Islam Sebagai Agama Perlawanan
Oleh Siti Nur Aryani
Jika selama ini para sosiolog lebih cenderung menganggap tradisi sebagai obyek tanpa kritisisme, maka Hanafi mencoba keluar dari konservatisme tersebut. Tawaran paradigma yang diajukan adalah memahami tradisi suatu masyarakat melalui bentuk kritisisme struktural. Hanafi beranggapan, bahwa “tradisi adalah produk sosial dan hasil dari pertarungan sosial-politik, yang keberadaannya terkait dengan manusia.
Komentar
Salah satu pekerjaan paling sulit dalam pemikiran Islam adalah meisahkan secara jelas mana yang disebut sebagai “al-Islam” sebagai nilai yang turun secara genuine dari langit dan ‘al-Islam” yang sudah bercampur baur dengan tradisi (turats) serta tradisi itu sendiri yang tidak ada hubungannya dengan Islam. Pertanyaan derivatifnya adalah, seperti apa yang dimaksud dengan Islam aiutentik itu ?. Di sini lantas orang berdebat yang masing-masing ingin “merebut” apa yang disebut dengan Islam autentik.
Bagi saya, Islam autentik tidak akan pernah kita dapatkan, jika yang dimaksud adalah Islam yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Sifat dasar kita yang “meruang” dan “mewaktu” adalah kenyataan kodrati dan distoris dimana kita tidak mungkin menjadi pemilik Islam autentik. Yang paling realistis—dan karenanya juga historis adalah menerima Islam yang sudah teramu dengan tradisi.
Ini bukan berarti ingin mengakomodasi tradisi secara serampangan ke dalam Islam. Maksudnya, sejauh tradisi itu compatible dengan nilai-nilai universal keislaman, maka menerima tradisi itu bagian dari cara kita berislam juga. Muhammad SAW sebagai pembawa “al-Islam” juga melakukan hal itu. Begitu juga dengan dakwah Wali Songo di pulau Jawa. Yang menjadi persoalan adalah, mampukah kita memilah-milah mana yang disebut dengan tradisi dan mana yang Islam.
Saya berpendapat bahwa Hasan Hanafi adalah pemikir yang kritis tapi tidak obyektif, dalam arti daya kritisnya hanya berfungsi saat temanya adalah pemikiran Islam di masa keemasan.
Tetapi (sebagaimana pemikir Islam yang mengangkat dirinya sebagi kaum Liberal lainnya), daya kritisnya lenyap saat menghadapi pemikiran yang berjudul “Demokrasi, Toleransi, Emansipasi, Pluralisme dsb “
Islam masa lalu adalah perlu dikritisi/kebenarannya relatif, tapi demokrasi-pluralisme adalah mutlak benar (kira-kira begitu kesimpulan pemikiran JIL…)
Saya jadi teringat seorang Doctor dari golongan JIL (namanya tidak perlu disebut yach…) yang memberi nasehat kepada saya untuk tidak mem-berhala-kan pemikiran Islam masa lalu, tetapi mulailah bersifat demokratis, pluralis dsb… saya sepakat dengan dia untuk tidak memberhalakan pemikiran Islam masa lalu tersebut…
Namun beberapa saat kemudian saya jadi tersadar bahwa sang Doctor memang tidak lagi memberhalakan pemikiran Islam masa lalu, tetapi ternyata dia malah memberhalakan pemikiran Demokrasi, Pluralisme dsb…. nggak jauh beda dengan Hasan hanafi…
Terima kasih Tindyo P membebaskan umat dari berhala bernama Demokrasi dan Pluralisme..
——-
Komentar Masuk (2)
(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)