Islam dan Pluralitas(isme) Agama
Oleh Abd Moqsith Ghazali
Ini tidak berarti bahwa semua agama adalah sama. Sebab, di samping memang mengandung kesamaan tujuan untuk menyembah Allah dan berbuat baik, tak bisa dipungkiri bahwa setiap agama memiliki keunikan, kekhasan, dan syari`atnya sendiri. Sebagian mufasir berkata, al-dîn wâhid wa al-syarî`at mukhtalifat [agama itu satu, sementara syari`atnya berbeda-beda]. Detail-detail syari`at ini yang membedakan satu agama dengan agama lain.
Komentar
Agama selain Islam mempunyai persamaan di NERAKA!!!
Bertobatlah!!!!
Bacalah Ali-Imran ayat 85
sejak Jaman Penjajahan di Indonesia hampir tidak ada konflik agama,Yang ada konflik kenpentingan! seperti yang terjadi akhir-akhir ini. Sarjana2 Barat umumnya seperti yang disebut oleh M. Husain Haikal dalam Buku “ Riwayat Hidup MUhammad” pada intinya bukan melakukan study akademik, tapi lebih untuk kepentingan agamanya, dan keturunannya saat ini sudah sampai ke Indonesia.
Dalam Pidatonya baru-baru di Mesir Presiden USA Barrack Obama menyatakan “ bagaimana kehidupan bertoleransi Umat Beragama di Indonesia” dimana beliau pernah tinggal dan merasakan suasana itu di Indonesia.
Jadi apa yang dibicarakan orang2 sekarang ini hanya menguras energi yang tidak perlu.
Wassalam.
Sebagai umat muslim saya punya pertanyaan menarik :
Kenapa islam (umatnya)kelihatannya sangat sulit menerima konsep pluralisme. Agama-agama lain, saya lihat fine-fine saja menerima konsep pluralisme. Tapi islam? ....................
Kira2 ada yang mau menjawab pertanyaan saya?
@ Muslim
Muslim menulis:
“Agama selain Islam mempunyai persamaan di NERAKA!!!
Bertobatlah!!!! “
Pertanyaan saya:
Anda bicara sepertinya Anda sendiri adalah Allah. Apakah Allah yang Anda percaya lebih dari Allah Yang Esa karena termasuk DIRIMU SENDIRI. Mengenai SURGA dan NERAKA adalah hak Allah.
Apa yang Anda sampaikan diatas membuat saya ragu akan ke-ISLAManmu. Jadi Andalah yang patut BERTOBAT!!!!!!!!!!!!!!.
Jangan melangkahi hak ALLAH.
hila
Golongan Islam Fundamentalis fanatik dgn dasar kebencian kepada umat yahudi, nasrani dll, mengatakan umat islam dilarang mengambil pemimpin dari umat yahudi.nasrani dll.karena mereka tidak senang sebelum orang2 islam kembali kepada mereka.
Ayat itu turtun waktu Rasul sedang bermusuhan atau sedang berperang.
Kalau kita lihat ayat lain yg turun waktu damai dgn orang2 yahudi,Nasrani dll, maka ALLAH memperingatakn Rasul agar jangan dendam, dan jangan sampai berlaku TIDAK ADIL dgn orang2 yahudi,Nasrani dll.
ALLAH mengatkan di QS 60:7-8, bahwa umat islam harus dan wajib berkasih sayang dan berlaku adil dgn mereka2 yang tidak memusuhi Islam.
Memang ada dlm masarakat yahudi dan nasrani itu yang RADIKAL Extremis, yang selalu membenci Islam.
Orang2 Kafir seperti itu sedikit dan jangan di ambil sebagai kawan dan pemimpin umat.
Wassalam
mas moqsith, boleh saya tahu dari mana sumber jika yang Mulia nabi Muhammad menikah dengan budak nashrani?...dan untuk ahli kitab, ahli kitab adalah orang yang mengerti dengan kitab agamanya, sedangkan kitab agama2 samawi yang lain kitab nya sudah terkontaminasi u/kepentingan bangsa yahudi (talmud)...jika benar sesrorang adalah ahli kitab, maka orang tersebut pasti akan merujuk pada islam dan al qur’an karena semua kitab ASLI agama Samawi merujuk kesana...dan otomatis di Zaman sekarang ahli kitab itu sudah tidak ada, karena semua ahli kitab pasti sudah beragama muslim...ahli kitab zaman sekarang yg di sebut penulis adalah ahli kitab yang bukan menurut dalam konteks al qur’ an, karena kitab2 yang lain zaman sekarang bukan kitab dari langit, melainkan karangan manusia, yang ditulis setelah konferensi Nicea 5 abad setelah Yesus (Isa) meninggal (otomatis ada distorsi dalam penulisannya)....mengenai diterima atau tidak nya Non muslilm di surga, hanya Alloh yang tahu yang mem Maha membuat perhitungan…
Jawaban untuk pertanyaan pluralisme : Ya karena Islam agama paling benar, yang lainnya sesat , jadi konsep2 iblis lebih mudah masuk ke agama2 lain
Setelah membaca tulisan diatas,
Indah sekali,
bagaimana mereka saling membela, bagaimana mereka saling melindungi,
apalagi tentang ibadat agama kristen yg dilakukan di suatu masjid atas insiatif nabi Muhamad,
sekali lagi,
indah sekali.
Agama satu dgn yang lain memang berbeda, dan sangat sulit untuk disamakan.
Tapi dengan semangat dari sejarah yg pernah di lakukan di Tanah Arab “dulu”.
Mengapa kita tidak melakukannya lagi.
Karena berbeda juga suatu Hak, tinggal bagaimana kita menyingkapinya .
salam
tolearibowo
Kalau boleh diizinkan saya ingin urun rembuk dengan Bung Pluralisme yang mengajukan pertanyaan, sbb :
1.Yang diterima oleh umat Islam dalah Pluralitas, silahkan periksa di Kitab suci Alquran, disana terdapat pengakuan keberagaman agama yaitu yahudi, nasrani, majusi dsb.
2.Sedangkan Pluralisme tidak bisa diterima karena
menggiring kepada pemahaman tentang relativitas atas klaim finalitas dan
kebenaran yang diyakini sebuah agama, sehingga agama-agama tereduksi menjadi
subordinasi atau partikulasi.
3. Umat Islam mempersilahkan orang lain beriman kepada agamnya dan sebaliknya juga bgitu namun demikian. Biarlah orang Kristen yakin bahwa agamnya lah yang benar, orang Yahudi yakin Yahudi lah yang benar, Umat Shinto juga hanya yakin Shinto yang benar itulah pluralitas. Tidak perlu dipaksakan pluralisme
oooi mas kalau Islammengakui semua Agama itu sama lalu bagaimana dengan ayat Alquran “innaddiina indaLlahi alIslam
Dua pertanyaan buat Ra Moqshit;
1. Bukankah Najasyi sdh m’akui & m’ucapkan Syahadatain d dpan Ja’far bin Abi Tholib? Jadi ketika wafat, dia adalah muslim eks kristen.
2. Kalo ayat2 jihad scra ansich hnxa utk m’bela diri dn m’sikapi serangan kafir, kenapa turunnya justru d Madinah? Dimana Islam sdh cukup mapan dn relatif stabil.
Sakalangkong
Bolehlah anda bilang kesana-sini tentang agama-agama lain. Tetapi sekali lagi baca dong, Al Qur;an memang menghormati agma lain tetapi sangat jelas-jelas kalau mau Selamat ya Masuk Islam. dan Islam diturunkan untuk membatalkan agama lain yang isinya sudah ndak karu-karuan.
WAh tulisan yang bagus, memberi pencerahan dan ditulis secara sistematis dan tidak emosional.
@ferdi: masalah tentang definisis ajli kitab memang ada pebedaan, tapi anda katakan kalau :
“karena kitab2 yang lain zaman sekarang bukan kitab dari langit, melainkan karangan manusia, yang ditulis setelah konferensi Nicea 5 abad setelah Yesus (Isa) meninggal (otomatis ada distorsi dalam penulisannya”
Bukankah nabi Muhammad lahir kira2 tahun 571 Masehi? Berarti sebelum Al-Qur’an diturunkan sudah terjadi apa yang anda sebut “konferensi Nicea 5 abad setelah Yesus (Isa) meninggal”, toh ayat2 tentang ahli kitab tetap turun. Jadi bagaimana mungkin ayat tersebu ttdiak berlaku lagi sekarang?
Ketika saya remaja di Jawa Tengah thn 1970-80-an kayaknya gak ada friksi tajam masalah pruralitas/me di Jawa, apalagi di tempat saya banyak penganut kejawennya. Sekarang saja sejak masuknya Islam transnasional atau Arab oriented malah timbul banyak friksi, bahkan antar sesama penganut Islam beda aliran, apalagi ahmadiyah. Kembalilah pada Islam Pancasila bukan Islam HTI, FPI, PKS, MMI dsejenisnya!!!!! Kami ingin kembali hidup damai tanpa friksi di bumi tercinta Indonesia. Pemerintah harus tegas , kalo perlu usir Arab hidung pesek model Riziq shihab ke Yaman selatan aja.
Salam,......
1. Tulisan ini adalah ringkasan/abstract dari disertasinya mas Muqsith, dia doktor sekolah agama lho, untuk diterima di sekolahnya saja susah (dipublikasikan dalam bentuk buku), saya sudah baca, bagus sekali, saya promosikan sekalian deh: “Pluralisme Berbasis Al Qur’an” (mudah-mudahan nggak salah judulnya). Jangan2 yang komentar miring tulisannya mas Muqsith, Ibtidaiyyah saja tidak tamat.
2. Saya pengunjung setia situs ini, sejauh ini pemikiran yang saya pelajari di situs ini, bagus2 saja kok, malah sebagian ada yang bisa dibilang luar biasa.
3. Kalau saja pemikiran2/artikel di situs ini, dikumpulkan, terus di edit (semacam capita selecta), diterjemahkan ke dalam bahasa arab, terus diterbitkan di Beirut atau Cairo, wah bisa menjadi bacaan wajib di pesantren2 salafiyah atau pesantren moderen tuh.....
4. Kalau saja yang ditulis para kontributor di situs ini (termasuk tulisan mas Muqsith), digunakan sebagai bahan ceramah/khotbah, yang ceramah memakai gamis dan sorban, berjenggot, jangan-jangan yang mendengarkan khutbah ini akan manggut2 sambil bilang subhanallah, subhanallah.....
5. Kalau untuk ke depan, para kontributor di situs ini tidak menggunakan lagi istilah sekularisme, pluralisme atau liberalisme (dianggap berbau barat kali.......), tapi diganti dengan istilah arab seperti tasamuh, dll, mungkin para pembaca akan bilang, allahu akbar, allaahu akbar............
6. Kesimpulan saya, banyak umat muslim, yang belum bisa membedakan mana arab dan mana islam, mana budaya arab dan mana budaya islam (sekali-kali jalan2 dong ke Maroko,ke Aljazair, china atau ke Turki, saya sudah, lihatlah islam dengan wajah yang lain).
7. Repot memang kalau umat islam kurang membaca,wawasannya sempit, kayaknya dirinya/kelompoknya saja yang benar (jangan2 mereka adalah kelompok seperti yang ditulis dalam buku “ILUSI NEGARA ISLAM” (ini promosi buat yang belum baca.....)
Wassalam...........
Ada kemajuan dari hujjah terdahulu.... setidaknya mau menerima “fenomena” bahwa tiap agama berbeda.... Tapi tetep subjektifitasnya “hanya” mau agar setiap agama punya tujuan yang sama..... Andai saja JIList mau melempar uang coin.... maka pasti tidak selamanya dapat angka… pasti sekali atau berkali-kali dapat gambar…
Bersikerasnya JIList memakai hujjah pluralisme sebagai “sarana” perdamaian dan toleransi adalah seibarat melempar coin tapi hanya ingin muncul “angka” saja.
Mau atau tidak mau… suka atau tidak suka.... Pluralisme memiliki dua sisi mata uang.... bisa mendatangkan tasamuh (toleransi dan perdamaian) di satu sisi.... tapi tak bisa ditolak pula kenyataan bahwa “justru” pluralisme dapat pula menjadi biang kerusuhan.
Mungkin yang diingini JIList adalah perbesarlah peluang pluralisme tuk memicu toleransi… Cuma selalu dan selalu subyektifitasnya menghalangi san menutup “fenomena” bahwa pluralisme juga bisa muncul sebagai biang kerusuhan.....
Disinilah agungnya dinul islam yang menghamparkan proporsional pluralisme sebagai sarana “tasamuh” ... Tapi tak pernah dihapus sejarah bahwa pluralisme dalam Islam juga memicu perintah “qital” yang demikian dahsyat dirasakan kegentarannya bagi kaum musyrikin.... sehingga dari kegentaran abadi terhadap “qital” yang disyariatkan Islam… maka ditumbuh-suburkan kader2 pegiat pluralisme tuk hanya memicu sisi “tasamuh” ...walau semua giatannya itu “tetap” tak mungkin menjamin sepenuhnya untuk menolak peluang sisi lain dari pluralisme sebagai pemicu Qital..... silahkan saja paksakan untuk memicu sisi “tasamuh”.... tapi jangan harap hal itu bisa muncul selamanya..... maksa bukanlah cara menolak suatu keadaan hakiki pluralisme yang memiliki sisi pemicu “qital”....
Kita selalu klaim bahwa kehadiran agama yang baru adalah untuk menyempurnakan yang lama. Ada dua hal untuk menjastifikasi klain ini yaitu karena kita baru maka perlu mencari satu alasan untuk mempertahankan keberadaan kita, jika tidak kita dianggap menjiplak agama lama. Yang kedua ..... , dan inilah yang saya akan uraikan dibawah ini:
Pandangan ini sering dimiliki oleh orang yang beragama karena sebagai manusia kita tidak luput dari ego kita. Kita selalu percaya bahwa kita yang paling benar, golongan kitalah yang paling baik dan agama kitalah yang paling sempurna. Wajar-wajar saja.
Saya pernah mengalami hal di atas dan selalu merasa bahwa orang yang beragama lain selain agamaku pasti masuk neraka. Tetapi itu semua telah berlalu. Apa yang saya percaya/yakini itu ketika iman saya masih setingkat SD kelas 3. Masih lugu, kurang berpengalaman karena pengetahuan saya terhadap agama saya masih sedikit - tidak sebanyak kukuh hitam. Jadi ibaratnya masih seperti katak dalam tempurung. Yah, dunia saya hanya di dalam tempurung saya. Tetapi sekarang.....!
Keyakinan terhadap agama saya yang paling sempurna itu telah saya buang jauh-jauh, bahkan sering saya terlibat dalam diskusi dengan sesama saya yang seagama tentang kosep ini. Sebab dalam injil ada ayat yang mengatakan bahwa “Aku adalah jalan ke rumah bapak. Hanya melalu aku orang dapat masuk ke rumah Bapakku.” (itulah kira-kira bunyi ayat itu). Berdasarkan ayat ini ada orang percaya bahwa hanya orang beragama Katolik (percaya kepada Kristus) yang dapat masuk ke surga. Ini berarti orang non Kristen tidak masuk ke surga. Tetapi apakah benar demikian?
Saya berpendapat lain, yaitu semua orang baik yang Katolik maupun beragama lain, bahkan yang tidak beragama mempunyai kesempatan yang sama untuk masuk surga, sejauh orang itu melaksanakan hukum Cinta - Kasih dalam kehidupannya sehari-hari. Yesus berkata akulah jalan ke surga artinya jika kita mewartakan cinta kasih sebagaimana yang diwartakan Yesus, kita telah berjalan di jalan Yesus.
Keyakinan saya seperti saya ucapkan di atas lahir setelah saya mampu keluar dari tempurung saya. Bergaul dengan teman-teman yang beragama lain, belajar dari ajaran mulia agama lain, berinteraksi secara terbuka dan berani membuka hati untuk menerima mereka sebagai sesama saya yang sama-sama mencari keselamatan di dunia ini. Dan terus terang salah satu forum yang meneguhkan iman saya adalah forum ini.
Lewat diskusi dengan teman-teman yang beragama lain saya berkembang menjadi besar, akhirnya memecahkan tempurung yang yang menjadi tempat pingitan otak dan hati saya selama ini. Tempurung saya hancur, sekarang saya bebas berpikir, dapat melihat segalah aspek kehidupan dari berbagai sudut pandang; dan di sinilah tercipta IMAN saya menjadi IMAN YANG DEWASA. Iman yang tak takut dengan kehadiran agama lain, golongan lain. IMAN yang tak irih terhadapa kelompok lain; IMAN yang mampu menerima manusia lain sebagai manusia yang mempunyai hak yang sama dengan saya, baik hak jasmani maupun hak spiritual.
Saya sangat berterima kasih karena telah terlibat dengan teman-teman semua dalam diskusi selama ini. TENTU saja saya masih TERUS BELAJAR.
INI SEMUA SAYA PEROLEH KARENA ADANYA KEBERAGAMAN DALAM DUNIA KITA.
Hila
Tidak usah elu-elukan ideologi pluralisme agama itu, seakan-akan kebenarannya mutlak saja. Ideologi itu kan bikinan manusia. Karena bikinan manusia, jadi sifatnya masih relatif… Inggih opo mboten ?
Tidak usah mengelu-elukan ideologi pluralisme agama itu, seakan-akan kebenarannya mutlak saja. Ideologi itu kan bikinan manusia. Karena bikinan manusia, ya hasilnya relatif…
Inggih opo mboten ?
saya mendukung PKS HMI HTI
Komentar Masuk (80)
(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)