Islam dan Pornografi
Oleh Badarus Syamsi
Kaum Muslim harus mampu mengartikulasikan nilai-nilai etika Islam dalam kehidupan praksis-operasional, misalnya dalam bidang kesenian
- Jangan sampai Islam terkesan sebagai penjara bagi kreasi dan inovasi manusia, hanya karena penafsiran sebagian kaum Muslim
Komentar
Semua artikel dan bacaan yang kalian buat adalah suatu kesalahan dan tak pernah kalian mengerti arti Islam sesungguhnya. Sesungguhnya kalian telah belajar Islam dengan negara yang nota bone bukan negara Islam, tapi negara yang akan menghancurkan Islam. Dapatkah kalian percaya suatu orang yang tidak yakin akan Islam mengajari kalian Islam dengan benar !!!!!!!!!!!!!!
Fikirkanlah itu, dan jangan kalian nodai Islam yang kami anut dengan sebenarnya. Dan sesungguhnya kalian adalah orang kotor yang tak patut membawa nama Allah SWT dan kitab suci al-Quran dalam misi kalian. Kalian najis dan tak berteman dengan syetan.
Alquran itu suci dan jangan kalian kotori, dengan kesimpangan yang kalian atur dan kaji sendiri. Belajarlah lagi dengan petinggi Islam dari negara Islam dan kalian akan mengetahui, sesungguhnya lebih berat hukuman orang seperti kalian dari pada orang kafir yang tak melakukan apa-apa.
Redaksi:
Wahai pembaca yang budiman, kami kira Anda semua cukup cerdas untuk menangkap betapa bahaya memonopoli kebenaran ada di sekitar kita, bahkan di depan mata dan hidung kita.
Assalamu’alaikum.
Semoga Allah selalu membimbing kita menuju Ridho-Nya.
Aku sangat menentang pendapat anda. Perlu anda ketahui bahwa agama itu bukan pembatas tapi penjaga. Diibaratkan sebagai rumah yang mana rumah itu harus memiliki dinding. Padahal kalau kita lihat dinding itu adalah pembatas penglihatan, angin, dll, toh kita nggak pernah mengeluh dengan adanya dinding itu bahkan menjadi kebutuhan kita semua karena menjaga kita dari hal-hal yang tdk di inginkan seperti pencuri, penyakit, dll. Ini hanya satu ibarat dari sekian banyak ibarat.
Maka alangkah indahnya kalau peraturan-peraturan agama yang terdapat dalam Al-quran dan Al-hadits kita rasakan seperti ibarat tadi yaitu sebagai penjaga bagi kita walaupun dzohirnya sebagai pembatas, namn hakikat yang kita inginkan. Kenapa anda ingin menentang peraturan Allah sementara Dia yang menciptakan dunia ini dan menciptakan anda. Anda menganggap apa Al-Quran itu. Itu kalau kita berkata ekstrim. Kita katakan bahwa agama membatasi kebebasan ekspresi seni seseorang dengan melarang yang ini dan yang itu padahal dia sendiri terikat erat oleh nafsu mereka. Apakah itu yang namanya kebebasan?
Memang banyak peminatnya kalau nafsu yang main. Disitulah salah satu gunanya agama untuk melepaskan mereka dari ikatan hawa nafsu serta mengatur kapan saatnya nafsu itu di turuti. Coba bayangkan kalau tidak ada agama yang mengatur dan semua manusia mengumbar nafsunya maka apa bedanya kita dgn bianatang (maaf). Siapa sih yang tidak suka ajakan nafsunya.
Kita bisa mengatakan bahwa agama itu pembatas karena kita belum mencapai taqwaNya, padahal itulah intinya kehidupan. Adapun kecintaan kepada lawan jenis, harta, anak, dll. itu adalah hiasan dunia. Tapi kebanyakan kita baru dapatkan hiasan dunia itu, kita sudah mendet. Padahal ada intinya harus kita capai yaitu Taqwa. Kalau kita sudah capai itu maka hiasan-hiasannya pun kita bisa capai. Baca Al-Quran"Zuyyina linnasi hubbusysyhwati…...“Allah mengetahu segala sesuatu. “Anta a’lamu ma fii nafsii, walaa a’lamu mafii nafsik”.
Aku berharap tanggapan ini diterima. Kalau ada tanggapan dari penulis aku harap di kirim ke email saya. Karena aku muslinm yang tidak taklid dalam satu golongan dan masih proses dalam mencari kebenaran.
Wassalam.
Assalamu’alaikum…. Semoga Allah Swt menunjuki kita ke jalan yang lurus…amin
Baiklah di sini saya mencoba menanggapi tentang tulisan yang ditulis oleh saudaraku Badarus Syamsi.
Di sini saya melihat dan mencoba memikirkan sejenak tentang tanggapan saudaraku yang saya anggap tidak sepaham dengan anda. Sebab kalau saya melihat kasusnya Inul yang sekarang ini sangat ngetren untuk dibicarakan dan adanya kontroversi dari berbagai pihak, baik dari alim ulama dan para pemikir-pemikir Islam yang ada di Indonesia memang kebebasan untuk berkreasi di bidang apapun dan di manapun tidak boleh untuk dilarang.
Tetapi sekarang kita melihat bahwa Inul adalah seorang muslimah yang kalo tak silap, tetapi cobalah untuk berpikir secara logis apabila saudara atau anak kita berbuat seperti itu apalagi dia seorang muslimah mau di letak di mana kredibiltas Islam itu sendiri. Jadi marilah kita satukan Islam. Jangan kita kotak-kotakkan dan jangan buat umat menjadi bingung. Memang Islam tidak pernah melarang untuk berkreasi, tapi cobalah kita selaku umat Islam buatlah dan tunjukkan seni-seni Islam keada masyarakat banyak. Semoga Allah Swt melindungi kita dari jalan yang benar. Amin.
Wassalamu’alaikum wr. wb
Assalamu’alaikum wr. wb.
Sesungguhnya saya sangat senang dengan hadirnya situs ini yang sebenarnya juga membawa kita kepada wajah demokrasi yang sebenarnya (wajah yang penuh pro-kontra).
Di sini saya cuma usul bagaimana jika JIL membuat sebuah buku keislaman yang komprehensif dan sistematis. Karena buku yang semacam ini saya kira sangat jarang bahkan bisa dibilang urgen untuk segera muncul di permukaan.
Dan terakhir, memang agama perlu untuk didiskusikan, tapi akan ironis jika hanya dimulut. Semoga kita semua tetap berjuang dengan segala yang Allah berikan kepada kita. Bagi saya agama adalah kata yang tiada arti jika tidak dihidupkan oleh para pemeluknya. Saya rasa apapun komunitas keislamannya kita tetap bergandeng tangan untuk nilai-nilai kemanusiaan.
Saya rasa sudah menjadi fitrah manusia mencapai konformitas diri dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan rekreatifnya. Tetapi persoalannya adalah manusia tidak sepantasnya arogan. Adalah fatal apabila kita sebagai manusia memiliki egoisitas berlebihan, merasa diri kita yakin benar, sementara di sisi lain kita berbenturan juga dengan fitrah manusia sebagai makhluk dho’if.
Oleh sebab itu, diperlukan rule of law, yang berasal dari ilahi (itu kalau penulis percaya). Saya memahami kalau ini dibiarkan, maka akan terjadi eksploitasi sex appeal yang dibungkus istilah “seni”. Saya yakin penulis akan berfikir 1.000.000 X , tatkala mau berempati bagaimana kalau perempuan-perempuan terkasihnya dijadikan obyek eksploitasi sex appeal bagi orang lain? Kalau ya, maka di wilayah inilah syari’at Tuhan berbicara—mengatur egoisitas manusia.
Sungguh! ulasan yang diketengahkan olah Sdr. Mahasiswa S2 ini sangat menggelitik saya untuk sekedar ikut ber’cuap-cuap’ dalam forum diskusi yang mencerminkan kebebasan berekpresi ini.
‘Inul tidak identik pornografi’, ‘Islam sebagai penjaga adalah kontra pornografi’ merupakan dua oposisi biner yang tak mungkin didamaikan. Dan saya, termasuk salah seorang kelompok penentang arus pornografi/ pornoaksi itu. Bagi saya, label Isfun begitu meluaskan ladang kebun untuk beramal-ria menuntut terus kebenaran yang selama ini saya yakini. Tentunya, dengan tanpa mengabaikan sedikit pun kebenaran-kebenaran kecil yang banyak berserakan di JIL.
Menyangkut obrolan lepas yang di’jual’ oleh Sdr. Badarus Syamsi sungguh menggelikan. Di satu sisi, ia meyakini [dan insya Allah masih memercayai penuh] terhadap Islam sebagi ‘agama yang seharusnya’. [Saya pakai kata agama yang minus tanda kutip]. Tetapi di sisi lain, saya melihatnya ada semacam pengaburan makna [distorsi nilai] terhadap Islam itu sendiri. Salah satu contoh saja, saya sepakat betul jika Islam dikawinkan dengan kebebasan, demokrasi, HAM dan sebagainya itu tetapi lalu, saya kontra 180 derajat jika nilai-nilai kebebasan yang Maha Luhur itu disamakan dengan nilai kebebasan hewani.
Terang saja, saya meyakini bahwa di balik tumpukan ide-ide brilian manusia itu terdapat separuh ‘an insting animal’ yang sama sekali tak bernilai. Yang saya pahami, kekuatan tak bernilai inilah yang coba Islam batasi dengan batasan norma-norma manusiawi dan etika kehidupan bersosial yang beradab.
Ajakan saya, cobalah untuk sedikit mengekang ‘nafsu-nafsu’ kalian itu…
maka, Anda janganlah sesekali mengatasnamakan kebebasan berekspresi seni itu untuk meng’halal’kan pornografi/pornoaksi hanya demi pengenyangan nafsu golongan, sungguhpun saya sangat senang jika istri-istri Anda saat ini me’ngebor’ ria bersama saya dan khalayak ramai, menghabiskan kesenangan sesaat ini sesuntuk mungkin.
Maaf, sekian…
Salam saya
)
Saya merasa lucu melihat tulisan anda, karena melihat tulisan anda bahwa anda adalah orang yang sangat tidak kreatif dan gampang putus asa sehingga anda hanya memandang agama sebagai penghambat, sebagai penjara, karena menurut saya kreativitas yang dapat anda munculkan hanya sebatas seperti goyangan inul tidak lebih sehingga ketika MUI memfatwakan bahwa goyangan seperti itu haram lantas anda mengatakan bahwa agama itu menghambat kreativitas seni dan sebagainya.
Padahal dari tulisan anda, anda sudah tahu bahwa agama itu tdk pernah melarang orang untuk berkreasi, tapi anda menganggap kreativitas itu semuanya boleh walaupun ada norma-norma yang dilanggar, sementara agama justru menuntun kita untuk berkreasi tapi juga bermoral dan tidak melanggar norma-norma yang sudah ditetapkan.
Saya tertarik dengan perkataan salah seorang ustadz di kampung saya bahwa sekarang orang hanya menyuarakan hak asasi manusia tanpa pernah merenungkan bahwa pada dirinya juga ada hak Tuhan juga harus dipenuhi karena kita semua diciptakan olehnya, diberi rezeki olehnya. Apakah kita tidak malu kita makan rezekinya dari “kreativitas” yang kita ciptakan tanpa memenuhi hak-Nya.
Di akhir tulisan ini saya cuma ingin menyampaikan kalau memang anda orang yang beragama dan mengerti agama maka saya tidak yakin kalau anda akan se"lancang” ini menulis karena memang saya yakin anda belum terlalu mengerti tentang agama.
Tulisan anda ini bukan seperti tulisan orang yang mempunyai titel S2, tapi mungkin S Cream. Pada tulisan ini anda terlihat seperti anak kecil yang tidak tahu memilah mana yang benar dan mana yang salah.
Kalau fenomena Inul saya rasa sudah tidak perlu dibahas lagi karena memang yang Haq itu sudah jelas dan yang batil itu sudah jelas dan goyang Inul adalah batil.
Jadi jangan sampai demi kreativitas kita lalu menghalalkan segala cara dan mengesampingkan norma yang telah ditetapkan agama. Islam itu mengharuskan umatnya untuk selalu berkreasi dan islam melarang umatnya menjadi umat yang melempem. Tapi kreasi yang dianjurkan Islam adalah kreasi yang bermoral dan punya peraturan bukannya kreasi jual ‘pantat’ di depan umum yang saya lihat dan perhatikan tidak ada sedikitpun faedahnya justru bahkan menimbulkan pikiran-pikiran negatif bagi yang melihatnya.
Kalau alasan anda bahwa ini adalah hiburan rakyat berarti alasan anda dan orang-orang yg sependapat dengan anda adalah keliru karena hiburan yang seharusnya disuguhkan kepada rakyat indonesia adalah hiburan yang bersifat mendidik dan dapt membuka wawasan bukannya hiburan yg semakin membelenggu fikiran rakyat pada hal-hal yg berbau birahi dan menumpulkan fikiran rakyat indonesia yang memang sudah tumpul.
= Dari anak medan =
Betul bung Arief, yang suci hanya Allah !!, betul bung kita harus belajar Islam kepada orang yang percaya dan beragama Islam.
Sekali lagi, marilah kita belajar Islam kepada orang yang menjunjung tinggi Islam itu sendiri, dan jangan belajar dengan pihak yang mengejek2 Islam.
Apakah mungkin kita berlatih sepakbola dengan pelatih badminton ???? Anda semua pasti tahu kan jawabannya.
Marilah kita berlapang dada, menerima ajakan yang benar dan logis seperti ini andaipun datang dari seorang tukang becak.
Mohon postingan saya ini dimuat. Tks
Assalamualaikum,wr.wb.
Kepada redaksi JIL dan para penulis artikel, saya percaya bahwa Anda-anda lebih tahu banyak tentang agama Islam dari pada saya, tapi membaca gagasan-gagasan yang disampaikan kok banyak yang tidak sesuai dengan ajaran Islam sendiri. Saya kira anak kecil pun tahu bahwa goyang ngebor itu tidak sopan, bahkan sekarang sudah muncul goyang kayang, goyang patah, dan entah goyang apalagi nanti. Kita sebagai muslimin harus punya pegangan yang kuat agar tak terombang ambing oleh jaman.
Saat ini memang Islam sedang diserang dari berbagai penjuru, tapi bukan berarti kita harus mengalah atau bahkan ikut arus. Kita harus teguh tetap berpegang pada kebenaran, percayalah bahwa Islam satu satunya agama yang diridloi Allah Swt. Gunakanlah akal untuk semakin meningkatkan keimanan kita kepada Allah Swt dengan mempelajari alam, bukan untuk melawan hal-hal yang sudah jelas hukumnya, seperti hal tentang pornografi itu. Sudah jelas dalam Alquran batasan batasan aurat wanita, dan itu adalah hal yang pasti dari Allah Swt.
Wassalamualaikum,wr,wb.
Islam adalah agama yang menghargai sebuah kreativitas sebatas kreativitas itu tidak membawa kemudaratan bagi umat. Bila jelas-jelas kreativitas itu mendatangkan kemudaratan, tentu hal ini bertentangan dengan semagat al-Qur’an yang mengedepankan asas manfaat bagi kehidupan umat manusia.
Al-Qur’an merupakan acuan bagi kita umat Islam bagaimana berprilaku dalam kehidupan bermasyarakat. Dengan kata lain, kita harus membumikan al-Qur’an dalam kehidupan kita sehari-hari. Bukan al-Qur’an yang harus menyesuakan tingkah polah kita.
Untuk mengantisipasi berkembangnya zaman, tentu kita butuh penafsiran-penafsiran baru terhadap al-Qur’an. Penafsiran baru ini bukan penafsiran berdasar “udel dewe”, tetapi penafsiran mengikuti aturan yang tidak menyimpang. Misalnya penafsiran berdasar asbabunnuzul ayat, penafsiran ayat dengan ayat, dan ayat dengan hadis. Dari sini kita bisa mengambil bukan hanya teks ayat tetapi juga konteks ayat tersebut. Sehingga walaupun zaman terus berkembang, al-Qur’an tetap bisa menjawab persoalan zaman.
Yth. Redaksi & Badarus
Wah… menarik juga saya menyimaknya, baik ulasan & komentarnya. Trimakasih JIL, anda sekalian telah menjembatani dengan media yang sungguh banyak manfaatnya bagi perkembangan wawasan ke islaman.
Untuk Sdr. Badarus Syamsi yang S2, tentu segala sesuatu hal yang kita pandang akan selalu merujuk ke berbagai sudut hal dalam referensinya, baik sosial,agama,budaya dll, tergantung cara pandang dari sudut mana yang kita ambil. Dan masalah Goyang Inul itu praktis saja menurut saya yang awam, dudukan saja masalahnya secara proporsional dalam tatanan kehidupan yang menuju pada kemaslahatan.
Bukankah kemaslahatan itu tujuan mayoritas orang ?, kalau ditanya satu-satu tiap orang pasti menginginkan sesuatu yang baik, selamat, aman, tentram, dlsb. Sedangkan kemaslahatan itu sudah jelas referensinya Al-Quran, habis kita mau pake referensi yang jenis apa lagi ?.
Saya pun jika menggunakan fikiran negatif, jelas suka sekali terhadap Goyang Inul, bahkan mendukung dengan berbagai alasan baik dari segi, seni budaya, kreatifitas dll, tapi bila saya merujuk tatanan moral dalam kemaslahatan pada Al-Qur’an, mata saya “merem” malu dan takut.
Itu terbukti di kampung saya, sekelompok anak pengajian perempuan, menuntun kepada saya sebagai pengurus daerah, agar diperkenankan menari Goyang Inul pada di panggung 17 Agustus. Dan dia begitu lincah mempertontonkan kemampuannya dalam bergoyang pantat didepan saya saat minta ijin, sedangkan kesenian budaya islamnya ditinggalkan.
Saat itu saya sedih sekali, sedih karena keinginan dari maksud kreativitas anak tsb terhalang, juga kreatifitas dalam dunia pengajian nyapun hilang. Nah ini adalah persoalan siapa?, kan bukan persoalan Presiden, Mentri Agama,MUI,IAIN, dsb. Tapi sudah jelas persoalan kita yang ada di garis bawah sebagai komponen anak bangsa, yang begitu saja menerima imbas dari salah kaprahnya penanganan dalam suatu masalah(Goyang inul).
Bila Kita ingat, siapa yang meledakan secara dahsyat perkara Goyang Inul ?. Sewaktu saya masih bekerja di PT.DI Bandung, setiap jumat ada pasar kaget, disana segala macam barang dijual termasuk VCD Inul, dan itu sudah lama ber-edar pada tahu-tahun belakangan, bahkan dipasar-pasar, di toko-toko & pinggir jalan telah lama hal tsb di putar, tapi efeknya tidak geger secara nasional. Tapi begitu TV menayangkan, efek nya jadi lain, yang memperparah keadaan adalah protes MUI di media surat kabar, dan yang paling parah dan memparahkan adalah protesnya H.Oma Irama.
Selain Media TV, Dua point terakhir inilah yang memperkeruh suasana, karena mereka menanggapinya dengan pesan moral & agama dimana cara nya saya anggap kurang halus, terlalu kasar. Padahal kita yang mengaku ber-agama(aturan), islam memberikan banyak cara & solusi untuk menolak kemungkaran dengan cara yang ma’ruf, sebab bila kita angkat suatu permasalahan dengan cara kontroversi di media, maka kejadiannya akan tumbuh, merebak, menjalar, kesegala arah. Karena yang berkepentingan terhadap Goyang Inul pun banyak sekali dari berbagai arah baik, moral, agama, budaya, bisnis, spekulan,dll, untuk berebut mengambil keuntungan dari moment tsb.
Saya kira dari segala permasalahan baik Goyang Inul dan lainnya, alangkah lebih baik bila, hal itu di selesaikan secara adem ayem, tanpa dibesarkan dalam bentuk media & publik, sebab semakin banyak dan semakin sering di sebut maka semakin subur, apa lagi masalahnya dalam pertumbuhan. Dan semua hal itu saya kembalikan kepada Tuhan yang berkuasa dan bekehendak dalam ketentuan Nya, baik yang sudah terjadi maupun yg belum..
Yang jelas bagi Inul Daratista si Ratu Ngebor, meskipun hal itu menjadikan pahit dalam perjalanan karirnya, tapi sudah kehendak Tuhan bahwa bertahun-tahun dia mengembangkan karirnya di panggung-panggung di tiap kampung, tetapi Milyaran rezekinya dia peroleh dari konflik & kontroversi dalam idealisme pandangan hidup manusia. Tuhan Maha Berkehendak (wallahu alam)
Wassalam, Mulad Hadi Negoro
——-
Asslm…
apakah harus suatu seni memperlihatkan aurat????
memang gus dur ngomonk goyangan inul halal soalnya dia gak bisa liat…
memang gus dur bilang ahmadiyah tidak murtad soalnya pengetahuan tentang Islam yang masih dangkal…
mudah2an kalian semua sadar apa yang kalian bicarakan…
tolong kirimkan dalil yang menyatakan ahmadiyah tidak murtad sehingga gus dur berani membela ahmadiyah…
di tunggu secepatnya
hai guys,,,baca ne y,,,(buat ustad bajingan)
...sikap atau akhlaq adalah modal luhur yang akan dijunjung suatu pesantren, dimana mana!!! hampir seluruh pesantern mengklaim seperti itu,, tapi apa yang terjadi dengan pesantern kita selama 2 tahun kebelakang, kebobrokan akhlaq sedang terjadi coy, alumni bandung persis 76 angkatan 2005 atau bisa kami sebut “Alba 05 persis 76” telah melakukan penelitian 6 bulan terakhir, memberikan tesis bahwa selama 2 tahun kebelakang ternyata masyarakat santri asrama sudah banyak yang terjerembab masalah narkoba, dan minuman keras serta pelecehan seksual,, kondisi ini membawa dampak buruk terhadap pesantren kita dimata masyarakat, saya risih melihat fenomena semacam itu,, ketika pesantern kita mengagungkan fasilitas yang diberikan tapi keadaan akhlaq santri sekarang yang sedang terjadi tidak sesuai dengan visi pesantren kita. apakah itu pesantren kita???? pertanyaan besar muncul…....,,sikap ustad yang super cuek dan cenderung membiarkan, apakah itu seorang pendidik???? ataukah hanya menumpang kerja yang tidak memperdulikan santrinya mau seperti apa,, sisten yang ada pun harus di rekonstruksi ulang demi mewujudkan visi pesantern kita,, kalo kita ukur, berapa para alumni yang siap terjun ke masyarakat hingga saat ini??? hanya bisa teritung oleh jari, bos!!! akan dikemanakan alumni itu???? pengayom masyarakat atau hanya boneka masyarakat belaka dengan predikat “pesantern persis”,, mari kita sama sama memberikan kritik oto kritik serta masukan tentang kurikulum dan penataan stratak pengasuhan pesantren!!!! siapa yang mau ikut kita “Alba 05 persis76…(lebih lengkap———>http://www.persistarogong.com/web/viewthread.php?toid=20&taid=10&fid=20)
Sdr. Badarus Syamsi,
Kalau di Thailand tarian ngebor seperti Inul itu adanya di jalan Phat Phong. Shownya tertutup. Hanya orang yang memilih untuk melihat saja yang bisa nonton.
Nah, dinegri kita ini bahkan kakek dan nenek kita dipaksa nonton, karena acaranya disiarkan di TV.
Bagaimana nih Bung Syamsi.
“Bisakah mereka—- yang menentang pornografi—- menciptakan suatu kesenian rakyat yang dapat mengalahkan ‘goyang negebor’ Inul?”
Ya, jelas bisalah Om. Cuman bisa gak Om ngeloby sponsor supaya acara itu bisa tampil di tv.
assalamu alaikum,
bisakah anda membuktikan bahwa gagasan anda -mendukung pornografi sebagai kesenian- itu diperbolehkan agama?
bisakah anda menjelaskan dalil naqlinya?
Tapi terserah anda lah…
Lakum diinukum waliyadin..
Qs; Al-Kaafirun; 6
Naga Bonar:
“Kalau di Thailand tarian ngebor seperti Inul itu adanya di jalan Phat Phong. Shownya tertutup. Hanya orang yang memilih untuk melihat saja yang bisa nonton.
Nah, dinegri kita ini bahkan kakek dan nenek kita dipaksa nonton, karena acaranya disiarkan di TV.”
Tanggapan:
Justru itu masalahnya,mas.Pemerintah kita ga punya inisiatif&hobinya;ngomong soal moral tanpa ngasih masing-masing pribadi dewasa untuk memilah-milah mana tontonan yang ingin ditonton,contohnya RUUAPP/Undang-Undang Pornografi yang mengarah pada pelarangan.Dan juga ada pencekalan beberapa artis wanita.
Assalamualaikum..
Pertama-tama saya meminta maaf dulu jika ketikan saya menyakiti hati siapapun yang membaca.
Seperti biasanya orang yang ingin berbuat ‘maksiat’ yang resikonya besar, maka orang itu akan mencari teman agar dirinya tidak merasa sendiri.
Seperti yang kita tahu, kita tidak boleh mendekati zina (dalam hal ini pornografi). Maka orang yang mendekati zina akan masuk neraka. Maka janganlah anda mencari teman dengan menghalalkan kreasi yang bebas. Karena tidak ada orang yang ingin masuk neraka.
Wassalamualaikum…...
salam,
permasalahan yang sama timbul,islam mengizinkan seni yang tidak bercanggah dengan islam itu sendiri. perkataan islam yang bererti menyerahkan diri kita seutuhnya itu adalah seni, bagaimana kita mampu mengabdikan diri kita pada illahi, tak kiralah siapa inul, indrokah..tak kira apa namanya, jika tak mengikut hukum islam yah itu against islam…Umie Kalsum dapat menyanyi tanpa buka baju,tanpa make up dan lagunya didengar orang sepanjang zaman. Siti juga dapat menyanyi tak telanjang….lalu mengapa anda perlu berpakaian ketat , terbuka dan telanjang, adakah anda jual suara atau jual diri??
Sedangka wanita menyanyi sudah berlawanan dengan prinsip Islam, come on…you enter islam, please study the shari’ah law about it…Please islam ada hukum dari bangun hingga tidur, dari hidup hingga mati….dont just say Islam…tanpa semuanya dibuat…walau jalang…astafghirrullah…may apology…
Komentar Masuk (33)
(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)