Andi A Malarangeng: Indahnya Belajar Agama dengan Riang
Oleh Redaksi
Perkenalan agama yang menyenangkan bagi seorang anak sejak dini akan berperan besar dalam membentuk karakter diri dan kecintaannya akan nilai-nilai agama. Metode pembelajaran agama dengan cara bercerita dan tidak dogmatis, dapat menarik minat anak untuk tahu agama lebih banyak. Kesan-kesan masa kecil itulah yang nantinya menentukan apakah nilai-nilai agama bagi seseorang berperan di level sosial atau tidak.
Komentar
Teman-teman Islib bisa belajar dari Bung Andi Malaranggeng, bahwa setiap orang, apapun agamanya, siap untuk menerima perbedaan tanpa harus menanggalkan akidah (serta atribut-atributnya). Untuk menjadi “pluralis”, toleran dan modern, seseorang tidak perlu (kalau tidak mau dikatakan tidak logis) menganggap semua agama dan semua kitab suci sama. Justru pluralitas dan toleransi terbangun dari keberbedaan, bukan “keseragaman dan penyeragaman” seperti yang dimalpraktekkan oleh Orba dan dicontek oleh teman-teman Islib dengan baju “liberalisme fundamentalis”.
Konservatisme agama dan modernitas tidak mesti bertabrakan. Orang boleh berjilbab sepuluh lapis (asal tidak memaksa orang lain berjilbab), tapi pola pikirnya progresif. Orang boleh mengenakan rok mini (asalkan tidak memaksa orang lain bermini ria dan menanggalkan jilbabnya) walaupun otaknya tergolong pra-agraris. Orang boleh terlena dengan lagu dangdut atau irama Melayu, tapi bergaul dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Orang boleh akrab dengan lagu-lagu rock, tapi buta huruf, buta komputer, dan buta buta lainnya.
Jadi, “la ikrah fiddin” termasuk din-ya “liberalisme” (apalagi liberalisme ala Islib yang hanya (masih) didasarkan pada lompatan-lompatan spekulasi).
Wallahu’alam! Abdurrahman Syebubakar
Kita bisa belajar dari Andi Malarangeng, untuk siap mendengar dan mengetahui pendapat orang lain. Tidak perlu harus menyatukan pendapat, cukup sekedar mengetahui dan menghargai perbedaan.
Begitu pula bila kita tidak sependapat dengan teman-teman Islib.
Salam, Syallom, Shaanty, Shaadu, Peace!
Anak bukanlah “seseorang” yang dilahirkan “oleh” orang tuanya, melainkan lebih merupakan “seseorang” yang dilahirkan “melalui” orang tuanya. Dengan demikian, anak telah memilih atas keinginannya sendiri untuk lahir sebagai anak keluarga tersebut, beribu dan berbapak dan memilih bangsa dan keyakinan yang ia inginkan sendiri dan kelak secara kodrati sang anak akan menjadi warga dunia.
Anak hendaknya diberikan kebebasan untuk memilih dan menentukan jalan hidupnya sendiri. Semenjak kecil ia selayaknya ditanamkan nilai-nilai luhur agama yang lebih bersifat spiritual yang universal dan esoterik, ketimbang pengajaran agama yang cenderung eksoterik, dogmatik dan bersifat indoktrinasi. Jika orang tua memiliki wawasan yang luas (Weltanschauung) mengenai keberagaman agama, maka boleh juga mengajarkan nilai-nilai substansi agama-agama lainnya, tanpa prejudice dan penghakiman. Hal ini akan mengembangkan sifat keterbukaan dan keluwesan dari sikap dan cara berpikir si anak. Dengan tuntunan pengetahuan spiritual dan bimbingan olah rohani mencapai kesadaran,—-yang secara empirik diakui keabsahannya——- praktis si anak akan berkembang dalam budi dan keluhuran akhlaqnya. Setelah dewasa dan cukup mampu mengatur dirinya sendiri.
Izinkan si anak untuk lebih leluasa lagi melakoni agamanya, apapun yang dikehendaki nuraninya dan menentukan jalan hidupnya sendiri. []
Allah Haafiz.
Menarik, sebab Andi Alfian juga saat ini adalah seorang politisi. Nggak tahu deh, kalo mengenai salat atau tidak salatnya Andi. Yang jelas dia pasti agak segan jika dinobatkan sebagai politisi busuk.
Semoga saja yang didapatinya selama di bangku sekolah menjadi tauladan dia kelak tatkala mendapat kepercayaan rakyat dalam memperbaiki negara.
Bang Ulil, Andi Alfian, dan kawan-kawan di Islib.. Banyak yah orang Islam yang salatnya lima waktu tepat waktu, tapi salat sosialnya molor melulu. Kenapa begitu, ya?
Tiar, Nasr City
Ya setuju kita dan mereka memang harus siap mendengar dan mengetahui pendapat masing-masing. Cocok pak Andi… contohnya istilah-istilah. Bagi orang Islam, siapa yang tidak percaya pada Allah dan Muhammad sebagai rasul-NYA disebut KAFIR.
Jadi orang (yang masuk katagori ini) tidak perlu tersinggung kalau disebut sebagai kafir dan kafir. Wong hanya istilah saja kok tersungging apalagi marah!
Sebaliknya kita—umat di luar Kristiani—disebut mereka sebagai domba-domba yang tersesat.
Jadi bagi mereka kita adalah WEDHUS-WEDHUS (bhs Jawa “Domba”) yang harus dituntun karena telah tersesat. Kita tidak perlu marah walau disebut oleh mereka wedhus. Bravo Islib dan pluralisme ala Ulil!
Assalamualaikum wr wb. Sudah hampir dua setengah tahun hidup dalam komunitas mayoritas Hindu di India. Sebagai seorang muslim, rasa rindu dengar azan dan pengajian di masjid rasanya tinggal kenangan karena hanya sewaktu-waktu kami menikmatinya bila jum’atan di mushala KBRI atau baca dan dengar Qur’an di rumah sendiri. Beda sekali dengan kehidupan di tanah air yang mayoritas Muslim.
Kesadaran timbul bahwa Allah SWT itu menciptakan alam semesta untuk kepentingan seluruh manusia , Rabul Alamin bukan rabul muslimin. Matahari bersinar, sinarnya dinikmati oleh seluruh manusia.
Sebagai wakil dari pemerintah, kami sering menghadiri acara-acara agama Hindu termasuk upacara ritual keagamaan. Disini kadang-kadang jadi gamang antara masuk kuil atau menolak. Akhirnya kami putuskan demi kepatutan kami masuk kuil lihat berbagai patung yang mereka sembah sebagai tuhan mereka. Allah SWT memberikan jalan keluar dengan jawaban di hati bahwa aku datang bukan untuk menyembah patung tapi aku datang untuk memuji kebesaran Engkau yang menciptakan manusia pembuat patung dari bahan-bahan berasal dari bumi ciptaan Illahi Robbi. Apa yang terjadi. Pendeta sebagai pemimpin agama tersebut menghargai kedatangan kami meskipun keyakinan kami dalam menyembah Tuhan Maha Pencipta berbeda. Selanjutnya kami berangkulan bagai saudara. Timbul keyakinan bahwa semua manusia baik Hindu, Kristen, Budha, Yahudi, Sikh, semua percaya adanya Tuhan dengan sebutan masing-masing hanya SATU namun cara menyembah TUHAN itu berbeda. Persoalannya timbul siapa yang menyebabkan kami berbeda keyakinan? Mengapa agama ini TIDAK SATU. Mengapa TUHAN menyatakan AGAMAMU agamamu AGAMAKU agamaku. TIDAK ADA PAKSAAN DALAM AGAMA.
Mari Saudara-saudaraku kita renungkan bersama arti “BHINEKA TUNGGAL IKA” atau Divertsity and Unity dalam tingkat universal. Semoga. Amien. Wassalam.
Ok juga pandangan bung Suhadi. Agak jarang kita dengar pendapat kaya bung yang enak dibaca dan perlu. Karena kalau soal agama, lebih sering kita denger pandangan yang emosianal, masing-masing merasa paling bener sendiri.
Mungkin pandangan yang baik kayak bung itu, juga ada dimana-mana; baik di Islam, Kristen, Hindu, Budha, Yahudi, dll.
Menurut saya yang Islami adalah menolak tanggapan yang masuk karena tidak sesuai dengan kriteria yang dimiliki atau telah ditetapkan, dan kriteria tersebut disampaikan pada peminat penulisan komentar. Kok, ya sekarang ini kesannya situs ini mempunyai sikap begini: Siapa suruh buka situs kami dan memberikan komentar, jadi kalau kami nggak suka tanggapan itu boleh dong kami tolak. Jelas boleh, tapi baca dulu deh awal dari tanggapan ini. Sakit euy. Wasalam.
——-
tulisan Islib memang renyah dibaca hingga tak terasa, owh sudah selesai ternyata membacanya ... meskipun tetap beda pandangan ... karena menurut saya bukan substansi yang terpenting tetapi landasannya ...
Komentar Masuk (9)
(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)