Islamisasi Ruang Publik
Oleh Ulil Abshar-Abdalla
Saat ini, memakai jilbab bukan lagi sekedar tanda kesalehan agama, tetapi juga sebuah mode. Di mall-mall yang mewah di Jakarta, kita sudah tak asing lagi dengan pemandangan perempuan berjilbab yang sangat “fashionable”. Bahkan berjilbab telah berbaur dengan gaya hidup kelas menengah kota yang lain, seperti nongkrong di Starbucks atau bahkan di tempat karaoke keluarga seperti Inul Vista, misalnya. Pemandangan perempuan berjilbab yang bekerja di sektor profesional yang berkantor di Jalan Sudirman atau Thamrin, juga sudah menjadi santapan kita sehari-hari.
Komentar
yang dimaksud pluralis tidak harus berlawanan itu apa ya?
Islam bukan Hanya berparade kerudung / jilbab sekalipun itu sangatlah baik namiun alangkah indah nya bila Ada pendidikan yang Leibih mendalam yang mengajarkan cara pandang Islam ala prulaism, tks
Mas Ulil…
Saya setuju pendapat anda bhw 2 hal tsb (terbuka memakai simbol dan bersikap intoleran) tidak ada/belum tentu berhubungan, sama dgn hubungannya dg tingginya korupsi dan kejahatan lainnya yg dilakukan oleh umat muslim di Indonesia.
Mudah2an para ustadz/ulama dan pemuka agama lain dapat lebih berperan membina umatnyaa..
dulu sebel liat jilbab
sekarang jilbab fashionable apalagi yang makainya cantik…..menggairahkan,,,, asal jangan ditutup mukanya kaya itu yang perempuan korupsi, apalagi si istri teroris.
wkwkwk
seumur hidup saya, baru kali ini saya setuju dengan pandangan JIL ulil, yang lainnya adaaaaaaaaaaaa ....lalalalalalal.
Ulil : “Tentu saja ada sejumlah ekses yang muncul dari gejala kian populernya jilbab ini. Seraya memberinya apresiasi sebagai bagian dari cara umat Islam untuk mengekspresikan dirinya di ruang publik modern yang cenderung sekular, jilbab juga bisa menandai suatu sikap keagamaan tertentu…dst.”
Geli & prihatin dengan cara berfikir Bung Ulil yang semakin kerdil. Sekelumit tulisan Anda tak lagi tajam dan tak menggelitik fikiran—paling tidak, Saya tidak mengatakan tidak menarik. Tak banyak yang mampu Anda tuangkan dalam memelintir kecenderungan berjilbab dikalangan masyarakat.
Prolog tulisan “Islamisasi Ruang Publik” tak lagi renyah untuk dibaca, malah semakin hambar. Perlu pencerahan agar lebih berbobot, paling tidak jangan terlalu transparan atau mudah terbaca arahnya mau kemana. Saya yakin, kalau bung Ulil membaca komentar Saya, pasti akan tersenyum. Salam dari Saya Bung…
Memakai pakaian yang seperti itu sebenarnya sangat baik. Apa lagi jika dibandingkan dengan yang terbuka banget. Tapi, seharusnya jangan berhenti hanya sampai pakaian saja. Coba masuk kantor pajak. Hampir 100% wanitanya pakai pakaian muslim dan prianya tampak sangat religius. Dalam kenyataannya ? Silahkan jawab sendiri.
Argumentasi ulil yg mengaitkan kesadaran masyarakat yg memakai jilbab dg meningkatnya intoleransi beragama, sy kurang setuju.
Tapi kenapa pernyataan ulil beda dg syaukanie tentang jilbab? Kalo ulil mengapresiasi jilbab sedangkan syaukanie menggoblok-goblokkan org yg pake jilbab?
bung ulil..
Mohon lebih perjelas lagi makna berjilbab, disini terlihat hanya mencermati konteks fashion jauh dari arti dan makna jilbab.
trmksh
Jika saya lihat wanita2 yang bertudung (bukan jilbab) dihadapan konsert DAHSYAT atau IN BOOX atau lainnya, seolah-olah lakonan pehak tertentu (Bukan wanita muslimah) tetapi di dandani demikian agar kelihatan bahwa Islam menyetujui hiburan mungkar itu…..Dalam hujung QS As-Syu’ara” dijelaskan bahwa Seniman2 itu tempat turunnya setan….Dan di dalam BIBLE tertulis bahwa, “Jangan sebut nama Tuhanmu sembarangan karena ia dosa”. BIBLE MATIUS pula disebut; “Jika berdoa jangan seperti munafik”.
Tetapi justru itulah yang lakukan oleh golongan artis selebriti yang berseru; “TUUUU HAAAANnn!!!! Tolonglah,.....Tuhan jangan biarkan aku jatuh cinta kepadanya, jika tidak, pasti ada yang terluka”......“Tuhan berilah aku hidup sekali laagi, kucinta dia” Dan ada pelakon kafir di sinetron yang membaca ayat kursi dalam keadaan porno di tengah laut, banyak lagi yang persenda Islam dan Allah…....Pengacara pula, lazim dengan ungkapam Masya-Allah, Ya awloh, Amin, ...soalnya; Beragamakah mereka itu?.
Tetapi itulah harapan JIL / Ulil kepada bangsa Indonesia-yaitu bebas se bebas-bebasnya.
Komentar Masuk (10)
(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)