Kolom,
24/08/2008

Irrelevansi dan Insignifikansi Agama

Oleh Trisno S. Sutanto

Tetapi justru fenomena keserba-hadiran agama itu punya matra patologisnya. Sebab, saya menengarai, feneomena keberagamaan yang ada tidak melewati pertimbangan sosiologis, melainkan sekadar dicomot dari khasanah puluhan abad lampau; juga tidak melewati proses kritik-dakhil teologis, melainkan sekadar mengulang-ulang rumusan yang baku. Karena itu agama-agama terancam untuk menjadi irrelevan dan insignifikan. Dan dalam pertarungan politik yang riuh rendah sekarang, tradisi keberagamaan seperti itu sangat rentan menjadi sekadar alat bagi kepentingan kekuasaan.

24/08/2008 10:55 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (11)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 1 dari 1 halaman

Ketika Agama tidak mampu melihat secara benar, posisi-visi-dan misinya di tengah dunia (dan masyarakat), akan mejadikan agama sebagai : Bom Waktu, Bibit Penyakit, dan Biang Racun yang akan meledak dimasa berikutnya.

#1. Dikirim oleh anton  pada  25/08   05:50 PM

Boleh dikatakan agama sedang mengalami proses kuantum dalam tatanan masyarakat post modern khususnya di Indonesia. Kegagalan meletakkan pada tatanan yang tepat akan menyebabkan kembalinya militanisme / puritanisme atas nama agama (Tuhan) atau justru penolakan terhadap keberadaan agama (Tuhan) itu sendiri / Atheisme terlepas dari keberagaman agama yang ada.

#2. Dikirim oleh Heru  pada  27/08   03:09 AM

pemahaman agama yang hanya sebagai sebuah dogma manjadikan ajaran agama tersebut tertelikung oleh peganutnya itu sendiri. pmahaman yang sangat sempit tersebut menjadikan manusia semakin membatasi dirinya dan menghasilkan manusia yang sangat kerdil sehingga menjadi manusia yang merasa paling benar.
apabila dipahami lebih mendalam lagi, perbedaan yang ada menjadikan kita semakin akaya akan pembaharuan sehingga menjadikan kita mngenal tuhan sebagai sebuah sosokyang sangat demokratis dan memhami manusia sebagai sebuah pribadi yang snagat unik dan personal.
semoga perbedaan menjadikan kita semakin kaya akan persaudaraan dan ilmu kebnaran hidup agar menjadi smakin mngenal diri kita sendiri, lingkungan dan semakin menjadi menyatu dengan Tuhan.

#3. Dikirim oleh deskam  pada  28/08   09:13 PM

perbedaan adalah wajah dari sebuah kebersamaan, perbedaan adalah bagian yang memberikan pada setiap manusia semakin lebih mengenal tuhan, karena saat kita menutup diri dengan merasa menjadi orang yang peling benar dan engan pemahaman serta ajara paling benar maka kita tlah manjadi pribadi yang tidak benar, sbab kebenaran sejati hanya milik tuhan.

#4. Dikirim oleh deskam  pada  28/08   09:18 PM

mabok2an adalah adat kebiasaan orang arab dahulu,,,lalu islam datang dan mengharamkannya

whatttttt???!! islam awal tidak sesuai dengan adat yg berlaku!!!

apakah ini berarti islam, sejak awal kehadirannya, telah menjadi irrelavan dan insignifikan? tidak relevan dengan adat yg berlaku di jaman ia muncul pertama kali?

renungkanlah!

#5. Dikirim oleh the fan  pada  12/09   03:29 PM

Fenomena keserba-hadiran agama memang mempunyai matra patologisnya. Dan itu harus diakui di Bumi Nusantara ini. Selain aspek sosiologis agama yang tidak dipertimbangkan atau sengaja tidak mau diangkat-karena-jangan-jangan mengurangi keilahian sebuah agama, faktor lain adalah kita orang-orang bergama seolah-olah memisahkan secara tajam antara agama sebagai sebuah doktrin dan manusia sebagai realitas eksistensial di tengah realitas plural.

Kalau memang alasan ini yang dipakai maka sangatlah naif. Persoalan kita orang beragama di Indonesia adalah kita kurang mengkaji aspek sosio-historis dan sosio-kultural dari agama kita. Padahal, agama ada dan hadir tidak terlepas dari temapt dan waktu tertentu. Konsekuensi logisnya adalah kita secara membabi buta memaksakan nilai dan doktrin agama kita secara serampangan dengan memaksakan supaya nilai, ajaran dan doktrin agama kita menjadi hukum, katakanlah dalam matra sosial dalam konteks negara ini… Inilah persoalannya, sehingga agama mempunyai matra patologis yang justru merusak tatanan hidup bersama dalam konteks realitas plural (being plurality).

Pluralitas hidup bersama terancam di tengah upaya uniformisasi (proses penyeragaman) dengan metode paksaan dan kekerasan dari salah satu agama atau kelompok identitas dalam realitas kehidupan Indonesia yang multikultur ini. 

Lebih celaka lagi, setelah kita mencomot mentah-mentah apa yang sudah terjadi ratusan tahun lalu di dunia seberang sana, kita paksakan dalam dalam dunia sekarang, dalam Indonesia tanpa memperhatikan konteks kekinian, sekarang dan disini…

Persoalan lain lagi adalah cara kita memberikan pelajaran agama kepada anak didik di sekolah-sekolah atau di padepokan-padepokan atau asrama-asrama dengan cara mengindoktrinir secara mentah-mentah apa yang belum tentu relevan dengan konteks zaman ini. Akibatnya adalah ajaran, nilai, moral dan spiritualitas yang diberikan itu tidak terinternalisasi secara matang dan manusiawi. Anak didik bisa saja menghafal semua doa atau semua isi kitab suci, tetapi dia tidak mengerti apa yang diucapkan atau yang difhafalkan itu. Sehingga, jangan heran, kenapa justru kita, di satu sisi mengaku kita orang bergama, tetapi di sisi lain cara dan kesaksian hidup kita tidak menunjukan kita sebagai orang beragama, apalagi orang beriman. Tengok saja di sekeliling kita: korupsi berjemaah,kekerasan dalam segala bentuknya termasuk atas nama agama merajalela.

Untuk poin ini, persoalan kita adalah ketakutan untuk membongkar tradisi dan cara berpikir kita terhadap nilai dan tradisi agama kita. Mengapa? Apakah karena kita takut kehilangan realitas ilahi dari agama kita masing-masing? Kitab=-kitab suci kita masing-masing? Kita perlu menjadi manusia yang beriman sekaligus bernalar dan manusia yang bernalar sekaligus beriman…

Oleh karena itu, menjadi penting bila proses pendidikan agama harus dibarengi dengan proses pematangan pribadi-manusiawi… 

Mari kita lebih kritis terhadap agama kita sendiri, supaya kita tidak terjebak dan terbelenggu terus dalam formalitas, kaku-beku tanpa ekspresi kebebasan sebagai manusia yang mempunyai nalar, kalbu dan kehendak bebas…

#6. Dikirim oleh Herry Metty  pada  16/09   03:06 PM

saya bingung sama komen nya bung anton. jika agama = kebenaran. maka haruskah kebenaran memposisikan diri dengan baik ataukah kita yang harus memposisikan diri dengan baik pada kebenaran itu sendiri? mungkinkah kebenaran menjadi racun, bom dan penyakit? mungkin saja tentunya ketika yang dihadapinya adalah kesesatan.

#7. Dikirim oleh dhanz  pada  23/09   05:04 AM

Re-tafsir nilai - nilai agama dan hilangkan kemasan agama yang kaku dan hanya terpaku pada hal2 tehnis..
Dahulukan pemahaman dan penghayatan nilai2 yang kontestual dari pada yang tekstual… kalo nggak agama akan berubah menjadi lebih buruk dari hari-kehari sampai akhirnya Ia jadi racun yang mencemari kehidupan bumi…
baca selengkapnya di : http://www.kafir-cinta-tuhan.blog.com

#8. Dikirim oleh Ajie Bayu  pada  13/10   10:05 AM

di medan ada gereja yang mengatasnamakan ortodoks buka stt tapi didalammya kebanyakan orang nias, yang cuma makan tidur, yang pada akhirnya jadi beban gereja mereka sering bikin ulah dengan mencuri , ngutang di warung sering bawa perempuan ke hotel, dan meniduri anak orang , gimana ini demi kebaikan nama ortodoks mohon di usut

#9. Dikirim oleh gregorius  pada  12/11   12:42 PM

menjadi manusia yang tidak terikat pada dogma ajaran agama sehingga menjadi manusia yang bebas serta menghargai orang lain rasanya masih sulit untuk dilakukan di bumi ini. agama sering kali menjadi bahan kepentingan golongan, kekuasaan serta kepentingan diri untuk mencapai tujuan pribadi maupun golongannya sendiri tanpa mau memahami kepentingan orang lain dalam skala yang lebih besar.
menjadikan agama sebagai dalih untuk kepentingan baik politik maupun kepentingan golongan tertentu adalah sebuah pembelokan ajaran hakiki dari agama yang ada, dan hal tersebut harus diselesaikan sesuai dengan jalur hukum dan kebenaran yang tentungan tidak memihak siapapun, karena hukum adalah sama dihadapan siapapun juga tanpa terkecuali. mohon ketegasan dari berbagai pihak yenmg terkait terhadap[ penyimpangan dengan mengatasnamakan agama untuk kepentingan maupun keuntungan diri dan golongannya. serta satu hal yang pasti untuk menghasilkan sesuatu yang benar pastinya harus dengan cara yang benar pula, oleh sebeb itu selesaikan tanpa kekerasan.

#10. Dikirim oleh deskam  pada  15/11   06:06 AM

Untung islam bukan “agama” tetapi dien sebagaimana dalam pengertian dan kaidah bahasa arab, jadi masalah irrelevansi dan insignifikasi agama adalah masalah yang direka-reka nalar seorang manusia… dalam rangka menalari penalaran manusia lain… dan untung pula ternyata manusia dapat terus hidup walau tidak hanya mengandalkan nalar… jadi no problem with junk problemo oleh pembuat problemo-problemoan… duh nikmat nian hidup tak terlalu dikekang nalar

#11. Dikirim oleh kabayanist  pada  18/11   05:28 AM
Halaman 1 dari 1 halaman

Tulis Komentar

Nama:

Surat-e:

Lokasi:

Situs:

Ingat data pribadi saya

Ingin dikirim setiap umpan balik komentar yang masuk?