Diskusi
21/10/2008

Jejak Liberal dan Fundamentalis dalam Pemikiran Ibnu Taimiyyah

Oleh Saidiman

Musdah Mulia melihat bahwa ada yang ganjil pada masalah ini. Ummat Islam demikian mudah menerima penolakan terhadap konsep kepemimpinan Quraisy, di mana sebelumnya dianggap sebagai sesuatu yang taken for granted. Tidak ada persoalan yang benar-benar keras ketika doktrin ini dihapus. Sementara konsep-konsep mengenai ketimpangan gender sangat susah untuk dicabut, misalnya hadis “lan yufliha qaumun wallû amra’ahum imra’atan” (tidak akan beruntung suatu kaum yang menyerahkan urusannya kepada perempuan).

21/10/2008 06:56 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (29)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 1 dari 2 halaman 1 2 >

Kesimpulannya adalah bahwa Islam harus menjadi roh negara. Islam harus aktif dalam politik dan mewarnai etika berpolitik. Jangan ada pihak yang menocba memisahkan Islam dengan negara, hanya karena ditakuti-takuti bahwa Islam adalam agama yang keras dan tidak toleran. Islam harus muncul sebagai agama yang damai, agama ilmu pengetahuan, agama sosial politik. Islam bisa tampil damai, tapi kalau ada pihak yang secara politis ingin memisahkan Islam dari negara, maka harus dilawan. Titipan ini yang ingin diserahkan kepada siapa saja yang masih memikirkan Islam dan masih cinta pada Islam dan sangat yakin Islam adalah penyelesaian dari berbagai kerumitan ekonomi dunia saat ini. Mampukah? Yang dibutuhkan adalah intelektual muslim. Tapi intelektual non-muslim, bahkan imtelektual yang beragama Islam tapi anti politik Islam harus tetap ada sebagai sparing patner. Berdikusilah hai hamba Allah, tapi waspadalah, dunia bukan tempat yang damai. Musuh selalu menanti kelengahanmu.

#1. Dikirim oleh Ali Salim  pada  25/10   05:42 PM

“lan yufliha qaumun wallû amra’ahum imra’atan” itu yg ngemeng nabi SAW. kamu manut atau tidak, ya itulah kamu, sammi’na wa to’na, karena rasulullah ga mungkin mau ngejerumusin umatnya.

#2. Dikirim oleh dianrapian  pada  27/10   03:38 PM

Kita hanya minta agar Islam harus muncul sebagai agama yang damai, agama ilmu pengetahuan, agama sosial politik.
Jangan sekedar wacana.. sementara kita cuma bisa takut terhadap gerakan2 keras Islam. Ini yang selalu jadi tembok bagi ke Islam an!

#3. Dikirim oleh Ajaran  pada  31/10   01:51 AM

saya sepakat dengan pernyataan Eko Prasetyo dalam bukunya ‘Assalamu’alaikum : Islam agama perlawanan’. memang kita harus berani bangkit melawan penindasan, kemiskinan, neo kolonialisme dan juga penyakit umat lainnya. jika ada peserta diskusi yang menyatakan bahwa nabi Muhammad tujuannya untuk kekuasaan dan agama sebagai instrumen endukungnya… wah menurut saya sembrono ini. kalau bicara kekuasaan mah ia bisa dapat tanpa harus menjadi nabi. lha wong, orang arab sudah cinta sama nabi sampai dijuluki al amin. beliau keturunan tokoh quraisy yang disegani. dia bisa mempersatukan orang arab dalam tragedi banjir bandang di mekkah. nah masih bilang rasul tujuannya untuk kekuasaan. wah-wah-wah… ini bukan melampaui saikhul islam. maaf ya… nalar saya ga nyambung kalo u bilang seperti itu. ada to nabi gila jabatan ya?hahaha...yang jelas islam itu harus bersatu.. biar bisa melakukan konsep kasih sayang terhadap sesama dan si lemah dan keras terhadap penjajah. kalo ga bersatu dan kita sibuk jelek-jelekin kawan2 yang dianggap teroris itu.. ya kapan mau nyatunya. u liat ya, israel tu bunuhi saudara2 u di palestina. u masih dukung barat juga? blinger! jangan lupa.. tanpa peran umat islam kita ndak merdeka. dukung saudara sesama islam. terserah backgroundnya apa. mau keras, lembut, tape, tempe terserah. jangan malah dukung orang luar. sesama muslim saudara toh? kalo mau jawab kirim sms ke 085273960862 atau atau . TAKBIR!

#4. Dikirim oleh hariyanto  pada  04/11   10:05 PM

Wassalaamu ‘alaa manittaba’al hudaa

wacana memang penting dikembangkan tapi uswatun hasanah harus digerakkan melampaui wacana

#5. Dikirim oleh Jamal the shopie  pada  06/11   10:31 AM

Buat om hariyanto,
Bagaimana kalau sebagian orang islam membunuh dengan keji seorang muslim juga, apa juga mau dibela? Ingat om, yahudi dan antek2nya itu semena2 terhadap kaum muslim, karena salah umat muslim sendiri. Seandainya umat muslim mau bersatu, itu yahudi dan antek2nya, akan hancur.Semoga.

#6. Dikirim oleh hananto  pada  08/11   06:32 PM

saya yakin sama, islamku, islam anda dan islam kita semua. wlaupun wacana yang di tempuh berbeda arah. toh kita sudah ada jatah masing-masing.

#7. Dikirim oleh aris  pada  22/11   01:02 AM

Ibnu Taimiyyah adl org hebat,cukup Al Qur’an dan Hadits yg dikutip,tdk perlu mengutip pemikiran org lain,apalagi dr budaya yunani & romawi(sebuah budaya yg penuh berhala,menyembah banyak dewa).TIDAK MUNGKIN para ulama spt Al Ghazali mendapat ide dari plato.Kenapa? Karena Al Qur’an sudah sempurna,menjelaskan apa saja yang dibutuhkan manusia.Aneh kalo ada org yg meremehkannya.Kalo bukan org Islam wajar kalo tdk percaya Al Qur’an, tapi kalo Islam, dimana keyakinanmu?kasihan deh loo…
Nabi tdk pernah bercita2 mendirikan negara krn Islam bukan hanya untuk org Arab saja, tapi untuk semua manusia dimuka bumi ini.Jadi sangat sempit kalo berfikir demikian.Ingat!diawal kenabian di Mekkah,Baginda Nabi ditawari 3 TA(harTA,tahTA & waniTA),tapi semua itu ditolak krn bukan itu tujuannya.
Negara harus ada krn Hanya Negara dengan segala aturannya yg BENARlah yg dapat menjamin keamanan dan kebebasan seseorang untuk menjalankan ibadahnya.Negara juga yg mengatur urusan sosial di masyarakat,krn kalo tidak, maka yg ada hanya perang antar kelompok di masyarakat.
Konsep berNegara yg benar lihatlah bagaimana shalat berjamaah.Ada Imam ada Makmum.Aturannya jelas!Imam memberi contoh yg baik krn dia wakil makmum dalam menghadap TUHAN,harus suci tidak berhadast.Makmum tinggal ikut saja,kalo imam lupa tegur dengan cara yg baik.Pilihlah Imam yg terbaik,jgn cacat,bodoh,tidak amanah,tdk suci,berilmu.Wanita bisa menjadi Imam bila makmumnya wanita,anak kecil ato org tua yg sdh renta.Aneh dan bodoh kalo ada seorg wanita ingin menjdi Imam di mesjid Jami’,artinya dia tdk tau ilmu dlm beragama. Untuk urusan besar seperti shalat sudah diatur seperti itu,terimalah krn aturan itu datangnya dr ALLAH, TUHAN yg kita sembah. Jgn atas nama emnsipasi ingin membuat aturan baru…

#8. Dikirim oleh ekoji  pada  24/11   04:33 PM

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunahnya),… (QS An-Nisa : 59)

Wajib atas setiap orang muslim untuk mendengar dan taat kepada penguasanya dalam apa yang dia sukai dan yang tidak dia sukai, kecuali jika dia diperintah untuk bermaksiat. Jika dia diperintah untuk bermaksiat maka tidak wajib baginya untuk mendengar dan taat.

Perintah Allah dan Rasul-Nya untuk menaati penguasa di atas adalah dalam rangka menjaga kebersamaan dan tidak bercerai berai. Oleh karena itu, perintah tersebut tidak gugur dengan kezhaliman penguasa tersebut atau kekurangan-kekurangan dalam hal fisiknya. Bahkan perintah ini tidak gugur walaupun penguasa tersebut zhalim, merampas harta rakyat dan menindas, selama dia masih muslim.
Rasulullah pernah menggambarkan akan munculnya seorang penguasa yang hatinya seperti hati setan dalam tubuh manusia. Tetapi Rasulullah menganjurkan untuk dengar dan taatlah pada penguasa walaupun punggungmu dipukul dan hartamu dirampas! Dengarlah dan taatilah

Karena hikmah dalam kebersamaan lebih besar daripada kezhaliman penguasa tersebut. Hal ini bukan berarti membela para penguasa yang jahat dan zhalim. Tetapi menunjukkan betapa pentingnya kebersamaan di bawah kepemimpinan seorang penguasa. Bisa dibayangkan, betapa jeleknya seorang yang meruntuhkan atau merusak kebersamaan ini dengan sikap menentang penguasa muslim, memberontak dan memeranginya.

Bahkan Rasulullah mewasiatkan untuk menaatinya walaupun penguasa itu bekas budak hitam yang cacat, walaupun yang dipilih sebagai penguasa adalah budak dari Habasyah yang kepalanya seperti kismis (anggur kering).

Memang kebanyakan orang yang merusak kebersamaan ini berniat baik, yaitu mengingkari kemungkaran. Tetapi kenyataannya, mereka mengganti kemungkaran dengan kemungkaran yang lebih besar. Mereka mengganti kezhaliman penguasa dengan perang saudara sesama muslim. Atau mengganti keteraturan dan kepemimpinan dengan kekacauan dan pertumpahan darah. Apakah ini sebuah hikmah? Ataukah ini suatu kebodohan yang nyata?!

#9. Dikirim oleh Iwan Sulistyanto, S.T  pada  24/11   11:14 PM

para teroris,.yg ngakunya jihad dan juga FPI tu.,
bukan membela islam,.tp menjatuhkan nama baik islam.
seharusnya MUI mengeluarkan fatwa bahwa FPI organisasi yang menyesatkan

#10. Dikirim oleh m.farid e.w  pada  28/11   08:32 PM

Mba Musdah yang terhormat dan saudara sesama muslim, bisakah anda tunukkan satu ayat quran dan hadis yang secara jelas menyatakan bahwa seorang perempuan dapat memimpin sebuah pemerintahan, ataukah bada sepeninggal baginda Rasul ada khalifah perempuan yang memimpin umat, sadarilah mba, pada waktu itu jelas seorang Aisyah ra, memiliki syarat sebagai seorang pemimpin umat, tetapi apakah ia mau menentang perintah Allah SWT hanya karena ingin memenangkan nafsunya dibalik “ketidakberadilan” Allah SWT mengenai itu. Banyak hal yang bisa menunjukkan eksistensi dari sebuah emansipasi dan persamaan gender, tetapi bukan malah mengobok-obok batasan mutlak yang telah Allah tetapkan. Wass

#11. Dikirim oleh M. Mujahidin  pada  30/11   04:57 AM

embuh wis.. aku bingung karo sampeyan-2 itu. pokoke manut wae marang al qur’an lan al hadits. beres res ......

#12. Dikirim oleh gundal_gandul  pada  05/12   03:07 PM

Logika atau akal adalah anugrah Illahi yang harus dipergunakan. sebagian kita lebih banyak terfokus pada pendapat-pendapat ulama pada zaman entah berantah. sementara dunia dan kemajuan telah terus berputar.

Al-Quran itu mukzizat terbesar untuk umat manusia, dia akan selalu cocok dengan zaman, mengapa kita tidak berfikir dan menterjemahkannya dalam konsep kekinian ?. Mengapa harus dengan pendapat usang yang zamannya telah berubah ?

Salam kenal dari : http://myrazano.com

wassalam

#13. Dikirim oleh myrazano  pada  15/12   06:03 PM

aduh bingung....pada hakikatnya antara liberal dan fundamentalis sama-sama mengaku islam. tapi sampai saat ini terus berperang yang terkadang berakhir dengan konflik berkepanjangan. mana keislaman mreka??
kalau saya melihat, kedua pemikiran organisasi berseberangan, yang liberal terlalu kiri sedangkan yang fundamental atau literal terlalu kanan, belum ada yang bisa menjembatani keduanya.
oleh karena itu, sudah saatnya keduanya tidak membicarakan atau berdebat tentang metodologi serta idealisme mereka masing-masing, tidak akan ketemu, wong jalan kanan dan kiri, mana bisa???
saatnya untuk sama-sama memikirkan jembatan apa yang bisa mengakomodasi kedua pemikiran ini sehingga mereka dapat bersatu dalam perbedaan…
saya kira itu yang sangat PENTING

#14. Dikirim oleh Tirmidzi  pada  02/01   10:05 AM

Semua hanya bisa bicara negara Islam, ekonomi Islam, hukum Islam tetapi untuk merumuskannya ataupun mengacu pada suatu sistem yang dapat diterapkan di negara ini, sepertinya belum ada. Ekonomi Islam itu seperti apa? dan apa mampu dilaksanakan? Negara Islam apa seperti negara Islam Saudi Arabia yang memperbudak wanita ? Hukum Islam yang mana, yang merajam orang, memotong tangan, memancung? Apa ada yang bisa menjelaskan ?

#15. Dikirim oleh myra  pada  20/01   05:18 PM

@myraz
Merumuskan negara islam itu gampang, mengacu saja kepada kaidah-kaidah hukum syariat yang berlaku umum dan universal, sedangkan yang khusus diserahkan kepada masing-masing warga negara
“Bagimu agamamu dan Bagiku agamaku”

@myra
Tentang hukum :
memperbudak wanita ?
Islam tidak menghalalkan memperbudak wanita, tapi menempatkan posisi wanita secara lebih terhormat, karena wanita adalah makhluk yang sangat mulia yang diciptakan sebagai pendamping, pengontrol emosi para pria sehingga hukum islam melindungi secara khusus hak-haknya

Hukum Islam yang mana, yang merajam orang, memotong tangan, memancung?
Kasus-kasus yang menerapkan hukuman tersebut secara fisikologis adalah penyakit yang tidak mungkin disembuhkan kecuali dengan hukuman yang memberi bekas. mungkin anda kenal dengan penjahat kambuhan. atau orang yang kembali masuk penjara dengan kesalahan yang sama

Selain itu hukuman hikmah hukuman tersebut juga lebih menimbulkan efek jera terhadap pelaku dan mencegah orang lain mengikutinya.

Percayalah bahwa Allah swt tidak pernah salah dalam menetapkan aturan. Kalau salah berarti yang menetapkan itu bukan Tuhan. Cuma mungkin akal manusia belum mempu menggali hakikat makna yang ada dibalik hukuman tersebut karena sudah buru-buru dibenci dan diberi label tidak sesuai dengan HAM yang mengacu kepada hukum barat yang beraroma penindasan

salam dari http://oyonk.com
ditunggu kunjungannya
atau di http://myrazano.com

Saya bukan ulama, saya hanya orang biasa dari pendidikan umum, tapi bila bertanya Insya Allah Akan saya jelaskan secara tuntas tentang islam yang sesungguhnya sesuai dengan pemahaman dan logika yang benar

terimakasih

#16. Dikirim oleh myrazano  pada  20/01   09:37 PM

Sepanjang saya baca buku-bukunya Ibnu Taimiyah beliau itu sangat Salafiyah dalam berfikir maupun berpendapat, sangat berhati-hati mengedepankan nash daripada logika, walaupun beliau pemikir yang sangat logik.

#17. Dikirim oleh Warih  pada  03/02   07:47 PM

Hadits “lan yufliha qaumun wallû amra’ahum imra’atan” (tidak akan beruntung suatu kaum yang menyerahkan urusannya kepada perempuan), menurut pemahaman saya ini lebih merupakan “peringatan” (sarkasme)untuk laki-laki yang hidup/berlindung pada kaum perempuan dalam beberapa konteks sosial masyarakat, sehingga harkat dan martabatnya sebagai laki-laki tak ubahnya sebagai debu di kaki unta. Ini fenomena kehinaan yang masih banyak kita temui di abad ini.

#18. Dikirim oleh kang maman  pada  12/02   12:38 AM

buat om hananto.
bunuh-bunuhan itu ga ada dalam islam. kecuali pas perang.
kalo u bunuh orang n aku ada di sana. sedangkan aku tahu orang yang u bunuh ga bersalah. lalu aku membiarkan dikau membunuh tu orang. aku juga bersalah.. artine, kalo u bilang gimana dengan muslim yang membunuh orang muslim. lihat dulu, posisi sebenarnya. siapa tahu yang dibunuh ternyata pura2 muslim, baru murtad dari islam, atau alasan lain. tapi kalo ternyata memang bunuhnya sengaja tanpa ada hal yang mengahruskan korban terbunuh, maka itu bukan islam! islam agama kebajikan! islam bukan agama koruptor! islam tiidak mengajarkan membunuh! 

#19. Dikirim oleh Hariyanto ganteng  pada  14/03   11:04 PM

bukan negara...tapi khilafah???
dalam konsep khilafah pemerintahan didunia hanya ada satu yg berdasarkan Al Qur’an dan As-sunnah. logika ditempat ketiga.
tidak sama seperti skrg kebnyakan org mengutip sepenggal2 ayat2 Al Qur’an hanya untuk menguatkan argumen logikanya yg penuh hawa nafsu…
tidak ada pancasila dan UUD yg ada Al Qur’an dan As-sunnah sebagai dasar hukum.
siapa bilang dalam islam bahwa apabila telah samapai ajaran Muhammad dan tidak ingin memeluk islam maka dibunuh..
yg betul apabila telah dinasehati dan diajak memeluk islam, lalu tidak mau maka harus tunduk terhadap hukum islam dan kekuasaannya apabila tidak mau baru diperangi.
makanya org yg menilai bahwa islam itu ada islam garis keras dan moderat itu salah.
tolok ukurnya cukup dengan Al Qur’an dan As-sunnah bukan dengan logika.

#20. Dikirim oleh iqbal  pada  18/03   09:14 PM
Halaman 1 dari 2 halaman 1 2 >

Tulis Komentar

Nama:

Surat-e:

Lokasi:

Situs:

Ingat data pribadi saya

Ingin dikirim setiap umpan balik komentar yang masuk?