Kolom,
01/11/2011

Islam Berkemajuan: Prinsip Kritisisme dalam “Ideologi” Muhammadiyah

Oleh Muh. Asratillah Senge*

“Ahmad Dahlan adalah salah satu ulama Islam yang berusaha mendekatkan antara rasionalitas dan pengamalan serta pengalaman keberagamaan. Dengan kata lain Sang Pencerah tersebut berusaha menjadikan ilmu pengetahuan sebagai teman akrab bagi agama”

01/11/2011 14:23 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (8)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 1 dari 1 halaman

Siapa Ahmad dahlan?..saya tidak mengenalnya. saya lebih mengenali Muhammada saw sebagaimana saya mengenali Sukarno melalui sejarah mutawatir [bukan melalui penglihatan mata kasar. [Mengenal dengan melihat itu tidak sama].

Jadi untuk mengukur benar atau tidaknya suatu faham, maka bagi saya lebih cenderung mengkaji dan merujuk kepada apa yang sabdakan oleh Nabi Muhammad saw itu, mengapa mesti merujuk dan mengagungkan manusia biasa seperti Dahlan itu?, tidak logik bukan?.

saya pernah terbaca didalam LAMAN ini yang mengatakan; “EKONOMI AMERIKA MENGIKUT WAHYU”. Lihat sekarang!! Apa yang tejadi?.

lagi pula Al-Quran itu sdatu-satunya buku yang tidak pernah disentuh oleh tangan jahat manusia. di didalamnya mengatakan; ” Inilah jalanKu yang lurus, ikutilah ia…......

Bukankah seluruh dunia sekarang dilanda ketidak seimbangan lantaran tergelincir dari ril yang lurus itu?.

#1. Dikirim oleh joko santoso  pada  07/11   09:55 AM

buat mas joko santoso,,kalimat anda “mengenal beda dg melihat”,saya mau tanya” apa sampeyan melihat/bersyahadah ketika menyatakan syahadat?...kalau anda bersaksi anda harus benar2 melihat/menyaksikan Allah,,kalau anda tdk melihat,,saya jamin anda seumur hidup telah berbohong…

#2. Dikirim oleh bhre wirisobho  pada  11/11   10:08 AM

anda benar saudara penulis, tetapi permasalahan yang terjadi sekarang adalah muhammadiyah telah berubah menjadi kapitalisme… kurang merakyat… nah sekarang bagaimana kita melakukan pembaharuan yang baru dalam tubuh muhammadiyah itu…

#3. Dikirim oleh Dzulfikar  pada  12/11   09:36 PM

buat pak.bhre wirisobho : Sebelum ini saya sudah menjawabnya, tetapi tidak ditayangkan, tetapi sekali lagi saya ulang; “Pernahkah Bapak melihat nyawa bapak sendiri? tidak bukan?.....Bukankah bapak sangat mengenal dengan nyawa bapak itu?...Jika bapak menjawab tidak kenal, maka bapak lah orang paling dusta. Mustahil pak! saya ini akan menyembah Allah jika saya tidak mengenalnya. mustahil pula Al-Quran yang hampir satu setengah abad itu kekal, jika bukan kalam Allah. padahal telah banyak usaha oleh kafirin seperti JIL untuk merobah-robahnya.

#4. Dikirim oleh joko santoso  pada  24/11   09:13 PM

buat, mas joko. Sangat penting untuk kita ketahui bahwa, islam hadir tidak dalam kondisi vakum sosio-historis. Kalau kita meminjam argumentasi fenomenologi Husserl, “Noetic Nucleus”, atau “Islam Transendental”, selama menapaki sejarah kemanusiaan, mengalami “kontaminasi makna”, makna yang berasal dari horizon sosial-budaya-struktur kekuasaan yang mengelilingi kita selaku manusia. Jadi menurut saya sangat sulit mempertanggung jawabkan pernyataan ” Lebih baik saya merujuk kepada Al-Qur’an dan Sunnah” seakan-akan dengan “merujuk” tersebut, kita dapat mengakses keinginan dari Allah SWT. Karena kebenaran yang diketahui oleh manusia adalah kebanaran yang telah “mengalir dalam darah dan daging kita”, kebenaran yang diketahui manusia tidak sepenuhnya metafisik atau transenden.

#5. Dikirim oleh ASRA  pada  24/11   09:18 PM

buat, mas ASRA. Bagi saya lagi sulit dipertanggung jawabkan kepada dakwaan2 manusia berbanding teks AlQuran, karena Al-Quran itu sendiri adalah bentuk ke bertanggung jawaban..semua didalamnya benar, sehinggga orientalis tidak menjumpai selobang jarum pun ruang untuk menafikan kebenarannya, karena itu mereka mencipta gunting dalam lipatan (JIL) untuk membengkokkan ayat2Nya.

#6. Dikirim oleh joni jefri  pada  23/12   03:29 PM

sekali lagi buat MAS ASRA;...PEBEDAAN.(Karena kebenaran yang diketahui oleh manusia adalah kebanaran yang telah “mengalir dalam darah dan daging kita”,)Pesoalannya ialah;

Bagaimana jika seratus dari kita mengatakan seperti yang Mas dakwahkan itu?. apakah kebenaran itu sebanyak seratus pula…Apakah Hakim di pengadilan akan menerima dakwaan kebenaran dari seratus kita itu sedang semuanya bercanggah?......Tetapi Al-Quran hanya satu, jika bercanggah dengan-Nya, maka seribu dakwaan pun akan dikalahkan-Nya.

#7. Dikirim oleh joni jefri  pada  23/12   03:35 PM

Baik pak ASRA atau Mas bhre wirisobho; saya katakan JIL itu kafir, karena JIL telah menolak ALLH, RASUL dan Al-Quran. Banyak buktinya…(contoh logika).
FIFA berfirman; “Hai para wasit sekalian!, tugas kamu hanya memberi ingat saja, biar aku yang menghukum kesalahan pemain diakhirat kelak”.....Bapak tahu apa kan terjadi kepada dunia bole sepak….tidak akan wujud bukan?.
Presiden berkata; ” Hai Jajaran menteri dan aparat negara sekalian!, tugas kalian hanya memberi ingat, tidak bisa menghakimi, karena aku yang berhak menghakimi”....Bisakah bapak hidup didalam negara yang berperaturan seperti itu….bukankah habis nanti anak isteri kita diperkosa orang?..

sekarang bandingkan dengan Al-Quran,jika tidak dikuti oelh Nabi Muhammad saw lantaran tidak bisa menghukum?, berperang melawan musuh dll?. selamat berlogika.

#8. Dikirim oleh joni jefri  pada  23/12   03:49 PM
Halaman 1 dari 1 halaman

Tulis Komentar

Nama:

Surat-e:

Lokasi:

Situs:

Ingat data pribadi saya

Ingin dikirim setiap umpan balik komentar yang masuk?