Wawancara,
15/07/2008

Irshad Manji: “Saya Seorang Pluralis, Bukan Relativis”

Pengetahuan kita amatlah terbatas, sehingga kita tidak bisa berlagak laiknya Tuhan. Hanya Tuhan lah Tuhan. Sementara kita di atas bumi ini harus menciptakan sebuah tatanan masyarakat di mana kita dapat berbeda, berdebat, dan bertentangan satu sama lain secara damai, beradab dan tanpa rasa takut. Jika kita melakukan itu, berarti kita sedang memuja Tuhan, karena dengan demikian berarti kita menyadari bahwa hanya Allah-lah yang memiliki kebenaran mutlak.

15/07/2008 05:49 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (31)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 1 dari 2 halaman 1 2 > 

Karena Tuhan itu berjauhan secara substansi dengan manusia maka dia
mengutus manusia sebagai rasulnya untuk menyampaikan pesan atau
kehendaknya, jadi bukan jadi ganti dirinya. Semua itu agar pesan yang
sampai menyentuh kemanusiaan karena disampaikan manusia pula

Kalau Al qur’an adalah wahyu Tuhan yang terpilihara maka memahami
teks itu berarti memahami kehendak Tuhan. Nah, masalahnya JIL dan
penyokongnya kan ragu dan meragukan keorisilan al- Qur’an. Jalan
keluarnya, tolong JIL bersama sekutunya untuk menciptakan tandingan
Al-Qur’an untuk menguji keorisinilannya. Sebab bukankah Tuhan sendiri
dalam Al-Qur’an menantang siapa saja yang ragu dengan kitab itu untuk
membuat tandingannya. Sebagai Kitab yang leterlet diwahyukan Tuhan maka
jaminannya tidak akan ada yang bisa menandinginya. Artinya ia tidak
sama dengan kitab yang lain. Silahkan teruskan proyek membuat Al-Qur’an
tandingan atau kitab sendiri. kalau tidak bisa apa sikap anda sekalian

Anda sedang mengerjakan proyek yang sudah dikerjakan sejak 14 abad yang
silam yang sampai hari ini tidak pernah berhasil baik bersekutu dengan
seniman, sastrawan, teknokrat atau ilmuwan.

#1. Dikirim oleh Irsad  pada  15/07   07:32 AM

Oleh karena itu, kita sebagai muslim telah diberikan pedoman hidup
yang jelas. Pedoman hidup kita pada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Cara kita
hidup menjadi jelas harus bersikap dan bertindak. Namun yang menjadi
masalah, mengapa orang-orang yang mengaku dirinya muslim ternyata
berprilaku di luar syariat yang diajarkan oleh Rasulullah. Bukankah
Rasulullah SAW telah bersabda bahwa “Kelak ummat Islam akan terbagi
dalam 73 golongan, namun hanya satu yang masuk surga, yaitu orang-orang
yang mengikuti sunnahku”. Itu berarti jika kita ummah Islam ingin masuk
surga maka prilaku kita harus meniru apa yang telah dicontohkan oleh
RAsulluh.

#2. Dikirim oleh Akbar Tanjung  pada  16/07   06:20 AM

saya tidak yakin apakah irshad manji benar benar menyandarkan diri pada “hati nurani dan tuhan semata” dalam mencari kebenaran.

kita tentu sangat setuju dengan ide-ide yang menyegarkan dan baru
demi kebangkitan “Islam”. tapi dalm kasus yang sudah jelas hukum
moralnya kok malah mau dimundurin gimana orang ini???

saya kira semua orang yang punya “akal dan nurani” sepakat bahwa
dengan teori apapun melegalkan transeksual, homosex dan lesbian adalah
suatu hal yang sangat dipaksakan. karena hal itu bertentangan dengan
hukum semesta moral yang sifatnya universal.


hal ini sudah sangat jelas dan universal.bukan masalah doktrin dari guru madarsah dia waktu kecil.


saya harap dia lebih mendalami lagi “pesan moral” dalam kisah luth itu.

ingat cak nur pun menganggap homosex dan lesbi itu melanggar
sunnatullah, hukum alam yang sifatnya universal. saya kira cak nur
sangat bijak dan jujur dalam hal ini.

#3. Dikirim oleh yasir iqbal  pada  16/07   10:20 AM

Memang perlu dibedakan antara Islam dan Arab. Tidak semua yang
berlaku di Arab adalah merupakan intisari Islam. Aturan, sistem,
ataupun paham yang berlaku dan dipertahankan harus dilihat dulu siapa
yang diuntungkan ? Orang-orang demikian pasti mati-matian
mempertahankan status quo. Ini hanya pendapat saya saja yang awam
(tidak beragama Islam) dan tidak terlalu mengerti Islam. Terima kasih.

#4. Dikirim oleh yudas ts  pada  16/07   07:36 PM

Salut untuk Irshad Manji!

#5. Dikirim oleh Ed aFief  pada  25/07   01:55 AM

ya, saya yakin sudah menjadi sesuatu yang lumrah bila kita ingin mempertahankan apa yang kita percayai dan kita anut, namun dalam hal ini saya katakan bahwa apapun kepercayaan kita seharusnya kita membuka mata, telinga dan otak kita untuk melihat, mempelajari terhadap apa yang kita percayai tersebut. ini bukan berarti kita ingin menukar kepercayaan kita, tetapi kita juga harus membuktikan bahwa apa yang kita percayai itu memang patut untuk dipercayai. bila kita hanya ingin membela dengan menutup mata, ya itu namanya percaya buta.

#6. Dikirim oleh firdaus  pada  26/07   04:36 PM

tolong jangan diambil mentah tulisan Irshad karena; statemen yg mengatakan tidak ada kebenaran mutlak selain Allah” sangat menjebak. sebab buntutnya bisa tidak percaya lagi dengan Nabi, Sahabat, dan slafus Shalih yang tentunya adalah orang 2 benar yang tidak di ragukan.

#7. Dikirim oleh munim  pada  29/07   04:20 PM

Saya kerap bingung dengan segelintir yang disebut cendekiawan Islam yang gagasannya
didaulat, dikagumi, diadopsi. Agama dalam
padangan saya bukan sekadar materi akademik
yang asyik diutak-atik secara intelektual,
namun juga sesuatu yang menuntut keseimbangan
gagasan dan perilaku. Dengan kata lain, konsistensi teori dan praktik.

Bagaimanakah bisa saya misalnya mencerna
dengan tenang gagasan brilyan seorang
cendekiawan dengan pilihannya atas lesbianisme
yang jelas2 ditolak semua agama yang saya
tahu? Ayat-ayat mana lagikah yang dirasakan
perlu ditafsir ulang demi menjustifikasi
homoseksual?

Bukankah narasi Sodom-Gomorah dalam kisah
Luth jelas2 menegaskan pandangan Quranik
atas perilaku homoseksual?

Oh Tuhan.  Saya gak tau melalui orang
seperti apakah dalam zaman kini agama
yang teduh dan menggetarkan itu ditemukan?

#8. Dikirim oleh nuri  pada  03/08   02:26 PM

saya bingung dengan website ini katanya website islam tapi kok malah membanggakan dan memihak kepada atheis dan agama lain yah????
tolong pencerahan

#9. Dikirim oleh danie  pada  07/08   04:06 PM

Allah Maha Ghaib, tak ada akal yang mampu menjangkauNya. Ia tidak menempati ruang dan waktu. Tidak mempunyai awal dan akhir. Ia tidak punya rencana dan tidak menrencanakan sesuatu.

#10. Dikirim oleh Supriyanto  pada  08/08   08:47 AM

mengapa sebagian (besar) dari umat islam menutup mata dan telinga mereka rapat-rapat??? “tidak setuju bahkan sebelum tahu apa yang tidak disetujui tersebut” itulah yang terjadi pada orang2 tersebut. apa yang diperjuangkan sekarang ini bukan mengganti alqur’an atau mengubah alqur’an melainkan membuka pikiran atas beragam dan relatifnya PENAFSIRAN dari ayat2, alqur’an. TAFSIR tidaklah identik dengan AYAT2 AL’QUR’AN itu sendiri. AL-QUR’AN dari Allah, penafsiran dari pikiran manusia. yang mutlak itu AYATnya, bukan TAFSIRnya.

#11. Dikirim oleh ica  pada  16/08   05:33 AM

“Pengetahuan kita amatlah terbatas, sehingga kita tidak bisa berlagak laiknya Tuhan”
-Karena itulah sudah sepatutnya kita hanya ikut apa yang dikatakan Tuhan yg Maha Tahu, karena hanya DIa yang Tahu dan Berilmu, kita jangan berlagak sok tahu, berpendapat ini-itu secara ngawur melawan apa yg sudah diberi-TAHU-kan TUhan yg maha Tahu.

“Jika kita melakukan itu, berarti kita sedang memuja Tuhan, karena dengan demikian berarti kita menyadari bahwa hanya Allah-lah yang memiliki kebenaran mutlak”
-Hanya Alloh-lah yang tahu apa itu ‘memuja’ karena kebenaran Allah mutlak. KIta yg tidak mutlak tidak berhak menentukan arti ‘memuja’. Apa yg anda sebut dgn memuja itu hasil otak anda sendiri, bukan dari Allah. Dimana Allah pernah menerangkan arti memuja sebagaimana yg anda katakan.
DARI mana anda dapat makna itu? BIkin makna sendiri? KLo begitu Allah tidak mutlak dong? Gak mungkin lah, anda sendiri mengakui kebenaran Alloh mutlak. jadi bingung nih dikau.

#12. Dikirim oleh bahkung  pada  16/08   03:04 PM

“Allah Maha Ghaib, tak ada akal yang mampu menjangkauNya. Ia tidak menempati ruang dan waktu. Tidak mempunyai awal dan akhir. Ia tidak punya rencana dan tidak menrencanakan sesuatu.”

Alloh Maha Tahu, Dia punya rencana, Anda pun dan saya punya rencana. Kita akah melihat buah rencana kita. Jika anda sekarang berumur 30th, paling lambat 30-40th ke depan anda akan merasakan buah rencana anda, PASTI!

#13. Dikirim oleh bahkung  pada  16/08   03:09 PM

Kali pencipta tersenyum lembut ya, tergelar di hadapannya makhluk2 sempurna ini lagi rame,beramai2 dan berlomba2 dengan jalannya masing2 menuju kepadanya…Namun dari semua itu pasti sang pencipta memilih meraka yang jujur,ikhlas dan cermat ketika melewati bentangan menuju padanya..“Tidak kerna ada dorongan sesuatu atau lain hal..“akan tetapi berangkat dari sebuah kesadaran akan rasa syukur untuk sang pencipta..

#14. Dikirim oleh Yusuf yaghib  pada  15/09   02:57 AM

Kita hanya manusia biasa yang bisa yang bayak salah dan dosa.Berpikir memang perlu tapi jangan menafsirkan berdasarkan pemikiran kita,memang sudut pandang bisa beda.Bukankah kita umat islam percaya sama sunah Rosul yang jika Rosul salah langsung mendapat teguran langsung dari Alloh.Saya mohon Maaf jika ada yang kurang berkenan,

#15. Dikirim oleh samin  pada  25/09   02:35 PM

irshad ini kan lesbian. tapi kok omongannya di percaya 100 %. dia kan tidak ahli agama, tapi banyak bicara mengenai tafsir agama seenaknya.
kalau ikatan dokter jantung seluruh dunia menyatakan bahwa makan nasi itu bisa merusak jantung. kita pasti percaya karena yang bicara ahlinya. tapi kalau ahli mesin yang bicara tentu kita agak sulit percaya

#16. Dikirim oleh hendra  pada  25/11   03:02 PM

Rosullalah Saw,pernah berwasiat sebelu akhir hayatnya “aku tinggalkan dua perkara yg tak akan sesat selama-lamanya selama kamu berpegang kepadanya (Al-quran dan Hadist),dan jg dihadist Rosullah Saw berkata"untuk urusan ibadah lihat aku,dan untuk urusan dunia terserah kamu” intinya silahkan umatnya beristijhad sebatas bukan mengenai ibadah karena Rosullah Saw telah sempurna dan disempurnakan (keislamannya) olehNya.jadi saya bingung dgn sebagai orang awam dlm menilai perkembangan islam pd saat ini,bagaimana segala sunatullah yg sudah termaktub jelas2,masih dipertanyakan relevansinya dgn segudang argument diotak manusia,bahkan segelintir manusia sanggup membantah bahwa agamanya bukan yg terbaik (walau itu kallammullah),bukankah kata Rosullah Saw silahkan kamu mengambil suatu pendapat atau apaun namanya tapi tidak untuk urusan akhirat (ibadah),luar bisa bukan ucapan rosul tsb?(berarti beliau telah mampu menjawab tantangan jaman setelah masa2 beliau,jadi jika ada yg mengkritisi sunattullah dengan berbagai argumen saya rasa mungkin hanya hawa nafsu yg ditonjolkan (berlebih),tapi dirasa terbentur oleh ketentuan2 yg datangnya dari Allah SWT.

#17. Dikirim oleh Maulana  pada  09/12   09:27 AM

Bohong Besar jika seseorang ikrarkan diri sebagai pluralis tanpa mampu mengkaitkannya dengan mindset orang per orang yang benar2 telah ditakdirkan berbeda-beda suku dsb (plural). Pluralis sejatinya hanya dapat terjelma minimal dalam lingkup dan visi komunal bukan dalam wadah perseorangan. Mungkin yang diinginkan manji adalah pola pikirnya ingin mengakomodasi pluralisme…. tapi apa daya pola pikir dan hakiki pluralisme jauh berbeda… jika manji pluralis maka dapat dipastikan levelnya baru sebatas mindset dimana dia tinggal dan sering berinteraksi…. Cobalah dia suruh masuk atau kabayan undang ke komunitas kabayan….maka sekonyong-konyong beliau akan mengetahui bahwa ada pluralis “lainnya”. Sehingga pluralis yang dia maksud sebenarnya hanya sekedar suatu tingkatan saja dari rangkaian proses mengenal pola pikir dirinya dan orang lain yang “kebetulan” pernah berinteraksi dengan dirinya. Jikalau terjadi stagnansi interaksi dalam perjalanan hidup mandji dan tertutupnya gerbang berinteraksi secara “ikhlas” dengan kaum atau orang lain yang belum sempat terinteraksi oleh manji…..maka sesungguhnya MANDJI hanya sebongkah manusia dengan pola pikir yang dia setting berdasarkan nafsiahnya sendiri. Dan output dari bongkahan mandji hanyalah bentuk penguatan fenomena keterserakan dari objektifitas seorang manusia yang coba menilai suatu fenomena tanpa dilandasi keutuhan dari fenomena tersebut….Kabayan juga bisa donk kalo koar2 pluralis mah…..tapi apakah kabayan benar2 demikian…. kan terserah yang menilai…. dan bukan pada tempatnya mengklaim secara sepihak…. MEMANG DI DUNIA INI BONEKA PINGUIN LEBIH BISA LELUASA TERSEBAR KE SEANTERO DUNIA DIBANDING PINGUIN “ASLI”.... yang suka klaim ini itu walau palsu akan lebih bergaung dibanding “klaim” hakikinya

#18. Dikirim oleh kabayanist  pada  26/12   04:27 AM

apapun motodologi yang digunakan dan bagaimanapun ditafsirkan, menurut saya tidak apa-apa mas. yang penting di ingat adalah bahwa kita itu punya Tuhan yang akan menyaring, sebagus apapun kalau tidak sesuai dengan keinginan Tuhan, kan sama saja….
kalau saya sih…setuju saja dengan corak penafsiran yang sangat plural, kan memang harus ada sebagai tandingan penafsiran yang lain semisal literal.////

#19. Dikirim oleh Tirmidzi  pada  02/01   04:16 AM

Allah itu Maha Pengasih dan Maha Penyayang, Allah itu tuhan semua agama dan agama itu bukan ritual, agama itu ada untuk Way of life, bukan untuk menjadikan kita lebih baik atau lebih benar dari orang lain (karena semua kebaikan dan kebenaran HANYA pada ALLAH semata) tapi untuk berbuat baik untuk diri sendiri dan berbuat baik untuk orang lain, orang lain suku, lain agama, lain bangsa dan lain-lain sebagainya. So, JANGAN pernah mengambil peran TUHAN (play god)yang menghakimi, menghukum,karena orang-orang satu agama sekalipun punya imajinasi yang berbeda tentang TUHANnya masing-masing. Mengapa kita menghinakan agama orang lain untuk menyatakan agama kita lebih baik, mengapa kita merendahkan orang lain untuk mengatakan kita lebih baik atau lebih tinggi dari orang lain. Ingat emas tetap emas walaupun dalam lumpur sekalipun. Karena setiap penganut agama mempunyai keyakinan yang sama dengan kita, bahwa agama mereka lah yang paling benar, begitu juga Anda, saya, dan siapa saja yang mengaku punya agama. INGAT!!! Sebelum ditemukan Api, manusia tak ubahnya seperti binatang.

#20. Dikirim oleh hendri  pada  14/01   03:38 PM
Halaman 1 dari 2 halaman 1 2 > 

Tulis Komentar

Nama:

Surat-e:

Lokasi:

Situs:

Ingat data pribadi saya

Ingin dikirim setiap umpan balik komentar yang masuk?