Wawancara,
08/05/2006

Martin van Bruinessen: Intoleransi Juga Mengalami Demokratisasi

Oleh Redaksi

Perubahan situasi sosial-politik di Indonesia sejak Reformasi 1998, telah ikut mewarnai corak keberagamaan masyarakat Indonesia. Apa saja bentuk-bentuk perubahan itu? Berikut penuturan Indonesianis dari Belanda, Martin van Bruinessen, kepada Novriantoni dan M. Guntur Romli dari Jaringan Islam Liberal (JIL), Kamis, (20/4) lalu.

08/05/2006 20:00 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (2)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 1 dari 1 halaman

Bismillah Assalamu’alaykum wrwb

Menarik sekali artikel wawancara ini. Saya jadi teringat dengan perjuangan Wali Songo di Indonesia, ketika Islam menyebar dengan cara yg sangat bervariasi. Salah satu cara yg paling “asik” adalah yg dilakukan Sunan Kalijaga. Melalui asimilasi dan akulturasi budaya, Islam dibawa dengan corak yang sangat keindonesiaan. Masyarakat Jawa yg terbuka memahami Islam dengan cara yg sangat lokal. Lebih tepatnya ‘nJawani’.

Ada satu hal yg menarik jika kita kaitkan dengan artikel tradisi Jepang yg akhirnya mencapai kemajuan. Bahwa Jawa memiliki sesuatu yang sangat memungkinkan bagi kemajuan, yaitu keterbukaan dan toleransi. Budaya Jawa sangat kuat unsur toleransinya, menghormati orang lain, terbuka, jika saja kita abaikan dulu hal-hal berbau feodal, budaya ethok-ethok (pura-pura), dan semacamnya.

Bukankah Meiji juga merestorasi negerinya melalui keterbukaan dalam hal kemajuan dan modernisasi, dari banyak bangsa? Bukankah Jepang merupakan bangsa yang begitu besar penghormatannya kepada orang lain?

Kritis, sebagai salah satu ciri masyarakat modern, sesungguhnya telah dimiliki saudara kita dari Sumatera, seperti Padang dan batak. Mungkin termasuk juga Betawi, “yang punya gaye”, ceplas-ceplos, percaya diri, terbuka.

Memegang teguh nilai, seperti budaya malu ketika berbuat salah, ewuh-pakeweuh, dan nilai-nilai masayrakat lainnya.

Saya akhirnya menyadari, sesungguhnya begitu banyak sifat-sifat positif bangsa kita yang serupa dengna saudara tua kita, Jepang. Kalau Indonesia ‘dipoles’ sedikit, misalnya lebih memiliki motivasi (eufimisme dari malas), boleh jadi Indonesia ke depan bakalan OK!

Bangsa kita punya banyak modal dari segi nilai-nilai ketimuran. Tinggal bagaimana kita mendefinisikan cita-cita kita, kemajuan bangsa kita sesuai “kodrat” timur kita.

Wallahu a’lam Wastaghfirullah Wassalamu ‘alaykum

#1. Dikirim oleh Ichsan Ari Wibowo  pada  21/05   06:05 PM

Beberapa kali saya membaca artikel dan wawancara JIL, selalu mengusung kultur jawa dan menafikan yang lain. Walaupun saya orang jawa, tapi rasanya agak risih, seakan kultur lain selain jawa itu tidak toleran, kaku, fundamentalis, tidak menghormati orang lain dll.
——-

#2. Dikirim oleh hasanudin  pada  20/04   03:05 PM
Halaman 1 dari 1 halaman

Tulis Komentar

Nama:

Surat-e:

Lokasi:

Situs:

Ingat data pribadi saya

Ingin dikirim setiap umpan balik komentar yang masuk?