JIL Dipaksa Bubar
Oleh karena itu Goenawan Mohamad dalam pernyataan persnya mengaku tidak akan membiarkan kekerasan dan kesewenang-wenangan semacam itu merajalela. Sebab hal itu akan membawa Indonesia pada anarkhisme hukum rimba. Ia juga mengecam upaya-upaya untuk membungkam perbedaan pendapat di dalam bidang pemikiran dan keagamaan.
Komentar
Ajaran yang kalian tanam kini sudah menyebar ke mana-mana, dan sekarang semakin banyak kaum Muslim yang berani mempertanyakan doktrin agamanya, dan semakin berani menggunakan akal pikirannya dalam beragama. Terima kasih banyak, JIL.
Yakinlah, sekiranya JIL dimatikan secara organisasi, ajarannya akan tetap hidup secara spiritual dalam sanubari kaum Muslim yang berpikiran terbuka, dan akan terus menyebar, dan menyebar, dan menyebar.
Kalau ada orang atau sekelompok orang yang tidak suka dengan keberadaan kita, berarti ada sesuatu yang salah pada diri kita atau pada diri orang atau sekelompok orang yang tidak suka dengan keberadaan kita. Sungguh bijak kalau JIL tidak secara emosional menganggap bahwa semua ini disebabkan keluarnya fatwa MUI. Sungguh bijak bila JIL melihat ke dalam diri, tidak menyalahkan orang lain. Sikap menyalahkan fatwa MUI membuat JIL layaknya anak kecil yang cengeng, tidak dewasa, dan putus asanya ideologi JIL.
Saya berharap JIL akan tetap bertahan melawan kebathilan yg dilakukan oleh sekelompok oknum2 yg menggunakan label agama utk bermain kekerasan. Demokrasi hanya bisa dimatangkan bilamana orang bisa mencapai “agree in disagreement” tanpa menggunakan embel kekerasan. Namun iniilah yg ternyata terjadi di bumi nusantara yakni kekerasan menjadi bahasa universal utk menyelesaikan masalah.
Para agamawan dan rohaniwan harusnya justru menjadi buffer agar kekerasan bukan dilawan dgn kekerasan. Namun fakta berbicara bahwa para agamawan inipun telah berselingkuh dgn kekerasan.
Jadi yg salah itu agamanya atau agamawan nya ? Yg saya haqul yakin adalah agamawannya yg membuat interpretasi keblinger atau….utk suatu maksud tertentu memang sengaja berselingkuh dgn kekerasan utk motif2 politik tertentu. Walahualam, hanya Allah Swt yg tahu. Mari kita hanya doakan mereka2 ini semoga diridhoi jalan yg selebar2nya utk melihat “kasih” di dalam hati mereka.
Sebagai warga non-muslim saya menghargai segala upaya yang dilakukan JIL, yang mencoba mengubah wajah Islam menjadi sangat sejuk. Memang kekhawatiran umat Islam akan adanya kristenisasi saya pikir juga cukup relevan, mengingat banyak gereja (baca:gereja-gereja tertentu) yang sangat agresif menyiarkan keyakinan mereka.
Namun saya berpikir bahwa sebagian besar gereja bukan seperti itu, jadi memang harus sering dibuka dialog antar agama yang lebih sejuk, dan lebih mengutamakan penalaran, dibandingkan dengan mengutamakan ‘fanatisme’ sempit belaka.
Semoga niat baik JIL akan selalu emndapatkan dukungan dari Tuhan YME. (Umat Katolik sendiri dengan mengadopsi doktrin Konsili Vatikan II, mengatakan bahwa ‘ada jalan keselamatan yang lain’ pula bagi pemeluka agama lain, selain hanya melalui gereja).
Ajaran yang disampaikan JIL terlepas batil atau Haq akan hilang atau eksis di masa depan adalah sesuatu yang masih samar bagi sebagian besar umat islam. Relativitas pemikiran JIL akan berbuah pada keraguan itu sendiri semoga tidak berakhir dalam keraguan dan semoga menemukan pencerahan. Bukan hanya pencerahan bagi kehidupan dunia tetapi akhirat juga. Akan kita saksikan di masa depan apa “buah” yang dihasilkan oleh JIL dan ajarannya. Apakah manusia - manusia yang sehat rohaninya dan makmur ekonominya dan benar akidahnya atau manusia yang bingung pada agamanya lalu murtad atau meragukan agamanya sampai di penghujung ajalnya naudzubillahiminjalik
Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan manusia adalah sebagai makhluk yang penuh dengan kekurangan. Dalam semua sisi kehidupan, kekurangan yang melekat pada manusia ini menyebabkan kemampuan yang dimiliki menjadi sangat terbatas.
Salah satu keterbatasan manusia itu adalah kemampuan akalnya. Setiap manusia yang masih bersih fitrahnya akan mengakui hal ini. Akal manusia tidak akan mampu mengetahui hakikat sesuatu secara sempurna, terlebih bila hakikat itu meliputi berbagai permasalahan.
Fungsi akal manusia yang paling besar adalah untuk mengetahui hakikat kebenaran. Apa kebenaran sejati itu? Sekali lagi, bagi orang yang fitrahnya masih suci, akan mengakui bahwa hanya dengan akalnya, seorang manusia tidak akan mencapai kebenaran sejati. Ia akan mengakui untuk mengetahui kebenaran harus melalui bimbingan Penciptanya yaitu Allah.
Namun tidak demikian dengan orang-orang yang terlalu “percaya diri” dengan kemampuan akalnya. Orang-orang yang merupakan penerus dari paham Mu’tazilah ini merasa tidak butuh dengan bimbingan Allah untuk mengetahui kebenaran. Tidak cukup sampai di situ, bahkan dengan lancangnya mereka “mengobrak-abrik” syariat Allah yang menurut akal mereka bukan merupakan kebenaran.
Di Indonesia gerakan ini sudah berlangsung cukup lama, antara lain dipelopori oleh Nurcholis Madjid, Munawir Syadzali, Ahmad Wahib, Harun Nasution, dan lain-lain. Kini, para pengusung madzhab ini bergabung dalam sebuah “sindikat” bernama Jaringan Islam Liberal (JIL) yang dikomandani oleh Ulil Abshar Abdalla. Di wadah inilah, ide-ide gila mereka dikeluarkan secara lebih intens.
Ciri gagasan gila mereka adalah berisi gugatan (protes) terhadap syariat Allah yang menurut mereka tidak sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan dan akal mereka. Hampir semua sendi agama ini telah digugat mereka, seperti syariat tentang jilbab, hukum had, qishash, jenggot, jihad, larangan perkawinan antar agama, hukum waris, makna syahadat, kebenaran Al Qur’an, dan yang paling tinggi adalah gugatan terhadap Islam sebagai satu-satunya agama yang benar. (http://www.islamlib.com)
Intinya, mereka tidak setuju dengan aturan-aturan Allah itu dan kemudian memunculkan gagasan yang berlawanan dengannya. Seperti gagasan bahwa semua agama selain Islam adalah benar, telah lama dilontarkan oleh mereka. Di antaranya oleh orang yang mereka anggap sebagai pelopor gerakan “Pembaharu Pemikiran Islam” di Indonesia, Ahmad Wahib. Anak muda yang tidak diketahui dimana belajar agama ini berkata: “Aku bukan nasionalis, bukan Katolik, bukan sosialis. Aku bukan Budha, bukan Protestan, bukan westernis. Aku bukan komunis. Aku bukan humanis. Aku adalah semuanya. Mudah-mudahan inilah yang disebut muslim. Aku ingin orang memandang dan menilaiku sebagai suatu kemutlakan (absolute entity) tanpa menghubung-hubungkan dari kelompok mana aku termasuk serta dari aliran mana saya berangkat.” (Pergolakan Pemikiran Islam: Catatan Harian Ahmad Wahib)
Ahmad Wahib yang kesehariannya sering bergaul dengan para romo Katolik dan mendapat banyak ‘kebaikan’ dari mereka berkata tentang teman dekatnya itu: “Aku tak yakin apakah Tuhan tega memasukkan romoku itu ke neraka.” (Pergolakan Pemikiran Islam: Catatan Harian Ahmad Wahib)
Dengan berbagai pernyataan yang nyleneh itu, dalam usia yang masih muda Ahmad Wahib telah menjadi “tokoh” nasional kebanggaan salibis. Pujian setinggi langit untuk Ahmad Wahib banyak menghiasai media massa salibis semasa hidupnya (Ahmad Wahid meninggal dalam usia 31 tahun dalam sebuah peristiwa kecelakaan). Seruan yang sama juga sering dilontarkan Nurcholis Madjid dengan slogan pluralismenya. Intinya sama, yakni menyerukan bahwa semua agama memiliki kebenaran yang sama.
Tokoh lainnya yang cepat “naik daun” karena lebih berani (dan lebih lucu) dalam mengeluarkan pernyataan-pernyataannya adalah Ulil Abshar Abdalla (pentolan Jaringan Islam Liberal/JIL). Tentang kebenaran agama selain Islam, Ulil Abshar mengatakan: “Semua agama sama, semuanya menuju jalan kebenaran. Jadi, bukan Islam yang paling benar.” Dalam buku Fikih Lintas Agama (FLA) hal. 214 disebutkan: Ayat yang lebih tegas tentang keselamatan agama-agama lain adalah Surat Al-Baqarah ayat 62. Dalam buku yang sama hal. 20, disebutkan: Kesamaan dan kesatuan semua agama para nabi juga ditegaskan oleh Nabi sambil digambarkan bahwa para nabi itu satu saudara lain ibu, namun agama mereka satu dan sama. Salah satunya adalah hadits Al-Bukhari, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku lebih berhak atas ‘Isa putra Maryam di dunia dan di akhirat, para nabi adalah satu ayah dari ibu yang berbeda-beda dan agama mereka adalah satu.” Pada hal. 21 disebutkan: …penjelasan tersebut menegaskan prinsip-prinsip hubungan antar agama yang dapat diturunkan dari Al Qur’an yang menegaskan adanya pluralisme agama. Kutipan-kutipan di atas memuat kesimpulan berikut ini: - Bukan Islam yang paling benar. - Agama-agama selain Islam adalah agama yang selamat. - Pluralisme agama dibenarkan Al Qur’an dan hadits Nabi. Bantahan: Mereka berkesimpulan bahwa bukan Islam yang paling benar. Yang lain, apapun agama itu –demikian yang tampak dari ucapannya– juga benar. Bahkan mungkin lebih benar dari Islam. Demikian yang dipahami dari ucapan mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: ßóÈõÑóÊú ßóáöãóÉð ÊóÎúÑõÌõ ãöäú ÃóÝúæóÇåöåöãú Åöäú íóÞõæúáõæúäó ÅöáÇ ßóÐöÈðÇ “Sungguh besar kalimat yang keluar dari mulut mereka, mereka tidak mengatakan (sesuatu) kecuali dusta.” (Al-Kahfi: 5) Sesungguhnya seorang muslim yang masih suci fitrahnya tahu kebatilan ucapan ini. Kalimat ini adalah ucapan kufur dan merupakan perkataan tentang agama Allah tanpa ilmu. Namun jika hati tertutup, siapapun dia tidak akan mengetahui kebatilannya, bahkan lebih parah karena hal itu dianggap sebagai sesuatu yang benar. Alasannya sepele: “Semua agama sama, semuanya menuju jalan kebenaran.” Dengan mudahnya ia menyimpulkan dengan akalnya. Apakah setiap orang yang menuju kepada kebenaran itu akan sampai? Tentu jawabnya tidak. Ibnu Mas’ud mengatakan: “Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan tapi tidak mendapatkannya.”
Ini adalah sesuatu yang sama-sama kita saksikan. Tidak akan memungkirinya kecuali orang yang congkak. Kalau jalan Yahudi, Nashrani, Majusi dan agama lain itu benar, untuk apa Nabi mengajak mereka masuk Islam, dan ketika mereka menolak terjadi permusuhan dan pertumpahan darah? Bagaimana kemudian dianggap agama selain Islam lebih benar?! Fa’tabiru ya Ulil Abshar! (maka hendaknya engkau perhatikan wahai orang yang memiliki pandangan). Kesimpulan kedua, agama lain selain Islam adalah agama yang selamat, artinya tidak dimurkai Allah dan (para penganutnya) tidak diadzab.
Tentu ini bukan ucapan seorang muslim dan tak ada seorang muslim yang hakiki kecuali tahu betapa batil, sesat, dan kufurnya kalimat ini. Sayangnya ia mengelabuhi orang dengan berdalil surat Al-Baqarah ayat 62: Åöäøó ÇáøóÐöíúäó ÂãóäõæúÇ æóÇáøóÐöíúäó åóÇÏõæúÇ æóÇáäøóÕóÇÑóì æóÇáÕøóÇÈöÆöíúäó ãóäú Âãóäó ÈöÇááøóåö æóÇáúíóæúãö ÇúáÂÎöÑö æóÚóãöáó ÕóÇáöÍðÇ Ýóáóåõãú ÃóÌúÑõåõãú ÚöäúÏó ÑóÈøöåöãú æóáÇó ÎóæúÝñ Úóáóíúåöãú æóáÇó åõãú íóÍúÒóäõæúäó “Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nashrani dan orang-orang Shabi’in, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal shalih, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka. Tidak ada kekhawatiran pada mereka dan tidak pula mereka bersedih hati.” Ia memahami ayat tersebut dengan akal yang sudah terkotori oleh noda pluralisme, sehingga menganggap masing-masing dari Yahudi dan Nashrani benar dan selamat. Ibarat mereka seperti orang yang membaca ayat yang artinya “Celaka orang yang shalat…” (Al-Ma’un: 4) lalu berhenti dan tidak diteruskan. Atau ayat “Jangan kalian mendekati shalat…” dan tidak dibaca kelanjutan ayatnya (yang berbunyi) “dalam keadaan kalian mabuk.” (An-Nisa: 43) Sungguh ini adalah akhlak Yahudi yang beriman dengan sebagian ayat dan kafir dengan sebagian yang lain. ÃóÝóÊõÄúãöäõæúäó ÈöÈóÚúÖö ÇáúßöÊóÇÈö æóÊóßúÝõÑõæúäó ÈöÈóÚúÖò ÝóãóÇ ÌóÒóÇÁõ ãóäú íóÝúÚóáõ Ðóáößó ãöäúßõãú ÅöáÇøó ÎöÒúíñ Ýöí ÇáúÍóíóÇÉö ÇáÏøõäúíóÇ æóíóæúãó ÇáúÞöíóÇãóÉö íõÑóÏøõæúäó Åöáóì ÃóÔóÏøö ÇáúÚóÐóÇÈö æóãóÇ Çááøóåõ ÈöÛóÇÝöáò ÚóãøóÇ ÊóÚúãóáõæúäó “Apakah kamu beriman kepada sebagian Al Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebagian yang lain? Tiada balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia. Dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat.” (Al-Baqarah: 85)
Bukankah kita dalam memahami ayat Al Qur’an harus merujuk kepada ayat lain yang menjelaskannya, demikian pula merujuk kepada hadits Nabi yang Allah pasrahi untuk menjelaskan Al Qur’an? Dikemanakan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: æóÞóÇáóÊö ÇáúíóåõæúÏõ ÚõÒóíúÑñ ÇÈúäõ Çááøóåö æóÞóÇáóÊö ÇáäøóÕóÇÑóì ÇáúãóÓöíúÍõ ÇÈúäõ Çááøóåö Ðóáößó Þóæúáõåõãú ÈöÃóÝúæóÇåöåöãú íõÖóÇåöÆõæäó Þóæúáó ÇáøóÐöíúäó ßóÝóÑõæúÇ ãöäú ÞóÈúáõ ÞóÇÊóáóåõãõ Çááøóåõ Ãóäøóì íõÄúÝóßõæúäó. ÇÊøóÎóÐõæúÇ ÃóÍúÈóÇÑóåõãú æóÑõåúÈóÇäóåõãú ÃóÑúÈóÇÈðÇ ãöäú Ïõæúäö Çááøóåö æóÇáúãóÓöíúÍó ÇÈúäó ãóÑúíóãó æóãóÇ ÃõãöÑõæúÇ ÅöáÇøó áöíóÚúÈõÏõæúÇ ÅöáóåðÇ æóÇÍöÏðÇ áÇó Åöáóåó ÅöáÇøó åõæó ÓõÈúÍóÇäóåõ ÚóãøóÇ íõÔúÑößõæúäó “Orang-orang Yahudi berkata: ‘Uzair itu putera Allah’, dan orang Nashrani berkata: ‘Al Masih itu putera Allah’. Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah-lah mereka; bagaimana mereka sampai berpaling? Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (At-Taubah: 30-31) áóÞóÏú ßóÝóÑó ÇáøóÐöíúäó ÞóÇáõæúÇ Åöäøó Çááøóåó åõæó ÇáúãóÓöíúÍõ ÇÈúäõ ãóÑúíóãó Þõáú Ýóãóäú íóãúáößõ ãöäó Çááøóåö ÔóíúÆðÇ Åöäú ÃóÑóÇÏó Ãóäú íõåúáößó ÇáúãóÓöíúÍó ÇÈúäó ãóÑúíóãó æóÃõãøóåõ æóãóäú Ýöí ÇúáÃóÑúÖö ÌóãöíúÚðÇ æóáöáøóåö ãõáúßõ ÇáÓøóãóæóÇÊö æóÇúáÃóÑúÖö æóãóÇ ÈóíúäóåõãóÇ íÎúáõÞõ ãóÇ íóÔóÇÁõ æóÇááøóåõ Úóáóì ßõáøö ÔóíúÁò ÞóÏöíúÑñ “Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: ‘Sesungguhnya Allah itu ialah Al Masih putera Maryam’. Katakanlah: ‘Maka siapakah (gerangan) yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah, jika Dia hendak membinasakan Al Masih putera Maryam itu beserta ibunya dan seluruh orang-orang yang berada di bumi semuanya?’ Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang di antara keduanya; Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Al-Maidah: 17) áóÞóÏú ßóÝóÑó ÇáøóÐöíúäó ÞóÇáõæÇ Åöäøó Çááøóåó åõæó ÇáúãóÓöíÍõ ÇÈúäõ ãóÑúíóãó æóÞóÇáó ÇáúãóÓöíúÍõ íóÇÈóäöíú ÅöÓúÑóÇÆöíúáó ÇÚúÈõÏõæúÇ Çááøóåó ÑóÈøöí æóÑóÈøóßõãú Åöäøóåõ ãóäú íõÔúÑößú ÈöÇááøóåö ÝóÞóÏú ÍóÑøóãó Çááøóåõ Úóáóíúåö ÇáúÌóäøóÉó æóãóÃúæóÇåõ ÇáäøóÇÑõ æóãóÇ áöáÙøóÇáöãöíúäó ãöäú ÃóäúÕóÇÑò. áóÞóÏú ßóÝóÑó ÇáøóÐöíúäó ÞóÇáõæúÇ Åöäøó Çááøóåó ËóÇáöËõ ËóáÇóËóÉò æóãóÇ ãöäú Åöáóåò ÅöáÇøó Åöáóåñ æóÇÍöÏñ æóÅöäú áóãú íóäúÊóåõæúÇ ÚóãøóÇ íóÞõæúáõæúäó áóíóãóÓøóäøó ÇáøóÐöíúäó ßóÝóÑõæúÇ ãöäúåõãú ÚóÐóÇÈñ Ãóáöíúãñ “Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: ‘Sesungguhnya Allah adalah Al Masih putera Maryam’, padahal Al Masih (sendiri) berkata: ‘Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu’. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya al-jannah, dan tempatnya ialah an-naar, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: ‘Bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga’, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih.” (Al-Maidah: 72-73) Dan sekian banyak ayat dan hadits lain yang dengan sangat tegas mengkafirkan mereka (Yahudi dan Nashrani). Bagaimana mereka dikatakan selamat, padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala mengubah mereka menjadi babi dan kera: Þõáú åóáú ÃõäóÈøöÆõßõãú ÈöÔóÑøò ãöäú Ðóáößó ãóËõæúÈóÉð ÚöäúÏó Çááøóåö ãóäú áóÚóäóåõ Çááøóåõ æóÛóÖöÈó Úóáóíúåö æóÌóÚóáó ãöäúåõãõ ÇáúÞöÑóÏóÉó æóÇáúÎóäóÇÒöíúÑó æóÚóÈóÏó ÇáØøóÇÛõæúÊó ÃõæáóÆößó ÔóÑøñ ãóßóÇäðÇ æóÃóÖóáøõ Úóäú ÓóæóÇÁö ÇáÓøóÈöíúáö “Katakanlah: “Apakah akan aku beritakan kepadamu tentang orang-orang yang lebih buruk pembalasannya dari (orang-orang fasiq) itu di sisi Allah, yaitu orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Allah, di antara mereka (ada) yang dijadikan kera dan babi dan (orang yang) menyembah thaghut?” Mereka itu lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat dari jalan yang lurus.” (Al-Maidah: 60) Allah Subhanahu wa Ta’ala melaknati mereka dengan lisan Dawud dan ‘Isa: áõÚöäó ÇáøóÐöíúäó ßóÝóÑõæúÇ ãöäú Èóäöíú ÅöÓúÑóÇÆöíúáó Úóáóì áöÓóÇäö ÏóÇæõÏó æóÚöíúÓóì ÇÈúäö ãóÑúíóãó Ðóáößó ÈöãóÇ ÚóÕóæúÇ æóßóÇäõæúÇ íóÚúÊóÏõæúäó “Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan ‘Isa putera Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas.” (Al-Maidah: 78) Allah Ta’ala mengatakan: Þõáú Ýóáöãó íõÚóÐøöÈõßõãú ÈöÐõäõæúÈößõãú “Katakanlah, mengapa Allah mengadzab kalian dengan dosa-dosa kalian?” (Al-Maidah: 18) Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya): “Tidaklah mendengar (seruan) aku seorang Yahudi atau Nashrani lalu tidak beriman dengan apa yang aku diutus dengannya kecuali ia termasuk ahli neraka.” (Shahih, HR. Muslim)
Kalau kita perhatikan baik-baik ayat yang dipakai sebagai dalil oleh mereka (QS. Al-Baqarah: 62), akan nampak bahwa ayat tersebut sama sekali tidak mendukung paham pluralisme dan maha suci Kalamullah untuk dikatakan mendukung pluralisme. Bukankah ayat tersebut memberikan syarat, yaitu beriman kepada Allah? Apakah Yahudi dan Nashrani atau Majusi beriman kepada Allah? Jawabnya, tidak! Karena beriman kepada Allah bukan hanya beriman dengan adanya Allah. Bila hanya percaya dengan keberadaan Allah maka Iblispun beriman, orang munafiq pun beriman, dan Fir’aun pun beriman. Tidak ada yang mengatakan demikian kecuali orang yang sejenis mereka. Iman kepada Allah mencakup keimanan tentang adanya Allah dan keesaannya yang tiada sekutu baginya. Sedangkan Yahudi menyekutukan Allah dengan ‘Uzair, dan Nashrani menyekutukan Allah dengan Nabi ‘Isa ‘alaihissalam.
Diantara keimanan kepada Allah adalah meyakini uluhiyyah Allah yakni memberikan ibadah hanya kepada Allah dan meyakini hal itu. Sedangkan Yahudi dan Nashrani mereka beribadah kepada selain Allah bahkan kepada pendeta-pendeta.
Ayat itu juga memberikan syarat dalam beramal shalih. Yahudi dan Nashrani tidak melakukan amal shalih karena syarat amal shalih tidak mereka penuhi. Di antaranya yang merupakan syarat dasar yaitu iman, tidak mereka penuhi. Kemudian ikhlas, mereka juga tidak penuhi karena mereka beramal untuk selain Allah.
Bagaimana mungkin mereka dikatakan selamat sementara tidak memenuhi syarat-syarat sebagai orang yang beriman. Pahamilah wahai yang berakal sehat. Jadi ayat ini berlaku bagi mereka yang memenuhi syarat-syarat tersebut. Dan ini berlaku sebelum datangnya Islam. Oleh karenanya Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma mengatakan bahwa setelah itu turunlah ayat 85 Surat Ali Imran: æóãóäú íóÈúÊóÛö ÛóíúÑó ÇúáÅöÓúáÇóãö ÏöíúäðÇ Ýóáóäú íõÞúÈóáó ãöäúåõ æóåõæó Ýöí ÇúáÂÎöÑóÉö ãöäó ÇáúÎóÇÓöÑöíúäó “Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (Zubdatuttafsir) Di ayat lain, Allah menganggap mereka bukan orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir sebagaimana dalam ayat 29 Surat At-Taubah: ÞóÇÊöáõæúÇ ÇáøóÐöíúäó áÇó íõÄúãöäõæúäó ÈöÇááøóåö æóáÇó ÈöÇáúíóæúãö ÇúáÂÎöÑö æóáÇó íõÍóÑøöãõæúäó ãóÇ ÍóÑøóãó Çááøóåõ æóÑóÓõæúáõåõ æóáÇó íóÏöíúäõæúäó Ïöíúäó ÇáúÍóÞøö ãöäó ÇáøóÐöíúäó ÃõæúÊõæÇ ÇáúßöÊóÇÈó ÍóÊøóì íõÚúØõæÇ ÇáúÌöÒúíóÉó Úóäú íóÏò æóåõãú ÕóÇÛöÑõæúäó “Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.”
Adapun hadits yang mereka pakai juga tidak mendukung pluralisme sama sekali. Sebab kesamaan agama para rasul itu adalah pada intinya yaitu agama tauhid dan beribadah hanya kepada Allah. Ternyata hal ini pun dilanggar oleh para pengikut rasul, terutama setelah datangnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lantas bagaimana mereka bisa dianggap sama dengan ajaran Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam? Hadits itu juga menunjukan bahwa syariat para rasul berbeda-beda. Itu yang dimaksud –wallahu a’lam– dengan saudara sebapak lain ibu? (Lihat Syarah Shahih Muslim hadits no. 6085, Kitab Al-Fadhail) Tapi pada prakteknya justru JIL ingin menyamakan syariat mereka semua sehingga membolehkan kawin dan waris beda agama. Tidak mungkin Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berperang melawan Yahudi demi agama lalu menyabdakan sebuah hadits yang mendukung pluralisme agama.
Membolehkan perkawinan antar agama secara mutlak Islam membolehkan seorang muslim menikahi wanita ahlul kitab Yahudi atau Nashrani: æóÇáúãõÍúÕóäóÇÊõ ãöäó ÇáúãõÄúãöäóÇÊö æóÇáúãõÍúÕóäóÇÊõ ãöäó ÇáøóÐöíúäó ÃõæúÊõæÇ ÇáúßöÊóÇÈó ãöäú ÞóÈúáößõãú ÅöÐóÇ ÂÊóíúÊõãõæúåõäøó ÃõÌõæúÑóåõäøó ãõÍúÕöäöíúäó ÛóíúÑó ãõÓóÇÝöÍöíúäó æóáÇó ãõÊøóÎöÐöíú ÃóÎúÏóÇäò “(Dan dihalalkan mengawini) wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al Kitab sebelum kamu, bila kamu telah membayar mas kawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak (pula) menjadikannya gundik-gundik.” (Al-Maidah: 5) Tapi tentu dengan syarat-syarat tertentu, diantaranya yaitu pihak laki-laki benar-benar melakukannya untuk menjaga dari maksiat zina dan sejenisnya serta benar-benar menjauhi zina, kemudian pihak wanitanya juga demikian yaitu wanita yang menjaga diri dari perbuatan keji. Semua itu karena hikmah dan tujuan yang luhur dan itu sekilas tampak dari syarat-syarat tersebut. Untuk menjelaskan secara luas tempat ini tidaklah cukup, namun tentu kita yakin bahwa semua syariat Allah pasti demi hikmah yang tinggi yang Ia kehendaki.
Dengan hikmah-Nya pula, Allah mengharamkan sebaliknya yakni seorang wanita muslimah dinikahi orang kafir siapapun dia. Tapi kelompok JIL menganggap semuanya boleh dan hal itu diatasnamakan Islam. Ulil mengatakan: “Jadi, soal pernikahan laki-laki non muslim dengan wanita muslim merupakan wilayah ijtihadi dan terkait dengan konteks tertentu, diantaranya konteks dakwah Islam pada saat itu, yang mana jumlah umat Islam tidak sebesar saat ini, sehingga pernikahan antar agama merupakan sesuatu yang terlarang.” (Fikih Lintas Agama hal. 164) Kesimpulan ucapannya adalah: 1. Larangan dalam menikah beda agama ini tidak jelas. 2. Larangan saat itu hanya bersifat sosial kontekstual yang dapat berubah dan bukan merupakan alasan teologi. 3. Ini dianggapnya sebagai sebuah kemajuan. 4. Boleh menikah beda agama apapun alirannya Bantahan: Bagaimana dia bisa mengatakan larangan itu tidak jelas? Barangkali ia tidak pernah baca Al Qur’an sampai khatam atau membaca tapi tidak tahu maknanya. Bukankah Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Surat Al-Baqarah ayat 221: æóáÇó ÊóäúßöÍõæúÇ ÇáúãõÔúÑößóÇÊö ÍóÊøóì íõÄúãöäøó æóáÃóãóÉñ ãõÄúãöäóÉñ ÎóíúÑñ ãöäú ãõÔúÑößóÉò æóáóæú ÃóÚúÌóÈóÊúßõãú æóáÇó ÊõäúßöÍõæÇ ÇáúãõÔúÑößöíúäó ÍóÊøóì íõÄúãöäõæúÇ æóáóÚóÈúÏñ ãõÄúãöäñ ÎóíúÑñ ãöäú ãõÔúÑößò æóáóæú ÃóÚúÌóÈóßõãú ÃõæáóÆößó íóÏúÚõæúäó Åöáóì ÇáäøóÇÑö æóÇááøóåõ íóÏúÚõæ Åöáóì ÇáúÌóäøóÉö æóÇáúãóÛúÝöÑóÉö ÈöÅöÐúäöåö æóíõÈóíøöäõ ÂíóÇÊöåö áöáäøóÇÓö áóÚóáøóåõãú íóÊóÐóßøóÑõæúäó “Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke an-naar, sedang Allah mengajak ke al-jannah dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran.” Dalam ayat itu terdapat dua larangan: 1. Menikahi wanita musyrik. 2. Menikahkan wanita muslimah kepada laki-laki musyrik. Dan ahlul kitab itu termasuk musyrik berdasarkan firman Allah dalam At-Taubah ayat 31: ÇÊøóÎóÐõæúÇ ÃóÍúÈóÇÑóåõãú æóÑõåúÈóÇäóåõãú ÃóÑúÈóÇÈðÇ ãöäú Ïõæúäö Çááøóåö æóÇáúãóÓöíúÍó ÇÈúäó ãóÑúíóãó æóãóÇ ÃõãöÑõæúÇ ÅöáÇøó áöíóÚúÈõÏõæúÇ ÅöáóåðÇ æóÇÍöÏðÇ áÇó Åöáóåó ÅöáÇøó åõæó ÓõÈúÍóÇäóåõ ÚóãøóÇ íõÔúÑößõæúäó “Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (Lihat Tafsir Adhwa-ul Bayan, 1/143) Diriwayatkan bahwa Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma mengatakan: “Saya tidak tahu ada syirik yang lebih besar daripada seseorang yang mengatakan bahwa Tuhannya adalah ‘Isa.”
Namun keumuman larangan yang pertama yakni menikahi wanita musyrik, telah diberi kekhususan yaitu bahwa wanita musyrik dari kalangan ahlul kitab dengan syarat-syaratnya boleh dinikahi lelaki muslim sebagaimana terdapat dalam Surat Al-Maidah ayat 5. Adapun larangan yang kedua maka itu tetap pada keumumannya. Sehingga lelaki siapapun baik dari Yahudi, Majusi, Nashrani dan yang lain maka haram menikahi seorang wanita muslimah. Ayat itu jelas dan itu merupakan ijma’ (kesepakatan) umat seperti kata Ibnu Katsir dalam tafsir ayat ini dan Al-Imam Asy-Syaukani.Bagaimana kemudian Ulil mengatakan tidak jelas dalil yang melarangnya?
Lebih jelas lagi Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: áÇó åõäøó Íöáøñ áóåõãú æóáÇó åõãú íóÍöáøõæúäó áóåõäøó “Mereka tiada halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tiada halal pula bagi mereka.” (Al-Mumtahanah: 10) Adapun alasan bahwa larangan itu bersifat kontekstual, inilah yang kami maksud memahami ayat atau hadits yakni agama ini dengan akal yang mengakibatkan pemahaman itu berbalik yakni menolak hukum ayat tersebut. Yang demikian pasti terjatuh dalam kesesatan. Buktinya, sekilas kita melihat di awal dia katakan bahwa dalil yang melarang tidak jelas. Artinya, secara halus ia mengingkari adanya larangan. Lalu di saat lain ia katakan larangan itu bersifat kontekstual, artinya ia akui adanya larangan. Bukankah ini tanaqudh (terjadi kontradiksi) antar ucapannya sendiri?!
Cukup pembaca yang budiman mengetahui batilnya pendapat itu, dengan melihat hasil akhirnya adalah mengingkari ayat dan hadits yang melarangnya. Kemudian sesungguhnya larangan itu sebabnya tidak seperti yang dia ungkapkan. Sebab kalau kita perhatikan ayat tersebut, Allah telah menyebutkan hikmah syariat itu di akhir ayat: ÃõæáóÆößó íóÏúÚõæúä Åöáóì ÇáäøóÇÑö “...mereka mengajak ke an-naar…” Asy-Syaukani mengatakan: “Dengan mushaharah (pernikahan), berkeluarga serta hidup bersama dengan mereka terdapat bahaya besar terhadap wanita yang menikah dengan mereka dan terhadap anaknya. Maka tidak boleh bagi kaum mukminin untuk mencampakkan diri dalam (fitnah) ini dan masuk padanya.” Kata beliau juga sebelumnya: “Hal itu karena ada penghinaan terhadap Islam.” (Lihat Zubdatuttafsir hal. 44). Dan hikmah seperti ini terus berlaku tidak hanya di zaman Nabi.
Hikmah ini tentu berbeda ketika pihak laki-laki adalah seorang muslim dan wanitanya ahlul kitab. Tidak seorangpun memungkiri kecuali orang yang tidak bisa diajak berfikir, apalagi memahami dalil. Dan tentu di sana terdapat lebih banyak lagi hikmah lain yang tidak cukup untuk diuraikan di sini atau belum kita ketahui. Yang jelas Allah Maha Hakim. Dengan gugurnya dua alasan orang-orang JIL ini, maka gugurlah secara otomatis hukum yang mereka tentukan. Dan tetap tegarlah hukum Allah sepanjang zaman. Ini hanya contoh dari pendapat-pendapat mereka yang nyleneh dari sekian banyak pendapat. Namun semua pendapat mereka itu kebatilannya tidak jauh dari apa yang dicontohkan, bahkan mungkin lebih batil, lebih berbahaya dan juga lebih lemah dari sarang laba-laba.
Mereka mesti bertaubat kepada Allah dan mesti tahu bahwa mereka amat sangat lemah untuk bicara dalam agama. Ini kalau mereka tidak punya niat jelek dan jahat terhadap Islam dan muslimin. Sungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: ÅöäøóãóÇ íóÃúãõÑõßõãú ÈöÇáÓøõæúÁö æóÇáúÝóÍúÔóÇÁö æóÃóäú ÊóÞõæúáõæúÇ Úóáóì Çááøóåö ãóÇ áÇó ÊóÚúáóãõæúäó “Sesungguhnya setan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.” (Al-Baqarah: 169) Bagi kaum muslimin hendaknya menjauhi mereka sejauh-jauhnya, juga buku dan siaran serta uraian mereka demi keselamatan agama.
Ingatlah sabda Nabi yang artinya: “Akan datang tahun-tahun yang menipu, yang dusta dianggap jujur, yang jujur dianggap dusta, yang khianat dianggap amanah dan yang amanah dianggap khianat dan pada tahun-tahun itu Ruwaibidhah pun berbicara.” Beliau ditanya: “Apa Ruwaibidhah itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Orang yang hina (yakni dangkal ilmunya) bicara dalam urusan yang besar.” (HR. Ibnu Majah dan yang lain, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahihul Jami’, no. 3650, lihat pula Ash-Shahihah no. 1887)
Hadits tentang akal ÇóáÏøöíúäõ åõæó ÇúáÚóÞúáõ æóãóäú áÇó Ïöíúäó áóåõ áÇó ÚóÞúáó áóåõ “Agama adalah akal dan barangsiapa yang tidak punya agama, maka ia tidak punya akal.” Hadits ini atau yang semakna dengannya begitu masyhur. Tak jarang kita mendengarnya dari para khatib dan muballigh, bahkan menjadi salah satu landasan mereka yang mengkultuskan akal. Untuk mengetahui bagaimana sesungguhnya kedudukannya dalam timbangan kritik hadits, mari kita melihat penjelasan Asy-Syaikh Al-Albani, seorang ulama ahli hadits abad ini. Beliau mengatakan: Hadits ini batil. Diriwayatkan oleh An-Nasai dalam kitabnya Al-Kuna dan Ad- Dulabi meriwayatkan darinya dalam kitabnya Al-Kuna wal Asma (2/104) melalui seorang rawi bernama Bisyr bin Ghalib bin Bisyr bin Ghalib dari Az-Zuhri dari Mujammi’ bin Jariyah dari pamannya sampai kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa kalimat “Agama adalah akal.” An-Nasai mengatakan: “Hadits ini batil, mungkar.” Saya katakan: “Sebabnya adalah karena Bisyr ini majhul (tidak dikenal) sebagaimana dikatakan oleh Al-Azdi dan disetujui oleh Adz-Dzahabi dalam kitabnya Mizanul I’tidal fi Naqdirrijal dan oleh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani dalam kitabnya Lisanul Mizan. Al-Harits bin Abu Usamah meriwayatkan dalam Musnad-nya dari seorang rawi bernama Dawud bin Al-Muhabbir sebanyak tigapuluh sekian hadits yang menerangkan tentang keutamaan akal. Ibnu Hajar mengomentarinya: “Semuanya palsu (maudhu’).” Diantaranya adalah hadits yang kita bahas ini, sebagaimana disebutkan oleh Al-Imam As-Suyuthi dalam kitabnya Dzailul La’ali Al-Mashnu’ah fil Ahadits Al-Maudhu’ah (hal. 4-10) dan dinukil pula dari beliau oleh Al-‘Allamah Muhammad bin Thahir Al-Hindi dalam kitabnya Tadzkiratul Maudhu’at (hal. 29-30). Sedangkan Dawud bin Al-Muhabbir (tersebut di atas) dikatakan oleh Adz-Dzahabi: “Dia adalah penulis buku Al-’Aql (akal). Duhai seandainya ia tidak menulisnya.” Al-Imam Ahmad mengatakan: “Dia sesungguhnya tidak tahu tentang hadits.” Abu Hatim mengatakan: “Haditsnya lenyap, tidak bisa dipercaya.” Ad-Daruquthni mengatakan: “(Haditsnya) ditinggalkan.” Abdul Ghani meriwayatkan dari Ad-Daruquthni bahwa ia mangatakan: “Buku Al-’Aql (hadits-haditsnya) dipalsu oleh Maisarah bin Abdi Rabbih. Buku itu dicuri oleh Dawud bin Al-Muhabbir lalu dirangkai sendiri sanadnya, tidak seperti sanad Maisarah, lalu dicuri oleh Abdul ‘Aziz bin Abi Raja’ kemudian dicuri oleh Sulaiman bin ‘Isa As-Sijzi.” Asy-Syaikh Al-Albani berkata: “Di antara yang perlu diingatkan bahwa seluruh hadits yang menerangkan keutamaan akal adalah hadits-hadits yang sama sekali tidak shahih, berkisar antara lemah dan palsu. Dan aku telah meneliti hadits-hadits yang disebut oleh Abu Bakr bin Abid Dunya dalam kitabnya yang berjudul Al-’Aql wa Fadhluhu (akal dan keutamaanya), maka saya dapati seperti yang tadi saya katakan, tidak sedikitpun yang shahih.”
Ibnul Qayyim mengatakan dalam bukunya Al-Manar (hal. 25): “Hadits-hadits tentang akal semuanya dusta.” (diterjemahkan dari Silsilah Al-Ahadits Adh-Dha’ifah, no. 1) Hadits lain yang semakna: ÞöæóÇãõ ÇáúãóÑúÁö ÚóÞúáõåõ æóáÇó Ïöíúäó áöãóäú áÇó ÚóÞúáó áóåõ “Penegak seseorang adalah akalnya dan tiada agama bagi yang tidak memiliki akal.” Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah mengatakan: “Hadits ini maudhu’ (palsu).” Sebabnya, hadits ini diriwayatkan melalui seorang rawi bernama Dawud bin Al-Muhabbir yang telah dijelaskan di atas. (Lihat Silsilah Al-Ahadits Adh-Dha’ifah, no. 370). Wallahu a’lam.
(Dikutip dari tulisan Al-Ustadz Qomar Suaidi Lc., judul asli Penundukan Ajaran Agama di bawah Kendali Akal, majalah Asy Syariah Edisi Vol. II/No. 10/1426 H/2005 url sumber http://www.asysyariah.com/print.php?id_online=186)
pemikiran yang baik untuk kehidupan semua umat manusia, biarkan agama dijalankan secara individu dan diterapkan dalam kehidupan bersama dengan damai. pemikiran2 cak nur maupun siapa saja yang masih menyediakan ruang bagi keberbedaan, semoga terus berkembang..jil, kalian tidak sendirian!
Apakah kalau ada orang tidak senang dengan keberadaan kita lantas berarti harus selalu diri sendiri yg salah? Salah satu kemungkinannya tentu saja IYA, tp bisa juga bahwa orang2 disekitar itu yg salah. Misal saja saya sebut tokoh Kwik Kian Gie yg dimusuhi oleh kalangan konglomerat karena menyuarakan ada ketidakbenaran dalam bisnis mereka. Lantas beliau dicemooh. Banyak pelaku bisnis yg marah thd KKG. Apakah lalu KKG yg salah atau orang lain yg salah ? Kuantitas (jumlah) orang tsb tidak selalu ekivalen bahwa mereka paling benar. Lagian, kebenaran hanyalah milih Allah Swt sendiri. Bukan anda, bukan saya, bukan ustadz, bukan siapapun manusia. Kalau dibilang JIL tidak dewasa, saya sangat amat TIDAK SETUJU. Justru yg saya bilang kekanak2an, cengeng adalah kelompok mainstream Islam itu sendiri di Indonesia. Bayangkan, masa puasa lantas semua orang harus menutup retoran, dsb. Pdhl esensi puasa itu sendiri adalah “menahan diri”, jd latihannya ya menahan diri lah, bukan lantas memberangus godaannya. Bukankah iman semacam ini iman yg cengeng. Iman saya kuat karena iman saya kuat, mau diapain akan tetap kuat. Bukan iman saya kuat asalan situasi kondusif. Justru pula MUI lah yg kekanak2an dan tidak bisa belajar berdemokrasi. Masa perbedaan pendapat diberangus. Menurut saya adalah hak MUI utk berpendapat, berfatwa, dsb. Namun pada saat fatwa tsb diterjemahkan ke dalam kekerasan, maka disinlah kekanak2an kelompok2 sektarian ini muncul. Saya kira JIL tidak akan takut dibubarkan. Ini masalah hak “BERPIKIR” ummat manusia, tidak bisa diberangus oleh siapapun. Justru saya haqul yakin akan kadaluwarsanya ideologi2 lapuk dari kalangan2 sektarian seperti Hizbut Tahrir, DDII, MUI dan semua onderbouw2nya.
Adanya peristiwa PENYERBUAN KELOMPOK terhadaP keberadaan JIL, SANGAT MENGGANGGU & MERISAUKAN terhadap KEBEBASAN BERPENDAPAT terlebih dalam BERAGAMA.
Sebagai penganut agama ISLAM, muncul SEBUAH PERTANYAAN YANG SANGAT mendasar BAGI SAYA: apaKAH betul ISLAM MELARANG PERBEDAAN ?
FIKIRKAN kembali bagi KELOMPOK-KELOMPOK ANTI JIL. terimakasaih
Sesama Islam mengapa saling tuding dan saling menghancurkan, apa tidak ada masalah lain diluar Islam yang jelas2 akan dan selalu ingin merusak Islam. Apa orang yg selalu ingin belajar tentang agama dipersalahkan sedangkan maksiat, kemunafikan dan kedholiman terus meraja lela dimana-mana ? Maksiat didepan mata (media TV), lingkungan tempat tinggal ataukah memang mereka masih senang terhadap maksiat ? Atau memang mereka mendapat imbalan atas hal tersebut di atas ? Ingat (La ikraha fiddin)
Islam sangat menghargai perbedaan, di wilayah mana kita bisa berbeda..? Kalau mengakui Islam sebagai agamanya, seharusnya ya menghormati dan mengamalkan apa yang menjadi pedoman umat Islam yaitu Al Qur’an dan hadist. Nah JIL itu mengaku islam tetapi Al-Qur’an dan hadist di tafsirkan semaunya sendiri, sekehendak pikirannya sendiri. JIL menyebarluaskan kekonyolannya itu ke seluruh umat Islam sehingga akan mempengarui Iman dan ketaqwaan Muslimin / muslimat. Makanya sangat wajar kalau MUI dan akmi juga sangat menentang JIL. Ingat bahwa tidak semua fenomena di dunia kita ini bisa di pikirkan dengan otak, ada hal ghoib yang hanya bisa diketahui dari khobar yang disampaikan oleh Allah SWT.
Saya adalah orang yang bertentangan dengan JIL. Entah kenapa orang yangmenganut aliran islam liberal adalah orang yang notabenanya adalah seorang ulama yang menuntut ilmu agama yang tinggi. Sungguh disayangkan Azumardi Azra (rektor UIN, Ulil Abshar Abdalla beserta peneikut JIL yang lAin. Apakah hati kalian telah tertutupoleh hidayah Allah?Tidakkahkalian akan bertobat? Ketahuilah kiamat sudahlah dekat. Ada sebuah hadits:Rasulullah saw bersabda bahwa di dunia ini ada 73 aliran dalam Islam, namun hanya satu yang akan memasuki surga Allah.Selagi nafas masih berhembus, darah masih mengalir, raga masih dikokohkan dengan tulang yang berwarna putih,bertobatlah kalian dengan sebaik-baik tobat. Aliran kalian telah menyesatkan dan membantu kristenisasi berkembang di Indonesia. Tidak inginkah kalian menjadi pengikut Rasulullah yang dapat bersanding bersama Rasulullah di surga dan menatap wajah Allah Azza wa jalla. Untuk apa kalian memperdalam ilmu agama di negara barat seperti amerika, belanda? Toh negeriArab masih berdiri dengan kokoh, tempat Islam lahir yang dibawa oleh Nabi Muhammag saw, yang akan kekal selamanya. Jangan kalian persulit kehidupan menuju akhirat yang kekal nanti.Janganlah kalian menjadi bagian dari orang yang kafir dan munafiq.
Saya sangat mendukung aksi JIL dalam membawa perdamaian di muka bumi Indonesia. JIL tidak hanya selalu mengganggap agama sendiri yang paling baik, karena JIL menjunjung tinggi nilai-nilai agama, baik Islam maupun agama lain. Yang harus tobat itu adalah kalian para pengikut MUI, dll. yang telah menyesatkan banyak orang, melakukan segala sesuatu dengan fisik dan kekerasan. Sungguh dangkal hanya menyelesaikan segala sesuatu dengan kekerasan. Maaf buat Saudara Zahri yang pintar, semoga Anda cepat bertobat agar diterima di sisi Allah, tidak terjerumus ke dalam api neraka.
Hidup JIL!
Assalamualaikum Wr.Wb.
Wahai para antek-antek sekuler bertobatlah kalian kepada Allah Subhanahuwataala karena pemikiran rusak kalian mendalami Islam ke negara kafir dan hidup dari dana kristen dan Yahudi. Ketahuilah Saudaraku hidup ini hanya sebentar segeralah bertobat sebelum maut menjemput. Semoga hidayah Taufik Allah dianugerahkan kepada Kalian perusak Aqidah Umat Islam
Pemikiran yang sangat menarik dan sangat peka melihat kondisi zaman terutama ditanah air tercinta ini, semoga JIL selalu berkembang bahkan berbuah lagi dalam pola pemikirannya,sehingga banyak menghasilkan gagasan yang menyadarkan manusia akan pentingnya hakikat kehidupan ini. God Bless you
kalo JIL salah siapa yang bisa menunjukkan diri paling benar ? Apakah ke-Islam-an MUI, HTI, MMI, Taliban, Sunni, Syiah dll (katakan ada 73 aliran kata bung Zahra -berdasarkan Hadist Nabi, betul ada 73 aliran ?) semuanya sama? kalo beda mana yang bakal masuk surga? semua aliran bilang paling benar, apa kriteria paling benar menurut Allah? Semua aliran punya tradisi dan pandangan masing2 mana saja yang salah dan benar? JIL terus maju untuk pencerahan umat.
Saya yang bukan muslim, jadi tergelitik berkomentar. Seharusnya ada kesadaran bagi kedua belah pihak untuk saling menghargai. Kalau terjadi paksa-memaksa saya yakin kita jauh dari kedamaian. Hal ini sudah pasti sangat menyimpang dari tujuan agama sendiri. Agama adalah keyakinan orang per orang dan tidak bisa orang lain memaksanya. Pemaksaan menjadi suatu kemunduran dalam spiritual dan hubungan pribadi kita kepada Tuhan. Coba perbedaan yg ada dianggap saja ibarat orang masuk toilet, orang laki masuk toilet laki2, orang wanita masuk toilet wanita, orang bencong silahkan memilih sendiri toiletnya, sekarang ini tidak ada yg mempermasalahkannya begitu pula orang beragama, orang islam masuk masjid, orang kristen masuk gereja, orang hindu masuk Pura, dan seterusnya. Niscaya konsep ini akan menimbulkan penghargaan terhadap keyakinan orang lain. Penghargaan perbedaan niscaya menciptakan kedamaian. Segala yang terjadi adalah kehendak Tuhan, kalau kita yakin Tuhan itu adalah Maha Kuasa, karena atas kekuasaan-Nya, Beliaulah yang menentukan segalanya, mulai dari menciptakan kita, memelihara kita dan seterusnya. Kita bukanlah apa-apa dibandingkan Tuhan, kita hanya berusaha untuk selalu berbuat, berkata, dan berpikir baik atas dasar saling mengasihi. Kita terlahir sebagai seorang manusia adalah anugrah terindah dalam hidup ini, kita punya keluarga, kerabat, teman, mestinya kita berpikir utk berusaha selalu berbuat baik, berkata yg baik dan berpikir yg baik, urusan nanti setelah mati biarlah pasrahkan kepada Yang Di atas. Sudah saatnya kita utk berhenti menguras energi kita utk mencari perbedaan-perbedaan dan mempersoalkannya, justru energi tsb mestinya kita gunakan utk memperbaiki diri kita masing-masing termasuk saya sendiri, baik taraf hidup, kecerdasan, hbungan sosial kita dll, utk meraih kebahagiaan kita yg sejati. Mulai dari diri sendiri berbahagia, semoga memberikan vibrasi yg positif buat kebahagian seluruh mahluk di dunia ini. Semoga Selalu Damai.
Sebagai non muslim, saya jadi heran. JIL yang lebih bersahabat dan damai dengan agama lain kok dicap sesat, haram, dll? Sementara yang mengaku Islam paling benar, justru garang, beringas dan anti toleransi? Anehnya justru bukan hanya kepada non muslim tapi juga sesama muslim. Bagaimana mau disebut agama bertoleransi dan damai jika mengucapkan “selamat hari raya” saja dilarang?
——-
1. J I L tidak usah Dipaksa Bubar oleh karena secara sunnatullah mereka sedang mencari ilmu agama HARI TAKWIL KEBENARAN KITAB yang wajib ditunggu-tunggu dan tidak boleh dilupakan sesuai Al A’raaf (7) ayat 52,53.
2. F P I pimpinan HABIB MOHAMMAD RIZIEQ SHIHAB (orang Arab) tidak usah Dipaksa Bubar oleh karena dia sedang melaksanakan hujjah Allah, hujjah nabi Muhammad saw. dan hujjah kitab suci-Nya, sesuai At Taubah (7) ayat 97: Orang-orang ARAB itu lebih sangat kekafirannya dan (lebih sangat) kemunafikannya dan lebih wajar bahwa mereka (orang-orang ARAB itu) tidak mengetahui hukum-hukum yang diturunkan Allah kepada Rasul-Nya (cara damai dalam perbedaan sesuai Al Quran An Nahl (16) ayat 125, Al Isro (17) ayat 28, Al Ankabuut (29) ayat 46). Jangan mengikuti hadits: Bila menemukan kemungkaran, tindak dengan tangan, bila tidak, tindak dengan mulut, bila tidak, tindak dengan hati selemahnya iman.
Wasalam, Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millennium ke-3 masehi.
Semoga Allah SWT memberikan hidayah kepada penganut paham ini terutama kepada Ulil.
Komentar Masuk (55)
(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)