Jejak Liberal dan Fundamentalis dalam Pemikiran Ibnu Taimiyyah
Oleh Saidiman
Musdah Mulia melihat bahwa ada yang ganjil pada masalah ini. Ummat Islam demikian mudah menerima penolakan terhadap konsep kepemimpinan Quraisy, di mana sebelumnya dianggap sebagai sesuatu yang taken for granted. Tidak ada persoalan yang benar-benar keras ketika doktrin ini dihapus. Sementara konsep-konsep mengenai ketimpangan gender sangat susah untuk dicabut, misalnya hadis “lan yufliha qaumun wallû amra’ahum imra’atan” (tidak akan beruntung suatu kaum yang menyerahkan urusannya kepada perempuan).
Komentar
hadis “lan yufliha qaumun wallû amra’ahum imra’atan” (tidak akan beruntung suatu kaum yang menyerahkan urusannya kepada perempuan).
adalah hadits yang secara bunyi aja bermasalah, tidak saja ganjil bagi akal sehat apalagi di cek pakai dalil alquran. Cuman alih-alih membongkar pemahaman yang keliru untuk mendukung keadilan gender, justru mengkampanyekan hadits yang salah jadi tidak pararel dengan perjuangan kaum perempauan.Gimana biar produktif mengkampanyekan hadits-hadits yang benar sesuai dengan akal sehat dan al-quran,....berapa jumlah umat yang tahu hadits itu
PELENGSERAN KEPALA NEGARA
Menarik sekali pandangan Ibn Taimiyah yang tidak setuju dengan ‘pelengseran’ kepala negara.
Kita hidup di negara yang punya pengalaman dalam ‘pelengseran’ kepala negara. Hari ini adalah 11 tahun dari peristiwa tersebut. Gonjang-ganjing politik tingkat tinggi selalu menagih ongkos yang terlalu mahal bagi masyarakat. Bangsa ini tidak akan bisa berpikir lebih maju kalau terus menerus didera ketidaknyamanan hidup. ‘Pemain catur tidak akan bisa mengembangkan ide pada saat posisi terjepit.’
Kilas balik : bagaimana sekiranya 11 tahun lalu para elite dan cendekiawan kita melakukan upaya persuasi kepada pemerintah, mendukung penuh pemerintahan untuk mengatasi puncak krisis saat itu, sehingga tidak pernah terjadi ‘pelengseran’ kepala negara yang terbukti malah menambah ketidaknyamanan hidup masyarakat ?
Yang tidak cukup dimiliki para elite politik dan cendekiawan kita saat itu adalah kerelaan untuk berkorban, kerelaan untuk tidak populer, kerelaan untuk berjasa tanpa diketahui orang lain…
(dari seorang mantan mahasiswa yang ikut demo anti Soeharto 1998, dan saat ini merasa amat bersalah)
.(JavaScript must be enabled to view this email address)
salah satu sebab mengapa Dunia bisa terus “ada” adalah karena adanya keseimbangan, penolakan ibnu taimiyyah terhadap al-hululiyah/ al-ittihadiyah sejatinya adalah sebuah semangat penyeimbangan atas kelupaan para pelaku tasawwuf terhadap konsep keduniaan yang terbangun atas dasar kebersamaan, bisa dibayangkan ketika kritik pedas ibnu taimiyah tersebut tidak muncul, dunia ini akan sepi dari perubahan yang jelas-jelas kita nikmati, di sisi lain,kelalaian kita terhadap dunia tasawwuf akan menggiring kita pada kehidupan fana yang tak jelas ujungnya
menurut saya, ada saat kita berfikir, berbicara dan bertindak dengan ajaran tasawwuf
dan juga waktu untuk hal-hal duniawi
Pada sok beragama orang-orang Islam ini…yang kerja mengolah alam semesta berikut bumi malah kebanyakan orang-orang di luar Islam….kritik sana sini tentang sekulerisme tapi sehari-hari menggunakan produk orang-orang sekuler seperti microsoft dll….iihhhhh malu deh! Bikin forum-forum Islam di facebook dengan gaya ke Arab-araban tapi ngga sadar udah “ngetek” sama facebook yang bikinan pemuda atheis Mark Zuckerberg…memalukan! kalah sama orang atheis! Makanya percaya dong sama pikiran sendiri, pasti kreatif! ga usah lagi sibuk nyari-nyari hadits untuk melatih keberagamaan anda…tinggalkan tafsir-tafsir al quran baku, pake nalar dari otak masing-masing, dijamin, al quran akan membacakan dirinya sendiri untuk anda, krn al quran itu fitrah…ga usah lagi belajar fikih, cukup shalat, puasa, & ga usah pergi haji kalo Indonesia belom maju…ibarat cuma ngumpulin kliping koran, tapi pikiran sendiri zero! atau ibarat doktor/profesor yang bikin buku yang daftar pustakanya seabrek-abrek tapi pikirannya sendiri ngga ada….bikin otak ga bebas berpikir kreatif…percaya deh!
@Dede: Kalau ente bangga dengan atheis jangan ajak-ajak di sini. Semua teknologi yang ada sekarang ini dasarnya diperoleh dari ilmuwan-ilmuwan Islam di masa lampau. Mereka melek ilmu karena melek agama (Qur’an dan hadits shahih). Silahkan baca “Muslim Heritage” anda akan tahu mulai dari sastra hingga kedokteran modern dan pesawat terbang bertenaga roket datang dari dunia islam. Ilmuwan barat hanya mencontek saja dan mengembangkannya.
Umat Islam saat ini mundur karena meninggalkan agamanya, dan orang kafir (di luar Islam) maju karena meninggalkan agamanya juga!
Yang dipertengkarkan dan diperdebatkan adalah pemikiran Ibnu Taimiyah yang hidup beratus tahun yang silam. Manfaatnya saya pikir hanya untuk memuaskan pikiran intelektual mereka yang menguasai bahasa Arab (kan harus mengecek nash qur’an dan hadits to…?).
Sekarang ini umat Islam khususnya di Indonesia, belum terlalu butuh pertengkaran seperti ini. Mereka itu masih perlu makan, sekolah, transportasi, perumahan, cara meningkatkan ekonomi rumah tangga, dan sebagainya.
Bisa gak para intelektual muslim yang pandai bahasa Arab dan segala macam tafsir qur’an dan hadits memberikan solusi terhadap masalah yang dihadapai masyarakat sekarang? Tentunya dengan bahasa yang dipahami masyarakat sekarang ini. Bukankah alasan diturunkannya al qur’an adalah untuk mencerahkan kehidupan bangsa Arab khususnya di kota Makkah dan sekitarnya?
Setiap ayat diturunkan karena ada sebabnya, sekaligus menjelaskan solusi atas permasalahan yang dihadapi. Lha, sekarang di Indonesia ini, masyarakat yang kondisinya gak ngerti bahasa Arab, mendapatkan ajaran Islam di masa-masa keruntuhan kejayaan Islam, mau diceramahi dan diminta melakukan semua hadits, ayat, fiqih yang ada dalam al qur’an? Gak bakalan berhasil. Wong Rasulullah SAW sendiri perlu waktu 23 tahun untuk mencerahkan bangsa Arab. Itupun dibantu oleh petunjuk Allah SWT. Sekarang yang bantu kita siapa? Intelektual kita sibuk bertengkar tentang pendapat siapa yang paling benar. Lha, terus kalau sudah didapat pemenangnya, apa implementasinya bagi masyarakat? Masyarakat diinstruksikan untuk melaksanakannya? Coba lihat, MUI koar-koar tentang haramnya ini dan itu, berapa persen sih yang laksanakan? Kenapa bisa begitu? ya karena masyarakat belum merasa perlu akan hal itu.
Pragmatis sedikitlah. al qur’an itu ada sisi pragmatisnya ada juga sisi teoretisnya. Kalau dakwah tentang ekonomi Islam, gimana tuh? Gimana cara meningkatkan produktivitas petani dengan teori syariah? Gimana caranya agar lahan pertanian yang kosong bisa dimanfaatkan? Mudah-mudahan jawabannya bukan Khilafah Islamiyah. Soalnya masyarakat butuhnya sekarang, bukan puluhan tahun mendatang. Saya setuju saja dengan khilafah, asalkan memang kondisinya sudah kondusif.
Jadi, dakwah tetap jalan, masalah masyarakat juga diatasi. Gimana?
‘‘bissmillah’‘
salam
agama sebagai pelindung suatu negara mamn9 diperlukan utk suatu kejelasan ideologi.‘sehing9a akan terbntuk suatu tatanan yang jelas kepada individu/masyarakat bahwa inilah kekauasan yang beribawa.‘bebasa,,manusiawi..pokoknya tegas danjelas dalam segala segi kehudupan yang dapat melindungidan dapat menjawab segala bidang/segi kehidupan yang berlasan/rasional.‘tinggal kita yang lebih lagi menafsirka agama secara global tanpa merubah teks akan smpai masyarakat yang madani akan pemahaman keberana yang lebih dapat diterima dan beralan tgas dan kuat..
waasalam
Jelas yang namanya dunia tidak bakalan kekal, dunia kiamat negara lenyap, Tujuan Nabi SAW adalah Ketuhanan, bukan negara yang menjadi tujuan. Negaralah yang jadi instrument untuk mempertahankan/memelihara/membela agama, untuk meninggikan kalimat Allah.Tidak ada paksaan dalam agama surat 2 :256. gitu, roger
sampai sekarang saya masih terus berharap langkah nyata para aktivis islam liberal beserta para komandannya untuk membuat Indonesia menjadi lebih baik. Namun harapan saya rasanya tidak akan pernah menjadi kenyataan. Karena sikap pragmatis kaum islam liberal tak jua bisa hilang. Disatu sisi mereka menentang fundamentalis islam dan berkoar-koar tanpa rasa lelah demi lenyapnya para fundamentalis islam. Karena mereka menganggap kaum fundamentalis islam adalah kaum terbelakang yang suka memaksakan kehendak kepada orang lain. Tapi disisi lain kaum islam liberal ini pun berbuat hal yang sama dengan kaum fundamentalis. Memaksakan pemikiran liberal kepada masyarakat Indonesia yang nyata-nyata dominan menolak pemikiran dan pemahaman liberal. Yang anehnya lagi, kaum islam fundamentalis justru dapat membuktikan islam sebagai agama yang rahmatan lil ‘alamin. Ini bisa kita lihat dengan cara yang sangat sederhana : kian marak dan populernya sekolah islam yang nyata-nyata didirikan dan dikelola oleh kaum islam fundamental. Sebagiannya bahkan meluncur menjadi sekolah-sekolah unggul yang berhasil mencerdaskan generasi bangsa. Bisa kita lihat juga kampus-kampus sekuler malah menjadi ladang subur tumbuhnya para aktivis islam fundamental bak jamur di musim hujan yang membawa perubahan mencerahkan di kehidupan kampus sekuler tersebut. Yang tak kalah menarik adalah kian populer dan digemarinya pengobatan ala islam (thibbun nabawi) yang juga terlihat gamblang dimotori oleh para islam fundamentalis. Bahkan dikehidupan politik bangsa ini ternyata kaum islam fundamental juga mampu membuktikan bahwa politik islam itu bermartabat, bersih dan pro rakyat. Saya masih berharap kelompok islam liberal bisa membawa perubahan bagi negara ini agar lebih baik.
Komentar Masuk (29)
(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)