Kolom
25/10/2004

Islam, Hakikat Iman dan Cinta

Oleh Habibullah Bahwi

Selanjutnya, terkait dengan nama Islam sebagai citra simbolik sebuah agama. Abdul Karim Sorous, cendikiawan muslim kritis berkebangsaan Iran memilki pandangan bahwa; Islam yang lahir dengan membawa seperangkat ajaran dan nilai itu, pada hakikatnya merupakan bentuk simbolik dari pesan iman dan cinta, yang mana kedua-duanya berasal dari biji yang sama.

25/10/2004 04:26 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (6)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 1 dari 1 halaman

Memahami Islam memang memerlukan waktu.  Nabi Muhammad diberi kepercayaan menerima wahyu pada saat beliau sudah berumur 40 tahun, umur yang matang.  Kematangan itu diperlukan untuk menerima wahyu yang akan dijaga kemurniannya sampai akhir jaman.  Wahyu yang diturunkan kepada Muhammad tujuannya untuk memurnikan agama2 yang sebelumnya pernah diturunkan kepada nabi2 namun diselewengkan oleh ummatnya.  Terutama penyelewengan masalah Tauhid.  Jadi ...Dalam alur ini , agama Islam adalah satu-satunya yang masih murni sebagai ajaran Tuhan Allah.  Persoalan simbol tidak relevan lagi dijadikan dasar untuk menarik Iman dan Cinta sebagai “simbol baru”.  Cara berpikir kita harus konsisten dan runtut.  Kebebasan berpikir yang “acak” sering membuat orang jadi bingung sendiri.

#1. Dikirim oleh PRABOWO  pada  26/10   08:10 AM

saya sangat mendukung pemikiran yang menyebutkan “Iman dan Cinta” adalah pupuk bagi dunia yang damai. Kita perhatikan apakah ada elemen kehidupan ini yang tidak didasari dengan cinta?. Allah menciptakan manusia, bumi dan langit atas dasar cinta, Allah menghukum atas nama cinta, kalimat terakhir Rasulullah menjelang wafat sangat kental nuansa cintanya, hewan melindungi anak-anaknya atas nama cinta, orang tua mendidik anaknya berdasarkan cinta bahkan setan saat menggoda manusia pun sebenarnya ingin menularkan kecintaannya akan kebatilan.

Namun ternyata iman dan cinta bukanlah segalanya...pada saat Allah menurunkan iman-cinta pada manusia, pada saat yang sama diturunkanlah syariat untuk menyempurnakan iman-cinta itu sendiri.

Saya menulis ini karena keprihatinan saya atas kondisi sebagian saudara-saudara muslim yang kerap kali berkata “shalat itu nggak wajib lagi hukumnya asal kita beriman kepada Allah dan berbuat baik dengan sesama”. Agaknya mereka terlampau mengagungkan Iman-Cinta. Mereka telah lupa bahwa Iman tanpa Syariat ibarat perahu yang berlayar ditengah samudera tanpa tujuan yang jelas, sebaliknya Syariat tanpa Iman-seperti melakukan shalat tanpa tahu esensinya-ibarat runah besar tak berpenghuni.

Oleh karena itu mari kita puaskan nikmat cinta dan iman ini tanpa melupakan kewajiban-kewajiban syariat yang telah diturunkan karena hanya dengan melengkapi keduanya kita akan menjadi manusia seutuhnya…

#2. Dikirim oleh R. Reinarsyah Iskandar  pada  04/11   07:11 PM

Cinta tidak sekedar kata-kata atau perasaan..  Cinta harus diungkapkan dalam perilaku.  Cinta berarti kesediaan untuk berkorbaan, kesediaan untuk patuh dan kesediaan untuk membahagiakan yang dicintainya.  Ungkapan cinta yang utama dari seorang hamba kepada kholiknya adalah dengan beribadah sesuai dengan syari’at NYa.

#3. Dikirim oleh fajri ofeser  pada  09/11   08:11 AM

Saya sangat setuju dengan tulisan saudara Habibullah Bahwi ini. Dan menurut pemahaman saya itulah sesungguhnya essensi agama-agama. Masalahnya adalah kita sering berselisih pendapat tentang jalan yang kita tuju. Karena berbeda jalan tentunya rambu-rambunya berbeda dan pengalamanpun berbeda, namun kalau sudah sampai di tempat tujuan saya yakin kita akan mengalami hal yang sama yaitu “kasih” (ar-rahman) yang merupakan perwujudan dari cinta tak bersyarat.

Pemahaman rambu-rambu di masing-masing jalan inipun berbeda-beda sesuai dengan kejernihan pikiran seseorang. Rambu-rambu ibarat air hujan sedangkan pikiran ibarat media dimana jatuhnya air hujan. Air hujan yang jatuh di sebuah mangkok yang bersih akan memiliki sifat air hujan yang murni. Namun bila air hujan jatuh di comberan maka air hujan akan terpengruh oleh sifat-sifat air comberan tersebut. Pada hal air hujannya sama.

Demikian pulalah pemahaman kita terhadap sebuah ajaran. Makin jernih pikiran kita maka pemahaman kita akan semakin dekat dengan kebenaran ajaran tersebut, namun bila pikiran kita dipenuhi dengan segala emosi, iri, dengki, dendam, dll, maka pemahamankita akan semakin jauh dari kebenaran sebuah ajaran.

Atau seperti kita melihat dunia umumnya melalui pikiran kita. Pikiran seperti kaca mata, jika menggunakan kaca mata hitam maka kecendrungannya kita melihat segala sesuatu menjadi hitam. Begitu pula jika kita memakai kaca mata merah maka segala sesuatu akan cenderung kelihatan merah. Jika menggunakan kaca mata bening maka segala sesuatu akan kelihatan apa adanya.

Mengucapkan kata Iman dan Cinta maupun Kasih adalah sangat mudah, seperti mengucapkan salah satu nama Tuhan. Kita nggak sadar bahwa kata Tuhan bukan berarti Tuhan. Seperti kata air tidak berarti air yang bisa mengilangkan dahaga kita. Atau daftar makanan tidak bisa menghilangkan lapar kita, yang bisa adalah makanan itu sendiri.

Semoga kita diberi kekuatan untuk mengubah apa yang bisa diubah, menerima apa yang tidak bisa diubah dan kemampuan untuk membedakannya.

Putu Kesuma

#4. Dikirim oleh Putu Kesuma  pada  19/11   01:11 AM

Mencintai Robb dengan segenap jiwa dan raga tidak akan membuat kita rugi,apalagi merasa sakit hati.Dimana kita dapatkan cinta sejati,cinta yang takkan terungkapkan.Ketenangan,kebahagiaan sangat terasa dijiwa meski ombak dan badai menerjang.Diri kita yang pasti masih belum merasa puas dengan apa yang kita dapat saat ini,begitu banyak protes,tuntutan kita pada Robb.Tapi coba kita pikirkan,pernakah Robb menolak hambanya yang salah dan ingin kembali dalam ridloNya?

#5. Dikirim oleh arie  pada  10/10   09:10 PM

Cinta adalah fitrah dan karunia yang tak terhingga yang diberikan oleh Allah kepada manusia. iman adalah satu bukti kecintaan kita kepada Sang Pemilik Kehidupan, sebagai ungkapan syukur kita atas segala nikmat yang telah diberikan-Nya. cinta adalah sesuatu yang dasar yang ada pada diri manusia, coba bayangkan kalo ada manusia yang tak punya cinta??? cinta tertinggi hanyalah untuk Allah dan Rasul-Nya.

Ada tiga hal, yang bila terdapat dalam diri manusia maka ia akan merasakan lezatnya iman: mencintai Allah dan Rasul-Nya melebihi cinta kepada selain keduanya, cinta dan benci karena-Nya, dan benci untuk kembali pada kekufuran…

wallahu a’lam bish shawab
-----

#6. Dikirim oleh dian  pada  31/03   01:04 AM
Halaman 1 dari 1 halaman

Tulis Komentar

Nama:

Surat-e:

Lokasi:

Situs:

Ingat data pribadi saya

Ingin dikirim setiap umpan balik komentar yang masuk?