Islam Dinamis Menentang Islam Stagnan
Oleh Badarus Syamsi
1. Pemahaman keislaman kita sebaiknya terus-menerus mengalami pembaharuan, evaluasi, proses belajar-diajar dan dialog untuk menuju kesempurnaan.
2. Suatu kekeliruan besar yang harus dihindari manakala ada kaum Muslim yang menjadikan pemahaman keislamannya sebagai “Blue Print”, yang harus dipegangi oleh semua kaum Muslim. Harus diingat bahwa satu pemahaman terhadap Islam merupakan satu usaha untuk meraba-raba maksud Tuhan, yang hal itu bisa benar dan bisa salah. Yang terbaik adalah bagaimana suasana dialogis dengan pencari kebenaran yang lain terus-menerus dihidupkan untuk menemukan titik kesalahan pemahaman keislaman kita dalam rangka mencapai tingkat kebenaran yang lebih sempurna.
Komentar
Bukan hanya pemahaman Islam yang perlu terus tumbuh melainkan penghayatan Islam juga. Islam yang batin itu perlu. Islam batin itu sakti, meskipun dalam tindakan individu sesederhana apapun, di dalam budaya apapun, Arab, Jawa, Serui, Jepun, Walikukun, Eskimo dsb, dst.
Ketika Islam batin itu menjelma menjadi nilai maka nilai-nilai itu antara lain adalah adil, rasional, damai, syukur, puja, sabar, terang, berani, ulet, tegar, dan seterusnya. Ternyatalah satu fakta: nilai-nilai itu hidup dan dihidupkan oleh semua agama, bahkan semua orang yang cukup waras. Sedangkan soal bagaimana mencukur bulu pubik dan memotong kuku, menyembelih kurban dan dan berwudlu, marilah kita terima bahwa sesungguhnya hanya Allah yang Maha Tahu, wong dulu itu belum ada kamera dokumenter, dan yang mencatati segala sesuatu juga belum memahami ekonomi, sosiologi, anthropologi, etnografi, bahkan jurnalismepun.
Bukan saya meremehkan, samasekali jauh dari itu, justru kreatifitas masyarakat madani Islam awal itu sedemikian hebat hingga “melahirkan” bangkitnya ilmu-ilmu. Maksud saya: tak berguna Muslim berbantahan soal Syariat, apalagi kalau mendetil mencari gurem, sebab, kalau dicari terus guremnya, ayamnya gak mau bertelor. Salam.
Kata sdr Badrus ” Jangan sampai seorang muslim mengklaim Islamnya sebagai Islam yang paling benar, hingga tergoda untuk menjadikannya dimiliki orang lain atau tergoda untuk menjadikannya sebagai pedoman untuk semua. Semua pemahaman Islam kita seharusnya perlu diperbaharui dari waktu ke waktu dengan jalan belajar, mengkaji dan yang lebih penting lagi adalah mendialogkannya “
Bukankah sdr Badrus disini juga mengklaim bahwa pendapatnya adalah paling benar ?
Bukankah komunitas JIL mengklaim bahwa pendapatnya adalah yang paling benar ?
Bukankah bahwa orang yang tidak setuju terhadap ‘klaim kebenaran’ berarti telah melakukan klaim pula ?
Bukankah JIl lahir untuk menjadikan pemikirannya sebagai pedoman bagi orang lain? Lalu mengapa sdr Badrus melarang orang lain “menjadikannya sebagai pedoman untuk semua” Sepengetahuan saya JIL lah yang lebih dulu dan lebih sering menyerang pemahaman Islam orang lain…
Saya setuju dengan usul sdr Badrus mari kita perbaharui pemahaman Islam kita, tentunya termasuk memperbaharui pemahaman Islam Liberal…
Tindyo P ( ...membebaskan umat dari penjajahan doktrin liberalisme, sekulerisme, dan demokrasi… )
Islam adalah agama yang dinamis, hukum-hukumnya pun sangat fleksibel sesuai dengan sebabnya. Fleksibillitas inilah yang menjamin hukum dan syariat Islam bisa terpampang belasan abad di pentas dunia. Tidak ada yang belum menyamai rekor rating ini.
Islam adalah agama yang menghargai dinamika umatnya. Kejumudan adalah musuh Islam, sedang tajdid adalah kawannya. Bahkan sangat mendorongnya. Islam sangat menghargai akal fikiran manusia, karenanya Allah juga mengharamkan minuman ataupun makanan yang dapat merusak akal manusia seperti khamar, dan minuman-minuman yang memabukkan lainnya. Realistis.
Namun, jangan berhenti. Kebebasan yang Allah berikan ada batasnya. Penafsiran ayat atau firman Allah tanpa aturan adalah kejahatan. Keterbukaan yang kebablasan itulah yang menjadikan peran Islam menjadi lemah.
Tetapi jangan khawatir, Islamnya sendiri tetap sempurna. Pemahaman manusianya yang tidak pernah akan sempurna. Anenhya, dari apa yang saya amati, banyak di kalangan intelektual muslim yang mengabaikan aturan-aturan baku penafsiran ini. Di sisi lain ia mengharapkan dan menjunjung tinggi panji-panji kebebasan berfikir, tapi di sisi lain, membungkam pemikiran dan ide-ide dari pihak orang-orang yang berseberangan dengannya.
Bramantyo P menulis: “Ketika Islam batin itu menjelma menjadi nilai maka nilai-nilai itu antara lain adalah adil, rasional, damai, syukur, puja, sabar, terang, berani, ulet, tegar, dan seterusnya. Ternyatalah satu fakta: nilai-nilai itu hidup dan dihidupkan oleh semua agama, bahkan semua orang yang cukup waras.”
Pendapat ini benar dan tidak salah, dan itulah sesungguhnya fitrah manusia. Allah menciptakan manusia dengan segala fitrah kebaikan di dalamnya. Ini termasuk hikmah penciptaan manusia. Namun pernyataan ini masih belum lengkap, termasuk fitrah manusia adalah pengakuan adanya SANG PENCIPTA dan kebutuhan manusia kepadanya.
Akan tetapi, dalam perkembangan selanjutnya ada manusia yang tetap di dalam fitrahnya tetapi ada juga yang menyimpang. Yang menyimpang jauh lebih banyak -begitu menurut pemberitahuan Alquran.
Nilai-nilai universal seperti keadilan, kejujuran, amanah, kasih-sayang, dsb. itu, hanya akan mendapatkan pahala dari Allah swt. Kalau mereka beriman kepada-Nya. Iman itulah yang membedakan antara orang Islam dan selainnya.
Jadi… untukmu agamamu, untukku agamaku. Bagimu amal-amalmu dan bagi kami amal-amal kami.
Assalammualaikum wr.wb.
Mas,
Komentar saya cuma satu, mbok pandangan kayak begini itu di sebarluaskan ke khutbah Jum’at, acara pengajian di kelurahan, RT/RW, desa-desa, dusun-dusun pokoknya ke masyarakat luas, jangan di internet begini aja. Khan terbatas orang yang membacanya, sedangkan yang butuh penyegaran pemahaman tentang Islam itu banyak sekali lho mas.
Wassalamualaikum wr.wb
Muhammad Islam
Bismillahirohmanirohim
Assalamualaikum wr. wb.
Sekarang ini banyak sangat kita dengar manusia yang berkata kita harus memperbaharui permahaman Islam. Apakah selama ini Islam tidak pernah baru?
Pokoknya yang harus diperbaharui bukan Islam, tapi IMAN para pemeluknya. Iman adalah segala gala nya. Kalau iman kita tipis macam kulit bawang sudah tentu banyak perkara dalam Islam yang akan terbalik. Yang haram jadi halal, yang wajib jadi sunat dan sebagainya.
Situasi nya manusia itu yang beragam dalam pemikiran nya. Oleh itu kita kena tanya diri kita: “Apakah kita mau pilih Islam yang liberal dan dinamis yang dibawa oleh saudara Ulil? Atau kita mau pilih Islam yang liberal dan dinamis yang dibawa oleh Musthafa Kamal Attaturk? Atau kita mau pilih Islam yang liberal dan dinamis yang dibawa oleh Gulam Ahmad? Atau kita mau pilih Islam yang liberal dan dinamis yang dibawa oleh Nabi junjungan kita Muhammad Saw ?
Seyogyanya diingat bahwa Al-Quran itu diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw dan Bagindalah yang menafsirkan dan menterjemahkan segala isinya baik secara lafazh dan perbuatan.
Nah, sekarang jawapannya saudara saudara yang pilih dan buat istaqamah. Sekian terima kasih.
Wassalam Sa’at b Mohamed Singapore
Melampaui Wacana ‘Islam stagnan dan Islam Dinamis’ menuju BerTuhan tanpa agama – berIslam tanpa Al-Qur’an ==============================================
Nyaris tidak satu jengkalpun di belahan bumi ini yang tidak disentuh oleh kehidupan keagamaan, terutama agama-agama rumpun semit maupun agama-agama Timur lainnya. Yang menarik dalam mengamati masing-masing agama itu adalah ‘pandangan dunia’nya terhadap ada tidaknya obyek yang disembah, oleh pakar semisal Rodney Stark dalam bukunya ‘resiko sejarah berTuhan satu’ ia menggambarkan, bahwa agama seperti Budhaisme, Taoisme, Konfucianisme, merupakan agama-agama tanpa Tuhan.
Di sisi lain, agama-agama seperti Yuhudi, Kristen dan Islam digambarkan sebagai agama-agama yang berTuhan. Melengkapi tipologi itu, dengan suatu pertanyaan: Mungkinkah seseorang berTuhan tanpa agama? sebagai pilihan lain dari dua pandangan dunia itu (agama tanpa Tuhan dan agama yang berTuhan) sehingga mereka seolah-olah beragama namun tidak tampak secara visual pada dirinya suatu ritual/atrribut yang dapat diidentifikasikan sebagai suatu agama.
Adalah mungkin, seseorang menganut faham berTuhan tanpa agama—dalam lingkup keIslaman: berIslam tanpa Al-Qur’an—walau tidak banyak catatan sejarah yang merekamnya. Dalam Islam spirit ini sudah ada sejak abad ke IIH, IIIH dan IVH yang dimotori oleh Ibn ar-Rawandi, Ibn al-Muqaffa’, Muhammad Ibn Zakariya ar-Razi. Para tokoh itulah yang menjadi pelopor dalam ‘melahirkan’ manusia-manusia berwawasan ‘freethinkers’ (pemikir bebas), yang mendahulukan akalnya ketimbang teks-teks wahyu yang ditulis dalam lembaran-lembaran (salah satu sebabnya, karena mereka tidak dapat membuktikan secara rasional apakah yang dipersangkakan sebagai wahyu itu hasil perenungan seorang manusia (Nabi)atau benar-benar ujaran Tuhan)- yang darinya (kitab wahyu) manusia membentuk ritual-ritual guna dipersembahkan kepada Tuhannya.
Menurut Abdurrahman Badawi (dalam bukunya ‘sejarah ateis Islam’), Jiwa pemikir bebas (dalam Arab Islam) tidak lahir begitu saja pada diri seseorang, ia lahir ketika seseorang dalam pencarian kebenaran (yang sejati), ia telah menghabiskan seluruh potensi-potensi keagamaannya, sehingga ia tidak dapat lagi mengimani (agama)nya.
Suatu keniscayaan, seseorang, karena pencariannya yang terus menerus untuk menghampiri Tuhan, pasti pada awalnya ia akan berusaha mensinkronkan mitos/ kitab suci/ ayat qauliyah dengan fenomena alam semesta/ sains/ ayat qauniyah. Akibat pencarian itu, akan menimbulkan tiga (3) konsekuensi pada dirinya, pertama: jika ia lebih memilih mengedepankan informasi kitab suci, maka ia akan menjadi sebagai seorang agamawan (bisa mengambil posisi sebagai konsevatif/ tradisionalis/ fundamentalis).
Kedua, jika ia lebih mengambil jalan tengah, yaitu mengintegrasikan kitab suci dengan sains, maka ia menjadi seperti mu’tazillah (liberalis). Ketiga, namun jika ia ‘melemparkan ke belakang’ kitab suci itu dan lebih memilih apa kata ayat qauniyah itu maka ia dapat dikategorikan sebagai ateis jika ia tidak percaya kepada Tuhan pencipta ayat qauniyah dan sebagai pemikir bebas yang berTuhan jika ia masih percaya pada Tuhan sebagai pencipta alam semesta.
Patut disyukuri, di era sekarang ini, keputusan untuk menjadi pemikir bebas yang berTuhan tidak seberesiko ketimbang masa-masa lalu, bukan hanya pengucilan yang dialami, tetapi vonis mati dari masyarakat beragama yang berTuhan, yang nyaris menguasai peradaban dunia, mereka langsung dicap sebagai ateis, dan sejarah mencatat hal itu. Gambaran ini, sekali lagi memperlihatkan betapa perseteruan antara penganut akal budi luhur dengan penganut wahyu Tuhan, tidak hanya mengambil arena perseteruan dalam bentuk wacana, tetapi telah sampai pada pelenyapan nyawa seseorang. Kalangan agamawan berdalih mereka telah meresahkan masyarakat, maka pantas untuk dieksekusi. Padahal Tuhan sendiri tidak pernah memaksa hambaNya untuk mengimami diriNya (dalam Al-Qur’an).
Sebagai penganut Islam, saya mencoba menggunakan ‘kacamata’ Al-Qur’an untuk menentukan yang mana harus lebih didahulukan apakah akal atau wahyu? Tampaknya, Al-Qur’an (secara zhohir), menyatakan bahwa Adam sebagai manusia, ia lebih dahulu ‘diturunkan’ ke bumi (alam dunia/ profan) ketimbang petunjuk ‘lisan’ Tuhan/ wahyu. Dan secara filosifis Adam lebih mendahulukan akalnya ketimbang wahyu yang diistilahkan oleh Allah sebagai petunjukku (hudaya) dalam QS. 2/38, 20/123. Jadi ayat-ayat tersebut menggambarkan lebih dahulunya pertimbangan kemanusiaan (akal) yang akan digunakan manusia ketimbang petunjuk Tuhan (ujaran Tuhan).
Sehingga tidak pantas membelenggu akal pikiran dengan wahyu, karena akal ‘lebih tua’ dan lebih dahulu eksis di alam dunia ketimbang petunjuk lisan itu. Ada yang membantah argumen tersebut dengan berdalil pada QS. 57/25 & QS. 42/17 (lagi-lagi Al-Qur’an dapat disetir kemana saja). Di ayat-ayat itu Allah berfirman telah menurunkan kitab dan mizan. Jika mizan dianalogikan sebagai akal/ pertimbangan, maka penyebutannya sesudah kitab berarti harus mendahulukan apa kata kitab baru kemudian akal menyesuaikan diri dengan kitab tersebut.
Bukti lain perlunya mendahulukan wahyu atas akal manusia, yaitu faktanya tidak henti-hentinya manusia saling berselisih, yang nota bene adalah manusia yang mengandalkan akalnya, oleh sebab itu tidak disangsikan lagi kitab lebih utama daripada akal, kitablah yang dapat menyatukan mereka (padahal di dunia ini, tidak ada seorangpun yang sama interpretasinya terhadapat satu hal yang tertulis dalam satu kitab, katakanlah Al-Qur’an, isinya kaya makna, sehingga siapa saja menukil darinya untuk memperkuat klaimnya ia pasti menemukannya).
Kalau begitu keadaanya, berTuhan tanpa agama, berIslam tanpa Al-Qur’an, jika memang ada merupakan pilihan alternatif, tidak ada salahnya untuk eksis di dunia ini, bukankah ateispun berhak hidup di dunia ini. Firman Tuhan, ‘mau iman silahkan, mau kafir silahkan’ (QS.18/29). Walau memang sulit (bagi para agamawan) untuk mengidentifikasikan dan untuk membedakan seseorang, apakah ia berTuhan tanpa agama – berIslam tanpa Al-Qur’an - atau ia murni ateis/ tak berTuhan?
Kalangan agamawan pastilah mempersamakan keduanya (padahal tidak sama), alasannya bila seseorang berTuhan tentulah ia mempunyai atau melaksanakan paling tidak, satu hal yang dapat dianggap sebagai ritual suatu agama, misalnya sholat bagi agama Islam, minimal ada gambar salib/ Yesus/ Bunda Maria di rumahnya bagi kalangan Kristen. Jika indikator kebertuhanan seseorang diukur pada ada tidaknya ritual/atribut agama yang melekat pada dirinya, maka sulit bagi seseorang untuk mencirikan dirinya berTuhan tanpa agama, berIslam tanpa Al-Qur’an. (Apakah seseorang harus melaksanakan suatu ritual keagamaan bila ingin dikategorikan sebagai seseorang yang berTuhan?
Padahal mungkin saja ada orang yang berTuhan namun tidak mau terikat dengan agama yang penuh dengan ritual-ritual yang aneh dimata mereka, namun hanya mengambil pesan moral kemanusiaan yang bersifat universal dalam kitab itu dan dari kitab alam semesta).
Ketika seseorang mengambil pilihan untuk tidak melakukan ritual yang tertulis dalam suatu kitab, katakanlah Al-Qur’an, pada dasarnya – suka tidak suka - mereka masih melakukan hal yang dapat diidentifikasikan sebagai ritual namun tidak lagi bersifat demonstratif. Bukankah dengan duduk bersimpuh saja sembari merenungkan ketakberhinggaan Tuhan dalam menciptakan diri kita dan alam ini sudah dapat dikatakan bersifat ritual? Jadi, benar-benar dilema bagi seseorang yang memposisikan diri sebagai manusia yang berTuhan tanpa agama. Dan inilah salah satu sebab, mengapa mereka dituduh ateis oleh para agamawan.
Ada baiknya kita mencermati, alur pikir yang menyebabkan pemikir bebas meragukan kitab suci (padahal dalam Al-Qur’an, Tuhan tidak pernah mengatakan kitabNya suci, kalangan agamawan agak berlebihan disini). Kita sadar bahwa manusia dalam membangun hubungan dengan Tuhan/ Allah tidak pernah secara ‘face to face’. Karenanya, dalam menjalin hubungan ini manusia dihadapkan suatu fakta adanya keterpisahan dan kesenjangan antara keduanya, sehingga diperlukan mediasi berupa ujaran, kalam Tuhan/ kitab suci.
Karena kalam Tuhan tidak muncul secara langsung dari Tuhan (tidak ada yang tahu dengan pasti, apa yang membatasi Tuhan untuk berbicara langsung atau menulis langsung perintahNya, padahal Dia Maha Kuasa lagi Maha Mengetahui, atau memang Tuhan masih punya sifat lain yaitu ‘Maha Aneh’, untuk membuat hambaNya terbengong-bengong alias terheran-heran), tetapi dimediasi oleh mediator, ‘katanya’ Malaikat baru ke Nabi (dalam Islam), yang nota bene makhluk, mungkin saja salah dengar/ salah ucap/ salah tulis. Namun sayangnya, akibat ketidaktahuan atas fakta itu (atau sangaja tidak mau tau), kalangan agamawan sering kali ngotot untuk membakukan isi suatu kitab semisal Al-Qur’an, padahal isinya bukan ‘ditulis’ langsung oleh Tuhan/ Allah, sehingga wajar bila isinya ada yang kontradiksi dan menyalahi akal. Inilah salah satu alasan kenapa kitab suci dapat saja ditolak informasinya.
Selain alasan logis di atas, kalau benar kitab suci itu dari Tuhan, sedangkan faktanya ditemukan ketidaksinkronan/ kontradiksi dengan ayat alam, dan bahkan antara ayat satu dengan ayat lain ada yang konfrontatif. Masihkah kita perlu mengimaninya bahwa kitab itu benar-benar dari Tuhan? Beberapa contoh ayat-ayat Al-Qur’an yang dapat diindikasikan sebagai tidak konsisten informasinya:
1. Kontradiksi Penyerupaan Tuhan dengan makhlukNya Beberapa ayat menggambarkan Tuhan bersifat bendawi seperti makhluknya (antropomorphism), misalnya: QS. 20/5: “Yang Maha Pengasih bersemayam di atas ‘Arsy (singgasana)”;. 69/17: “Dan pada hari itu delapan orang malaikat menjunjung ‘Arsy Tuhanmu di atas (kepala) mereka” dan QS. 11/7: “…’Arsy-Nya di atas air,” Kata ‘Arsy (singgasana) digunakan juga untuk manusia, misalnya: QS. 12/100: “Dan dia menaikkan kedua ibu bapaknya ke atas ‘Arsy (singgasana)”. Padahal di ayat yang lain, Allah berfirman: “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia” QS. 42/11 dan “Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia” QS. 112/4. Di satu sisi Al-Qur’an membuat penyerupaan antara Tuhan dengan makhluknya, di sisi lain Al-Qur’an meniadakan sama sekali kemungkinan penyerupaan.
2. Kontradiksi antara QS. 7/109 – 110 dengan QS. 26/4. Allah berfirman: ‘Pemuka-pemuka kaum Fir’aun berkata, ‘Sesungguhnya Musa ini adalah ahli sihir yang pandai, yang bermaksud hendak mengeluarkan kamu dari negerimu.’ Fir’aun berkata, ‘Maka apakah yang kamu anjurkan?’ (QS. 7/109 – 110) berbeda dengan: ‘Fir’aun berkata kepada pembesar-pembesar yang berada di sekelilingnya: sesungguhnya Musa ini benar-benar seorang ahli sihir yang pandai, ia hendak mengusir kamu(kalian) dari negerimu sendiri; maka karena itu apakah yang kamu/kalian anjurkan?” (QS. 26/34-35).
Pada QS. 7/109 – 110 disebutkan bahwa perkataan:‘Sesungguhnya Musa ini adalah ahli sihir yang pandai diucapkan oleh para pemuka kaum Fir’aun, tetapi pada QS. 26/34-35 justeru Fir’aun sendiri yang mengucapkan perkataan itu kepada para pemuka kaumnya.
3. Kontradiksi antara QS. 11/69 – 73 dengan QS. 15/51 – 56 dengan QS. 51/24 – 30. Ayat-ayat Al-Qur’an tersebut memberitakan tentang akan dianugerahinya Ibrahim dan istrinya seorang anak dan dialog dengan malaikat, kemudian keterkejutan atas berita tersebut karena keduanya sudah lanjut usia. Dalam QS. 11/69 – 73 Dialog dengan malaikat diperankan oleh Siti Hajar, tetapi aneh karena dalam QS.15/51 – 56 peristiwa itu justeru dialami oleh Ibrahim sendiri tanpa ada gambaran kehadiran istrinya. Anehnya lagi dalam QS. 51/24 – 30 berita gembira itu diterima Ibrahim dan dialog dengan malaikatnya dialami oleh istrinya.
4. Kontradiksi QS. 2/38, 20/123 dengan QS. 20/55, 23/12. Dalam QS. 2/38 dan QS. 20/123 dilukiskan Adam dan istrinya ‘seolah-olah’ tinggal di surga ‘nun jauh’ di atas langit atau tidak di bumi ini, sehingga ketika melanggar aturan Tuhan, diperintahkan untuk turun ke bumi. Anehnya QS. 20/55 dan QS. 23/12 menggambarkan bahwa Adam (termasuk anak cucunya) diciptakan dari tanah yang ada di bumi ini. Jadi dapat diduga surga itu di bumi ini karena Adam diciptakan di bumi, atau Adam diciptakan di bumi kemudian dinaikkan ke langit (surga), karena melanggar perintah dia dan istrinya di turunkan lagi di bumi, Atau …, atau…, …
5. Kontradiksi QS. 11/106 – 108 dengan QS. 9/21-22 & QS. 72/23 dengan QS. 6/128 QS. 11/106 – 108 menggambarkan penghuni neraka dan surga tidak kekal selama-lamanya tetapi kekal selama ada langit dan bumi. Anehnya pada QS. 9/21-22 menggambarkan penghuni surga kekal selama-lamanya tanpa mensyaratkan ada tidaknya langit dan bumi, begitu juga penghuni neraka pada QS. 72/23. Dan lebih aneh lagi QS. 6/128 memberikan peluang kemungkinan penghuni neraka masuk surga.
6. Kontradiksi hal kebaikan dan keburukan yang menimpah manusia. QS. 4/78 menyatakan bahwa segala kebaikan dan keburukan berasal dari sisi Allah. Tetapi pada QS. 4/79 kebaikan saja yang berasal dari Allah, sedangkan keburukan yang menimpah manusia berasal dari dirinya sendiri (lihat juga QS. 42/30).
7. Belum lagi bila kita bandingkan isi Al-Qur’an dengan kitab-kitab langit yang lain. Isa mengklaim bahwa dia putera Allah/ Jehovah (Keyakinan Nasrani), Musa mengklaim Allah/ Yahweh tidak memiliki anak (Keyakinan Yahudi), Muhammad mengklaim bahwa Isa makhluk sebagaimana manusia lainnya (Keyakinan Islam). Kalau seluruh kitab langit itu berasal dari Sang Pencipta Yang Tunggal, sebagaimana klaim para penganutnya, tetapi faktanya isi kitab-kitab itu saling bertentangan maka sudah tentu menyalahi kemahasempurnaan Tuhan, karena Dia tidak mungkin berbohong dan tidak mungkin ‘ngawur’ dalam bertitah. Orang Yahudi berkata Taurat yang benar, Orang Kristen pun mengatakan Injil yang benar, akhirnya orang Islam mengatan Al-Qur’an yang paling benar. Ini tidak akan ada unjungnya, kecuali bila kita semuanya telah kembali kepada Allah/ Yahweh/ Jehovah/ Sang Pencipta Alam Semesta Yang Esa (QS.22/17).
8. Kontradiksi juga terjadi antara informasi Al-Qur’an dan informasi ayat alam. Kisah Dzulqarnain dalam QS. 18/86 tertulis: “Hingga apabila dia telah sampai ke tempat terbenamnya matahari, dia melihat matahari terbenam di dalam laut yang berlumpur hitam, dan dia mendapati di situ segolongan ummat.” Tetapi fakta ayat alam, matahari mustahil terbenam di suatu tempat di bumi ini, matahari tetap berputar di porosnya dan jauh dari bumi, sementara itu bumi beredar di garis orbitnya sambil mengelilingi matahari. Matahari jauh lebih besar dari bumi, bagaimana mungkin matahari dapat terbenam dalam laut bumi yang kecil ini. Mungkin dapat terbenam di bumi jika Unta sudah bisa masuk dalam lubang jarum.
Orang yang mengimani Al-Qur’an ‘secara membabi buta’ pasti berkata: “bagi kami Al-Qur’an pasti dari Allah, isinya pasti benar, selain Al-Qur’an semuanya salah, Allah berfirman: ‘kebenaran itu dari Tuhanmu maka janganlah kamu sekali-kali termasuk orang yang ragu-ragu’ QS.2/147). Anda melihat adanya kontradiksi di dalamnya dan meragukan kebenaran firman Tuhan, karena saudara tidak menggunakan penafsiran dan penakwilan sebagaimana yang dilakukan ulama kita, anda hanya melihat ayat Al-Qur’an dari makna lahiriahnya saja”.
Jika dianalisa ayat itu (QS.2/147) tidak mengindikasikan bahwa tidak ada lagi kebenaran di luar Al-Qur’an. Allah hanya menyatakan kebenaran itu datang dari diriNya, tidak menyatakan secara tegas bahwa kebenaran itu datang hanya dari Al-Qur’an saja. Bukankah yang berasal/ datang dari Tuhan tidak hanya Al-Qur’an? (kalau memang Al-Qur’an itu dari Allah), masih banyak kitab tertulis lainnya (walau isinya kadang saling kontradiksi) dan juga kitab alam yang terbentang luas tak bertepi, jadi sumber kebenaran itu terbentang luas seluas alam raya ini.
Orang melakukan penafsiran atau penakwilan, sebenarnya ia berusaha untuk menghindarkan makna tekstual ayat-ayat Al-Qur’an agar tidak berbenturan dengan fakta-fakta pengalaman manusia (dengan kata lain agar tidak bertentangan dengan akal sehat dan juga agar sejalan dengan fakta-fakta ayat alam/ sains). Sebab jika tidak dilakukan penafsiran atau penakwilan, Al-Qur’an bisa-bisa ditolak (sebagaimana penolakan oleh kalangan yang berIslam tanpa Al-Qur’an), karena tidak mungkin Sang Pencipta Yang Esa menginformasikan sesuatu dalam Al-Qur’an yang bertentangan dengan fakta ayat alam yang lebih dahulu diciptakan, sehingga dapat menyebabkan kemahasempurnaanNya ternoda. Bahkan ada yang mengatakan penafsiran atau penakwilan yang dilakukan itu hanya akal-akalan saja, hasilnya tidak lebih dan tidak kurang demi membela Al-Qur’an bahwa ia dari Tuhan.
Hemat sya, kalaulah kita masih menyisahkan tempat bagi klaim bahwa Al-Qur’an dari Tuhan Yang Esa/ Allah, namun janganlah pernah berharap bahwa seluruh ayat-ayatnya memberikan suatu ketegasan yang absolut tentang segala hal. Al-Qur’an dapat dikatakan menganut prinsip ‘Ketidakpastian Heisenberg’/ hukum kuantum. Baca misalnya QS. 34/ 24: “... sesungguhnya kami atau kamu (orang-orang musyrik), pasti berada dalam kebenaran atau dalam kesesatan yang nyata.” Bukan berbunyi: “... sesungguhnya pasti hanya kami (pengiman Al-Qur’an)yang berada dalam kebenaran, kamulah (bukan pengiman Al-Qur’an) yang berada dalam kesesatan yang nyata.”. Jadi Al-Qur’an sendiri menyuruh pengikutnya untuk ‘tidak terlalu percaya diri atas keyakinan sendiri’. Bukankah dalam Al-Qur’an dinyatakan ‘dan di atas orang-orang yang berpengetahuan itu ada lagi Yang Maha Mengetahui’ QS.12/76).
Fakta lain, Al-Qur’an sendiri yang memberikan peluang pada dirinya kemungkinan adanya pertentangan antara ayat satu dengan lainnya. Allah tidak meniadakan sama sekali atau menafikan secara absolut kemungkinan adanya pertentangan antara isi atau makna ayat satu dengan yang lainnya dalam Al-Qur’an, Dia berfirman: “… apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an? kalau kiranya Al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapati pertentangan yang banyak di dalamnya. QS. 4/ 82” Di ayat ini Allah tidak memberikan suatu penegasan dengan mengatakan: “Perhatikan Al-Qur’an!! Al-Qur’an itu dari sisi Allah, tidak ada sedikit pun pertentangan di dalamnya.”
Jadi, kemungkinan pertentangan di dalam Al-Qur’an itu tetap ada, tetapi sedikit atau tidak banyak. Kalau begitu faktanya, tidak ada salahnya bila seseorang itu berIslam tanpa Al-Qur’an (karena alasan ketidakkonsistenan itu) atau paling tidak hanya mengambil pesan-pesan moral kemanusia yang universal saja yang ada dalam Al-Qur’an (agar tidak dikatakan ateis), hal ini juga merupakan salah satu realisasi untuk melampaui islam stagnan dan islam dinamis. Dan Tuhan lebih mengetahui hal itu.
Satu kelemahan kita, over-generalized. Dari tulisan penulis, saya memahami ada itikad bagus di dalamnya. Tetapi, qur’an—yang saya yakini kebenarannya—mengenal istilah ayat “muhkamat” & “mutasyabihat” (penulis pasti juga tahu). So, banyak juga teks yang final interpretasi. Yang membutuhkan adanya pemahaman ijtihadiyah adalah teks mutasyabihat. kalaupun untuk teks muhkamat, yang dijadikan ajang bagi akal, adalah pada saat bersentuhan dengan tataran teknis operasional.
Adalah sebuah absurditas, kalau teks dengan lafadz jelas—yang otomatis menimbulkan kesetaraan interpretasi—dipaksa untuk di-reinterpretasi dengan berbagai alasan yang tidak logis, misalnya kontra dengan konteks kekinian.
Sedangkan untuk saudara Insan, kalaupun Anda menyerukan keragu-raguan terhadap teks qur’an, maka saya juga mencoba untuk menggunakan nalar kritis seperti yang Anda miliki yakni; saya lebih tidak percaya kepada Anda, karena Anda adalah manusia sangat rentan dengan kesalahan dalam berpikir. Anda bukanlah tuhan.
ASSALAMU ALAIKUM langsung saja ,klo saya melihat tulisan anda yang begitu tidak mencerminkan dirir seorang muslim,saya ingin mengatakan kepada anda bahwa Al-Quran dan As-Sunnah tidak dapat ditafsirkan oleh semua orang yang tidak mempunyai ilmu.apabila pendapat anda dipakai maka tunggu saja 1 tahun kedepan akan banyak tafsiran baru tentang Al-quran dimana setiap orang bisa menafsirkan sesuai dengan hawa nafsunya saja.apabila semua orang dibebaskan untuk menfsirkan sendiri-sendiri Al-Quran maupun As-Sunnah maka orang yang tidak berpendidikan pun dapat menafsirkannya secara serampangan.jalan ke surga hanya satu,jadi semestinya Islam yang dipahami oleh Rasulullah SAWlah yang harus diikuti bukan dengan membuat tafsiran-tafsiran sendiri.Assalamu Alaikum
Saya terkesan bukan karena tulisan anda tetapi saya terkesan karena kok ya masih ada orang -orang yang mempunyai pemikiran yang dangkal seperti ini.Terus terang atau tidak anda telah memperTuhankan akal yang kita tahu sendiri akal adalah makhluk yang penuh dengan keterbatasan.Anda punya konsep tetapi tak punya solusi.
Ass. wr.wb.
Keadaan Islam khususnya di Indonesia adalah demikian, sehingga orang dengan pemahamannya bedasarkan ilmu yang terbatas, seolah merasa telah benar dengan apa yang diyakini. Dengan merasa benar sendiri dia mudah menilai orang lain dan memfonis salah, sesat dsb, padahal apa yang difoniskan belum dia fahami dan belum dimengerti masalahnya, dan hanya sebatas keterangan dalil yang belum di pecahkan oleh berbagai macam disiplin ilmu.
Islam mempunyai titik tumpu pada ilmu yang satu jenis dan satu arah, bagaikan suatu benda yg berada didalam sebuah ruangan. Mayoritas umat Islam dalam memahami agamanya, seperti orang yg berada dalam ruangan, maka orang itu akan selalu terpengaruh untuk melihat keluar pintu, dimana diluar pintu terdapat hal-hal yang beragam macamnya. Berbeda bila orang tsb berada diluar pintu dan melihat kedalam, maka yang dia lihat cuma satu macam. Sebenarnya ajaran Islam yang diajarkan Rosulullah saw, pada dasarnya hanya satu macam, dan yang satu macam inilah yang membawa umat kepada kesatuan baik ilmu dan pemahamannya.
Namun karena Islam terlau di banyak di improvisasikan oleh otak dengan berbagai type dan gaya, maka yang muncul adalah pemahaman yang beragam, karena adanya produk pikiran yang merupakan warna warni kulitnnya Islam, seperti serat kulit buah kelapa yang banyak dan kusut. Yang sangat disayangkan, hanya dengan serat kulit yang kusut tsb, banyak orang yang merasa puas dan cukup hanya sampai disana, dan hal itu dijadikan pembenaran serta keputusan final dalam pemahaman Islam. Bila disimpulkan, Islam & Aquran di explorasi hanya sebatas serat & kulitnya buah kelapa, maka hasilnya hanya “keset” dan “sapu”. Bila kita mau bijaksana dan sabar serta tekun, maka kita harus mampu untuk membuka buah kelapa, dari mulai serat kulit, batok, lalu kelapanya dan airnya, tetapi tidak cukup sampai disini. Masing masing itu mempunyai fungsi yang berbeda-beda, sedangkan tujuan kita adalah mengambil minyaknya dari santan buah kelapa melalui proses. Sehingga minyak kelapa tsb, merupakan suatu hasil akhir yang berlainan jenis dengan berbagai macam unsur(kulit serat, batok,kelapa,air) dari kelapa tsb.
Banyak orang terkecoh dengan berbagai serat & kulit nya Islam, sedangkan esensi dari Islam tsb terlupakan, bahkan tak terjamah. Sehingga yang timbul adalah berbagai corak,faham,firqah,kelompok,golongan, dan tektek bengek yang kurang berarti, dan membingungkan umat. Maka yang terjadi adalah sebuah pemahaman ikut-ikutan(taklid), bukan taklid terhadap inti ajaran Islam yang di ajarkan Rosulullah saw, tapi taklid buta sebagai dinding pemikiran. Dengan demikian banyak yang merasa puas & benar, dengan hasil pemikiran yang sempit dan belum tuntas.
Islam & Alquran tidak akan cukup di explorasi dengan kemampuan otak saja, dan pemahaman yang sempit, tanpa referensi taufik hidayah Allah yang hadir dalam qolbu. Ketentuan dan kepastian ajaran Islam outputnya hanya “satu”, yang merupakan fitrah insaan, pada setiap makhluq Allah. Bila keragaman itu merupakan proses, maka proses itu harus berlanjut sampai keberagaman tsb bermuara pada suatu samudra, dan samudara tsb merupakan pusat ilmunya Allah, dimana Rosulullah sebagai gudangnya ilmu(Madinatun ‘Ilmi), sehingga bebagai macam aliran dan warna warni sungai akan sampai ke samudra tsb. Yang menjadi persoalan, janganlah membuat bendungan pada masing-masing sungai, dengan mematok, memfonis, dan menjadikan hal itu suatu keputusan yang final yang di idolakan(diagungkan), sehingga bila air sungai meluap & banjir maka akan merugikan umat.
Mengexplorasi Islam & Alquran, memerlukan kreatifitas dari pemikirann & kecerdasan, seperti aliran sungai yang mengangkut berbagai kalori dari tanah yang dilauinya. Dan kalori tsb merupakan kekayaan khasanah Islam yang terus berlanjut sampai akhir jaman(mu’jizat Alquran), sedangakan kelancaran aliran sungai merupakan prilaku yang tercermin dari kekuatan Iman di dalam Qolbu yang selalu dusucikan dan dibersihkam dari akhlaq tercela.
Betapapun tingginya nilai Islam yang di exlplorasi dari Alquran & Rosulullah, bila cara prilaku(akhlaq) kita dalam mengamalkannya buruk, maka Islam akan padam cahayanya, seperti gelapnya hati karena tiada taufik & hidayah Allah. Sehingga manusia tsb akan merasa benar sendiri, dengan mencela, menyalahkan dan melemparkan ayat & hukum kepada orang lain, yang seharusnya Islam & dan Alquran tsb di adaptasikan kepada diri sendiri. Orang tsb selamanya hidupnya hanya akan selalu menilai dan mengoreksi orang lain, sehingga semut di sebrang lautan demikian jelas, tapi gajah dipelupuk mata tidak kelihatan.
Saya ingat akan kata-kata bijak dari ulama besar Imam Syafi’i dimana belau telah melahirkan karya gemilang melalui kitab-kitabnya dan menjadi pedoman bagi umat Islam di seluruh dunia, beliau berkata : “bila diantara kalian mendapatkan suatu pemahaman lain yang berbeda dengan kitab ini, lalu kalian mengangap benar atas pemahamanmu, maka lemparkan saja kitab ini”.
Allah telah banyak membuat berbagai perumpamaan dalam kehidupan ini, “….dengan perumpamaan itu banyak orasng yang disesatkan, dan dengan perumpamaan itu pula banyak orang yang diberi petunjuk, dan tidak ada yang Dia sesatkan dengan perumpamaan itu kecuali orang-orang yanh fasik”
——-
Islam sebagai Dienullah tidak dapat dikotomikan dinamis atau stagnan….Sejak disempurnakan melalui rasululloh, maka Islam adalah Islam… yang perlu digarisbawahi adalah yang mengalami stagnasi dan dinamis itu terjadi pada ranah kaum penganut islam (muslimin)... jadi sekali lagi bukan pada dienul islamnya. Sekilas begitu bangga atau rapuh sekalipun selalu dikaitkan dengan islam… semua itu karena bermula dari paradigma “totem pro part”.. seakan-akan islam itu adalah JIL… NU…jawanis dsb.. tapi tak bisakah kini kita balikan paradigma menjadi “part pro toto” yaitu bermula dari JIL…NU…jawanis…kemudian berangsur-angsur berkembang menjadi wujud islam itu sendiri… Nah dalam kerangka “part pro toto” tersebutlah apa yang dimaui oleh dinamisator muslim…. salahkan Islam ketika dibawa ke tanah jawa baru dalam bentuk “sufisme”???...tentu jawabnya tidak salah sama sekali jika saja sufisme tersebut dijadikan awal pemberangkatan memasuki ke-Kaaffah-an Islam. Tetapi kaum jawa telah ditakdirkan sebagai reduktionist sejati di muka nusantara ini yang mengibarkan totem pro part…. akibatnya sufisme malah berkembang menjadi “sufisme jawa” dengan sistem feodalisnya yang kemudian diklaim sebagai wujud islam hingga kini… jadi kita semua di nusantara “kini” menjadi kaum muslim-musliman namun dengan bangga mengaku dirikulah muslim yang haq…. padahal sejatinya adalah kaum sufisme jawa…. Naudzubillah
Insanul karim (7): Cara memahami Qur’an seperti ini hanya akan menimbulkan keraguan tentang kebenaran Qur’an. Kalau sudah meragukan kebenaran Qur’an , insya Allah hati dan fikiran akan tertutup untuk mendapatkan hidayah.
Al-Qur’an itu bagaikan pisau bermata dua , jika kita membaca dan mempelajarinya untuk mencari hidayah dan petunjuk insya Allah akan mendapatkannya. Namun kalau niatnya untuk mencari kelemahan dan meragukan kebenarannya insya Allah bakal bingung sendiri, makin dibaca Qur’an terasa makin kusut, karena hati dan fikiran telah tertutup dari menerima kebenaran.
Bagi rekan yang ingin mendapatkan hidayah dan bimbingan dari Allah jauhilah cara berfikir seperti ini. Cara seperti ini hanya akan menutup hati dan fikiran dari hidayah Allah. Firman Dalam surat Al Israak ayat 82:
” Dan Kami turunkan dari Al Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang lalim selain kerugian.”
Bagi orang yang yakin pada kebenaran Qur’an ,maka Al Qur’an tersebut akan menjadi obat dan rahmat baginya, namun bagi orang yang meragukan kebenaran Qur’an (lalim) maka al-Qur’an hanya akan menambah kebingungan mereka. Contohnya Robert Morey yang muter muter kebingungan memahami Qur’an. Cara seperti insanul karim ini juga bisa mengarah kesana. Hati hatilah.
Allah menunjuki siapa yang dikehendaki, dan menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Hidayah dan petunjuk itu sepenuhnya kewenangan Allah.Siapa yang dibiarkan sesat oleh Allah , tidak ada yang bisa memberinya hidayah dan petunjuk selain Dia .
iya sudah apa kata anda..
agamamu agamamu, agama ku agama ku.
apa itu stagnan dan dinamis?
cuman klaim kan?
kalo saya sih sok tau aja, al quran kalo ga salah diturunkan ALLAH untuk umat islam.
zaman yang mesti ikut al Quran atau al quran yang mesti ikut zaman?
kalo pilihan yang kedua, berarti tuhan goblok bikin kitab suci? udah tau zaman progresif dinamis. bikin kitab suci yang ambigu dan konotatip.
maap pemahaman saya yang goblok dan sok tau ini
Acuannya kemane kang,...
yang dijadikan sandaran kebenaran itu apa,...
akal ente,....
otak ente,....
ane juga punya akal dan otak,.....
terus mau berdebatnya sampai kapan,......
sampai mati dech,,,..
terus baru tahu ente tentang kebenaran islam.,,
makanya kita mati dulu baru tahu siapa itu tuhan,..
ente duluan baru ane nyusul,,,...
barokallohufikum.
Saya setuju memang demikianlah seharusnya seorang umat memahami agamanya. Untuk apa akal dan pikiran yang dianugerahkan Allah kalau kita hanya berpatokan pada ustad atau ulama untuk menafsirkan ayat-ayat suci dari Al Qur’an. Dialog sangat penting dilakukan bukannya saling hujat, tetapi untuk itu diperlukan pengetahuan yang memadai dan sikap yang bijaksana dalam menghadapi perbedaan. Saya berharap umat Islam berhenti bersikap picik dan dungu dengan menghentikan hujatan dan memulai diskusi.
Al-Qur’an tetap menjadi sebuah bukti yang mutlak akan kebenaran Tuhan, saya setuju itu,, akan tetapi seringkali umat Islam pun mengalami perbedaan dalam hal penafsiran atas ayat - ayat Al-Qur’an, nah disinilah makanya diperlukan sebuah sarana dialogis, dan menghindari manakala ada kaum Muslim yang menjadikan pemahaman keislamannya sebagai “Blue Print”, yang harus dipegangi oleh semua kaum Muslim( mengutip tulisan diatas).
Mungkin seperti itu pemahaman yang datang dari orang awam seperti saya ini, terima kasih,
Pluralisme agama dalam pengertian sederhananya adalah upaya menampik klaim kebenaran. Selanjutnya ide ini menjelma dalam wujud wacana kesatuan transendental agama-agama. Gagasan ini, kemudian mengkhayalkan adanya titik temu antar agama pada level esoteris. Pada awalnya gagasan ini di angkat dan di ‘turunkan ke bumi’ oleh Schuon kemudian disambut gegap gempita oleh para sarjana lintas agama dan akhirnya menjadi ‘wahyu’ yang mencerahkan dalam setiap kesempatan dialog lintas agama.
Jika kita menggali lebih dalam paham pluralisme agama ini lahir dari doktrin pluralisme. Di Barat pluralisme memiliki akar yang dapat ditelusuri jauh ke belakang, ternyata yang paling mendomominasi adalah paham kenihilan (nihilisme) dan relativisme Barat post moderen. Pluralisme mengandung dua makna, pertama, pengakuan terhadap kemajemukan, kedua, doktrin yang berisi pernyataan tidak ada jalan untuk menyatakan kebenaran tunggal, tidak ada pendapat yang mutlak benar bahkan semua pendapat sama benarnya
Menarik apa yang dikatakan oleh Hamid Fahmy Zarkasyi, “Para cendekiawan Muslim pun akhirnya punya profesi baru, yaitu membuka pintu surga Tuhan untuk pemeluk semua agama. “Surga Tuhan terlalu sempit kalau hanya untuk ummat Islam”, kata mereka. Seakan sudah mengukur diameter surga Allah dan malah mendahului iradat Allah. Mereka bicara seperti atas nama Tuhan”.
Seandainya Rasulullah SAW masih hidup, saya ingin tahu jawaban beliau jika ditanya: ke mana orang menghadap jika sholat di stasiun ruang angkasa? ke mana orang menghadap jika sholat di bulan?
Bagaimana hukum orang yang menabrak seseorang dengan kendaraan? Apakah dikenakan qishash kepada si penabrak? Apa maksud kata ‘bulan-bulan’ untuk berhaji? Betulkah hanya di bulan zulhijjah saja? lalu kenapa Allah SWT menggunakan kata jamak bukannya tunggal?
Betulkah Al-Qur’an itu hanya punya satu tafsiran tunggal dalam setiap ayatnya? Bagaimana dengan kata Arasy? Jannah? samaawaat? ardhu?
Justru karena kekayaan makna dalam ayat al qur’an itulah yang menjadikan kitab ini sebagai suatu mukjizat. Bagaimana ayat-ayat itu disusun sehingga bisa menghasilkan makna yang bermacam ragamnya merupakan bukti bahwa al qur’an bukan buatan manusia ummi yang bernama Muhammad bin Abdullah.
Kemudian kalau terjemahan ayat itu tidak dimengerti oleh pikiran kita, bukan al qur’an yang keliru, tetapi pikiran kita yang gak nyampe ke situ. Itu mungkin serupa dengan kisah bagaimana penemu telepon Alexander Graham Bell bersikeras berpendapat bahwa tidak mungkin ada telepon genggam (hape). Kata Alexander G.B jika ada telepon seperti itu, berapa ribu kilometer kabelnya? Itu muncul dalam pemikirannya karena belum ada dalam otaknya konsep mengeni transistor dan sistem GSM/CDMA seperti yang ada sekarang ini.
Jadi, kalau ada ayat al qur’an yang belum masuk di akal kita, ya lebih baik diam dan berusaha untuk mencari informasi yang bisa menjelaskan makna ayat itu.
Mengenai pelaksanaan syariah, ingatlah dialog antara Musa dan Khidir. Waktu Khidir membunuh seorang anak kecil, Musa protes sebab itu berarti menyalahi apa yang diyakininya, tetapi Khidir justru membenarkan tindakannya itu dengan alasan yang dipercayainya pula. Itu membuktikan bahwa tingkat pengetahuan seseorang tentu akan menimbulkan penafsiran yang berbeda terhadap cara pemahaman dan pelaksanaan aturan yang sama.
Mengenai konsep yang dianggap bertentangan di dalam qur’an, itu berarti penafsirnya yang menganggap cara berpikirnya sudah benar sehingga arti ayat qur’an kalau tidak sesuai dengan logika berpikirnya, berarti ayat qur’an yang bertentangan. Contoh sederhana, jika orang belum paham tentang geometri non-euclidean tentu akan selalu beranggapan bahwa jumlah tiga sudut segitiga itu adalah pasti 180 derajat. Padahal kalau dalam geometri non-euclidean jumlahnya bisa lebih atau kurang dari 180 derajat tergantung dari referensi yang diambil, apakah ruang dianggap berbentuk cekung atau cembung. Lalu apakah salah satunya salah? jawabannya dua-duanya benar. Betulkah 1 + 1 selalu sama dengan dua? Jika dipakai bilangan biner hasinya 1 + 1 = 10. Karena dalam biner tidak ada bilangan 2.
Betulkah arti jannah itu hanya bisa diterjemahkan dengan surga? tidak adakah arti lain dari kata jannah itu? jika keyakinan pembaca al qur’an bahwa kata jannah itu hanya bisa diartikan surga, maka akan tambah kacau pemahamannya terhadap semua terjemahan ayat yang ada kata jannah di dalamnya.
Allah SWT sudah memberi contoh tentang sifat relatif semua ukuran pikiran manusia. Misalnya hitungan satu hari di sisi Allah SWT itu sama dengan 1000 tahun menurut perhitungan manusia. Sedangkan di ayat lain dikatakan bahwa malaikat menghadapkan laporan yang waktunya 1 hari setara dengan 50.000 tahun dalam hitungan manusia. Jadi mana yang benar? 1 hari itu 1000 tahun atau 50.000 tahun? dua-duanya benar. Ini bisa dipahami kalau saja yang membaca terjemahan ayat itu sudah mempelajari tentang peredaran planet-planet di tata surya. Bumi berotasi 24 jam. Merkurius 88 hari Bumi. Bumi mengelilingi matahari selama setahun yang setara dengan 365 x 24 jam. Merkurius mengelilingi matahari dalam waktu 88 hari Bumi. Di sini akan terdapat pemahaman yang kontradiktif antara waktu di bumi dan di merkurius. Di merkurius satu hari sama dengan satu tahun.
Kalau dikatakan matahari terbenam di laut berlumpur hitam bukan berarti matahari masuk ke dalam laut. Coba artikan matahari terbenam di ufuk barat, mana sih yang di bilang barat itu? Lagipula betulkah matahari itu bisa terbenam? Iya kalau dilihat dari bumi. Tetapi bagi orang yang ada di pesawat ruang angkasa yang kecepatannya sama dengan waktu edar bumi alias berada di orbit geostasiner di ketinggian 36.000 km, maka matahari akan tampak terus tidak pernah terbenam. Atau kalau ada di kutub utara atau kutub selatan. Matahari terlihat terus selama enam bulan dan tidak terlihat selama enam bulan.
Mengenai ajaran Islam yang dikatakan satu macam, mungkin sama dengan cahaya putih yang kalau diuraikan oleh prisma menjadi bermacam-macam warna. Satu cahaya, tetapi terdiri dari berbagai macam spektrum cahaya.
Yang beranggapan bahwa hanya ada satu terjemahan/tafsiran untuk masing-masing ayat qur’an perlu diingatkan bahwa Allah SWT itu Maha Pencipta, Maha Mengetahui, Maha Kaya. Puisi buatan manusia saja bisa mengandung beragam arti, apalagi puisi buatan Allah SWT.
Ketika Nabi Muhammad menjelaskan tentang nifas, beliau mengakategorikan 2 macam yaitu nifas orang yg melahirkan melalui kemaluan dan melahirkan tidak melalui kemaluan. Pada waktu itu para sahabat bingung, gimana caranya melahirkan tanpa lewat kemaluan. Nah sekarang kita baru faham deh, ente juga musti faham jgn pake emosi, ternyata yang dimaksud Rasulullah itu adalah melahirkan dengan proses cecar ... Paham gak ente? Itulah kelebihan nabi, beliau diberikan keistimewaan berupa jawamiul kalim, bisa berkata2 dgn sedikit kata2nya tapi sangat luas pemahamannya,,, itu baru kata2 Nabi, apalagi firman Allah, wallahu’alam
Komentar Masuk (26)
(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)