Wawancara,
06/10/2003

Syafi’i Anwar, MA: Isu Partai Islam Terlalu Normatif

Oleh Redaksi

Dalam waktu kurang dari setahun ini, sejatinya partai-partai politik yang akan berkompetisi memperebutkan konstituen dalam Pemilu 2004 ini sudah selesai melakukan konsolidasi. Tapi, belakangan beberapa partai Islam ataupun partai yang berbasis konstituen kalangan Islam, justru mengalami fragmentasi yang mengkhawatirkan. Mengapa partai-partai Islam yang berisi orang-orang yang sering memekikkan pentingnya persatuan umat itu sangat rentan terhadap perpecahan? Faktor-faktor apa yang ikut menentukan kawin-cerainya kalangan politisi di partai-partai Islam?

06/10/2003 01:59 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (4)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 1 dari 1 halaman

Menurut saya Syafi’i Anwar terlalu naif dengan mengangkat isu PKB didalamnya, toh ternyata PKB itu tidak lebih dari partai primodalisme dan dihuni oleh kaum-kaum feodal yang notabene mengadalkan keturunan. Tengok aja tuh PKB di Jatim, untung ada Gus Dur, anaknya Ulama terkenal di sana, kalo dia meninggal saya rasa bakalan sepi tuh PKB, udah pengurusnya saling berantem lagi.

Terima kasih.

#1. Dikirim oleh ahmad  pada  07/10   02:10 AM

Seharusnya para politikus Islam sadar bahwa semenjak Pemilihan Umum yang pertama ditahun 1955, partai-partai politik Islam tidak pernah menang.

Pada masa Orba, Soeharto telah mencoba mempersatukan partai-partai Islam dalam bendera Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Tapi, itupun tak pernah mencapai kemenangan, apalagi menjadi single majority. Bersatu saja tidak bisa mencapai kemenangan, apalagi tidak bersatu alias terpecah belah seperti sekarang ini.

Mungkin para Politikus Islam terpengaruh akan statemen bahwa Indonesia mayoritas beragama Islam (kurang lebih 80% dari seluruh penduduk). Ternyata, meski penduduknya mengaku Islam, pemahaman Islam belum menjadi daya tarik mereka untuk serta merta memilih partai Islam. Untuk itu, para politikus Islam perlu introspeksi dan berkaca diri, apakah cara-cara berpolitik dengan membuat partai partai dan berusaha meraih masa sebanyak-banyaknya untuk mendapatkan kekuasaan adalah cara yang baik dan benar?

Membuat organisasi memang perlu untuk menggalang suatu koordinasi agar yang diindoktrinasikan bisa mengarah kepada sasaran yang semestinya. Selebihnya adalah membangun suatu pemahaman Islam yang baik dan benar, dan membuang jauh-jauh pemahaman yang menyimpang dari Alqur’an dan Sunnah. Selanjutnya menerapkan pemahaman-pemahaman tersebut, beserta penjabarannya dalam kehidupan sehari hari. Masyarakat Islam bukan dibentuk dari atas (top down) dengan berpolitik dan merebut kekuasaan. Masyarakat Islam akan terbentuk dengan sendirinya (bottom up) apabila masyarakatnya secara sadar mau melaksanakan amanah Allah. Sebagaimana janji Allah yang akan memberi kekuasaan kepada orang orang yang berIman dan beramal saleh.

Sekarang ini banyak Partai Islam yang telah menghimpun cukup banyak masa, tapi tidak bisa berbuat dan menghasilkan apa-apa yang signifikan karena konsep dan pemahaman Islam yang salah.

Mari kita pelajari lagi Alqur’an sebagai suatu ilmu. Bukankah science is power yang bisa merubah segalanya?

#2. Dikirim oleh Abu Cholid  pada  08/10   07:10 AM

Asssalamulaikum Wr. Wb.,

Setelah membaca kongko-kongko Bung Ulil dan Pak Syafii Anwar, bulu roma saya berdiri, jantung saya bergidik: “Qou vadis Partai Islam Indonesia”. Dengan kata lain, partai-partai Islam dan umat mayoritas Indonesia tsb, hanya “KUDA TUNGGANGAN”. Nauzubillah min Zaliiq… Astaghhfirullahh.

Namun ada pengecualian di sini tentang PBB Yusril Ihza Mahendra. Menurut saya, bapak yang satu ini komentarnya tentang HAM baru-baru ini di Belanda “boleh jugalah”. Hanya beliau dari partai Islam yang berani mengungkapkan betapa jeleknya HAM di Belanda yang notabene selama ini selalu memukul Indonesia dnegan HAM. Wah, senjata makan tuan, nih brur! Saya jadi ingat Pak Mahatir Mohammad, PM Malaysia yang mau mundur akhir bulan Oktober ini.

Apakah ini tanda-tanda bahwa Pak Yusril akan menjadi pengganti figur PM Malaysia tsb di dunia internasional dengan mengecam Barat dan HAM-nya?  Wallalhu a’lam.

Dan apa saja usaha dan yang sudah diusahakan pemimpin-pemimpin Islam yang sering memekikkan pentingnya persatuan ummat? Kalau hanya tanya sana tanya sini, lalu dimuat di Islamlib dan memancing “hard talk” ya… podo wae, Bung.

Mohon Maaf sepuluh jari kalau surat saya tidak berkenan, tapi kalau masih mau memakai kata liberal, ya harus bisa menerima hal-hal negatif seperti ini.

Wassalammualaikum Wr. Wb.

M. Nasir

#3. Dikirim oleh muhammad Nasir  pada  10/10   12:10 AM

Saya setuju dengan pendapat, Mas Syafi’i Anwar yang mengatakan bahwa faktor dominan penyebab timbulnya perpecahan pada partai-partai Islam adalah karena faktor style of leadership. Para pemimpin partai yang ada sekarang ini jarang melakukan muhasabah binnafsih, mereka cenderung sibuk menyalahkan orang lain. Padahal mereka adalah para pemimpin umat, ke mana umat akan dibawa tergantung pada mereka. Sebagai saudara seiman, tanpa maksud menggurui, saya sebagai rakyat biasa hanya mengingatkan mari kita bangun kebersamaan, apapun partai anda jangan saling menghujat dan jangan kita mengeksploitasi Islam untuk kepentingan pribadi.
——-

#4. Dikirim oleh mardias gufron  pada  10/10   11:10 AM
Halaman 1 dari 1 halaman

Tulis Komentar

Nama:

Surat-e:

Lokasi:

Situs:

Ingat data pribadi saya

Ingin dikirim setiap umpan balik komentar yang masuk?