demikian juga, adzan senantiasa berkumandang setiap waktu shalat di masjid-masjid kaum muslimin.

Meskipun suatu negara atau pemerintah tidak berbentuk khilafah -baik itu berbentuk kerajaan, republik, parlementer atau yang lainnya- selama masih memenuhi kriteria dan definisi sebagai negara Islam, maka statusnya tetap sebagai negara Islam. Sehingga kewajiban mendengar dan taat tetap berlaku dan tidak boleh memberontak kepadanya, bahkan meskipun pemerintah yang zalim dan banyak memakan ‘uang rakyat’ sekalipun.

#59. Dikirim oleh Iwan Sulistyanto, S.T  pada  24/11   05:33 PM

apapun yang terjadi di masa lalu, itu hanyalah masa lalu. Mari kita tatap masa depan.

Kalau memang tidak ada bentuk baku untuk pemerintahan Islam, maka tidak ada salahnya kita menggagas bentuk pemerintahan alternatif untuk umat ISlam. Apapun itu, termasuk khilafah..

Mari kita pandang gagasan khilafah yang sedang mengemuka sekarang bukan sebagai usaha mengembalikan umat Islam ke kekolotan masa lalu, namun sebaliknya justru sebagai reset konsep politik ISlam. MAri kita bangun khilafah yang tidang mengekang, namun justru membebaskan. Khilafah yang tidak stagnan, namun justru dinamis, khilafah yang walaupun menjunjung kedaulatan Tuhan namun tidak terjebak pada teokrasi, khilafah yang menghargai partisipasi warga negara, egaliter dan berkeadilan!!

#60. Dikirim oleh reza  pada  26/11   10:43 AM
Halaman 3 dari 9 halaman < 1 2 3 4 5 >  Last ›

Tulis Komentar

Nama:

Surat-e:

Lokasi:

Situs:

Ingat data pribadi saya

Ingin dikirim setiap umpan balik komentar yang masuk?