15/06/2009

Islam dan Pluralitas(isme) Agama

Oleh Abd Moqsith Ghazali

Ini tidak berarti bahwa semua agama adalah sama. Sebab, di samping memang mengandung kesamaan tujuan untuk menyembah Allah dan berbuat baik, tak bisa dipungkiri bahwa setiap agama memiliki keunikan, kekhasan, dan syari`atnya sendiri. Sebagian mufasir berkata, al-dîn wâhid wa al-syarî`at mukhtalifat [agama itu satu, sementara syari`atnya berbeda-beda]. Detail-detail syari`at ini yang membedakan satu agama dengan agama lain.

15/06/2009 12:18 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (80)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 4 dari 4 halaman‹ First  < 2 3 4

Assalammualaikum,
Saya berusaha meluruskan pemahaman islam yang saya ketahui. Begini,pluralisme memang ada di dalam umat agama bukan pada agama. Kebenaran adalah adalah benar dan kesalahan tetap salah. Tuhan Semesta alam hanya memberi batasan dan manusia dibebaskan berbuat selagi tidak melampaui batas dan itulah agama. Yang plural adalah budaya bukan agama. Di dalam agama islam telah diterangkan agama sebelumnya yang masih murni pada hakikatnya seruannya menyembah Tuhan yang Satu dan berbuat kebaikan sesama manusia tapi karena kesombongan mahkluk lain yaitu iblis dengan memanfaatkan nafsu manusia terjadilah kesalahan2 dan makin berjalannya waktu terjadilah perbedaan dalam agama yang ada sekarang. Kemudian ketika islam sebagai agama terakhir meluruskan hal tersebut terjadilah pertentangan agama sebab agama yang telah berubah telah menjadikan manusia takut kehilangan kepuasan atas nafsu. Sejarah telah membuktikan agresifnya pemeluk agama yang terdahulu untuk mempertahan status mereka sehingga menimbulkan saling bunuh antar manusia.
Umat islam seluruhnya sangat toleran terhadap agama lain dan dianggap mata hati mereka belum terbuka akan hidayah. Benturan terjadi kalaulah pemeluk agama lain mulai agresif karena memperebutkan sumber materi dibumi ini seperti dalam sejarah penjajahan yang telah dilakukan umat kristen terhadap islam (kolonialisme). Keadilanlah yang perlu ditegakkan baik untuk umat islam atau agama lain sehingga kedamaian tetap tercipta.
Toleransi yang diberikan umat islam terhadap pemeluk agama lain sangat besar seperti di Indonesia tetapi tidak untuk sebaliknya seperti yang terjadi di negara Prancis maupun China. Apalagi upaya propaganda kepentingan seperti semboyan teroris selalu dialamatkan ke kelompok yang ada di umat islam. Terlalu banyak bukti dalam sejarah tapi tidak terlalu ditanggapi seperti tindakan negara israil terhadap palestina atau kasus di Ambon dan Palu dapat menimbulkan resistensi di dalam umat islam. Umat islam merasa tindakan pemeluk agama lain tidak adil, walaupun ada sebagian kelompok yang umat islam sendiri melakukan kesalahan tapi terjadi karena derita yang tak tertahankan lagi. Untuk itu perlu pemahaman umat agama lain untuk tidak menutupi kesalahan dan mau berupaya membuka komunikasi sehingga dapat mencapai kedamaian bagi kita semua.

#61. Dikirim oleh ferry  pada  17/07   06:13 AM

Assalammualaikum
Untuk pertanyaaan mengapa umat islam tidak bisa menerima konsep pluralis?
Baiklah saya menjelaskan agama islam mempertahankan kemurnian syariatnya sampai akhir zaman, yang berbeda hanya tradisi akibat berbeda tempat dan kondisi lingkungan. Perbedaan yang timbul tidak akan menyalahi syariat ada dan terjadi karena kondisi yang memaksa.
Kalo menerima pluralis maka nasib agama islam akan sama dengan agama lain tentunya kepentingan nafsu akan mendominasi daripada akal. Manusia cendrung memuaskan nafsu tentu merubah syariat walau pun itu membuat kehancuran dan melanggar batas dikatakan akal. Umat islam akan memusuhi sesamanya juga umat lain sehingga kedamaian yang dicintai tidaklah tercapai.
Terjadinya sempalan dalam umat tiada lain ada sekelompok manusia yang sudah lari dari syariat karena menghamba pada nafsu bukan Tuhan yang Maha Esa.
Maka pahamilah biarlah umat islam untuk memikirkan perkembangan agamanya sendiri dan jangan dipaksakan untuk menerima hal yang dapat memecah kesatuan kami. Umat islam tak akan tertinggal dari umat lain kalaulah bukan dikalahkan melalui perang seperti penjajahan terjadi dalam sejarah. Umat islam selalu mau membuka diri dalam hal yang lain kecuali agama tentunya syariat islam. Semoga paham, saudara saya (islam) yang lain dapat menerangkan,
Salam damai dan adil untuk semua

#62. Dikirim oleh ferry  pada  17/07   06:33 AM

Kita tentu sepakat bahwa dalam suatu diskusi perlunya suatu KEJUJURAN dan ARGUMENTASI LOGIS agar menghasilkan diskusi yang BERMUTU ? Tanpa itu rasanya diskusinya akan MANDEG alias POKROL atau MUTER-MUTER.

Berbicara agama adalah berbicara soal TUHAN yang diyakininya dan kepatuhan menjalankan syariatnya ? Yang didalamnya mengandung HUBUNGAN dengan TUHAN yang diyakininya dan HUBUNGANNYA dengan LINGKUNGANNYA termasuk MANUSIA. Jadi tidak melulu dengan manusia saja ?

Apakah masalah ke TUHANAN masing-masing agama ini SAMA ? Kalau dikatakan SAMA maka yang mengatakan SAMA itu BOHONG ? Bagaimana mungkin bisa SAMA ? Kalau penjelasannya berbeda ? Ambil contoh antara ISLAM sama KRISTEN ? Bagaimana bisa SAMA ? Semua tentang ALLAH yang MAHA itu SAMA terkecuali ALLAH yang pernah jadi manusia (YESUS). KRISTEN percaya sekali akan hal ini ... Haqul Yakin ... 100% YAKIN. Sedangkan ISLAM menolak akan hal ini. YESUS tidak pernah ada dalam history ISLAM, yang ada ... adalah ISA yang NABI. U- satu FAKTA yang SAMA ... Yaitu cerita YESUS dan ISA adalah sama persis, dilahirkan oleh siapa ? Dimana ? Kehebatan apa yang dimilikinya ? Yang akhirnya di salib pun ... Itu sama persis. Tapi kenapa KRISTEN PERCAYA bahwa ISA bermetamorfosis (berubah) jadi YESUS YANG adalah ALLAH sendiri berwujud manusia ? Sedangkan ISLAM tetap saja ISA yang memiliki BANYAK KELEBIHAN itu ?

Apakah atas perbedaan MENDASAR ini bisa dikatakan SAMA ? SAMA darimana ? Berbeda ya BERBEDA ? Itu yang BENAR. Soal siapa yang BENAR dan SIAPA yang SALAH ? Tergantung penjelasannya ?

Saat TUHAN yang BENAR disebutnya secara SALAH ? TUHAN kan MAHA PENGAMPUN ? Betul ... 100% betul, sehingga nanti saat kita semua mempertanggung jawabkan segala perbuatan kita termasuk kesalahan penyebutan terhadap TUHAN ? Maka TUHAN ... Dengan enak akan ngomong ... Sampai sebelum akhir hayat atau mati menjemput ... Kamu sudah saya kasih kesempatan untuk berubah ? Tapi TIDAK MAU kan ? Maka RASAKANLAH punishment atas kesalahan tersebut ? Argumentasi apa lagi yang mau dikemukakan ? NOTHING ... Terima sajalah PUNISHMENT tersebut ...

Intinya ... Kalau menyebut TUHAN yang BENAR saja SALAH ? Maka TUHAN nggak ada urusan dengan kebaikan seseorang saat di dunia ? Yang memberikan banyak hal kepada orang itu siapa ? Kalau bukan TUHAN ? Terus jangan dibalik ... Kalau menyebut TUHAN sudah BENAR ? Tapi bisa berbuat seenak jidat ? No ... !!! Tetap saja seseorang harus banyak bermanfaat kepada sesama manusia. Yang jelas ... BENAR IMANNYA ... BESAR MANFAATNYA ... Itulah orang-orang MUTTAQIEN atau ORANG BERTAKWA.

#63. Dikirim oleh Hari  pada  18/07   05:52 AM

saya seorang muslim sebelum segala sesuatu

#64. Dikirim oleh asep sobirin  pada  19/07   05:10 AM

assalamu’alaikum,
saya sangat setuju dengan apa yang anda unkapkan dalam konteks keduniaan. alqur’an pun mengjarkan kita dakwah bilhikmah walmau’izhatil hasanah, wajaadilhum billati hiya ahsan, nabi muhammad sendiri melaknat orang yang menyakiti atau mmerangi kafir dzimmy, alqur’an juga memebenarkan kitab2 sebelumnya. dan kita semua satu. alqur’an turun sebagai penerus atau pelengkap dari kitab2 sebelumnya. dan alqur’an pun turun untuk seluruh umat manusia, dan agama apapun sblm datangnya alqur’an berhak untuk memeluk gama islam. dan wajarlah allah menyatakan dalam alqur’an dalam surat al-baqarah laa ikraaha fiddiin,kenapa, karena ada sambungan stelahnya, qad tabayaanarrusydu minalghayy. dan juga allah menyatkan dalam alqur’an barang siapa ingin beriman maka ia mukmin dan barang siapa yang ingkar maka ia kufur. sebab dalam alqur’an sudah sempurna dan jelas dan terang sebagaimana nama alqur’an itu sndiri sebagai burhaan, alfurqaan, alhudaa, dan yang lainnya dalam surat alma’idah ayat ke tiga” alyauma akmaltu lakum diinakum waatmamtu ‘alaikum ni’maty wa radhiytu lakum al-islaama diinan.” menurut saya anda mengartikan pluralitas agama keliru, yahudi dan nashrani ataupun majusy dan agama yang lainnya baik budha hindu atau kristen maupun penyembah berhala maka otomatis dia muslim dan nda tau arti kata islam itu sendir, kalau muslim berarti isim fa’il dari kata islam. jikalau mereka sudah tunduk dengan iman maka baru dia dituntut untuk beramal baik dan shalat, zakat, puasa, dan haji sebagai mana kita kenal dengan rukun islam, kemudian baru dia brhak untuk mendapat pahala. sebagaimana yang anda katakan dalam tulisan anda jika ia beriman (berarti iman percaya kepada allah beserta sifatnya yang sempurna, iman kepada malaikat, iman kepada kitab2 yang ditirunkan allah kepada nabi dan rasulnya, iman kepada nabi dan rasul allah, iman kepada hari akhir dan kebangkitan, dan iman qadha dan qadri khirihi wa syarrihi), dan beramal kebajikan. anda musti memeprtanggungjwabkan urutan dan makna yang terkandung dalam ayat yang anda kemukakan, yang bagaimana ia berhak mendapat pahala jika ia tidak beriman dalam tanda kitip, kemudian urutan kedua beramal shaleh atau kebajikan, dan kemudian barulah dia berhak memperoleh ganjaran. setiap ayat yang anda kemukakan mulai dari urutan kata dan makna, semuanya memilki maksud, anda tau bahwa alqur’an dikatakan i’jaz karena di dalamnya tidak terdapat khalal atau cela. baik dari kata maupun maknanya. saya tidak mempermaslahkan istilah pluralitasnya atau apa saja tapi sya mempermasalahkan pemahaman anda yang keliru dari pluralitas itu sendiri. jadi silahkan anda memakai dan mengambil istilah2, tetapi anda musti mempertanggungjawabkan pemahaman yang anda berikan terhdap istilah tersebut. wallaahu a’lam bishshawaab.
wassalmu’alaikum

dari saudaramu
syahrur veri fernanda

#65. Dikirim oleh syahrur veri fernanda  pada  19/07   10:34 AM

tentang plurarisme agama dalam alquran sudah jelas terdapat dalam surat al-kafirun.

kalau mau jujur, kita suka memaksakan pendapat tentang tuhan yang kita pahami kepada penganut agama lain.

marilah kita hidup berdampingan antar umat beragama jangan lagi ada usaha2 untuk mengagamakan penganut agama lain dengan sengaja, apalagi dengan perencanaan yang diprogramkan, apapun alasannya itulah yang dinamakan tidak mengakui pluralisme agama. apalagi kalau itu motivasinya politik dan kekuasaan, sangat berbahaya dan dapat mengakibatkan negara ini selalu gonjang-ganjing.

#66. Dikirim oleh tia  pada  21/07   05:52 AM

Yth : Mas M.N. Wibawa

Persoalan agama itu kan berkaitan dengan KONSEP KETUHANANNYA dan SYARIATNYA ? Kita SEMUA SEPAKAT tanpa terkecuali bahwa soal SYARIAT dalam suatu agama itu PASTI BERBEDA. Jadi TIDAK USAH DIPERSOALKAN lagi ? Tapi soal KETUHANAN ? Kenapa bisa saling antagonis ? Padahal manusianya sendiri yang DICIPTAKAN TUHAN baik dari sisi GENETIKA dan PHENOTYPE-nya sama ? Kenapa menyebut TUHAN dengan aneka ragam sebutan dan penjelasan ? Apakah ini bukan hal yang aneh ? Maksudnya ... TUHAN itu ... Ya seperti itu ? Tapi penjelasannya ... SALING TABRAKAN atau ANTAGONIS ? Kenapa ? Pasti ada masalah ?

Terus ... Siapakah yang KREDIBEL dan TRUSTED bicara soal TUHAN ? Kalau bukan yang ditunjuk oleh NYA ? Yaitu para NABI dan RASUL ? Apakah FILOSOF boleh melakukannya ? Sah-sah saja ... Bisa saja FILOSOF menjelaskan masalah KETUHANAN ini ? Bedanya dengan NABI ... Pertama, soal MUKJIZAT yang melekat ke NABI sebagai pemberian TUHAN; Ke dua, AKHLAK ... ? Para NABI itu AKHLAKNYA MULIA ... Bisa di trace atau ditelusuri saat bersama-sama, sendirian, atau saat senang maupun susah ? Ke tiga, pengorbanan yang dilakukan untuk menyampaikan amanah yang berkaitan dengan KEPAHAMAN akan EXISTENSI TUHAN, akan adanya AKHIRAT dan AMAL KEBAIKAN saat masih hidup, baik kepada TUHAN, kepada environment (termasuk manusia) maupun terhadap dirinya sendiri.

Seorang FILOSOF ... Soal MUKJIZAT dan PENGINFORMASIAN atas AKHERAT sepertinya TIDAK MEMILIKINYA ? Makanya TIDAK MENGINFORMASIKAN hal-hal tersebut ? Ilmunya hanya sebatas DUNIA saja, tidak bisa menembus alam GHAIB ? Apalagi AKHERAT ? Jadi kredibiitasnya KALAH o- para NABI dalam menjelaskan soal-soal TUHAN ini ?

Para NABI itu banyak jumlahnya. Tapi yang memiliki warisan berupa TEKS TERTULIS sangat sedikit sekali ? Kenapa tidak berangkat dari WARISAN yang berupa TEKS TERTULIS itu saja sebagai TITIK TOLAK pendalaman untuk mencari KEBENARAN ? Dalam mencari TUHAN ?

Bagaimana TEKS TERTULIS itu sampai terkumpul ? Siapa yang MENULIS ? MENGHAFAL ? Sehingga menjadi acuan ? Lepaskan semua KEYAKINAN yang MERANTAI KITA ? Agar kita bisa melihat sesuatu itu apa adanya ? Agar bisa mendapatkan kebenaran itu sendiri ?

Dari semua TEKS TERTULIS itu ... Kira-kira ... Yang begitu MURNI dan JERNIHNYA ? TEKS TERTULIS AGAMA apakah ? Kalau mau jujur ... ISLAM ... lah yang memenuhi kriteria tsb ? Kalau KEBENARAN sudah didapatkan ? Apakah orang lantas PERCAYA ? Belum tentu ? Masih ada soal lain yaitu HIDAYAH ... Yang mana itu adalah HAK PREROGRATIF ALLAH memberikannya ke seseorang ?

Ambil contoh soal merokok ? Apakah para PEROKOK itu TIDAK TAHU ? Bahwa MEROKOK itu BERBAHAYA ? Sangat tahu ? Bagaima TIDAK TAHU ? Sampai produsennya sendiri (pabrik rokoknya) sendiri menginformasikan di bungkus rokoknya bahwa MEROKOK itu bisa menyebabkan penyakit jantung, kanker ... dst sebagai bentuk DISCLAIMER ? Tapi kenapa para PEROKOK itu TIDAK BERHENTI ? 1001 alasan akan menyertainya ... Bahwasanya merokok itu biasa-biasa saja ? Jadi masalah TAHU dan menjalankan ke TAHUANNYA itu adalah dua hal yang berbeda. Bisa saja seseorang itu TAHU terus menjalankannya ? Tapi banyak sekali yang TAHU tapi tidak mau MENJALANKAN apa yang DIA TAHU ? Demikian juga soal AGAMA ? ISLAM itu ... memiliki bukti OTENTIK, ORIGINAL dengan KEDALAMAN LUAR BIASA ? Ada yang MAU PERCAYA ? Banyak yang PERCAYA ? Tapi SANGAT JAUH LEBIH BANYAK yang TIDAK PERCAYA ? Ingatlah hukum MEROKOK ... Bahwa Tahu dan MENJALANKAN ... Itu dua hal berbeda.

#67. Dikirim oleh Hari  pada  21/07   06:01 AM

@Hari

Kalau agama Islam dan Agama-agam Kristen itu sama berarti tidak perlu dinamai agama Islam atau Agama Katolik. Karena masing-masing agama itu berbeda maka namanya juga berbeda. Jadi agama-agama di dunia ini memang berbeda. Karena perbedaan inilah merupakan salah satu penyebab lahirnya pluralisme. Bukankah pluralisme mengakui adanya perbedaan?

Hila

#68. Dikirim oleh hila  pada  21/07   02:53 PM

Mas Tendy yg baik,
Pertanyaannya saya klasik dan sederhana saja,kalau menurut mas Tendy bahwa Tuhan telah menunjukkan jalan yang sudah ditentukan(Islam), lalu bagaimana nasib para teman2 kita diluar agama Islam yang juga rajin beribadah dan berbuat baik? apakah Tuhan sedemikian “terbatasnya” sehingga “mengacuhkan”, “mempersalahkan” bahkan “mengkafirkan” orang yang intens beribadah diluar cara Islam? Mohon maaf apakah kita tidak sedang mengkerdilkan Tuhan?

Yang dimaksud universal dari agama Islam adalah nilai “substansi” dari nilai2 agama itu sendiri.Jadi bukan “agama"nya beserta perangkat lokalnya yang universal, kalau syariat dan tata pelaksanaan ibadah bahkan bahasa Al’Quran (arab) diwajibkan untuk diikuti sertakan maka nilai “universalitas” dari Islam akan gugur dengan sendirinya,karena mayoritas penduduk dunia tidak mengerti bahasa arab,bahkan kita saja yang setiap hari melafazkan ayat2 tersebut banyak yang tidak mengerti arti dari ayat yang kita ucapkan,mungkin kecuali dihafalkan dan pertanyaannya adalah apakah bahasa Tuhan = bahasa arab ? kalau memang demikian tidak adil dong Tuhan? padahal kita tahu Tuhan pasti Maha Adil. maka premis mana yang akan anda pilih ?
Tidak hanya Islam, agama apapun itu seperti pisau bermata dua,satu sisi agama dapat membuat pengikutnya taklid buta (tunduk bongko’an), eksklusif dan memposisikan agama tersebut merupakan sesuatu yang mutlak seperti (maaf) berhala). Satu sisi lainnya agama diposisikan sebagai alat,sarana dan batu loncatan untuk mengantarkan kita ke jenjang-jenjang berikutnya dari tingkatan spriritualias yang paling rendah hingga ke tingkatan yang tinggi
hingga ketingkat kesempurnaan.
Beribadah kepada Tuhan namun masih mengharapkan pahala dan kavling di surga adalah adalah bentuk spriritualitas pedagang.Membeda2kan dan mengkotak2an umat manusia berdasarkan agama adalah spriritualias yang arogan.
Sekali lagi bukan karena agamanya yang salah, namun karena pemahaman kita sendiri yang salah, karena taklid buta dan tidak mau berfikir diluar kotak.
Salam untuk Mas Tendy
Mohon maaf kalau ada yang tidak berkenan.

#69. Dikirim oleh ardianto  pada  22/07   11:11 AM

pluralisme merupakan sebuah tuntutan dalam menciptakan masyarakat yang madani. tenggang rasa, saling menghargai dan berbuat adil kepada semua agama merupakan sebuah tuntutan universal atas dasar nilai - nilai kemanusian (humanisme). melihat kondisi masyarakat indonesia yang terdiri dari berbagai macam agama dan berbagai macam etnis, pluralisme merupakan sebuah instrument dalam menciptakan masyarakat yang lebih madani. jadi menolak pluralisme berarti suatu tindakan bodoh…!!!! hidup pluralisme!!!!!

#70. Dikirim oleh dede kurniawan  pada  24/07   11:14 PM

@ Komentar saya mohon ditanggapi dengan dingin

Dari berbagai media, buku, majalah dan sumber informasi lainnya saya simpulkan (kesimpulan saya belum tentu benar) bahwa Islam memang agama yang “lain dari pada yang lain”. Coba kita telaah dengan jujur, agama apa yang paling lekat dengan kehidupan politik? Jawabannya sudah pasti Islam, agama lain memang ada juga yang lekat dengan politik, walaupun intensitasnya tidak sekeras Islam. Ambil contoh dengan BJP, yaitu partai hindu radikal di India, yang baru berumur kurang dari 15 tahun, atau PDS di Indonesia yang tidak (atau belum) begitu disukai dikalangan umat nasrani sendiri di Indonesia. Intensitas kentalnya hubungan politik dan agama demikian terasa dalam Islam dengan partai-partai agamanya. Agama apa yang paling sering (bahkan sudah tradisi) menjadikan momentum keagamaan dan tempat ibadah sebagai corong politik? Jawabannya adalah agama Islam. Sudah bukan rahasia lagi kalau Sholat Jumat adalah media yang paling manjur untuk menyampaikan orasi-orasi politik. Lihat contohnya di Iran, negara Islam tersebut selalu menggunakan waktu Sholat Jumat sebagai media untuk mengeluarkan statement-statement politik, yang maaf bahkan kadang-kadang berujung pada demonstrasi dan kerusuhan yang melibatkan masa dalam jumlah besar. Saya kadang-kadang mempunyai pikiran nakal, apakah memang Islam memang didesign seperti itu dari sononya? Hal-hal semacam inilah yang menjadi salah satu penyebab, kenapa Islam demikian alergi terhadap Pluralisme, sampai-sampai MUI dengan tegas mengeluarkan fatwa yang mengharamkan Pluralisme!!! Kenapa? Karena konsep Pluralisme itu sendiri berpotensi besar mengurangi kadar MILITANSI para umatnya. Berkurangnya kadar MILITANSI ini akan sangat merugikan bagi para politisi yang menjadikan sentimen keagamaan sebagai sarana untuk mencapai tujuan-tujuan politiknya. Saya punya saran apabila Islam ingin dilihat sebagai agama pembawa kedamaian, maka langkah pertama yang HARUS diambil, adalah berani mengambil batas tegas antara kehidupan beragama dan kehidupan berpolitik, tanpa itu maka Islam akan selalu menjadi sarana yang sangat mudah bagi para politisi berkedok agama untuk mencapai tujuan-tujuan politisnya.

#71. Dikirim oleh Some One  pada  27/07   10:58 AM

walaupun diputer-puter, kesimpulannya ya selain islam namanya kaafir. faqod kafaralladziina qaluu inallaha huwalmasihubnu maryam….dan mereka memang diciptakan oleh tuhan yang sama dengan kita, tetapi mereka TIDAK MENYEMBAH TUHAN YANG KITA SEMBAH “wa laa antum ‘aabiduuna ma a’buduun”

dan orang kafir tidak akan pernah rela kepada orang islam sebelum masuk mengikuti bokong mereka ke neraka

#72. Dikirim oleh SALMAN  pada  01/08   09:46 AM

@Hari

Untuk itulah Forum ini diadakan dengan tujuan untuk membuka mata dan hati saudara"ku sekalian bahwa pentingnya menjaga “Mindset” kita dari klaim bahwa agama Islam-lah paling benar yang lainnya hasil bisikan setan lewat karya manusia. Coba sekali” anda liat situs FFI (Faith Freedom Indonesia) disana terlihat jelas bahwa umat Kristen,Katolik,Hindu,Buddha,Agnostic,Atheist sangat resah dengan kehadiran Islam (yang tidak toleran). Kenapa? karena sudah terlalu banyak bukti kekerasan atas nama Agama dan Agama telah menjadi Institusi berbasis Tuhan yang sanggup untuk menghilangkan Hak hidup orang lain. Maka dr itu salah satu upaya dalam meminimalisir hal tersebut adalah Harus “Menerima pihak lain dan belajar utk hidup berdampingan”. Toh dengan menerima pluralitas tidak mengancam akidah anda bukan? Jadi apa yang anda khawatirkan.

#73. Dikirim oleh Damai lagi yah  pada  05/08   12:47 PM

@Hila

Saya sangat SETUJU bahwa AGAMA-AGAMA di DUNIA ini BERBEDA ? Persoalannya ... ? Apakah SEMUANYA BENAR ? Bagaimana SEMUANYA BENAR ? Kalau PENJELASAN masing-masing AGAMA tersebut atas hal yang paling POKOK atau yang SUBSTANSIAL ... ANTAGONIS ? Yaitu masalah KETUHANANNYA ?

#74. Dikirim oleh Hari  pada  12/08   04:49 AM

Pertama-tama, yang perlu dipahamkan adalah makna pluralitas dan pluralisme agama. Pluralitas adalah suatu kondisi kehidupan sosial dengan aneka ragam wujud agama dalam masyarakat atau negara. Kondisi ini adalah alami atau sunnatullah. Sepanjang sejarah manusia pasti ditemukan beberapa agama, aliran atau isme.

Sedangkan pluralisme sebagaimana didefinisikan adalah suatu paham yang mengajarkan bahwa semua agama adalah sama, dan karenanya kebenaran setiap agama adalah relatif; oleh sebab itu setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim bahwa hanya agamanya saja yang benar sedangkan agama yang lain salah.

Dalam konsep Islam, pluralitas sangat diakui. Islam mengakui perbedaan dan identitas agama-agama, namun tidak berarti membenarkan semuanya. Surat Al-Kafirun memberi pemahaman bahwa bermacam agama itu tidak bisa disatukan. Dari sinilah konsep toleransi lahir. Islam membiarkan agama lain menjalankan ritual agama – selama tidak mengganggu agama Islam – namun tidak mentolelir persamaan agama (lakum dinukum wa liyadin).

Eksklusifitas Islam – sebagaimana dijabarkan dalam ayat-ayat Al-Qur’an – adalah dalam rangka mengoreksi dan mengkritik agama-agama terdahulu yang telah menyimpang dari al-din al-fitrah/al-din al-hafnif (ajaran Tauhid). Hal itu dapat dilihat dalam QS. Al-Ma’idah ayat 17, 72 dan 73.

Secara teologis Islam bersifat eksklusif dalam arti tidak membenarkan agama-agama lain selain Islam seperti dalam QS Ali Imran ayat 19 dan 85.
Tapi, eksklusifitas Islam tidak serta merta menghalangi berinteraksi dengan penganut agama lain (anti inklusifitas). Dalam tataran sosial kemasyarakatan Islam terbuka (inklusif) berkehidupan dengan penganut agama lain.
Surat al-Mumtahanah menjelaskan “Tidaklah Allah melarang kamu untuk berbuat baik dan adil terhadap orang-orang yang tidak memberangi kamu pada agama dan tidak mengusir kamu dari kampung halaman kamu, sebab Allah suka kepada orang-orang yang berbuat adil. Hak-hak kafir dzimmi dijamin oleh Islam. Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang menyakiti seorang dzimmi, maka sungguh ia menyakitiku, dan barangsiapa menyakitiku, berarti ia menyakiti Allah (HR. Thabrani).

Dalam beberapa riwayat, disebutkan Rasulullah SAW berdagang dengan orang kafir. Sebagaimana tercantum dalam surat Al-Kafirun dalam tataran teologi, Islam bersifat eksklusif. Tapi sangat membuka pintu toleransi beragama, berinteraksi dan bermuamalah (inklusif). Artinya, Islam adalah eksklusif sekaligus inklusif.

Jika ada yang berpendapat “Satu Tuhan banyak nama. Tuhan agama-agama di dunia hakikatnya sama, yang berbeda adalah pemberian nama tiap agama. Tuhan Islam bernama Allah, Yahudi menyebut Yahweh, meski berbeda, Dzat Mutlak itu satu.”
Secara konseptual, gagasan ini bermasalah. Kenyataannya perbedaan itu tidak hanya pada level eksoterik, pada tingkat esoterik pun terdapat perbedaan di antara masing-masing agama.
Konsep ke-Tuhan-an umat Islam (Allah) tentu amat jauh berbeda dengan Tuhan Kristen, Hindu, Budha, dan Konghucu atau agama-agama lainnya. Kritik Al-Qur’an terhadap agama Yahudi dan Nasrani bahkan tidak hanya pada ranah eksoterik, malah, Al-Qur’an banyak mengkritik agama tersebut pada level esoteriknya. Andaikan sama, Islam tentu tidak akan menggugat ketuhanan agama-agama syirik tersebut. Dan Rasulullah SAW tidak perlu mengirim surat mengajak Islam kepada Raja Heraklius.

Masing-masing agama memiliki kosepsi Ketuhanan yang bersifat eksklusif, yang mustahil dicarikan
kesamaan atau dipertemukan. Karena berbeda itulah, maka Islam kemudian mengajak kepada para pemeluk agama lain agar bersama-sama berdiri dalam kalimat al-sawa’ – yaitu dengan melepas baju-baju syirik untuk kembali kepada agama Tauhid, menyembah Allah sebagai satu-satunya Tuhan.

#75. Dikirim oleh tendy  pada  18/08   12:50 PM

Assalamualaikum.
ada hal yg membuat saya tertarik ninggalin pesan.. Intensnya masyarakat zaman Nabi Muhammad SAW berhub dengan orang non islam, bahkan ada pernikahan dengan non islam jangan di anggap hal yang lumrah,, menurut saya hal itu boleh disaat kita meyakini bahwa yang dinikahi akan menjadi seorang muslim pula,, sehingga pernikahan itu menjadikan keturunan muslim..Tapi saa pernikahan beda agama berlansung sampai akhir hayat,,si anak mau dibawa kemana???
sedangkan islam mengingatkan agar janagn kita meninggalkan keturunan yang lemah imannya..apa lagi tanpa agama yang pasti..
wassalam irwan
http://keretaunto.blogspot.com

#76. Dikirim oleh irwan setiawan  pada  27/12   09:38 AM

Bung mungkin benar secara iftihad (nalar) tapi buktikan kebenaran berfikir bung ... kalau mememang berani melakukan seumpana orang ingin menadapatkan amal yang banyak/bisa cepat masuk surga sebaikanya lakukan aja amal tiap Jum,at beribahan di masjid, Minggu beribadah di gereja sabtu disinegok kalau perlu selasa kliwon di gunung Kawi, ikut perkumpulan Darmo Gandul Pangestu dan Lain2 Sehingga amalnya banyak dan dicatat alah banyat banyat Malaikat dan bertemu banyak ” Tuhan ” Ayo berani ndak tak tunggu okey.

#77. Dikirim oleh Trisno  pada  12/01   07:49 AM

Tidak menghargai pluralisme sama dengan tidak demokratis. Tidak demokratis sama dengan tidak menghargai eksistensi orang lain. Tidak menghargai eksistensi orang lain sama dengan tidak menghargai ciptaan Tuhan. Tidak menghargai ciptaan Tuhan sama dengan menghina Sang Pencipta. Jadi siapa yang tidak menghargai pluralisme sama dengan menghina Tuhan. Paham?
Salam
Mak Ijah

#78. Dikirim oleh Mak Ijah  pada  13/01   09:31 AM

To : Damai lagi yah di 73

Saat saya kutip pernyataan anda :

Untuk itulah Forum ini diadakan dengan tujuan untuk membuka mata dan hati saudara"ku sekalian bahwa pentingnya menjaga “Mindset” kita dari klaim bahwa agama Islam-lah paling benar yang lainnya hasil bisikan setan lewat karya manusia.

Persoalannya adalah :
ISLAM meng klaim paling benar ? Apakah SALAH ?
KRISTEN meng klaim paling benar ? Apakah SALAH ?
HINDU meng klaim paling benar ? Apakah SALAH ?
BUDHA meng klaim paling benar ? Apakah SALAH ?

Saat AGAMA-AGAMA ini meng KLAIM PALING BENAR ? SAH-SAH saja bukan ?
Semuanya BERPULANG pada PENJELASAN dan orisinalitas sumber yang dipakai kan ?

Masing-masing AGAMA ini mempunyai nama TUHANNYA masing-masing bukan ?
Persoalannya adalah PENJELASAN atas TUHANNYA sendiri itu BAGAIMANA ?
Siapakah DIRINYA ...
EXISTENSI DIRINYA itu SIAPA ?
Apa saja yang telah dilakukannya ...
Semuanya itu tentunya HARUS TERJELASKAN ...
Dari SUMBER OTENTIK ...
Atau SUMBER REFERENSI UTAMA ...
Katakanlah KITAB SUCINYA ...

Apakah saat TUHAN yang menjelaskan dirinya ...
Dalam KITAB SUCINYA itu ...
Dibantah TIDAK oleh AYAT yang SAMA ...
Dari KITAB SUCI yang ada ?

Marilah kita men trace atau MENELUSURI ...
SUMBER-SUMBER OTENTIK yang dipakai ...
HISTORI-nya ...
NARASINYA ...
ALURNYA ...
ALIBINYA ...
FAKTANYA ...
DATANYA ...
Dan ...
KONSISTENSINYA ... ?

Apakah kita MAU JUJUR ...
Bahwa Al-QUR’AN lah SATU-SATUNYA ...
Yang memenuhi KRITERIA tersebut ?
Baik dari sisi HISTORINYA ...
NARASINYA ...
ALURNYA ...
FAKTANYA ...
DATANYA ...
Dan ...
KONSISTENSINYA ...

Nah kalau Al QUR’AN ...
Yang memenuhi syarat-syarat yang ada ...
Sedangkan yang lain banyak sekali PERTANYAANNYA ... ?
Kenapa masih juga TIDAK DIPERCAYA ?
Apakah ini BUKAN BERARTI KEKERDILAN ...
Atau KETAKUTAN ...
Akan ANGGAPAN manusia ...
Bahwa MINDSETNYA ...
Itu KETINGGALAN JAMAN ?

PADAHAL ...
FAKTANYA ...
DATANYA ...
BENAR dan TERKORELASI (Terhubungkan) ...
Dengan apa yang DINYATAKAN ... ?

Kalau SESEORANG ...
MENUTUP DIRI dari KEBENARAN ... ?
Itu namanya apa ?
Kalau BUKAN BERPIKIRAN CUPET alias SEMPIT ...
Atau KATAK dalam TEMPURUNG ... ?

#79. Dikirim oleh Hari  pada  23/02   06:03 AM

@ Hari di #79:

Alhamdulillah,Maju terus Mas Hari…

Siapa pun tahu,meskipun secara moralitas setiap agama memiliki persamaan (karena consience atau hati nurani itu adalah anugrah yg fitrah diberikan ALLAH kepada seluruh manusia secara universal), banyak sekali aspek2 mendasar yg membangun agama2 yg sangat berbeda satu sama lain, salah satu yang paling penting adalah: konsep2 ketuhanan di antara berbagai agama itu berbeda2, bahkan bertentangan.

Ketika anda menemukan dua pernyataan yg bertentangan, maka kemungkinan yg ada hanya:
1. salah satunya salah dan yg lainnya benar, atau
2. kedua2nya salah
TIDAK MUNGKIN KEDUA-DUANYA BENAR

contoh yg paling krusial:
pernyataan 1 (ISLAM): ALLAH swt adalah Tuhan, dan Yesus(Isa A.S) BUKAN tuhan, dan ia TIDAK MATI di kayu salib.
pernyataan 2 (kristen): ALLAH adalah Tuhan, dan Yesus ADALAH tuhan, dan ia TELAH MATI di kayu salib untuk menebus dosa manusia.

Menyangkal pernyataan 1, anda akan keluar dari Islam dan menjadi orang musyrik, dosa yg paling besar.
Menyangkal pernyataan 2, anda akan keluar dari kristen dan tidak akan diterima di surga, karena untuk ke surga anda harus menerima Yesus adalah tuhan dan telah mati di kayu salib untuk menebus dosa manusia.

Penting untuk kita mengetahui perbedaan kebenaran dan kebaikan.
1.Kebenaran (Logika) itu soal: BENAR dan SALAH
2.Kebaikan(Moral/Etika/Akhlak) itu soal: BAIK dan BURUK

Kebenaran itu mutlak seperti 1 + 1 = 2,

di dalam Islam, ALLAH swt memerintahkan orang Islam untuk menegakkan kebenaran “dan sekaligus” berakhlak mulia (baik). Benar dan Baik.
Menghormati, mengasihi dan memanusiakan orang lain, tidak berarti harus membuat kita “mengkhianati” kebenaran.

Menyampaikan dan menegakkan kebenaran bukan berarti kita tidak menghormati dan menyayangi orang lain.

Ketika ada orang yg menipu orang lain dan dirinya sendiri dengan pernyataan 1 + 1 = 3, maka wajib hukumnya kita mluruskan, karena jika tidak, sama artinya kita meninggalkan mereka dalam kesesatan, dan hal ini sangat bertentangan dengan prinsip kasih sayang bukan?

Dalam menegakkan kebenaran, penting sekali kita menjaga prinsip2 akhlak yg santun, jujur, dan adil.

Kita dapat menegakkan kebenaran “sekaligus” tetap berakhlak yg mulia dalam menyikapi orang2 yg menipu dirinya sendiri dan orang lain.

Setiap pemeluk agama akan mengklaim agama mereka yg paling benar, hal ini WAJAR dan BUKAN HAL YG PERLU DITAKUTKAN, karena hal itu adalah landasan setiap pemeluk agama memeluk agamanya. Jika ia menemukan agamanya tidak benar dan agama lain yg lebih benar maka logis untuk dia berpindah agama.

Untuk menentukan benar atau salahnya, setiap klaim kebenaran maka harus disertai pembuktian.

Dalam menegakkan kebenaran apa pun (termasuk agama) perlu dilakukan pembuktian. Pembuktian dapat dilakukan dengan melakukan perbandingan dan pengujian. Hal yg tetap konsisten yg dimiliki setiap agama untuk dapat diperbandingkan dan diuji secara obyektif adalah kitab suci dari masing2 agama.

Setiap kitab suci itu diperbandingkan dan diuji dengan cara membuktikan kualitas KOHERENSI dan KORESPONDENSI antara kitab2 tersebut secara obyektif, maka akan jelas kelihatan agama siapa yg benar dan agama siapa yg salah.

Kitab suci yg banyak PERTENTANGAN antara ayat satu dengan ayat lainnya TIDAK lolos uji koherensi.
Kitab suci yg BERTENTANGAN dengan “fakta absolut dan ilmu pengetahuan yg sudah mapan dan mendasar yg tidak dapat disangkal lagi kebenarannya” TIDAK lulus uji korespondensi.

Bila telah lulus uji kebenaran, maka nilai2 kebaikan yg disampaikan oleh kitab suci yg terbukti benarlah, yg pantas diikuti.

Usaha2 apologetik bukanlah hal yg buruk dan harus dipandang sebagai jalan untuk mendapatkan kebenaran yg absolut. Yang penting tetap fair, obyektif dan tetap skeptis.

semoga anda dapat menemukan agama yg benar2 dari TUHAN YANG MAHA BENAR

Wallahu’alam

Assalammu’alaikum

Alpha

#80. Dikirim oleh alpha  pada  25/02   08:37 PM
Halaman 4 dari 4 halaman‹ First  < 2 3 4

Tulis Komentar

Nama:

Surat-e:

Lokasi:

Situs:

Ingat data pribadi saya

Ingin dikirim setiap umpan balik komentar yang masuk?