Buku,
09/05/2008

Islam Tanpa Fatwa Majelis Ulama

Oleh Novriantoni

Makanya, Manji tak habis pikir. Bagaimana mungkin umat Islam non-Arab yang 87 % harus terus menerus inferior dan menjadikan diri mereka satelit dari corak Islam-Arab yang 13 % saja dari total populasi muslim dunia? Di Indonesia, ironi itu kini nyata dari sikap Majelis Ulama Indonesia dan banyak kelompok Islam yang begitu peduli terhadap fatwa Saudi dan negara-negara OKI dalam perkara Ahmadiyah.

09/05/2008 11:13 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (53)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 1 dari 3 halaman 1 2 3 > 

nggak ada itu yang namanya Islam yang berkiblat dengan Saudi, Arab, atau negara-negara Arab. Yang benar adalah Islam yang tunduk dengan Al Qur’an. Iya,saya sangat menentang kekerasan dalam Islam. Tapi saya juga masih beranggapan bahwa MUI masih diperlukan. SANGAT SANGAT diperlukan malah… jangan suka semau-maunya lah dalam menanggapi masalah agama. ga takut Allah marah??

#1. Dikirim oleh Ariestiawan  pada  12/05   06:05 AM

Saya setuju dengan pendapatnya bahwa umat Islam harus menggunakan kemampuan nalarnya sendiri untuk menilai hal apa yang cocok dan relevan dengan ajaran Islam untuk dilaksanakan. Sebaiknya pelajari dengan seksama semua hal termasuk sejarah agama Islam dan turunnya Al Qur’an yang secara bertahap dan setiap ayat berkaitan dengan suatu kejadian tertentu. Allah memberikan kita kemampuan untuk berpikir, maka gunakanlah. Jangan hanya bergantung pada ustad apalagi MUI. Menanggapi tulisan Ariestiawan (Bandung) yang bilang ... ga takut Allah marah?—maaf-maaf saja maksudnya Allah siapa ? Allahnya sdr Ariestiawan kah? Karena Allah saya dan mungkin juga Allah Irshad Manji bukanlah Allah yang pemarah.
——-

#2. Dikirim oleh myra herlinda  pada  15/05   05:05 PM

boleh juga tuch,kalo kristen tanpa keuskupan gereja vatikan.jadi sama donk.

#3. Dikirim oleh Moon Child  pada  20/07   08:15 AM

Islam Tanpa Fatwa Majelis Ulama adalah benar 100% dan memang tidak ada dalilnya dalam hujjah Allah, hujjah nabi Muhammad saw. dan hujjah kitab suci-Nya, bahwa Islam wajib dengan fatwa Majelis Ulama.

Yang ada pesan islam sejak nabi saw. sampai hari ini adalah sesuai:
Al Araaf (7) ayat 52,53: Dan sungguh kami telah mendatangkan sebuah Kitab (bertuliskan bahasa Arab yang isinya adalah mengandung wujud Al Quran yang belum mengejewantah wujudnya sesuai Al Waaqi’ah (56) ayat 77,78,79 pada tahun 600, kecuali nabi melukiskannya sebagai Risalah Tuhan/Allah dimanasik haji) kepada mereka yang Kami menjelaskannya dengan ilmu (do’a manusia Thaha (20) ayat 114,115), menjadi petunjuk (ilmu sejak Adam dahulu sampai Adam hari ini sesuai Al Baqarah (2) ayat 30-39, sampai Al A’raaf (7) ayat 27, Thaha (20) ayat 117) dan rahmat (sesuai Al Anbiyaa (21) ayat 107, Al An Aam (6) ayat 16, Hud (11) ayat 66, Al Mu’min (40) ayat 9) bagi kaum yang beriman (kepada hari takwil kebenaran kitab 7:52,53). 
Tiadalah yang mereka tunggu-tunggu kecuali takwilnya (dari sebuah kitab itu). Pada hari datangnya bukti takwil kebenaran kitab itu, orang-orang yang sebelumnya melupakan hari takwil itu berkata: “Sesungguhnya telah datang rasul-rasul Tuhan kami membawa kebenaran (sesuai risalah Tuhan kehendak Allah Al An Aam (6) ayat 124,125), maka adakah bagi kami penolong-penolong (lain sesudah rasul-rasul itu datang semuanya), lalu memberi pertolongan kepada kami, atau kami dikembalikan (kepada titik nol dari pelajaran agama), lalu kami akan beramal cara lain dari pada apa yang telah kami amalkan (sebelum ini, melalui hadits, mazhab, fiqih, ijtihad, sampai ke fatwa ulama)?” Sungguh mereka telah merugikan diri mereka sendiri (dengan fatwa-fatwa Majelis Ulama Indonesia dan sebangsanya yang tidak ada dalilnya, kecuali hari takwil kebenaran kitab). dan telah hilanglah dari mereka apa-apa yang telah mereka ada-adakan (dengan fatwa-fatwa) itu dengan datangnya hari takwil kebenaran kitab.

Wasalam, Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millennium ke-3 masehi.

#4. Dikirim oleh Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal  pada  22/07   05:10 AM

....innaka laa tahdi man akhbabta walakinna Allah yahdi man-yasaa’.....

Memang kalau hati orang sudah dibutakan Allah, tidaklah mungkin seseorang akan membuka hatinya, kecuali Allah SWT saja yang memberi petunjuk siapa yang dikehendakinya.
Jika seseorang tidak yakin itu, artinya hatinya memang a’ma alias buta.  Wallahu a’lam bisawab.

#5. Dikirim oleh akbar  pada  24/07   03:54 AM

Memanglah benar, Majlis Ulama tidak diperlukan sama sekali. Justru Fatwa fatwa itu yang mengembrio kekerasan-kekerasan dan tidak membuat semangat baru dalam dialog. Bubarkan aja MUI.
Wassalam,

#6. Dikirim oleh Hartono Tejabhakti  pada  24/07   04:01 AM

Siapa belum punya buku Irshad Manji, down load aja di www.irshadmanji.com untuk terjemahan bahasa Indonesianya, Gratis koq .

#7. Dikirim oleh Achmad NE  pada  26/07   07:29 AM

Sdr. Moon Child Yth.,
- Kalau kristen tanpa fatwa keuskupan pun sama dengan Islam tanpa fatwa pemuka agama (“ulama”)
- Oleh karena hujjah Bapa, hujjah Yesus dan hujjah Al Kitab perjanjian lama dan perjanjian baru, agar semua manusia menunggu-nunggu datangnya Bapa menurunkan HARI ROH KEBENARAN SELURUHNYA sesuai Yohanes 16:12,13,14,15.
- Jadi pesan kitab suci Yesus Kristus, Isa (Kisah para rasul 1:9-11, An Nisaa (4) ayat 159) dan pesan kitab suci nabi Muhammad saw. (Al A’raaf (7) ayat 52,53), pesannya adalah 100% sama.
- Disini kelihatan orang Islam tidak pernah baca kitab kristen, orang Kristen tidak pernah baca kitab suci Muhammad (sesuai perintah Yunus (10) ayat 94).

Wasalam, Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millennium ke-3 masehi.

#8. Dikirim oleh Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal  pada  30/07   04:16 AM

@ Bpk. Soegana,

Orang Islam kalangan bawah, jelas gak pernah baca Kitab suci nya orang Kristen (kata ulama nanti Berdosa). Tetapi kalau ulama, saya yakin minimal pernah membaca, untuk mencari kelemahan Alkitab.

Orang Kristen kalangan bawah, jelas juga gak pernah baca Alquran (soalnya bahasa arab, orang Islam kalangan bawahpun maksimal cuma bisa baca tapi gak ngerti). Tetapi orang Kristen kalangan bawah gak alergi untuk baca-baca buku Islam, karena para Pendeta/pastor nya gak mengancam dengan DOSA. Dosa baru terjadi ketika orang Kristen meninggal Yesus (meninggalkan ajaran kasihnya).

Trus apa kaitannya (perintah Yunus) supaya orang Kristen supaya membaca Alquran (kitab yang datang belakangan)? Ada kitab apa lagi yang wajib dibaca oleh orang Kristen? apa kira-kira di abad ke-22 akan ada lagi Kitab yang wajib dibaca oleh orang kristen? Orang Kristen (atau yang beragama apa saja) sebaiknya banyak membaca buku untuk menambah pengetahuan dan wawasan.

#9. Dikirim oleh anton  pada  08/08   08:46 PM

keabadian manusia dalam melakukan suatu proses pemikiran amatlah jauh dari apa-apa yan telah gigariskan oleh rasul, namun keberanian orang untuk mengungkapkan hasilnya pada masyarakat luas merupakan karunia yang wajib disukuri

#10. Dikirim oleh solikhuddin shochib  pada  17/08   03:37 PM

MUI bukan berarti tuhan yang dapat menjustifikasi kebenaran, kesesatan, kejahatan atau halal dan haramnya suatu perkara.
proses ijtihad memang perlu, dan harus, tetapi hal itu tidak kemudian untuk dipaksakan kepada publik karena MUI memang bukan lembaga legeslatif yang berhak membuat aturan juridis.
Ijtihad perlu disosialisasikan, tetapi ijtihad juga bukan hal yang kemudian harus dimaknai setengah-setengah.
Bisa jadi, MUI akan mengharamkan suatu produk sosial hanya karena tidak ada pajak (zakat?) yang masuk ke kas MUI.
Suwun

#11. Dikirim oleh Abaz Zahrotien  pada  19/08   11:51 AM

dimana letak islam yang progresif? dimana islam yang universal itu wahai MUI?

#12. Dikirim oleh onal  pada  07/10   07:00 PM

Saya percaya seratus persen bahwa apa yang di pelajari oleh sebagian dari mereka adalah Budaya Arabnya BUKAN Islamnya. Asal yg dari Arab di “sembah-sembah ” sudah jadi fatwa ,maka yg timbul adalah Kekerasan…kekerasan ...dan kekerasan ..karena karena itulah agama turun disana…
Allah memberi contoh dengan menurunkan agama tentu tidak di tempat yg subur makmur hijau royo…tentu untuk sample daerah yg teramat sangat Jahiliyanya.Bukan karena mereka bangsa pilihan Allah…sama sekali bukan ( Azas Keadilan Allah - semua manusia sama derajadnya )..tetapi lebih karena jahiliyahnya.
Ketika Nabi Muhammad meninggal ...jahiliyahnya timbul lagi. Dari 4 Khalifah sesudah nabi yang meninggal normal hanya Abubakar sedang 3 yg lain mati dibunuh.
Ironisnya di Indonesia Islamisasi = budaya dan bahasa harus berbau Arab. Ini sudah pada tarap penjajahan budaya. Asal orang dari / keturunan Arab di ikuti sampai mati.Padahal yg ikuti budayanya yang suka Kekerasan…keras kepala dan bahlul sama prulalitas. Padahal Allah menciptakan dunia sebagai satu kesatuan yg utuh dari kumpulan yg berbeda.

#13. Dikirim oleh Basuki S  pada  11/10   04:43 PM

menurut saya, kita harus mengkaji islam berdasarkan al-quran dan alhadist. kita juga harus menggunakan pendapat para ulama. al-quran diturunkan dalam bahasa Arab, jadi untuk mengkaji isi Al-Quran kita harus menguasai dulu bahasa arab agar tidah terjadi salah penafsiran. kalau memang yang difatwakan oleh MUI itu benar-benar sesuai dengan Al-Quran dan Hadist, kita harus bisa menerimanya. kalau memang salah, tidak perlu diikuti. masalah ahmadiyah yang nyata-nyata melanggar islam, kok di bela-bela terus. kalau memang syahadatnya sudah beda dengan islam pada umumnya, berarti dia telah keluar dari islam.lebih baik ahmadiyah buat agama baru saja. jangan bawa-bawa nama islam

#14. Dikirim oleh fadlin  pada  17/10   03:43 AM

islam memang tidak harus selalu identik dengan arab. tetapi sebagai agama yang lahir di arab sedikit banyak pasti akan dipengaruhi oleh budaya arab…tapi,,,arab yang tidak bertentangngan dengan hukum dasar islam, sebagai mana islam juga berasimilasi dengan budaya non arab yang tidak bertentangan dengan prinsip2 dasar islam…hakikatnya islamlah yang menjaga budaya arab yang positif…islam dngan Alqurannya menjaga struktur bahasa arab bisa menjadi bahasa ilmu pengetahuan dan bertahan hingga sampai saat ini, bahkan bahasa arab yang dilestarikan islam ikut menmbantu kelahiran kembali tulisan dan strukutr bahasa yahudi yang ada sekarang ini…jadi jangan alergi dengan arab…seperti juga jangan alergi dengan budaya-budaya lain….selama memang tidak bertentangan dengan hukum dan prinsip2 dasar islam,,,

#15. Dikirim oleh masdar  pada  18/10   06:22 PM

MUI.saya kira sudah salah kaprah sekarang ini,apa yang dilakukan MUI,sekarang ini bukan mengacu kepada hukum yang berlaku dimui,akan tetapi mengacu kepada timur tengah,apa yang baik menurut timur tengah baik pula menurut MUI.
seharusnya Mui sadar bahwa ketika menerapkan hukum haruslah melihat beberapa sisi,salah satu diantaranya adalah relitas sosial,ini yang tidak dipakai oleh MUI.
MUI dengan seenaknya saja mengeluarkan prodak hukum dengan sebutan Fatwa,salah sedikit Fatwa.
apakah MUI tidak sadar ketika Fatwa implikasinya di masarakat?,cobalah mui berpikir dengan kultur budaya indonesia,saya khawatir,jangan-jangan ada real yang masuk kedalam kantong MUI.ox

#16. Dikirim oleh ardani  pada  30/10   05:27 PM

MUI itu asalnya adalah alat untuk melegitimasi kekuasaan Suharto. Itulah tujuannya didirikannya MUI oleh Suharto yaitu untuk mengorganisir kebulatan tekat organisasi-organisasi Islam agar dilayar kaca tampak seolah-olah ramai umat Islam yang mendukung Suharto. Kemudian setelah Suharto jatuh tetap ingin menjadi nomor satu dengan sifat Otoriternya seperti Suharto. Stelah “pohon” Suharto roboh beramai-ramai mereka lompat ke “pohon” lain mencari kehidupan / penghasilan baru. Ini apa namanya/istilahnya yang pantas bagi MUI.

#17. Dikirim oleh Sri Hadijoyo  pada  29/11   08:00 AM

Saya pikir kewajiban muslim sekarang adalah mencerdaskan bangsa. Bukan lagi menyebar luaskan agama. Besarnya penganut Islam bukan jaminan sebuah bangsa akan damai, adil, dan makmur atau masyarakat madhani.

Kecerdasan, kedewasaan berfikir, keterbukaan pola fikir, moralitas, adalah modal utama untuk terciptanya cita-cita bangsa untuk mewujudkan segala kebaikan bagi bangsanya.

Terus berjuang!!!
Insya Allah kita ada di jalan yang benar

#18. Dikirim oleh roni wibowo  pada  02/12   02:00 AM

sebenarnya, saya pikir tidak ada islam arab, mesir, indonesia, atau islam amerika. islam adalah agama rahmatallil’Alamin!
jadi, memang hukum harus menyesuaikan dengan kondisi sosio-kultural yang melingkupinya. kalu seandainya didalam MUI telah masuk adanya kepentingan golongan atau politik praktis, maka faTWANYA TIDAK DAPAT dipercaya lagi! sebaiknya kita jangan gegabah, harus meneliti dulu sebenarnya ada apa dibalik MUI? sehingga seringkali mengeluarkan fatwa-fatwa kontroversi. dan akhir-akhir ini, rasanya MUI telah dikuasai oleh kaum fundamentalisme yang tidak berakal!!! bagaimana kalau rokok diharamkan(walaupun saya tidaK mrokok!)?berapa karyawan yang harus diPHK?,berapa banyak pedagang dan pengusaha yang kehilangan pekerjaanya?kepada perusahaan mana pemerintah menarik pajak yang besar untuk pemasukan???

#19. Dikirim oleh sa'dulloh al ashfy  pada  05/12   09:35 AM

Indonesia bukan bagian dr propinsi arab saudi so jangan paksakan kebudayaan arab disini….

#20. Dikirim oleh herdi  pada  11/12   02:39 PM
Halaman 1 dari 3 halaman 1 2 3 > 

Tulis Komentar

Nama:

Surat-e:

Lokasi:

Situs:

Ingat data pribadi saya

Ingin dikirim setiap umpan balik komentar yang masuk?