Islam Liberal: Agenda dan Seputar Istilah
Oleh Redaksi
Diskusi berikut mengangkat isu seputar istilah dan agenda Islam Liberal yang merupakan salah satu tema awal yang muncul dalam Milis tersebut.
Komentar
Untuk pertama kalinya disini saya nyatakan bahwa saya tidak pernah belajar secara formal mengenai isme isme.
Waktu zamannya Sukarno dan PKI berjaya di tahun 60an sering terlontar Istilah Liberal yang katanya kontra dengan Komunisme ataupun Sosialisme. Sebab, lebih lanjut Liberalisme melahirkan Materialisme –Kapitalisme -Individualisme yang berujung dengan penindasan manusia atas manusia, bangsa atas bangsa atau istilah kerennya Kolonialisme dan Imperialisme atau istilah lain penindasan atau penjajahan.
Indoktrinasi tersembunyi mengenai Liberalisme ini juga sering terlontar dikalangan Ummat Islam yang nota bene lebih cenderung kearah kebersamaan (Sosialisme Islam) yang walaupun pada akhirnya juga membenci Komunisme (menamakan dirinya: sosialisme paling radikal) karena ulah PKI dengan G-30-S-nya yang sangat menyakiti perasaan Ummat Islam.
Peristiwa peristiwa dahsyat selama bertahun tahun, bahkan selama berabad yang diakibatkan oleh sepak terjangnya kolonialisme dan imperialisme menimbulkan phobia-phobia yang salah satunya phobia terhadap liberalisme itu sendiri. Maka pantaslah kalau sebagian umat Islam adalah Liberal phobi termasuk saya sendiri yang sangat merasa aneh dengan istilah Islam Liberal, pada mulanya. Apalagi Liberalisme itu sangat melekat dengan Amerika dan negara lainnya yang sering kali tindak tanduknya merugikan dunia Islam.
Namun demikian, setelah saya mengikuti artikel artikel di Islam Liberal, Islam Liberal tidaklah seperti anggapan saya semula, walaupun belum melepas dari prasangka, mau kemana sebenarnya Islam Liberal itu? Saya masih menaruh harapan bahwa nantinya Islam Liberal akan menemukan apa sebenarnya yang dicita-citakannya.
Seperti pemahaman kita pada umumnya bahwa pengertian “liberalisme“ adalah “bebas” dalam artian bebas berfikir, bebas menentukan nasibnya sendiri, bebas mengejar kebahagiaan (pursuit of happiness), bebas untuk mengemukakan pendapat, bebas untuk memeluk agama tertentu, pokoknya banyak “bebas“-nya lah.
Namun pada kenyataannya apakah ada yang namanya liberalisme itu? Orang-orang liberal seakan akan selalu ingin mencoba coba (empiris) segala sesuatu, dan manakala terjadi benturan maka barulah dibuat suatu aturan (law) yang mengatur agar tidak terjadi benturan tadi. Banyak nilai-nilai yang baik yang dapat diambil dari hasil usaha liberalisme itu. Namun sering kali dilupakan bahwa untuk menemukan hukum tersebut sebelumnya banyak terjadi korban berjatuhan. Korban experiment yang menghancurkan nilai nilai kemanusiaan.
Liberalisme yang paling berpengaruh adalah anggapan manakala segala sesuatu dapat dipecahkan dengan akal, dengan kemampuan berfikir manusia. Semua bisa diatur, semua bisa dihakimi dan merasa selama belum ada yang bisa mematahkan theori atau pendapat “kita”, maka “kita”-lah yang paling benar, yang lain salah.
Dalam hal MIPA (Matematika Ilmu Pengetahuan Alam) berteori atau berpendapat secara “liberal” adalah hal yang amat bagus. Akan menghasilkan banyak teori-teori dan penemuan penemuan baru. Karena tahap eksperimen waktunya relatip pendek dan tidak berdampak langsung pada nilai kemanusiaan.
Dalam hal sosial budaya pengaruh Liberalisme banyak melekat dengan “subjektivisme” dan harus diakui banyak juga melahirkan negara-negara besar. Negara-negara adidaya, adikuasa, adigung , adiguna. Disamping negara negara miskin yang menjadi musuh maupun satelitnya.
Sejarah bagaikan panggung sandiwara dari masa kemasa. Negara mengurus manusia, dan manusia tidak lepas dari kebutuhan biologisnya. Dari dulu hingga kini kebutuhan manusia tetap sama. Pokoknya urusan perut, bawah perut dan atas perut, atau sedikit rinci urusan sandang, pangan, papan, mata pencaharian. Karena “subjektivisme”-nya dalam mengurus kebutuhan manusia itulah timbul pertentangan, bentrokan, pergesekan yang berakhir dengan peperangan sekaligus menghancurkan budaya peradaban manusia. Negara jatuh bangun, berganti nama terus menerus sampai sekarang.
Disinilah sebenarnya agama berperan.Bukankah sudah sekian banyaknya Nabi dan Rasul dikirimkan untuk melerai dan mengekang napsu angkara murka manusia. Manusia penuh napsu yang ingin mengatur manusia dan semesta alam menurut maunya sendiri.
Apa yang saya pahami dari Kitab Suci (Al Qur’an) ialah manusia itu sok tahu. Sudah dibilang bahwa memang manusia itu makhluk yang sempurna , dikaruniai panca indera dan pengolah data (otak) yang hebat. Dan bahkan mempunyai kemampuan tertentu melebihi malaikat, akan tetapi dalam hal mengurus dirinya sendiri (manusia dan lingkungannya) manusia itu tak mampu. Buktinya dari dulu kok rusuh terus. Kalau Allah Yang Rahman dan Rahim tidak mengirimkan Nabi dan Rasul beserta ILMU (Kitab Kitab Allah) yang jumlahnya 25 (yang tertulis) dan ribuan (yang tidak tertulis) maka siapa yang bisa menjamin bahwa peradaban manusia itu bisa kita nikmati sampai sekarang?
Masalahnya sekarang, bagaimanakah kita memahami Kitab Allah? Adakah suatu keinginan untuk memahami kehendak Allah?
Dapatkah kita memandang bahwa Islam itu ialah adalah suatu Tatanan (sistem) Kehidupan yang unggul. Lebih unggul daripada isme isme yang ada seperti Liberalisme –Materialisme –Kapitalisme (Barat) atau Materialisme- Komunisme, Nasionalisme –Nenek Moyang (klenik dengan segala bentuknya) yang banyak di Timur?? Ataukah kita tetap memandang ISLAM sebagai Agama (kepercayaan) seperti agama agama lainnya (Kristen, Hindu, Budha dll) ?? Agama yang bersifat pribadi dan ruhani? Agama untuk Hari Akhirat? Agama untuk mengejar Surga nanti , bukan kini??
Kalau pemahamannya seperti itu, maka akan sulit untuk merubah paradigma kita terhadap Islam yang kita usung sehari hari. Maka pertanyaan terakhir dapatkah ISLAMLIB merubah paradigma itu?
——-
Komentar Masuk (1)
(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)