15/06/2009

Islam dan Pluralitas(isme) Agama

Oleh Abd Moqsith Ghazali

Ini tidak berarti bahwa semua agama adalah sama. Sebab, di samping memang mengandung kesamaan tujuan untuk menyembah Allah dan berbuat baik, tak bisa dipungkiri bahwa setiap agama memiliki keunikan, kekhasan, dan syari`atnya sendiri. Sebagian mufasir berkata, al-dîn wâhid wa al-syarî`at mukhtalifat [agama itu satu, sementara syari`atnya berbeda-beda]. Detail-detail syari`at ini yang membedakan satu agama dengan agama lain.

15/06/2009 12:18 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (80)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 2 dari 4 halaman < 1 2 3 4 > 

Kutipan: “...maka aku (Nabi) adalah pelindung di belakang mereka dari setiap permusuhan terhadap mereka demi jiwaku, para pendukungku, para pemeluk agamaku dan para pengikutku, sebagaimana mereka (kaum Nashrani) itu adalah rakyatku dan anggota perlindunganku”.

INI ADALAH STATEMEN SEORANG PEMIMPIN PADA WARGA NEGARANYA. BUKTI BAHWA KHILAFAH ISLAMIYYAH ITU ADA.

#21. Dikirim oleh Andi K.  pada  21/06   05:31 AM

setelah membaca rangkain kata Moqsith Ghazali, tersirat bahwa seolah-oleh ada umat Islam yang menolak Pluralitas. Padahal dalam Islam sudah ditegaskan “Bagimu agamamu, bagiku agamaku”. Sepengetahuan saya, umat Islam sangat toleran dan menjunjung tinggi perberdaan dan keberagaman. Saya hanya berharap bung Moqsith Ghazali sebagai intlektual muslim juga sekali-kali “mengintip” prilaku umat lain di lapangan. Janganlah setiap gerakan sebagian umat Islam yang cenderung “keras” terhadap suatu kelompok langsung disalahkan sebagai sikap intoleransi, bahkan di labeli fundamentalis, radikal dsb. Harus dipahami bahwa, semua sikap “keras” itu karena ada sebab musabanya. Menurut saya, mempengaruhi orang lain untuk pindah agama dengan berkedok kegiatan/bantuan sosial juga merupakan sikap dan prilaku intoleransi. jika mengaku Islam tapi nabinya Mirza Gulam Ahmad juga merupakan sikap intoleransi. Jadi yang patut diberi pencerahan tentang perlunya toleransi adalah orang-orang yang masih suka menggiring “domba” orang lain untuk masuk di kandangnya dengan dalil “domba-domba tersesat”. Saya kira kalau semua umat memegang prinsip “bagimu agamamu, bagiku agamaku”. kedamaian yang kita inginkan bersama akan tercipta. Wallau’alam

#22. Dikirim oleh adit  pada  21/06   04:47 PM

ass. mohon disebutkan referensinya tentang Rasyid Rido, yang dijadikan ref. oleh a.moqhsith ini? dan tentang gambar maryam dan Nabi Isa yang di tempelkan dikabah,dari mana itu?. nabi muhammad menikahi anak tokoh non-muslim tsb adalah strategi nabi untuk/supaya banyak dari mereka masuk Islam. kita memang meyakini kitab Taurat, Injil dan Zabur,tapi bukan untuk dijadikan “referensi” oleh umat Islam, karena kitab-2 tsb sekarang sudah tidak asli lagi.tentang peperangan Islam dan non-muslim itu murni tentang agama,contoh: bagaimana kaum jahiliyah “bernegosiasi” dengan nabi, supaya nabi jangan mendakwah tetang Tauhid dan supaya mengehentikan pencelaan terhadap tuhan2 mereka. Islam jelas menentang habis tentang orang2 yang murtad, lihat bagaimana Khalifah Abu Bakar memeranginya. memang Islam itu agama toleran, namun non-muslim justru yang tidak toleran, lihat penuturan mantan biarawati(handono), bagaimana kristen tidak toleran sekali; terus bagaimana perlakuan non-muslim terhadap muslim moro di filipina; diprancis; di India dll. stigmaisasi justru di arahkan kepada Islam itu sendiri,seperti fundamentalis, ekstrim kanan dll. harusnya kang moqshit lebih baik “mendakwahkan” masalah ini kepada non muslim. terimakasih!

#23. Dikirim oleh Asep Sobirin  pada  22/06   08:29 AM

@ Bravo untuk Hila

Saya sangat sependapat dengan apa yang ditulis oleh saudara Hila, tapi bagi yang tidak sependapat dengan Hila dan saya, akan tetap saya hormati. Fine, negara kita adalah negara demokrasi yang menjunjung kebebasan berpendapat.

Saya beragama hindu dan syukurlah sebelum saya membaca sebuah sloka di Bhagawad Gita (sloka kalau di alqur’an atau injil mungkin sama dengan ayat) yang menyuarakan pluralisme, saya telah mempunyai pendapat itu. Salah satu sloka itu kurang lebih berbunyi : ” siapapun yang hendak menuju tempatku (Tuhan) akan aku terima, bagaimana pun caranya. Ada yang datang dengan persembahan, ada yang dengan nyanyian, ada yang dengan puji-pujian dll, akan aku terima”

Saya cuma merasa aneh saja dengan orang yang begitu yakinnya dengan pendapatnya bahwa orang yang tidak seagama dengannya akan masuk neraka, atau agamanyalah yang paling benar, agama yang lain sudah basi, sudah tidak karu-karuan dll. Bahkan yang menyedihkan, saking yakinnya mereka dengan prinsipnya tersebut sampai hati membakar tempat beribadah orang lain yang tidak sepaham dengannya. Bagaimana mungkin Tuhan akan merestui perbuatan anarkis seperti itu?

Forum seperti ini harus diperbanyak, harus muncul ULIL dan HILA baru, karena orang-orang seperti Ulil dan Hila sangat dibutuhkan untuk negara kita yang multi agama dan multi budaya.

#24. Dikirim oleh Roger  pada  23/06   01:49 AM

Sdr Hila dari umat Katolik dan sdr Roger dari umat hindu sudah berani berpendapat dengan lantang dan terbuka mengenai pluralisme.

Sekarang dari umat muslim ada yang berani bersuara lantang seprti mereka berdua? Kita tunggu

salam dari saya, umat muslim yang cinta damai dan mendukung pluralisme.

#25. Dikirim oleh Gus Dur  pada  23/06   01:56 AM

1. Sebenarnya yang kalian benci mati-matian itu istilah-istilahnya atau hakikat pengertiannya sih?
2. Agama itu sungguh absurd. Kebenaran yang diklaim agama sifatnya subyektif, relatif dan spekulatif. Tidak obyektif.  Tapi penganutnya membela secara fanatik dan membabi buta.  Siapa sih yang bisa membuktikan adanya surga dan neraka setelah mati?  Berdasarkan hal-hal spekulatif yang diambil dari kitab, kalian bisa-bisa saling bunuh!  Benar-benar absurd!
3. Kebenaran sejati hanya dapat ditemukan dalam kedamaian hati. Kebencian hanya membawa kehancuran.  Jangan percaya kata-kata ini. Silakan buktikan sendiri.

#26. Dikirim oleh halim  pada  23/06   08:43 AM

Kepada forum dihimbau agar sebaiknya bersikap jujur dan secara sportif mengakui bahwa Islam mengakui PLURALITAS tetapi tidak mengakui ajaran Pluralisme buatan manusia.

Tidak satu ayatpun dalam Alquran yang menolak PLURALITAS.

#27. Dikirim oleh dietje  pada  23/06   08:47 AM

Agama membuat manusia menjadi tidak manusiawi.
Begitu banyak komentar untuk memaksakan pembenaran. Sudah saatnya melepaskan dogma2 yg sudah usang saat ini, biarkanlah orang yg tidak percaya hidup sendiri tanpa gangguan, bebas.

Agama yg paling bener yg diridhoi Tuhan adalah KEBEBASAN BERPIKIR & LOGIKA SEHAT.

#28. Dikirim oleh barak  pada  24/06   03:07 AM

@ asep sobirin dkk..
Saya mau mengomentari ucapan anda dkk tentang masalah taurat,injil,zabur yg menurut anda isinya dah tidak karuan,tidak asli lagi dan menganganggap hanya alquranlah yg tidak pernah direvisi. Kelihatannya anda perlu belajar islam dengan baik,kalau anda mempelajari sejarah islam dg baik,anda akan tahu bahwa alquran juga tak luput dari revisi,diedit oleh para sahabat dan khalifah jaman itu.Jadi tidak ada kitab suci yang orisinil..!

#29. Dikirim oleh Adhyatma  pada  24/06   06:13 AM

@adhyatma
Berkata:
“Kelihatannya anda perlu belajar islam dengan baik,kalau anda mempelajari sejarah islam dg baik,anda akan tahu bahwa alquran juga tak luput dari revisi,diedit oleh para sahabat dan khalifah jaman itu.Jadi tidak ada kitab suci yang orisinil..!”
Kalo anda mengatakan “Kitab Suci Alqur’an” tidak orisinil, letak ketidakorisinalnya dimana?? Pada ayat-ayatnya??? atau tata letak ayat2nya??? atau gimana?
Saya ga bisa membayangkan kita sedang membahas sebuah tema pluralisme dengan memakai label “Islam” tetapi Alquran yg notabene menjadi sumber dari segala sumber rujukan “dipertanyakan” keorisinalannya..!
Trus kita mau berpegang sumber darimana lagi??? Dari “kebebasan berfikir” dlm arti sebebas-bebasnya tanpa sebuah kaidah/rujukan yang pasti???

#30. Dikirim oleh tendy  pada  24/06   04:44 PM

Menanggapi salah satu komentar disini, perlu saya jelaskan bahwa sebagai contoh ajaran gereja kristen adalah Dominus Yesus yaitu tiada keselamatan selain oleh Yesus.Namun perkara dukung mendukung pluralisme buatan manusia itu terserah individunya.

Hendaknya sebagai manusia kita tidak memelintir ajaran agama yang sebenarnya atau artinya pluralisme hasil buatan manusia jangan diklaim seolah olah sebagai ajaran Tuhan karena Tuhan hanya menciptakan PLURALITAS. Komunisme, sosialisme dan pluralisme   adalah buatan manusia.

#31. Dikirim oleh dietje  pada  25/06   03:31 AM

untuk kang Adhyatma, terima kasih atas komentarnya,mungkin pemahaman saya baru sedikit dan insya Allah saya akan terus belajar!namun, saya balik tanya, apakah anda sudah mempelajari dan membaca al-Qur’an? dalam al-Qur’an, salah satunya surat al-Baqarah, disana sudah jelas “non-muslim” sudah merubah-rubah isi dan kandungan kitab-2 mereka. dan adapun al-Qur’an yang di"revisi”, bukan isi dan kandungannya (tentang Aqidah, Ibadah, Mu’amalah dll)...!

#32. Dikirim oleh asep sobirin  pada  25/06   09:46 AM

@ dietje

dietje menulis:
Hendaknya sebagai manusia kita tidak memelintir ajaran agama yang sebenarnya atau artinya pluralisme hasil buatan manusia jangan diklaim seolah olah sebagai ajaran Tuhan karena Tuhan hanya menciptakan PLURALITAS. Komunisme, sosialisme dan pluralisme adalah buatan manusia.

Komentar saya:

Sangat menarik apa yang di sampaikan oleh dietje di atas. dietje menempatkan pluralitas seakan di atas langit sedangkan pluralisme berada di bumi. Dua hal yang sangat beda tak terpaut.

Bukankah Pluralisme lahir dari pluralitas? Kalau saya salah tolong dijelaskan.

Hila

#33. Dikirim oleh hila  pada  25/06   12:06 PM

@tendy & asep sobirin
Mungkin komentar saya kemarin kurang jelas ,baiklah saya akan coba menjelaskan. Kita tentu tahu Kitab Suci Alquran yg kita warisi selama ini merupakan hasil kompilasi(kumpulan wahyu dari Nabi Muhammad yg ditulis/dikumpulkan oleh para sahabat di dedaunan,bebatuan,serpihan kayu dll.) Siapa yg dapat memastikan dalam proses kompilasi tersebut tidak terjadi kesalahan..??? Mungkin semasa Nabi Muhammad masih hidup Alquran terjaga keasliannya,tapi sepeninggal beliau terjadi perebutan kekuasaan diantara para sahabat sampai jasad Nabi tidak dikubur selama 3 hari,pada masa itu keaslian Alquran bisa dipertanyakan,karena tiap sahabat punya pendapat / versi masing2 dalam memahami Alquran. Tidak banyak yg tahu bahwa kisah para Nabi(Nabi Daud,Luth,Sulaiman dll) didlm Alquran sudah banyak yg diedit/dihapus,karena mayoritas umat Islam dari dulu hingga sekarang menyakini bahwa seorang Nabi adalah Maksum(tidak pernah berbuat salah/dosa) padahal faktanya para Nabi juga tak luput dari kesalahan,Nabi Daud pernah merebut istri bawahannya,Nabi Sulaiman pernah menyembah berhala,Nabi Luth bahkan pernah tidur dg anak kandungnya sendiri,hal ini ditolak oleh umat Islam jaman itu shg mereka mengedit kisah kehidupan para Nabi sesuai dg keyakinan mereka. Kalau anda tdk percaya tolong tanyakan ke rekan2 umat nasrani,mereka pasti sependapat dg saya karena di kitab suci mereka(Alkitab) hal ini dijelaskan secara gamblang. Sebenarnya banyak sekali ayat/hadits Nabi Muhammad ygg diedit/dihapus demi kepentingan politik khalifah yg berkuasa saat itu. Kalau anda minta bukti yg otentik tentang pendapat pribadi saya, terus terang saya akan mengecewakan anda,sebagaimana anda juga tidak bisa memberikan bukti2 yg kuat tentang pendapat anda.Hal ini kalau kita pahami dg baik,seharusnya akan menjadikan kita lebih rendah hati/berhati-hati dalam menilai pendapat./keyakinan agama lain.

Wassalam.,

#34. Dikirim oleh Adhyatma  pada  26/06   01:40 PM

Ini tidak berarti bahwa semua agama adalah sama. Sebab, di samping memang mengandung kesamaan tujuan untuk menyembah Allah dan berbuat baik, tak bisa dipungkiri bahwa setiap agama memiliki keunikan, kekhasan, dan syari`atnya sendiri. Sebagian mufasir berkata, al-dîn wâhid wa al-syarî`at mukhtalifat [agama itu satu, sementara syari`atnya berbeda-beda]. Detail-detail syari`at ini yang membedakan satu agama dengan agama lain.

mengomentari petikan tulisan pertama : siapapun tahu setiap agama tidak sama, tapi bukan sama atau tidak samanya yang di cari tapi kebenaranya, coba kalau tulisannya di ganti ” tidak semua agama benar, nah disini pasti kita mencari agama yang mana yang benar.kalau seumpama ada yang berpendapat semua agama benar dan pasti mendapat rido tuhan lantas mendapat surga bagi yang melaksanakannya tentu tidak ada sejarah peperangan pastinya.semua damai, dan hal itu mustahil menurut logika, karena kalau logika kita tajam, mengapa ada siang dan malam, ada hitam dan pitih, tentu ada salah dan benar, dalam agama pun kalau menurut logika pasti ada agama yang benar dan ada agama yang salah.

#35. Dikirim oleh mufti  pada  28/06   12:31 PM

mau mmperlihatkan Islam sbagai “rahmatan lila’lamin”, kpada non muslim, gak usah pakai istilah yg dah menakutkan [pluralisme] di pihak muslim sendiri. bisa gk dngan “tasamuh” toleransi?” jg ikuti Nurcolis mjd. apalgi “hila” bilang, ‘gk ada kitab suci yg orsinil’. umat Islam akan tersinggung, bahkan umat lain pun. alQur’n tu terjamin. baca ...“wa inna lahuu lahaafidzun”. ini lbih trjamin kbenaranya drpd sjarah yang anda baca. mungkin sejarahnya salah atau salah yang baca. apalagi bca sejarah dri Ignaz Goldzier. baca at-Thobari, Bidayah wa nihayah atau Fajrul islam nya Ahmad Amin.

#36. Dikirim oleh iyer  pada  28/06   01:46 PM

Tampak disini bahwa nasrani bersifat self healing sedangkan ‘islam’ masih self destroy. so… kapan kita berubah?? bisa menjadi self healing :D
suatu tantangan yg besar. kalau nasrani sudah melewati masa ‘kegelapan’nya, kapan muslim bisa? what’s wrong..?

#37. Dikirim oleh agus bagus  pada  28/06   03:29 PM

Batas penglihatan begitu sempit…
Padahal bunga-bunga keindahanMu beraneka warna…
Mereka yang memetik bunga-bunga dari tamanMu…
Mengadukan keterbatasan tangan untuk memegang… Wahai Tuhanku

#38. Dikirim oleh Fatur Rafael  pada  28/06   07:19 PM

@Hila
Begini, adalah suatu keharusan ketika kita membahas agama berdasarkan referensi tertulis yang diwajibkan oleh agama tersebut. Nah karena saya mengimani Alquran dan Hadist sudah tentu keduanya saya gunakan sebagai referensi dan saya tidak menggunakan referensi lain sekalipun Profesor.
Pulralitas adalah keberagaman atau bhineka, nah Alquran mengakui kebinekaan bahkan sebagai bukti Alquran mengakui hal tersebut : “Wahai manusia, Kami telah menciptakanmu dari (jenis kelamin) laki-laki dan perempuan. Dan Kamu telah menjadikanmu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, agar kalian saling kenal mengenal.” (Qs. Adz-Dzâriyât: 13).
Sedangkan Pluralisme sebagaimana saya baca dalam kamus internasional (Osman Raliby) halaman 414, berarti suatu paham yang mengajarkan bahwa ada lebih dari satu kebenaran.
Sehubungan itu maka sebagaimana yang kita pelajari dan terima dari beberapa buku/kitab suci dan penjelasan tidak pernah ada dalam ajaran Kristen, Yahudi dan Islam yang membenarkan ajaran Pluralisme. Dalam Kitab Umat Yahudi mengajarkan bahwa hanya umat Yahudi yang selamat, dalam ajaran Gereja yaitu Dominos Yesus artinya hanya ada keselamatan melalui Yesus dan dalam Islam jelas sekali yaitu “ Sesungguhnya agama yang di ridhoi di sisi Allah hanyalah Islam.
Nah, cara bertoleransi kita adalah menghargai mereka dalam memilih untuk mengimani ajaran agama masing-masing, bukan memaksa maksa masyarakat dengan pluralisme buatan manusia yang memaksa umat untuk mengakui kebenaran agama lain, itu sangat tidak perlu dan bertentangan dengan konsep demokrasi.
Jika ada yang memaksa bahwa Pluralisme turun dari langit lalu mengapa tidak sekalian saja menganggap Komunisme Sosialisme juga turun dari langit ??

#39. Dikirim oleh dietje  pada  29/06   03:42 AM

Saya tetap yakin bahwa al qur’an tetap orisinil dan akan tetap orisinil sepanjang masa. Alasannya?
1. Al Qur’an sudah mendapat jaminan dari Allah SWT, bahwa DIA yang menurunkan al qur’an dan DIA pula yang menjaganya.
2.Coba anda robah huruf al qur’an dengan menambahkan satu titik saja, pasti akan ketahuan dan artinya akan berobah dan mungkin tidak ada artinya. contoh kata nahnu dengan huruf “nun” dengan satu titik, anda tambahkan satu titik diatas huruf “nun” tersebut menjadi “ta” dan hurufnya menjadi berobah menjadi “tahnu” yang tidak mempunyai arti sama sekali.
3. Mengapa hal ini langsung ketahuan? karena masysAllah, terlalu banyak manusia hamba Allah yang mempelajari bahasa Arab dan hafal akan al qur’an serta isinya.
4.Berbeda dengan kitab suci lain yang sudah memakai bahasa Indonesia (yang sudah tidak ada bahasa aslinya)kata : “Bani Ismail” dirobah menjadi “Bani Israil”, masih enak dibaca dan masih mempunyai arti namun artinya sudah berobah.
5.Beberapa waktu yang lalu ada orang yang merobah isi al qur’an dengan menambahkan beberapa surat a.l dengan surat yang bernama “al muslimuun”, langsung ketahuan karena isinya “terlihat hanya buatan manusia” sedangkan al qur’an dengan menggunakan bahasa wahyu dari Allah SWT.“Terbukti Allah SWT selalu menjaga al qur’an”
6. Anda bicara berdasarkan logika, bukankah ini logika yang nyata?

#40. Dikirim oleh abdullah  pada  29/06   04:36 AM
Halaman 2 dari 4 halaman < 1 2 3 4 > 

Tulis Komentar

Nama:

Surat-e:

Lokasi:

Situs:

Ingat data pribadi saya

Ingin dikirim setiap umpan balik komentar yang masuk?