Wawancara,
09/04/2006

KH Abdurrahman Wahid Jangan Bikin Aturan Berdasarkan Islam Saja!

Oleh Redaksi

Pola pandang dan sikap yang terus menghargai perbedaan dalam kerangka keragaman etnis, budaya, dan agama di Indonesia, masih
tetap manjadi ciri khas KH. Abdurrahman Wahid, mantan
orang nomor satu di negeri ini. Kyai nyentrik yang akrab disapa
Gus Dur itu, kembali mengingatkan pentingnya menolak
penyeragaman cara pandang, sikap, maupun perilaku dalam
beragama dan bernegara di negeri ini.

09/04/2006 23:00 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (15)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 1 dari 1 halaman

kalo bikin aturan tidak dari Islam, terus dari mana lagi? kalo boleh tahu, Gus Dur agamanya Islam saja atau juga yang selain Islam?

#1. Dikirim oleh Farid Ma'ruf  pada  30/04   03:05 PM

SEBELUM NYAWA LEPAS DARI BADANMU…......... BERTOBATLAH…..............................

AZAB ALLAH SANGAT PEDIH….. WASSALAM

#2. Dikirim oleh joko susanto  pada  01/05   02:06 PM

setiap perkataan akan diminta pertanggung-jawabannya di akhirat.

berhati-hatilah dengan lisan.

#3. Dikirim oleh hamba 4JJ1  pada  02/05   05:05 PM

Tanggapan saya bahwa moral adalah urusan diri. Sedangkan untuk ulusan berpakain dan etika pun ada yang bisa digantungkang pada agama atau bahkan dalam norma-norma adat istiadat. Sehingga proses aktualisasi moral dalam berpakainpun merupakan pilihan hidup bebas setiap manusia, giliran mana dia ingin tampil seksi berarti dia harus menerima konsekuensi yang akan terjadi dengan apa yang dipakai semisal, dicolak-celek bahkan lebih jauh bisa diperkosa dan ini tidak bisa dihindari karena secara tidak langsung sudah memberikan undangan kepada orang lain untuk melihat, menatap dan bahkan ada yang dengan sengaja ingin memamerkan apa yang dia punya dengan disebut sebagai tubuh yang indah dan seksi. Sehingga mata siapa sesuatu rerbuka “seksi” pasti melihat kesitu. Hati biarlah memilih untuk melihat lebih lama atau memalingkan penglihatannya, tetapi apa iya…...!

#4. Dikirim oleh Wahyudy Karaeng  pada  03/05   03:06 PM

Astaghfirullahhaladziem… Gus, apa maksudnya bikin statement seperti itu, bahwa ukuran cabul berubah sesuai dengan perkembangan jaman? Kita tahu bahwa Anda adalah seorang Kyai (yang harusnya mengemban tugas jangan sampai moral makin bobrok!!!). Gimana sekian puluh tahun lagi kondisi negara kita kalau tidak ada yang menyeru kepada kebaikan? Harusnya kita bersyukur dan mendukung adanya gerakan ke arah perbaikan moral. Itulah kenapa AlQuran diturunkan. Baca baik-baik lagi dong Qurannya. Mudah-mudahan dibukakan pintu hidayah kepada Gus Dur, istrinya, dan JIL.

Wassalam

Agus Santoso

#5. Dikirim oleh agus santoso  pada  03/05   05:05 PM

Memang dalam membuat aturan selama ini jg tdk berdasar Islam aja. Kl itu berlaku Indonesia sdh sejak dl disebut negara Islam spt halnya Arab Saudi. Kok aneh baru dibahas sekarang?

#6. Dikirim oleh Thiamho  pada  03/05   08:05 PM

Gusdur: Padahal, menurut saya, Islam itu berbeda dengan Arab. Tidak setiap yang Arab itu mesti Islam

Saya: Benar…dan Islam diturunkan di tanah arab, tapi islam tidak hanya untuk orang/tanah arab

Gusdur: kita tidak butuh negara Islam untuk menerapkan syariat Islam. Biar masyarakat yang melaksanakan (ajaran Islam, Red), bukan karena diatur oleh negara.

Saya: Benar…tapi untuk melaksanakan ajaran dalam sebuah lingkungan sosial (keluarga, rt, rw, s/d negara) perlu ada aturan

Gusdur: Kita ini bukan negara Islam, jadi jangan bikin aturan-aturan yang berdasarkan pada agama Islam saja.

Saya: Benar bukan negara islam….tapi selama aturan tersebut di buat untuk kebaikan (tidak berseberangan dg agama lainnya) saya rasa sah sah saja. 

Gusdur:Sekarang standar moralitas sudah berubah. Memakai rok pendek bukan cabul lagi. Karena itu, kalau kita mau menerapkan suatu ukuran atau standar untuk semua, itu sudah pemaksaan. Sikap ini harus ditolak. Sebab, ukuran satu pihak bisa tidak cocok untuk pihak lain.

Saya: standar moralitas yang terkandung di dalam Alquran yang diturunkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW tidak pernah berubah..

#7. Dikirim oleh yulianti asuroh  pada  03/05   09:06 PM

Dari dulu sampai sekarang beliau tak pernah berubah, itu yang membuat kita salut. Betul sekali Gus apa yang anda utarakan, apa bila RUU APP atau Perda pelacuran yang sedang marak didengungkan dibeberapa daerah, saya khawatir tentang praktik sweping yang membabi buta dengan tanpa perikemanusiaan. Dan hal ini telah terjadi.

Beberapa hari yang lalu disebuah stasiun tv kami menyaksikan penggarukan PSK oleh polisi Pamong Praja disebuah kota di Jawa Barat. Semua PSK dipaksa masuk ke dalam sebuah truk, ada seorang yang ogah dibawa, ia menjerit jerit dan meronta tapi sia sia saja ia dipaksa dan diseret (sambil maaf diraba pantatnya).

Ahirnya wanita tadi jatuh tersungkur diatas bak truk disaksikan beberapa temannya yang melihat dengan muka tertunduk penuh ketakutan. Saya sangat merinding melihat tayangan tadi, ’’Perempuan-perempuan itu juga manusia Bung! Sama seperti anda.’ ’Dalam agama kami memukul kepala binatang saja dilarang, apalagi melakukan perbuatan yang tidak manusiawi seperti itu.

Semoga pihak yang berwenang membuat undang-undang juga memikirkan hal hal yang terjadi dilapangan.

#8. Dikirim oleh Ahmad  pada  06/05   08:06 PM

saya seorang yang pro akan RUU APP. Sangat jelas bagi saya makna porno. janganlah salah satu kebudayaan di indonesia sebagai alat utk menolaknya, contoh pemakaian koteka. jgn non muslim dijadikan sarana utk menolaknya. Itu semua omong kosong, dan alasan yg tidak bermutu. Untuk apa adanya muslim di bumi ini kalau bukan untuk RAHMATTAN LIL ALAMIN.

#9. Dikirim oleh secret  pada  07/05   07:06 PM

Fenomena yang diangkat ini sebenarnya menurut saya salah satu efek dari EUFORIA DEMOKRASI yang kita alami sejak turunnya Orba, dimana rakyat kita sendiri belum siap untuk menjalankan demokrasi itu sendiri, yang akibatnya terjadinya “penindasan” oleh kaum mayoritas terhadap kaum minoritas, tidak hanya dalam hal agama, tapi juga dalam kasus suku (cth: kerusuhan Dayak-Madura), Golongan (cth: buruh-pengusaha), bahkan lingkungan geografis (cth: tawuran antar kampung). hal ini juga diperkuat oleh tidak tegasnya (atau tidak peduli ya??) aparat pemerintah dalam menegakkan aturan yang sebenarnya sudah ada dari dulu untuk mencegah konflik-konflik ini untuk terjadi. Perbedaan ada agar kita dapat saling melengkapi, untuk membuat kehidupan kita semakin semarak, untuk memperluas pengetahuan kita tentang diri sendiri dan sesama. Coba bayangkan kalau masyarakat kita seragam semua, baik dari agama, suku, dan golongan, alangkah membosankannya hidup kita. Oleh karena itu pemerintah, yang seharusnya menjadi perwakilan dari rakyatnya, memperhatikan perbedaan-perbedaan ini secara seksama, khususnya jika mereka hendak membuat kebijakan-kebijakan yang berkenaan langsung dengan kehidupan sehari-hari masyarakat (cth: RUU APP). Jangan mementingkan kepentingan satu golongan saja, tapi akomodasikanlah kepentingan semua pihak. Kalau memang tidak mampu, jangan ngotot…mbok ya sekali-kali kalau mau membuat RUU konsultasi dulu dari ahli-ahli/akademisi dari ilmu yang bersangkutan, sehingga produk perundangan yang dihasilkan tidak akan mencerminkan sesuatu yang dihasilkan dari persepsi pribadi, kepentingan suatu golongan, dan asumsi asal-asalan saja, yang pada akhirnya berpotensi untuk menciptakan konflik vertikal dan horizontal. apakah kita mau kasus seperti TimTim terulang lagi..??

#10. Dikirim oleh Budi Rooseno  pada  08/05   07:05 AM

Konsistensi Gus Dur untuk selalu menghindari Arabisasi dan terus membela pluralisme di Indonesia menurut saya patut diacungi jempol. Lebih jauh, saya kira wacana pluralisme yang selalu dibela Gus Dur adalah untuk kepentingan bersama kita sebagai rakyat Indonesia yang multi kultur dan agama. Gus Dur menyadari bahwa UU ataupun aturan-aturan yang dirancang dengan berbasis pada syariat agama tertentu potensial menimbulkan disintegrasi.

Anda yang kontra Gus Dur, apakah sudah berpikir tentang kontribusi tuntutan Anda terhadap kesatuan bangsa? Apakah Anda sudah berpikir bahwa Anda hidup dalam negara plural yang menuntut sikap dewasa dan tidak memaksakan pada orang lain apa yang menurut Anda benar?

Dan untuk saudara Agus Santoso di Pancoran, Jakarta, sebelum Anda menyuruh Gus Dur untuk “baca baik-baik lagi dong Qurannya”, ada baiknya bahwa Anda ingat bahwa penafsiran kita terhadap Quran bisa saja berbeda-beda. Anda tidak berhak untuk mengklaim bahwa tafsir Anda yang benar dan tafsir Gus Dur salah. Lalu ketika Anda “berdoa” agar Gus Dur mendapat hidayah, apa definisi Anda tentang “hidayah” itu sendiri? Apakah yang membuat Anda yakin Gus Dur belum mendapatkannya?  Janganlah mencoba menjadi Tuhan, yang dapat menentukan secara mutlak mana yang benar dan mana yang salah.

Untuk Gus Dur dan JIL, maju terus pluralisme Islam Indonesia. Mari kita cari dan temukan bentuk Islam kita sendiri, yang bukan Arab bukan pula Barat. Wallahualam.

#11. Dikirim oleh Andina Dian  pada  08/05   05:05 PM

Menurut saya Islam tidak sama dengan Arab. Islam adalah Agama Yang ISLAMI bukan ARABY. ya kebetulan saja Nabi Muhammad Lahir di negara arab, sehingga secara sendirinya Islam berkembang dengan budaya arab tentunya. Seandainya saja dulu Nabi Muhammad Lahir di Indonesia, di Jawa Misalnya. Wah, sudah pasti Nabi kita pake Blankon dan berpakaian ala KETHOPRAK (pakaian adat jawa) donk…he..he..he.. Itulah Islam, berkembang sesuai dengan budaya setempat. Kalo tidak salah ada firman yang kurang lebih isinya tentang kebebasan kita mengatur diri kita karena kita sendirilah yang lebih mengetahuinya. jadi…Biarkan budaya arab berkembang disana, kita ya berkembang sesuai dengan budaya kita. Jangan dipaksakan orang Eskimo dipaksa untuk memakai pakaian orang arab, bisa mati kaku mereka, he..he… Nabi saja tidak pernah memaksakan kehendaknya kepada umatnya, apalagi kita yang terlalu terbuai di dalam kotak. Cobalah kita berfikir Out of the box, seperti yang digagas Gus Dur selama ini. Hidup Gus,... aku mendukungmu!
——-

#12. Dikirim oleh Aminudin  pada  20/01   10:02 PM

- Gus Dur punyai pemikiran yang baik, bagus, toleran terhadap pihak lain dan sebaiknya perlu dipahami, diikuti, diduplikasi oleh yang lain sekalipun tidak perlu persis sama dan wajib kita kritisi karena beliaupun manusia yang bisa saja salah.
- Gus Dur berpikiran dalam konteks Ke-Indonesiaan, inilah yang terpenting bagi kita agar tidak lupa akan sejarah bahwa Islam masuk ke tanah air menyebar ke seluruh pelosok adalah ATAS IJIN RESTU dari para penguasa/Raja yang notabene TIDAK BERAGAMA Islam.
- Soal tafsir ayat Al Qur’an, ada saya pernah baca dalam suatu hadist bahwa satu ayat Al Qur’an bisa digali menjadi sebanyak 7 (tujuh) tafsir sehingga dapat dipahami apabila multi tafsir.

Jadi pendapat saya alangkah lebih baik apabila kita semua tidak merasa paling benar dalam hal apapun termasuk aliran kepercayaan,agama, keyakinan sehingga tercegah dari segala tindakan yang merusak.
Yang kedua, alangkah baiknya apabila kita tidak antipati terhadap paham, keyakinan, kepercayaan apapun di bumi nusantara ini, sehingga kita selalu cek ricek-menelusuri kebenaran maksudnya.
Yang saya yakini bahwa Allah-Tuhan apapun sebutannya membuat banyak-berbagai jalan agar umat manusia mengenal dan sampai padaNYA.
Dan hal maha penting adalah (1)kita sedang di adu domba oleh pihak lain agar kita bangkrut di segala bidang;(2)ada sekelompok manusia yang terorganisir secara rapi, cerdas otak kirinya, menguasai perbankan dan sudah ada sejak dahulu bahkan otak pembunuhan dari tragedi pembunuhan para Presiden USA,Hitler,Soekarno; mereka tidak beragama apapun (Yahudi sekalipun), mereka ingin menguasai dunia dg segala cara perang dunia sekalipun bahkan bisa berbaju agama; mereka sudah menyebar!!!
wassalam

#13. Dikirim oleh dino cahyadi  pada  04/08   07:18 AM

sebenarnya yang harus kita pahami bersama bahwa bukan aturan pada agama masyarakat Arab yang mau kita kemukakan dalam penataan moral anak bangsa kita, tetapi budaya Islam yang universal itulah yang melandasinya. saya yakin, tidak ada agama apapun di indonesia ini yang meng"amin"kan cara berpakaian yang menurut standar cara pandang umat islam dan budaya ketimuran adalah PORNO. kita sama2 tahu bahwa hukum islam itu universal, siapapun dia, berasal dari kalangan apapun dia pasti meyakini bahwa hukum islam tersebut SANGAT pantas, namun apabila dipandang dari kacamata objektif tanpa didasari tendensius apapun. sebagai contoh, saya pernah bertanya kepada teman saya yang beragama katholik tentang pendapat dia mengenai hukuman potong tangan terhadap pencuri. beliau menyatakan sangat setuju. kenapa teman tersebut setuju? karena dia bukan PENCURI!!! contoh lainnya, saya pernah bertandang kesebuah sekretariat LSM dari luar negeri yang dijalankan oleh teman2 mantan aktivis ‘98. disalah satu dinding disekretariat tersebut sy melihat poster tentang penolakan HUKUMAN MATI karena menurut mereka hal tsb melanggar HAK ASASI si terhukum. saya bertanya kepada ketua LSM tersebut tentang apa yang dilakukannya bila istri dan anaknya yang masih bayi dibunuh seseorang. jawabannya adalah dia akan MEMBUNUH orang tersebut. sungguh aneh, sy jawab, disatu sisi anda melarang hukuman mati, namun disisi lain anda malah menjatuhkan hukuman mati. itu munafik tegas saya. dan sy ingatkan bhw segala sesuatu yang tlh digariskan ALLAH SWT dlm Al-quran adalah MUTLAK, tidak usah diperdebatkan lagi, karena sudah pasti kebenarannya. bukan hanya untuk umat islam, untuk siapapun dia, komunis sekalipun. sepulangnya sy, ybs langsung mencopot poster2 tersebut.
kembali kepermasalahan sudut pandang trend perubahan yg “moderen” dalam berbusana. saya bertanya kepembaca, andai ibu, istri, kakak, adik atau anak perempuan anda perpakaian “minim” dan berjalan ditengah keramaian apakah anda suka atau meng"amin"kannya…? atau apakah anda setuju kalau saya jadikan foto ibu, istri, kakak, adik atau anak perempuan anda menjadi (maaf) fantasi sexual saya?
jawabannya ada pada anda…!!!
ingatlah bahwa hukum islam itu universal. seperti juga sy sependapat dengan hukum2 sosial di kitab2 agama lain, injil misalnya.

#14. Dikirim oleh Bambang Widianto  pada  07/10   11:38 AM

Pemahaman GUSDUR “Jangan Bikin Aturan Berdasarkan Islam Saja” adalah 100% benar menurut Al Baqarah (2) ayat 148, yaitu Aturan Syariat Kiamat, menurut Al Jaatsyiah 9$5) ayat 16,17,18.

Wasalam, Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millennium ke-3 masehi.

#15. Dikirim oleh Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal  pada  13/10   10:38 AM
Halaman 1 dari 1 halaman

Tulis Komentar

Nama:

Surat-e:

Lokasi:

Situs:

Ingat data pribadi saya

Ingin dikirim setiap umpan balik komentar yang masuk?