15/06/2009

Islam dan Pluralitas(isme) Agama

Oleh Abd Moqsith Ghazali

Ini tidak berarti bahwa semua agama adalah sama. Sebab, di samping memang mengandung kesamaan tujuan untuk menyembah Allah dan berbuat baik, tak bisa dipungkiri bahwa setiap agama memiliki keunikan, kekhasan, dan syari`atnya sendiri. Sebagian mufasir berkata, al-dîn wâhid wa al-syarî`at mukhtalifat [agama itu satu, sementara syari`atnya berbeda-beda]. Detail-detail syari`at ini yang membedakan satu agama dengan agama lain.

15/06/2009 12:18 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (80)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 3 dari 4 halaman < 1 2 3 4 > 

siapa saja yang pro pluralisme bilang apa kek, yang penting bagiku ISLAM is number one, tidak ada agama yang sempurna kecuali ISLAM. Gitu aja kok repot ya GUS ???? Kalau enggak percaya, mati dulu aja gitu biar dibuktiin sama Rabb kalian, oke ????

#41. Dikirim oleh jafar  pada  29/06   10:12 AM

@adhyatma…
Berkata : “Siapa yg dapat memastikan dalam proses kompilasi tersebut tidak terjadi kesalahan..???”

Komentar saya :
Karena saya mengacu dan mengimani Kitab Suci Al-Qur’an JELAS yang menjaga keaslian dari ayat-ayat suci Al-Qur’an adalah Allah SWT karena memang terdapat dalam salah satu ayat yang mengatakan seperti itu (Al Hijr Ayat 9)
Kalo anda meragukan “kemaksuman” dari para nabi/rasul berdasarkan kitab selain Al-Qur’an itu hak anda. Justru inilah perbedaannya. Kita mengacu/merujuk pada sumber yang berbeda. Padahal (sekali lagi) menurut Al-Quran yang saya imani kebenarannya justru mengatakan Kitab-kitab terdahulu (Taurat,Injil) telah mengalami sebuah editing dari tangan-tangan manusia. Bahkan editingnya sampai level Aqidah yang mengarah pada “penyembahan” yang berbeda. Itu bukan kata saya lo.. Ada ayat-ayat Al-Qur’an yang mengatakan seperti itu. Walaupun ayat - ayat Kitab (Taurat & Injil) tersebut awalnya tersebut diturunkan oleh Allah SWT melalui rasul-rasul-Nya tetapi memang Allah tidak memberikan sebuah komitmen untuk menjaga keaslian Kitab-kitab masa lalu (sebelum diturunkan Kitab Suci Al-Qur’an). Karena memang Allah tidak menghendakinya. Anda bisa melawan kehendak Allah???
Dari hal inilah pluralisme yang mengatakan semua agama sama (sama benarnya???) adalah sebuah distorsi dari sebuah ajaran agama yang sudah jelas berbeda secara syariat bahkan sampai keimanan masalah Ketuhanan.

#42. Dikirim oleh tendy  pada  29/06   02:53 PM

Ingat kebenaran hakiki adalah kebenaran Ilahi,,,

#43. Dikirim oleh alfaqir  pada  02/07   08:41 AM

Sesungguhnya agama yahudi, nasrani dan muslim itu adalah agama yang sama; ALLAH yang sama, dan sama sama bertauhid.

Ajaran2 yang turun kpd Nabi Musa, Isa dan Muhammad saw adalh berseri….Kitab Injil melengkapi taurat. al quran melengkapi Injil dan taurat.

bukanlah berarti turunnya Injil, Taurat dibatalkan dan begitu pula datangnya al quran, kitab2 sebelumnya batal. Tidaklah demikian ALLAH menjelaskan dlm al Quran.

Kita umat Islam tetap wajib ber-Iman dan merujuk kpd kitab2 sebelumnya.Peraturan2 yg bertentangan dgn al quran, sudah tidak VALID lagi,karena ALLAH sendiri yang merobahnya, bukan tangan2 manusia.

ALLAH juga menjelaskan dlm Al Quran, bahwa setiap umat ada kiblat masing2…dan cara shalat dan puasanya berbeda beda.

Al quran akan sempurna kalau kita merujuk kepada taurat dan injil,sebagaimana ALLAH perintahkan, dan sebagaimana Rasul mencontohkan yaitu mengabil hukum bersunat untuk laki2 dari Taurat.
Perintah bersunat utk laki2 tidak di wahyukan kpd Muhammadsaw. Benar bukan?

http://latifabdul.multiply.com/journal/item/276

Wassalam

#44. Dikirim oleh alatif  pada  03/07   05:00 AM

Awalnya .. rasa beragama saya itu biasa-biasa saja, tapi saat berdiskusi dengan orang-orang Kristen, di BLOG seperti ini, saya jadi terkejut ? Ternyata masalah penyebutan TUHAN atas masing-masing agama itu memang BERBEDA ? Dan kalau BERBEDA ? Apakah yang disebut itu (TUHAN) mau dengan sebutan yang dipergunakan oleh manusia ? Karena sebutan itu mengacu ke suatu KONSEP ?

ISLAM mengajarkan bahwa TUHAN itu namanya ALLAH.

ALLAH itu ESA; TIADA TUHAN SELAIN ALLAH; DIALAH TUHAN SATU-SATUNYA dan TIDAK ADA SEKUTU BAGINYA, yang MAHA :
PENCIPTA
PENGASIH
PENYAYANG
BESAR
AGUNG
TINGGI
MENDENGAR
MELIHAT
BIJAKSANA
PENGAMPUN
Dan MAHA ... MAHA ... lainnya

Sedangkan bagi orang KRISTEN, ALLAH itu TUHAN yang MAHA SEGALA-GALANYA, karena KEMAHAANNYA, maka DIA BISA MENJADI MANUSIA (YESUS) dan berkonsep TRINITAS (ALLAH BAPA, ROHUL KUDUS dan YESUS)

Bagi AGAMA lain, Tidak menyebut sebuah nama atas TUHAN tersebut, melainkan menyebut dengan SIFAT-NYA ? Yang salah satunya mengkonsepkan dengan TRIMURTI (Agama HINDU)

Masing-masing konsep ini jelas berbeda ? Inilah hal terdasar saat kita memilih suatu agama. Apabila konsep kita benar, maka yang lain salah.

Data SAINS menyatakan bahwa ada satu peristiwa TUNGGAL namanya BIG BANG. Suatu peristiwa yang SANGAT ... SANGAT ... SANGAT ... AMAT LUAR BIASA .... !!!!! Yang merupakan kejadian awal terciptanya ALAM SEMESTA ? Apakah kita percaya bahwa BIG BANG itu peristiwa yang terjadi begitu saja ? Tanpa ada yang MENCIPTAKAN ? Ataukah ada yang MENCIPTAKAN ? Kalau TIDAK ADA yang MENCIPTAKAN ... SANGAT TIDAK MASUK AKAL ? Tapi kalau ADA yang MENCIPTAKAN ? Siapakah yang MENCIPTAKAN itu ? Secara INSTINKTIF, yang MENCIPTAKAN itu adalah DZAT yang begitu LUAR BIASANYA ... SENDIRIAN ... Kalau lebih dari satu yang menciptakan BIG BANG itu, maka POLA BIG BANG sendiri akan sangat berbeda POLA-nya ? Kita bisa katakan bahwa yang menciptakan BIG BANG itu adalah TUHAN. Tuhan seperti apakah yang menciptakan BIG BANG itu ? Inilah pertanyaan-pertanyaan yang berhamburan untuk ditanyakan tentang KETUHANAN pencipta big bang TERSEBUT ?

ISLAM mengajarkan bahwa TUHAN itu namanya ALLAH.

ALLAH itu ESA; TIADA TUHAN SELAIN ALLAH; DIALAH TUHAN SATU-SATUNYA dan TIDAK ADA SEKUTU BAGINYA, yang MAHA :
PENCIPTA
PENGASIH
PENYAYANG
BESAR
AGUNG
TINGGI
MENDENGAR
MELIHAT
BIJAKSANA
PENGAMPUN
Dan MAHA ... MAHA ... lainnya

Terus yang MENCIPTAKAN BIG BANG yang begitu DAAAAHHHHSSSYYYYYAAAATTTTNYA itu di satu waktu berubah MENJADI MANUSIA, namanya YESUS ? Dan dalam kronologisnya ... YESUS ini DISALIB yang artinya KALAH oleh KEKUASAAN ROMAWI ? Padahal di waktu-waktu sebelumnya, TUHAN mengutus NABI-NABINYA (IBRAHIM dan MUSA) yang adalah manusia untuk meluruskan jalan PARA DIRAJA yang MELENCENG (NAMRUDZ dan FIRAUN), BISA MENANG ... Kenapa ini TUHAN TURUN TANGAN SENDIRI ? Malah KALAH ? Kalau TUHAN saja BISA KALAH ? Bagaimana dengan PENGIKUTNYA ?

Intinya ... Sebutan masing-masing agama untuk TUHANNYA berbeda-beda, tapi yang dimaksud itu ya ALLAH ... TUHAN yang ESA ? Praktek dan pengucapannya BERBEDA ? Kira-kira TUHAN NGAMUK NGGAK ya dengan KESALAHAN FUNDAMENTAL ini ? U- masalah ini diambilkan suatu ilustrasi sebagai berikut :

Setiap manusia mempunya nama sebagai identitasnya yang membedakan dirinya dengan yang lain ? Saat ada orang lain menyebut namanya dengan SALAH ? Kira DONGKOL tidak ? Dengan penyebutan yang salah tersebut ? Ya DONGKOL lah ? Kalau si EMPUNYA nama sudah mengingatkan kepada yang menyebut bahwa sebutannya itu SALAH ? Tapi tidak digubris ? Tetap saja menyebut nama yang salah tersebut dengan BERSEMANGAT dan PEDENYA ? Bukan ngamuk lagi ? Tapi ANTIPATI ?

Sepertinya yang menjelaskan dengan jelas soal TUHAN ? Hanya ISLAM melalui Al-QUR’ANNYA ?

TUHAN itu bernama yaitu ALLAH, dan SIFATNYA yang MAHA itu ... Tercermin dalam REALITAS yang ada ... Yang lain sepertinya BERMASALAH ? Kalau BERMASALAH ? Kira-kira RESPONSE TUHAN (ALLAH) bagaimana yach ? Masa ? Manusia yang diberi AKAL tidak bisa memprediksi RESPONSE ALLAH atas penyebutan yang KELIRU terhadap dirinya ?

#45. Dikirim oleh Hari  pada  03/07   06:21 AM

tidak mungkin semua agama sama!!!

Islam: Tauhid (Laailahailallah), Yesus/Isa adalah sbg rasul/utusan Allah

sedangkan,

Kristen: Bertuhan lebih dr 1, Yesus/Isa dianggap sbg slh satu oknum Tuhan

Lihatlah perbedaan pokok ini saja!!!!!!!!

bagaimana mungkin, menganut Islam sekaligus percaya bahwa kristen juga benar,
kita pakai logika dan akal sehat saja…

(Qs Ali Imran3:85).
Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.


PAHAMILAH…

#46. Dikirim oleh abdullah  pada  04/07   06:53 PM

Untuk yang menentang Pluralisme :

Tuhan Maha Besar, artinya tidak ada satupun yang lebih besar dariNYa kan ?
Tuhan Maha PENGAMPUN artinya ? Tidak seorangpun yang tidak akan Diampuni olehNya kan?,
Kalau Tuhan Maha Pengampun namun ada embel - embel “kecuali orang kafir”, maka mana yang benar? Tuhan memang tidak Maha Pengampun atau pemahaman kita tentang doktrin itu yang salah? Sesuatu yang “MAHA tidak mungkin disandingkan dengan “kecuali”.
Pemahaman yang sempit tentang Islam,arogan,dan sombong akan menghasilkan umat yang ekslusif dan terkotak.
Penafsiran agama yang menghasilkan pengkotakan terhadap umat manusia jelas bertentangan dengan nilai2 universal kemanusiaan itu sendiri.
Sekali lagi bukan islam nya yang salah, namun pemahaman kita lah yang salah.
Maka seyogjanya “Berfikirlah dahulu baru kemudian beriman” bukannya “beriman dahulu baru berfikir” sehingga manakala terdapat sesuatu hal tentang iman yang kita yakini bertentangan dengan realitas maka kita tidak selalu mencari pembenaran2.

#47. Dikirim oleh dewayanto  pada  04/07   08:13 PM

komentar kpd sdr. Hari:

Membaca postingnya mas Hari kok Tuhan jadi seperti manusia ya, krn Dia harus n dipaksa punya nama yaitu “Allah”. setahu saya istilah “Allah” itu ungkapan dlm bahasa Arab yang artinya Tuhan atau God atau Hyang atau Dewa atau Eliy. faktanya orang non muslim di Timur Tengah nyebut tuhan dengan sebutan Allah -dgn tafhim pula, tidak tarqiq- sbgmn orq islam di indonesia melafalkannya. Setahu saya, Tuhan itu MUKHOLAFAH LIL HAWADITS (BERBEDA DG MAHLUQ). Tuhan ya tdk seperti manusia, punya nama diri, adapun istilah “Allah” ya cuma sekedar sebutan pembeda aja bhw di alam semesta ini cuma ada “dua” pihak, pertama, ada pihak -yg disebut- sbg Tuhan,  selaku pihak pencipta mahluq, dan kedua, ada pihak ciptaan-Nya atau yg diciptakan-Nya. So,  makanya -mau ga mau- muncullah istilah “Allah”, sekedar sebutan yang menunjuk kpd pihak pencipta, dan ardh, samawaat, nas, dsb (sekedar sebutan yg menunjuk jenis2 ciptaan-Nya). Nah, kalo ada klaim bahwa Tuhan yg sebenarnya adalah harus bernama “Allah”, maka hal ini sangat aneh, karena istilah Allah kan cuma sebutan pembeda saja dari ciptaan-Nya, apalagi Tuhan (dlm Al Qur’an) nyebut sesembahan kaum musyrik mekkah jg dg istilah “Allah” atau “Ilah” juga toh.

Setahu saya, Tuhan org islam, Tuhan org kristen, budha -dsb- itu ya sama saja, krn -pihak- Tuhan kan cuma ada “satu” pihak saja dan cuma yang itu-itu jg sbgmn jg tlh ditegaskan dlm AL Qur’an: “qul huwa Allahu ahad” (katakanlah bahwa Tuhan itu ya cuma ada ahad/satu doang!) krn yng nyiptain org islam or yg nyiptain org nasrani or org majusi or org atheis ya cuma Allah (Tuhan), bukan Muhammad or Yesus or Budha Gautama dsb!
Dgn demikian, Yang beda2 itu bukan Allahnya/Tuhannya, tapi persepsi/konsep2 manusia tentang (thdp) Tuhan, ada yg tauhid/monotheism (spt org Islam n org Yahudi), ada jg yang politheism (spt trinitasnya org katolik or trimurtinya org hindu). Makanya pula di Al Qur’an pun ga pernah ada kalimat/pernyataan/ayat yg berbunyi: “lakum Ilahukum wa liya Ilahiy” (“kalian punya Tuhan n akupun punya Tuhan”),  yang ada justru: “lakum dinukum wa liya din” (“kalian punya persepsi/konsep n akupun punya persepsi/konsep” ttg Tuhan). So, kalo sampe ada org yg meyakini bahwa Tuhan org islam dg Tuhan org non muslim itu berbeda, maka org tersebut adalah org musyrik, mengakui keberadaan tuhan lebih dari satu, krn hal ini sama saja dengan meyakini bahwa masing masing pemeluk agama punya Tuhannya (pencipta) masing-masing -na’udzu billahi min dzalik!-. Sekali lagi, yg berbeda itu cuma persepsi org ttg Tuhan, bukan Tuhannya yg berbeda-beda, apalagi pake “maksa” Tuhan harus bernama “Allah” lah -bagi kalangan muslim-, “Tuhan” lah -utk kalangan kristen-, “Sang Hyang” lah, “Yahweh” lah dsb.

So, paham pluralisme bagi saya ga ada masalah, krn saya harus husnu zhon kpd umat agama lain bhw mereka juga bertuhan dan beriman -hanya din/persepsinya ttg Tuhan berikut syariatnya saja- yg berbeda2 dg kita- mngingat fakta beragamnya agama n syariat itu adalah kehendak Allah yg tidak boleh diganggu gugat. Jadi, org yg menganggap umat agama lain atau agama lain adalah sesat karena su’u zhon bhw agama lain tsb adalah keliru adalah org yg berlebihan atau -boleh jadi- malah mengingkari ajaran Islam itu sendiri!

WALLAHU A’LAMU BI AL SHAWAB!

#48. Dikirim oleh M.N.Wibawa  pada  04/07   11:06 PM

kang adytm yang saya “hormati”, saya sangat prihatin akan keislaman anda (kalo anda muslim!), pasalnya anda menjadikan refernsinya dari injil palsu (yang sudah jelas dalam Q.s:2:175 disebutkan bahwa mereka/ nasrani&yahudi;merubah-rubah ayat-ayat mereka), anda perlu membaca bukunya Ahmad Deedat: The Choice, supaya anda lebih yakin lagi akan kepalsuan injil, dan meluruskan aqidah anda!....padahal faktanya para Nabi juga tak luput dari kesalahan,Nabi Daud pernah merebut istri bawahannya,Nabi Sulaiman pernah menyembah berhala,Nabi Luth bahkan pernah tidur dg anak kandungnya sendiri…hanya dalam injil sekarang! Dan tentang Khalifah, para sahabat tidak ambisius dan rebutan jabatan, namun mrk bermusyawarah, dan itu artinya akan pentingnya kepemimpinan!, dan yang al-Qur’an yang anda sebutkan “di edit” adalah masalah dialeknya bukan subtansinya bung!, karena suku-suku Arab masa itu sangat beragam, maka dalam hal dialekpun berbeda-beda….!

#49. Dikirim oleh asep sobirin  pada  05/07   07:41 AM

Logika sederhana saja,
Sesuatu yang Sempurna tidak mungkin hasil ciptaannya tidak sempurna.Meyakini Islam adalah penyempurnaan dari agama sebelumnya sama saja mengatakan agama sebelum islam tidak sempurna, dan konsekwensi logisnya bahwa yang menciptakannya juga tidak sempurna ??? Apakah kita tidak sedang mengkerdilkan Tuhan ???

Sebaik2nya manusia adalah yang berguna bagi orang lain, tidak penting agamanya apa, bahkan percuma kita beragama kalau diri kita tidak bermanfaat/ berfaedah bagi orang lain.
Tidak usah ribut label agama, tidak usah pusing nama Tuhan itu siapa, Tuhan tidak gila hormat,Tuhan tidak perlu persembahan dari kita,Tuhan tidak perlu puji2an, karena Tuhan tidak mungkin egois. Beliau meminta kita bersyukur, dan mengimplementasikannya rasa syukur itu dengan membantu orang lain, bukan untuk diriNya, logikanya sederhana kan ?

#50. Dikirim oleh ardianto  pada  05/07   03:46 PM

kalau baca teks seperti tulisan ini dg konsep pikiran yg sdh terpatenkan (baca teks dengan konteks harus dilawan/ditolak karena ‘pasti’ tdk benar) ya susah.. Jadinya pikiran tdk pernah terbuka utk menerima perbedaan. Kalaupun terbuka, itu hanya utk pemikiran-pemikiran yg sama saja. Dulu islam saya seperti itu, sok bangga hanya dengan ayat: “inna dinna indallahil islam” (pake tanda kutip karena saya mengutip)sambil mengakui dgn malu2 ayat2 lain yg memuat pengakuan atas agama lain, misalnya, QS 2:62, 5:44-49. Sama halnya dengan memahami islam dalam bingkai definisi agama yg sempit. Yg tersisa dalam bingkai ini hanya negasi: ini bukan islam, itu bukan islam, ini haram, itu halal, hanya ini yg benar itu tidak benar, dll.

Untunglah pikiran saya skr terbuka. Dan dgn begitu saya pun bisa merayakan dengan gembira ayat “inna dinna..” dgn penafsiran bahwa agama/sistem (din) yg benar adalah yg bisa mendatangkan keselamatan (islam, aslama, salam) bagi umat manusia. Apapun agamanya.

#51. Dikirim oleh imam  pada  05/07   09:02 PM

@ M.N.Wibawa
Biarkanlah Tuhan (Allah) yang memperkenalkan diri-Nya kepada hamba-Nya dengan cara-Nya. Kita sebagai hamba tidak mempunyai hak untuk menjustifikasi nama Tuhan semau kita. Kalo umat Islam mengatakan Tuhan adalah “Allah” karena memang Tuhan (Allah) menurunkan Al-Qur’an dengan bahasa manusia (Bahasa Arab) agar bisa dipahami kandungan isi dari Al-Qur’an.
“Dengan nama Allah yang Maha…” Saya pikir untaian ini ada dalam ayat Surat Al Faatihah. Sudah JELAS dan simple Tuhan ‘memperkenalkan diri-Nya’ seperti itu dan tidak menggunakan nama yang lain. Oleh sebab itu ada konsekuensi logis kalo sampe ada hamba-hamba-Nya yang mendefinisikan nama/bentuk/pemikiran atau sampai pada level menyekutukan eksistensi Tuhan semau kita tentunya akan mendapatkan balasan ‘yang setimpal’ dari sang Tuhan (Allah).
Dan juga masalah pluralitas bukan pluralisme yang mengatakan semua agama benar. Dalam Islam mengakui sebuah perbedaan, keberagaman. Dan ini adalah kehendak Allah. Justru dari perbedaan/keberagaman inilah kita dituntut untuk berlomba-lomba untuk bisa mencari sebuah ‘kebenaran’ yang sesungguhnya. Bukannya malah menyerah dan terus mengatakan semua ‘jalan-jalan’ yang berbeda ini jadi benar semuanya. Dan sayangnya kita sebagai umat Islam yang baik harus patuh dengan perintah Allah dengan statement-Nya :
(Qs Ali Imran3:85).
Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.
Wassalam

#52. Dikirim oleh tendy  pada  08/07   05:45 AM

Mas Tendy,
Yang saya yakini Pengertian “Islam” adalah “Kepasrahan Total”, bukan kelembagaan agamanya, jadi meskipun labelnya “Muslim” tetapi dirinya belum “pasrah” ya percuma.kecuali kita cukup puas berhenti di Label.
Masalah perbedaan agama saya rasa mungkin lebih tepat bukan dalam konteks benar atau salah tetapi dalam konteks “rasa dan kecocokan” diri kita sendiri dengan memilih salah satu agama untuk dapat berkomunikasi, berdialog dengan Tuhan guna mencapai tingkat kesempurnaan.

Mem"banding"kan” satu agama dengan yang lain,oke2 saja siapa tahu kita menemukan kebenaran2 lain diluar agama kita sendiri.
tetapi memper"tanding"kan” agama kita dengan lainnya itu namanya konyol dan sombong.

Ibaratnya seperti mengatakan bahwa negeri yang paling indah adalah Indonesia dan kita yakin bongko’an, karena dari kecil kita dicocoki statement tersebut,padahal dirinya tidak pernah keluar Indonesia. Hanya berbekal “Keyakinan” dan kebanggaan tentang indonesia kita berani mengklaim bahwa Indonesia adalah negeri paling indah ?... konyol kan? 
Bagaimana mungkin kita bisa mengklaim agama kita paling benar padahal kita belum pernah memcoba berkomunikasi dengan Tuhan dengan memakai agama lainnya?
Jangan2 dengan memakai agama kita sendiri saja kita belum mampu berkomunikasi dengan Tuhan? Berkomunikasi tidak sama dengan sekedar menjalankan syariat semata. Kata orang yang tercerahkan berkomunikasi dengan Tuhan artinya kita mampu merasakan keberadaan Tuhan dimana2 dan seakan seluruh alam semesta merupakan manifestasiNya.
Jadi untuk apa ribut2 soal label?.

#53. Dikirim oleh ardianto  pada  10/07   07:24 AM

Untuk Hila, dan Roger…
Proses pecahnya tempurung yang Hila rasakan persis dengan apa yang saya sudah rasakan, hanya saja saya dari muslim. Memang betapa indahnya menyadari bahwa keberadaan Tuhan ada dimana2,ada di setiap insan manusia apapun agamanya dan dengan sendirinya sekat2 agama diantara kita lenyap.Karena Tuhan Maha Besar dan tak Terbatas maka saya juga meyakini bahwa jalan menujuNya sebanyak jumlah kepala manusia yang pernah ada dibumi ini, persis yang disampaikan sdr Roger.

Kalau boleh sedikit sharing saat ini sebenarnya perjalan kita masih jauh. Kata orang yang sudah tercerahkan tujuan utama kita adalah untuk mencapai kesempurnaan, dan kesempurnaan itu akan kita peroleh apabila ego kita sudah NOL yakni dengan cara membakar dan mengkikisnya hingga habis.
Ada statement dari Khrisna yang diucapkan 3000 tahun yang lalu yang intinya mengajak kita untuk menghancurkan ego yang masih ada didalam diri:

“Bekerjalah dengan sebaik2nya sesuai dengan kodratmu(kemampuanmu)TANPA memikirkan apapun hasilnya (mis:upah/pahala/sorga)sebagai rasa syukur dan persembahan(ibadah) kepada Tuhan”

Terus terang meskipun saya muslim namun ingin sekali melakoni statement Khrisna diatas, namun beratnya minta ampun, dan entah saya sanggup atau tidak melakoninya. Bagaimana menurut Hila dan Roger?
Mudah2an bisa berguna bagi perjalanan spiritualitas anda.

#54. Dikirim oleh dewayanto  pada  10/07   06:25 PM

ya, akhir-akhir ini saya mulai mencoba mengerti bagaimana jalan yang ditempuh JIL.
Tapi ada yang ingin saya tanyakan; OK,menurut anda-anda semua, semua agama itu sama (dalam hal menuju kebaikan). tapi bagaimana menurut anda tentang istilah musyrik (alias tidak mengakui bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan)??
dan satu lagi, tolong saya minta alamat e-mail mas ulil. maturnuwun….

#55. Dikirim oleh zahrul  pada  12/07   04:13 PM

untuk asep sobirin #49
Anda mengkritik adyatma salah referensi sementara anda mereferensikan Ahmad Deedat yang orang ahmadiyah…hiiii3

#56. Dikirim oleh nurcahaya  pada  15/07   04:01 AM

Salut atas kerja teman2 JIL yg sudah menyuarakan misi pluralitas walaupun banyak Pro-Kontra.

Soal agama mmg sgt sensitif ya terkadang karena kita sudah menerima doktrin agama dari kecil, maka secara “disadari atau tidak” otak bawah sadar kita melakukan defensif dan sudah terbukti “Org2 yg hanya mencukupkan dirinya dgn nilai2 agama sj” akan cenderung bersikap fanatisme buta. Dan tidak proporsional dlm menilai segala hal, yg pada akhirnya terkungkung pd kotak “Aku BENAR, Mereka Salah”.

Boleh2 sj fanatik dgn agama selama hal itu tidak menyinggung atau meng-intervensi kepentingan agama lain. Jangan sia2 kan pengorbanan para Pahlawan yg sdh susah payah membangun negara ini dgn “darah & keringat” hanya karena perbedaan yg Prinsipil.

#57. Dikirim oleh Salam damai  pada  15/07   08:07 AM

Demi ALLAH, kafirin yang sudah sampe dakwah Islam kepada mereka di zaman ini, lalu mereka mati dalam kekafiran, mereka masuk neraka.

#58. Dikirim oleh Rewa  pada  15/07   10:53 AM

“Banyak cara menuju Roma atau… Atau untuk menikmati ‘keindahan alam’ bukan hanya di Indonesia, atau untuk mendapatkan sebuah pendidikan yang bagus tidak harus melalui Sekolah ini atau itu..”
Mungkin inilah sedikit ilustrasi dari pemahaman ‘pluralisme’ bukan sebuah pluralitas atau kenyataan pluralitas di dunia ini.

Yang menjadi masalah dari ilustrasi ini, “Sesuatu” yang dituju bukan sekedar objek wisata atau sebuah pendidikan yang tidak mempunyai ‘kekuasaan’ penuh. Dia mempunyai ‘Kekuasaan’ penuh atas diri kita. Untuk bisa ‘mengenal-Nya’, ‘cara menuju kepada-Nya’ pun HARUS sesuai ‘cara’ yang Dia inginkan. Bukan dengan cara yang kita inginkan.

Ingin bukti???
Diturunkanlah ‘ayat2 suci’ dari Dia melalui Rasul2-Nya sampai beberapa ‘edisi’ yang dimana dari tiap2 edisi ini untuk melengkapi dan ‘mengkoreksi’ dari ‘edisi’ sebelumnya dikarenakan telah terjadi apa yang dinamakan ‘revisi’ sepihak dari hamba2 yang seharusnya TIDAK mempunyai hak untuk melakukan hal tersebut. Sejarah telah membuktikan hal tersebut kan??? Sampai akhirnya sang ‘Dia’ menurunkan lagi edisi yang dimana ‘Dia’ sendiri mempunyai ‘komitmen’ untuk menjaga keaslian dari ‘edisi’ terakhir ini.. Inilah kenyataan yang sebenarnya dan sudah menjadi ‘skenario’ dari ‘Dia’. Yang dimana isi kandungan ini bersifat universal untuk segala umat tentang cara ‘mengenal’ Dia dan cara ‘menuju’ kepada-Nya.

Kita tentunya tidak sedang ‘mempertandingkan’ sebuah ‘label’ agama seperti yang dikatakan mas ardianto. Semua ‘jalan’ sudah jelas dan sudah ditentukan dari ‘Dia’. Justru inilah bukti ‘kepasrahan total’ kita kepada ‘Dia’ dengan menjalankan ‘aturan main’ seperti yang terkandung dalam ‘edisi pamungkas’ dari ‘Dia’.

Bukan begitu mas Ardianto..??

#59. Dikirim oleh tendy  pada  15/07   01:13 PM

@dewayanto

Terima kasih banyak karena Anda telah membagi pengalaman imanmu dengan saya. Ya…! Seperti itulah yang saya rasakan/alami. Jika kita berani keluar dari agama kita dan membuka hati dan pikiran untuk mempelajari agama/kepercayaan di luar agama kita; kita akan menemukan betapah agungnya Sang Pencipta Alam Semesta ini. DIA yang Maha Sempurna menciptakan keragaman aspek kehidupan baik secara langsung maupun melalui karya manusia supaya manusia diberi peluang untuk memilih yang sesuai dengan dirinya.

Jadi keberagaman (pluralitas)sudah ada sejak dunia beserta isinya diciptakan. Bagi saya orang yang menyangkal pluralitas (keberagaman) adalah orang yang menyangkali CiptaanNYA. Jika sudah demikian halnya berarti orang itu menyangkal Penciptanya sendiri.

Hila

#60. Dikirim oleh hila  pada  17/07   03:50 AM
Halaman 3 dari 4 halaman < 1 2 3 4 > 

Tulis Komentar

Nama:

Surat-e:

Lokasi:

Situs:

Ingat data pribadi saya

Ingin dikirim setiap umpan balik komentar yang masuk?