Islam Indonesia Kini: Moderat Keluar, Ekstrem di Dalam?
Oleh Novriantoni Kahar
Kini tengoklah, betapa absurdnya klaim kita tentang moderasi Islam. Dalam kasus Ahmadiyah, intimidasi sistematis yang dilakukan kelompok-kelompok Islam baru ini bukan hanya tidak dapat dibendung, tapi dalam beberapa hal seperti dibiarkan dan mendapat dukungan moral-teologis dari beberapa eleman internal Muhammadiyah dan NU. Hanya beberapa figur penting seperti Gus Dur dan Syafii Ma’arif yang turun gunung dan bertarung menentang bentuk-bentuk intoleransi yang makin menggejala.
Komentar
Saya kira tulisan di atas sangat tepat sekali, bahkan sikap intoleransi telah dilakukan secara sistematis oleh pemerintah daerah Bekasi yang telah menutup beberapa gereja didaerah Bekasi.
“ISLAM-ISLAM BARU” di Indonesia yang diberikan julukan oleh Yang Mulia Novriantoni Kahar, “sebagai tandingan” Muhammadiyah dan NU yang berakar tunjang jauh kezaman tahun 1920-han.
Yang sebenarnya kita lihat dan buktikan sendiri siapa yang memimpin Front Pembela Islam (FPI) adalah Habib Muhammad Rizieq Syihab dan lain-lain yang sebangsanya (yang diikuti oleh penduduk pribumi asli yang asal-usulnya berkepribadian budi luhur sejak nenek moyangnya Nusantara Indonesia) adalah mereka yang sedang melaksanakan hujjah Allah, hujjah nabi Muhammad, hujjah kitab suci-Nya memenuhi:
AT TAUBAH (9) AYAT 97: Orang-orang Arab itu lebih sangat kekafirannya dan (lebih sangat) kemunafikannya dan lebih wajar bahwa mereka (orang-orang Arab) tidak mengetahui hukum-hukum yang diturunkan Allah kepada Rasul-Nya (seperti diaog cara damai dan baik dalam perbedaan persepsi agama, sesuai An Nahl (16) ayat 125, Al Isro (17) ayat 28, Al Ankabut (29) ayat 46).
Dan Allah Maha Mengetahui (bahwa berbeda antara orang-orang Arab dan orang-orang pribumi asli Indonesia yang berbudi luhur), lagi Maha Bijaksana (terhadap orang-orang Indonesia Muhammadiyah dan NU yang tidak divonis oleh ayat At Taubah (9) ayat 97).
Allah sendiri bersabda didalam Al Kahfi (18) ayat 29: Kebenaran itu dari Tuhanmu, maka barangsiapa yang berkehendak beriman silahkan, dan barangsiapa yang berkehendak kafir silahkan, tidak ada paksaan dalam agama sesuai Al Baqarah (2) ayat 256 (Allah yang memvonis). Habib Rizieq kerjanya memaksakan kehendak, melampaui Allah!
Wasalam, Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tungal Agama millennium ke-3 masehi.
masalahnya simple. keduanya, Muhammadiyah dan NU sdh ikut politik praktis. bikin partai dan pada rebutan kursi. dan untuk mendapat suara sebanyak2nya mau tak mau harus merangkul sana-sini. akhirnya jadi plin-plan. gitu aja koq anda nulisnya sampe panjang banget. trims.
Soal Citra…
Saya setuju kalau pencitraan yang seperti itu adalah kondisi medio sebelum tahun 2000an. Pada masa sebelum itu, Islam Indonesia adalah Islam yang moderat, dan jelas sekali ini adalah berkat kukuhnya dua lembaga keagamaan NU dan Muhammadiyah. Kedua lembaga ini menjadikan Islam membumi - menjadi Islam Indonesia yang berbeda dengan Islam dibelahan dunia manapun. Namun saya masih merasa, moderasi Islam masih faktual dikalangan masyarakat agraris, tetapi bukan dikalangan urban. Saya berharap beberapa tahun ke depan akan muncul wacana 100% Islam dan 100% Indonesia, yang artinya Nasionalisme terhadap (segenap elemen) Bangsa dan Negara tidak lebih rendah dari Keber-Islam-an. Ke-Islam-an yang sedikitpun tidak mereduksi Nasionalisme.
Soal Pemerintah dan Kenegarawanan Pemimpin Bangsa…
Saya menilai sampai saat ini negarawan sejati yang dimiliki oleh bangsa Indonesia hanya para Founding Father NKRI. Mereka rela dikecam dan miskin hanya karena prinsip untuk mempersatukan Negara ini. Mereka mahfum bahwa Negara Indonesia ini besar justru karena Ke-berbeda-an dan Ke-aneka-ragaman, bukan karena Ke-sama-an.
Dimanakah ada sebuah Negara besar yang tetap bertahan hanya karena kesamaan (atau menuntut kesamaan) Agama atau Ke-suku-an? Kecuali Negara itu di-gerojoki dengan berlimpah harta dari kekayaan alam-nya atau dipimpin dengan Diktator.
Para Pemimpin Negara saat ini (maaf kalo saya salah menilai) kualitasnya hanya rata-rata saja, seperti masyarakat biasa. Nasionalismenya sama dengan ketika mereka masih jadi anggota masyarakat biasa. Mereka takut untuk dikecam, takut tidak bisa lagi terpilih di pemilu berikutnya.
Pemimpin Negeri ini masih gak berani menjalankan Pancasila dengan benar, atau mereka sebenarnya tidak menghayati Pancasila? Padahal dulu untuk kuliah saja harus dicekoki P4 100 jam, kalau ternyata Pemimpin negeri ini yang notabene adalah pemberi materi P4 tidak mengerti apa yang mereka ajarkan?
Ok mas novri, aku setuju bahwa satu dasawarsa ini kaum muslimin Indonesia sepertinya sudah bergeser dari moderasi Islam, dengan mengambil studi kasus intimidasi terhadap Ahmadiyah yang marak belakangan ini.
Lalu ketika kita berbicara kedua ormas terbesar NU dan Muhammadiyah sebagai model mederasi Islam di Indonesia mungkin itu waktu di pimpin oleh Gus Dur (NU) dan Syafii Ma’arif serta Amin Rais (Muhammdiyah).
Sekarang ini menjadi pertanyaan besar bagi saya untuk kedua ormas terbesar ini dalam menyikapi toleransi agama akhir-akhir ini, sepertinya sikap ambivalesi yang saya tangkap menyoal intolerasi agama dari kedua ormas ini.
Kalau dulu ketika Darul Arqam di bubarkan yang menjadi maisyiah itu Gus Dur dan NU. Tetapi dalam kasus intimidasi terhadap Ahmadiyah maupun JIL sekarang maiyiahnya siapa ?.
pertanyaan saya mungkin kah intolerasi dan ektrimisme agama sudah menyusup kepada kedua ormas tersebut walupun bentuknya berbeda? semoga saya salah tulis.
Tetapi, kalau kita mengambil teori Eric Fromm tentang Agresivisme itu bisa saja terjadi. Smoga kedepan NU dan Muhammadiyah tetap sebagai model ideal moderasi agama di dunia dan sekaligus menjadi meisyiah kaum minoritas.
kalo menurut saya sih karena di era demokrasi ini kelompok yang kecil-kecil ini dan segelintir ulama biasanya sangat militan dan media juag saling berebut mengekspose mereka.Sebenarnya sebagian besar orang Islam sih enggak begitu, cuma memang pada malas ikut ribut-ribut. Di sekitar saya contohnya, mesjid ahmadiyah juga nggak pernah diganggu warga sekitar /Sawangan. yang mereka takuti justru kelompok tertentu seperti FPI. Walaupun warga sekitar juga tidak sependapat dengan aliran ahmadiyah. Menurut saya ini juga merebak karena aparat tidak tegas/ragu2. Aparat sekarang itu tidak pernah mencegah tapi baru bertindak setelah sudah terjadi pengrusakan. Malah mereka jadi membebani yang kena musibah, karena stelah kejadian pasti melakukan penjagaan, yang berati konsumsi dan rokok polisi jadi tanggungan yang jadi korban. Jadi serba salah deh.
Oalaaaaahhhhhhhhhhhhh
cara berfikirnya kok kayak gitu
piciklah kau
Ihdinaa as-shirat al-mustaqiim….........
Salam sejahtera buat temen2 JIL!
Berpikir itu positif, baik secara bebas maupun konserfatif. Tapi pernahkah kita memikirkan konsep sebagian masyarakat jawa yang diterapkan dalam kehidupan ini? orang jawa bilang; ” Urip kuwi koyo mampir ngombe”, alangkah singkatnya hidup ini jika benar2 hanya seperti mampir minum. so, don’t just think our life, but we must do something’s, kanggo sangu neng akhirat ngemben, ojo mung mikir2 donyo sing modern iki thok! memikirkan agama kita memang penting, tapi menurut saya lebih penting menjalankan agama kita, dan hanya memkirkan itu belum menjalankan! mulane, ojo dumeh duwe utek terus kita gak mau pake utek kita buat mikirin bekal kita di akhirat. sekian….........
Ihdinaa as-shirat al-mustaqiim….........
Ihdinaa as-shirat al-mustaqiim….........
Ihdinaa as-shirat al-mustaqiim….........
Ihdinaa as-shirat al-mustaqiim….........
Ihdinaa as-shirat al-mustaqiim….........
Ihdinaa as-shirat al-mustaqiim….........
Ihdinaa as-shirat al-mustaqiim….........
“Mereka telah diberi hati, tapi masih meminta jantung.”
Ya, salah pemerintah dong… kenapa ngasih hati. Wong kita mintanya jantung, kalau perlu otaknya sekalian. Tuntutannya pun gak berubah dari dulu, yaitu “Bubarkan Ahmadiyah” atau bikin agama baru kek…
1. Segolingan dari Ahli Kitab ingin menyesatkan kamu, padahal mereka sebernya tidak menyesatkan melainkan dirinya sendiri, dan mereka tidak menyadarinya. ( Ali Imran : 69)
2. Hai Ahli kitab mengapa kamu mengingkari ayat2 Allah padahal kamu mengetahui kebenarannya. (Ali Imran : 70)
3. Hai Ahli kitab mengapa kamu mencampuradukan yang haq dengan yang bathil, dan menyembunyikan kebenaran padahal kamu mengetahui. (Ali Imran : 71)
4. Segolongan lain dari Ahli kitab berkata pada sesamanya “ Perhatikanlah seolah-olah kamu beriman kepada apa yang diturunkan kepada orang2 yg beriman (sahabat-sahabat rasul) pada permulaan siang dan ingkarilah ia pada akhirnya, supaya mereka orang2 mukmin kembali pada kekafiran. (Ali Imran : 72)
5. Sesungguhnya di antara mereka ada segolongan ada yang memutar-mutar lidahnya membaca Alkita, supaya kamu menyangka yang dibacanya sebagian dari Alkitab, padahal itu bukan dari Alkitab dan mereka mengatakan ‘ia yang dibacanya itu dari sisi Allah, padahal ia bukan dari sisi Allah. Mereka berkata dusta kepada Allah, sedangka mereka mengetahui. (Ali Imran : 78)
6. Dan janganlah kamu campuradukan yang Haq dengan yang Bathil, dan janganlah kamu sembunyikan yang Haq itu sedangkan kamu mengetahui ( Albaqarah : 42)
7. Mengapa kamu suruh orang lain mengerjakan kebajikan, sedang kamu melupakan diri dari kewajibanmu sendiri, padahal kamu membaca Alkitab, maka tidakah kamu berfikir? ( Albaqarah : 44)
salam mas Novriantoni Kahar saya hanya ingin memberikan sedikit catatan sepengetahuan saya:
1.“Muslim yang demokratis, moderat dan pluralis itu untuk bergeser.“saya ingin menggaris bawahi pada muslim yang demokratis,Kata “demokrasi” berasal dari dua kata, yaitu demos yang berarti rakyat, dan kratos/cratein yang berarti pemerintahan, sehingga dapat diartikan sebagai pemerintahan rakyat. (www.id.wikipedia.com).Dalam konteks ini apabila kita ingin dikatakan muslim yang demokratis berarti selayaknyalah kita dapat mendengar aspirasi dari sebagian besar rakyat. Siapa yang mendengar?dalam ini hal ini adalah pemerintah dan MUI sebagai rujukannya.Moderat disini kita harus bisa saling mengerti,saling tidak menyakiti saling menghormati.Dan Pluralis disini kita harus bisa saling menghormati dan menghargai kepada pemeluk lain tetapi tetap dalam konteks “untukmu agamamu dan untuk ku agamaku”.
mas novrianto saya ingin membawa ahmadiyah disini karena saya tau benar mas novrianto menulis ini sebagai reaksi apa yang sudah terjadi terhadap ahmadiyah,apabila mas ingin konsisten dengan apa yang mas tulis kita harus menjadi muslim yang demokratis berarti kita harus mendengarkan apa yang difatwakan oleh MUI dan pemerintah harus mengeluarkan keputusan apa yang difatwakan oleh MUI karena MUI adalah lembaga yang tertulis dalam undang-undang sebagai rujukan pemerintah tentang islam dan apabila ingin kita kumpulkan mana muslim yang mendukung ahmadiyah dan yang menolak ahmadiyah saya sangat yakin pendukung ahmadiyah tidak lebih banyak dari 1/5nya penolak ahmadiyah maka apabila ingin disebut muslim demokratis dengarkanlah suara mayoritas itu sampai dunia menolak ahmadiyah.muslim moderat harus bisa saling menghormati untuk ahmadiyah telah lama engkau menyakiti hati umat muslim beribu-ribu dialog telah dilakukan tetapi tidak satu pun dialog engkau menangkan telah telak engkau tidak bisa memberikan alasan yang mendasar tentang ahmadiyah, di konfrensi negara-negara islam tidak ada satupun yang membolehkan ajaranmu disebarluaskan,jadilah muslim yang demokrat tolong hormati suara mayoritas dan menerimalah masukan dari luar.Muslim yang pluralis kita di ajarankan untuk menghormati ajaran lain sudah sepatutnyalah kita menghormati,oleh karenanya ada kata-kata"untukmu agamamu dan untukku agamaku” jangan kita mencampur adukan agama kita dengan agama yang lain.kita ikut dalam perayaan agama lain atau peribadatan agama lain karena pluralis kita sudah jelas konteksnya dan kita tidak pernah membenarkan ajaran lain selain islam oleh karenanya sadari betul apa konteks pluralis dalam islam.
2.” Muhammadiyah dan NU tak jarang alpa untuk berperan aktif dalam merawat dan menguatkan jaringan dan institusi-insitusi penyangga moderasi Islam itu. Bahkan, dalam beberapa kasus, wacana dan aksi yang dikembangkan keduanya idem dito atau hanya reaksi terhadap genderang yang ditabuh kalangan yang tidak bisa disebut moderat.”
Muhammadiyah sudah dengan tegas-tegas mengatakan menolak ahmadiyah ini dikatakan prof.Din Syamsyudin ketika ahmadiyah sedang gencar-gencarnya diberitakan apakah itu bukan reaksi terhadap permasalahan yang terjadi?lalu NU dengan pak Hasyim Muzadi telah mengeluarkan statement bahwa ahmadiyah adalah ajaran yang diharamkan dan sebaiknya membuat agama sendiri,apakah itu bukan reaksi dari permasalahan yang ada?. Terlebih lagi MUI sudah dari jauh-jauh hari bereaksi terhadap segala kejadian yang ada apakah kita tidak melihat ada siapa saja di MUI itu? jadi saya tidak setuju jika kedua ormas ini hanya menjual citra saja tetapi tidak bereaksi tentang masalah yang ada. Malah belakangan ini ormas-ormas baru yang berpikir agak sekuler datang dan bertereak-tereak hak asas manusia tetapi tidak mengerti apa itu hak asasi manusia dan bertereak-tereak membawa-bawa suara mayoritas tetapi padahal tidak ada yang mendukungnya.
3.” Setelah SKB moderat tentang Ahmadiyah keluar, mereka masih menuntut Keputusan Presiden untuk pembubaran Ahmadiyah. Mereka telah diberi hati, tapi masih meminta jantung.“Kelompok-kelompok islam baru ini termasuk didalamnya kelompok yang moderat versi pendukung ahmadiyah,cobalah berkaca cobalah melihat mengapa kelompok-kelompok baru ini dapat dukungan dari Muhammadiyah dan NU karena kelompok baru ini menyuarakan mayoritas muslim pada umumnya ini didasari Muhammadiyah dan NU merupakan ormas islam terbesar,lalu kelompok baru yang tidak mendapatkan dukungan,walaupun mendapatkan dukungan hanya dari segelintir orang yang itupun tidak menyuarakan siapa-siapa atas nama pribadinya.Mas Novriantoni Kahar SKB adalah merupakan rujukan untuk presiden untuk mengeluarkan keputusan yang berkekuatan hukum itu yang tertulis pada undang-undang,jadi sudah sangat wajar dan sangat sesuai dengan undang-undang apabila mereka menuntut kepada presiden agar mengeluarkan kepres karena itu adalah jalur yang benarnya,jadi bukan diberi hati minta jantung.
Ya…dalam sejarah Kaum Jahiliah pemakan jantung dan hati itu orang jahiliah.
Begini mas-mas monyoal ahmadiyah dan SKB sebetulnya tidak fair—harus adil dong meletakan SKB dalam lingkup Hukum Islam. Jadi wajar kalau sebagian orang menolak SKB dan rasional, bahkan bisa dibenar oleh syariat itu sendiri. Masalahnya SKB lahir dari Kepres, nah UU Kepres kan di atur oleh UU 45 dan ini buatan manusia jaddi SKB bagi Ahmadiyah tidak sakral bisa direduksi.
SKB bagi ahmadiyah apabila ingin legitimed ubah dulu dong dasar negaranya oleh UUD al-Quran dan Sunnah itu juga kalau Khalifah menyetujui..nah pertanyaann saya SBY kan bukan Khlifah ?, MUI bukan Para Imamul Mujtahid seperti Imam Syafii, atau Imam Hanapi, Hambali dan Maliki? apa lagi para menterinya?
Nah kalo sekarang SKB Ahmadiyah sebagai legitimasi Hukum Islam, hemat saya ga masuk akal atuh…aya-aya wae ah…
ya…dalam sejarah Kaum Jahiliah pemakan jantung dan hati itu orang jahiliah…dan pemakan jantung dan Hati Hamzah paman nabi kan orang Jahiliah..
saya setuju dengan Desmi Avicena Medina. Ahmadiyah memang sudah sepantasnya dibubarkan karena nyata2 mereka sudah menyimpang. memang menurut mereka…pengikut ahmadiyah masih melafalkan sahadat, tp. muhammad yang dimaksud dalam sahadat tersebut adalah ahmad gulam, si nabi-nya ahmadiyah. jadi, untuk teman2 JIL…. tolong perhatikan makna kebebasan beragama dan kebebasan agama, dan ingat lagi islam itu tidak perlu di ‘moderatkan’ karena Islam memang sudah modern dari dulu hingga kini.
terima kasih.
salam.
Islam Moderat?
Muhamadiyah dan NU disebut sebagai golongan moderat. Sampai saat ini kedua organisasi tersebut masih di jalur tersebut. Tetapi saat ini ada beberapa sekolompok golongan dari kedua organissai tersebut ingin membawa-bawa Mumadiyah dan NU ke arah liberal atau kiri. Jadi memang kita harus membuat definisi yang jelas seperti apa sih Islam moderat itu?Biar orang lain tidak sesat sebut.Salah satu ulama terkenal (NU) di Kediri risau dengan munculnya sekelompok aliran liberal.Menurut Saya memang kita harus menjaga toleransi dan pesaudaraan tetapi, tidak harus membunuh agama sendiri.Banyak orang sekarang tidak PD dengan baju yang ia kenakan. Teman-teman Islib seringkali mengakui semua tuhan.Satu tuhan untuk semua.Kenapa ya jargon ini tidak konsisten. Allah itu tuhan semua agama tetapi, kenapa umat kristen kalau berdoa memohon hanya kepada patung Yesus?Umat Budha berdoa kepada dewa-dewa mereka? atau sebaliknya kenapa teman-teman JIL kalau memohon tidak kepada tuhan-tuhan selain Allah?.Iya kan tidak konsisten!. Jadi, menurut Saya sih memang sekali lagi kita harus menampakkan Islam yang “teduh”, menjaga tolerasi, dsb Tetapi tidak harus “membuang keorsinilitas” Dinnul Islam. Benar kita harus toleran dan menghadirkan Islam yang teduh tapi kita PEDE aja lagi…....
Ah, Bung Novriantoni, sebentar lagi pemikiran Anda dengan JIL-nya akan diberangus ketika Islam tegak dengan Daulah Khilafah-nya. Kalau mau aman, Anda perlu juga membuat agama sendiri seperti Ahamdiyah dan tidak usah bawa-bawa nama Islam. Tidak ada paksaaan memeluk Islam tapi kalo udah berIslam harus ikut rambu-rambu Islam yang benar.
Bung Abu Khansa, maaf, saya hanya mau tanya yang dimaksud dengan “rambu-rambu Islam yang benar” itu menurut siapa?.
Duh bung Abu Khansa, delum apa-apa dah mau numpahin darah atas nama khilafah Islamiyah lagi. Bung abu, itu kan akan terjadi apabila pimpinan khalifahnya anda,tapi itukan ga mungkin. Nah konsep khilafah semacam apa yang bung abu tawarkan ? seperti Khulafarrasyidin ?muawiyah ? Abasyiah ? bahkan wahabiyah ? semua penuh konflik bung . Nah, kalau bung abu penganut Salafi, lalu nanti kalau yang menjadi Khilafahnya dalam konsep orang-orang syiah, sepertinya bung abu yang akan di berangus .
Lalu kalau bung abu nanti menjadi khilafah dengan faham Salafi misal, ini akan berbenturan dengan warga nahdiyin—karena salafi (wahabiyah) ga bisa diterima dalam ranah NU. Dan ini blunder bagi mas Abu seorang Khalifah nantinya.
Jadi, gagasan yang ditawarkan Khalifah dalam bentuk intimidasi pada Mas novri di atas sangat absurd bung. Alhasil, Khilafah yang dinginkan mas abu berati untuk menumpahkan darah dong ? nauzu billah himin dzalik. Berarti gelar sang al-Saffah ” Sang penumpah darah” akan terulang kembali dalam sejarah Islam. Wa nasta’in billah.
Moderasi Islam memang ada landasannya dalam sejarah Islam, tetapi ia harus dilihat secara komprehensif. kebanyakan orang menggunakan dalil-dalil seputar moderasi Islam klasiks untuk memperkuat argumen liberalnya yang bertujuan meremehkan hal-hal yang sudah baku dalam agama Islam. Padahal kalau kita mau sedikit objektif memahami kisah hidup Rasulullah Muhammad secara keseluruhan, perilaku moderat nabi ditampilkan hanya bagi orang-orang yang juga moderat terhadap islam, sementara untuk kelompok yang secara eksplisit memusuhi Islam, tidak ada sikap moderat dan toleransi untuk mereka.
Islam itu cuma satu pak,melaksana ajarannya disebut muslim.jadi muslim moderat,extrem atau apalah istilah anda.
persoalan apa ,siapa dan bagaimana seseorang itu tergantung dari pengetahuan yang didapat,ilmu yang dipelajari, lingkungan dia tumbuh dan faktor pribadi dia sendiri.jangan cuma hanya muslim,nasrani,majusi, yahudi juga ada macamnya.
Sebaiknya anda juga melihat pendapat yang berkembang di akar masyarakat kita, sebagian besar rekan-rekan saya dilapisan bawah justru heran dengan tokoh-tokoh islam spt Gus Dur dkk yang membela Ahmadiyah, termasuk juga dengan diri anda??
Kita harus melihat masalahnya secara jelas & benat terlebih dahulu.
1. Kasus Ahmadiyah bukanlah kasus kebebasan beragama, tapi “penistaan agama”.
( Mereka memakai nama Islam tetapi dengan gaya & ajaran yang mereka buat sendiri,dan ini menyakiti umat Islam lainnya, seharusnya mereka memakai nama sendiri jangan memakai nama Islam )
Coba anda renungkan jika ada kelompok yang mengatakan bahwa YESUS ( mohon maaf sebelumnya )memiliki adik dan mereka menganut pula ajaran sang adik ini, lalu digabung dengan ajaran Yesus yang asli, tetapi mereka tetap memakai nama KATOLIK tentu saja umat Katolik yang lainnya akan protes & marah, terlebih lagi Paus.Saya yakin itu karena saya dari TK sampai University belajar di institusi Katolik dan mereka cukup concern & keras terhadap ajaran2 yang menyimpang dikalangan mereka sendiri.
( Ingat kasus Children of God…)
2). Kasus Pemukulan Monas.
Kasus ini jangan dicampur adukkan dengan tuntutan pembubaran Ahmadiyah, karena konteksnya berbeda.
Kasus pemukulan terjadi karena adanya unsur rekayasa & provokasi terlebih dahulu terhadap pihak FPI yang melintas di areal monas hendak menuju ke istana negara untuk memprotes kenaikan BBM.
Seharusnya pihak AKBP tidak mendapat ijin untuk menggelar acara pada hari yang sama agar tindakan provokasi bisa dihindari, tetapi mereka melanggar dengan tetap melaksanakannya, sampai akhirnya terjadi hal tsb.
Kesimpulan :
Tidak ada yang setuju tindakan kekerasan terjadi.(Hal itu terjadi karena adanya rekayasa yg memang menghendaki kejadian itu terjadi agar pihak2 tertentu bisa diuntungkan )
Tuntutan pembubaran Ahmadiyah adalah karena dia menodai ajaran Islam
( Tidak sesuai yg diajarkan Al-Quran & nabi Muhamad S.A.W). Hal ini Sesuai Fatwa MUI, Press release NU, mayoritas muslimin Indonesia)
Terima-kasih
Komentar Masuk (37)
(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)