Wawancara,
06/11/2006

KH Husein Muhammad Islam Masa Lampau Itu Membebaskan

Oleh Redaksi

Ketika orang mengatakan bahwa dia lebih tinggi daripada orang lain, sebetulnya ia telah melangkahi aspek tauhid yang benar. Karena itu, saya kira kita memerlukan penerjemahan yang baru atas aspek akidah.

06/11/2006 10:43 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (7)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 1 dari 1 halaman

Saya pikir, ayat mana pun yang diturunkan Tuhan kalau sudah berada di tangan manusia, kesempurnaan-nya pun lenyap tak berbekas, karena manusia tidak ada yang sempurna. Kalau saja semua manusia mengakui ini dari awal-awal, tidak akan pernah ada perang agama, kekerasan, dan penindasan yang terjadi selama ini.

#1. Dikirim oleh Serpi Anand  pada  12/11   04:11 AM

Saya tidak bermaksud membantah bahwa penafsiran berkembang sesuai jaman. Tinggal masalahnya adalah 1) siapa yang berwenang menafsirkan ayat Quran dan/atau hadits ? dan 2) apa kaidah2 sehingga sebuah tafsir bisa dianggap oke. Dan oh ya yang paling penting adalah: 3) Ayat yang mana yang bisa ditafsirkan mengikuti jaman ?
——-

#2. Dikirim oleh ari ams  pada  27/11   04:11 PM

Hukum Alqur’an dan Hadist Nabi tidak berubah dan akan kekal sepanjang jaman. Perintah dan hukum yang jelas dan nyata tersirat saja belum semua kita patuhi dan lakukan, kenapa kita harus sibuk dengan ayat-ayat yang memerlukan penafsiran akal. Selain mubazir waktu dan energi, kita juga menghabiskan umur kita dengan sia-sia. Padahal waktu, energi dan umur yang telah kita habiskan untuk berpikir dan menafsirkan tersebut dapat dialihkan dengan berbuat kebaikan menolong saudara-saudara kita muslim yang banyak menderita dalam kemiskinan. Kita memang terlalu banyak menghabiskan umur kita dengan sia-sia, banyak bicara dan berpikir. Ya Allah..

#3. Dikirim oleh Yusuf  pada  17/08   06:59 AM

Sebaiknya kita tdk merasa lebih tinggi dr yg lain (bangsa, agama,dll). Bahkan kita inipun kan gak pernah tahu seberapa pahala yg kita peroleh dari ‘ibadah’ kita hari2. Misalnya seberapa pahala yg kita dapat hari ini dari sholat2 yg kita dirikan ?? Dan berapa pula pahala yg sama untuk orang2 lain diluar kita (sesama muslim)? Kita tdk pernah tahu. Jangan2 mereka dapat derajat pahala diatas kita ?? Itulah saya rasa fakta yg melandasi pendapat diatas. Kesimpulannya parameter yg dipakai bukan sekedar perasaan.

#4. Dikirim oleh hariadi  pada  01/10   09:01 PM

Alqur’an & hadits shahih adlh keluar dr Tuhan yg maha suci & nabi yg di sucikan…tdk akan bs memahami ke 2 nya kecuali org2 yg di sucikan hatinya oleh Allah Swt..

#5. Dikirim oleh Fatur rafael  pada  13/11   08:54 AM

assalamu’alaikum
Hati damai, pikiran jernih, kontribusi jelas pada masyarakat adalah bentuk kelurusan persepsi. coba terapkan ini pada kita semua termasuk cara pandang beragama. agama sangat penting dalam kehidupan, tapi yang lebih penting lagi adalah kesadaran dan berprasangka baik akan Allah.

#6. Dikirim oleh Ibnu Sahidhir  pada  08/01   05:53 PM

Assalamu’alaikum.
Seharusnya kita lebih menjelaskanlagi tentang Dalil Naqliyahnya.
Surat apa dan ayat berapa yang kita sampaikan,agar kita semua bisa mengkaji ulang penafsirannya sebagai bahan pelajaran..
Wallahu’alam bishshawaab..

#7. Dikirim oleh Go_enk  pada  01/04   04:25 AM
Halaman 1 dari 1 halaman

Tulis Komentar

Nama:

Surat-e:

Lokasi:

Situs:

Ingat data pribadi saya

Ingin dikirim setiap umpan balik komentar yang masuk?