Jiwa Besar NU untuk Muktamar Muhammadiyah
Oleh Saidiman Ahmad
NU dan Muhammadiyah adalah organisasi besar dengan harapan yang sangat besar. Jika kedua organisasi ini dibiarkan stagnan dan terus-menerus mempertahankan sikap statis, maka yang akan merugi adalah seluruh bangsa. Dengan kebesaran yang ada, kedua organisasi ini sejatinya tidak membutuhkan pengakuan dari manapun. Sehingga kampanye menjaga citra sebenarnya adalah percuma. Yang dibutuhkan dari kedua organisasi ini adalah gebrakan-gebrakan dinamis untuk transformasi sosial ke arah yang lebih baik.
Komentar
NU dan muhamadiyah adalah organisasi islam yang terbesar harus tetap eksis berpikiran terbuka dan jangan hanya menjadi organisasi yang dijadikan sebagai makelar politik
Era modern seperti sekarang sudah tidak mungkin lagi menolak sikap keterbukaan. Hidup NU dan Muhammadiyah.
Mudah-mudahan kesibukannya di NU tidak menghalanginya untuk tetap bertatap muka dengan anggota JIL di Utan Kayu. Amin.
Mari kita bersama sama berdoa semoga ALLAH memberikan hidayah kpd ulama2 yang ikut muktamar memilih pemimpin yang terbuka dan berwawasan luas
salam
NU dan Muhammadiyah adalah organisasi yang bergerak dalam pemberdayaan agama dan sosial masyarakat sebagai organisasi yg bergerak dalam lapangan tersebut terkadang juga mengalami dilematis untuk apakah masuk keranah politik ataukah tidak, mengapa? secara teori perjuangan untuk pemberdayaan sosial masyarakat dan agama dibutuhkan kekuasaan untuk dapat secara efektif dan efisien mewujudkan. Asumsi bergerak keranah politik adalah siap untuk menerima koneskuensinya. disisi yang lain juga pergerakan aktivitas sosial masyarkat ujungnya jiga keranah politik pula. Sehingga tidak heran bila pemimpin kedua ormas tersebut dalam pola perilakunya berpijak pada paradigma tersebut. Gebrakan-gebrakan dinamis dengan membangun epistemologi akan mengungkung dalam menara gading yang tinggi yg tak menyentuh langsung dalam ranah sospol masyarakat. Namun jika bermain dalam ranah sospol juga bisa berakibat pergeseran dalam orientasi Kedua ormas besar tersebut.Pilihan-pilihan itu memang harus dipilih sebab mereka dituntut untuk mengaplikasikan dalam pilihannya. Jadi tidaklah etis bila kita tak sepandapat dengan mereka yang memilih jalan sosopol untuk mewujudkan cita idealnya. Yang terpenting adalah bagaimana substansi dari Tujuan kedua ORMAS BESAR tersebut dapat terwujud.
Dalam konstelasi pilitik Indonesia, NU dan Muhammadiyah sebagai ormas Islam, memiliki pasisi strategis. Karena di era reformasi sekarang ini dengan dibukanya kran demokrasi, kedua ormas besar itu berada pada posisi tawar yang tinggi. Dalam masyarakat demokrasi, peran parpol sangat urgen bahkan menjadi ruh kehidupan berbangsa dan bernegara. Dalam kenyataannya, parpol yang sangat didamba-dambakan menjadi roda kehidupan berdemokrasi seakan tak berdaya dan lumpuh, bahkan ironisnya eksistensi parpol berada dalam bayang-bayang ormas. Dalam situasi dan kondisi semacam inilah NU dan Muhadiyah dituntut untuk berkiprah tanpa harus menjual harga diri…..!
Ingat amanah masyarakat, smoga….!
Nu dan Muhammadiyah memang harus terbuka dan bersikap demokartis. TAPI INGAT… demokratis ala Nabi uhammad…. murni Rosululloh!! TIDAK DICAMPUR ADUKKAN DENGAN PENDAPAT TOKOH DARI AGAMA LAIN.Kalau menentang dan tidak terimah… yah silakan membuat agama baru yang TIDAK ADA HUBUNGAN ATAUPUN MENGATAS NAMAKAN ISLAM! karena islam yang benar adalah yang berpedoman pada Al Qur’an yang (diedarkan dan disetujui oleh menteri agama)dan hadis dari nabi Muhammad
dalam pergerakan tentang kebangsaan NU dan muhamamdiyah banyak sekali kesamaannya, melahirkan banyak tokoh yang dari masa ke masa keduanya nya sudah sejajar, walaupun kelahiran MUhamadiyah lebih dulu dari NU.dalam pendidikan mungkin Muhamadiyah lebih terdepan, tapi tentang pemikiran dan problematika masalah sosial sy kira NU selangkah lebih maju dalam pemecahannya.
dua ormas keagamaan kebanggaan tanah air ini patut kita jaga, supaya kedepannya bisa melahirkan tokoh-tokoh yang ada sekarang ini atau pun yang sudah meninggal.dalam perpolitkan nasional dewasa ini kedua ormas ini pun melahirkan tokoh yang super handal,secara jujursaya menilai,walaupun demikian dinamika kehidupan Nu lebih ramai dn sanngat mewarnai dalam politik Indonesia. tokoh Nu sangat di minati ketika pemilu akan di mulai,tapi yang jelas NU dan Muhamadiyah harus selalu berdampinngan dalam menata demokrasi kedepannya. selamat bermuktamar Muhamadiyah…..
NU dan Muhammadiyah pasti mampu menampung aspirasi generasi muda cerdasnya, karena merekalah yang akan memegang estafet kepemimpinannya, dan hanya dengan cara dan sikap terbuka dan penuh toleransilah akan terjaring calon pemimpin masa depan yang mencerahkan. Mereka adalah pemikir yang siap berhadapan dengan paham konservatif dan aspiratif terhadap segala bentuk perubahan
Smg Indonesia Menjadi Negara ISLAM
Mau NU kah, Muhamadiyah kah, jangan terlalu ashobiyah selama dia beraidah muslim dan menjalankan syariatnya kita harus saling berjiwa besar dan mempererat ukhuwah islamiyah. Akhirat bukan cuma milik NU atau Muhamadiyah apalagi milik JIL, mari berlomba-lomba untuk akhirat. Bisa saja suatu saat NU/Muhammadiyah/JIL akan punah yg ada hanya Islam dan itu niscaya dijaga Gusti Allah.
Agama bukan alasan untuk sebuah perpecahan ataupun kekerasan… Semoga Cinta & Ridho Allah Azza wa Jalla selalu untuk kita semua…
Majeliz Dzikir “Putra Bangsa Indonesia” & Komunitas “Sayap Sufi”
“Ilusi Negara Islam” dengan sub judul Expansi Gerakan Islam Transnasional di Indonesia adalah sebuah hasil penelitian yang layak dibaca oleh siapapun, terutama oleh anggota NU dan Muhammadiyah. Islam pernah membuktikan dirinya sebagai ujung tombak peradaban dunia yang kemudian terlupakan bahkan oleh ummatnya sendiri. Kesalahan yang akibatkan terjadinya marginalisasi itu tak semestinya terulang. Dalam pengantar buku itu Gus Dur menuliskan bahwasa negara bangsa adalah buah dari pahit getir pengalaman sejarah Nusantara. Berbagai peradaban besar yang pernah mewarnai perjalanan itu buktikan bahwa pluralisme dan liberalisme adalah akar dari semua keberhasilan. Keruntuhan apapun selalu bermula ketika dinafikannya keberagaman dan kebebasan berfikir, dan tentunya tak harus selalu terulang karena kita bukanlah keledai seperti yang dimisalkan dalam Al Jumu’ah ayat 5 .. Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang dzalim. Maha Benar Pencipta dengan segala petunjukNya.
Muhammadiyah harus lebih progresif!
Jangan terpengaruh oleh issue yang sok nasiolis, ingat model kepemimpinan rosululloh saw dg sifat2 kemuliaannya ( shiddiq, amanah, tabligh, fathonah, asyiddaaun ‘alaal kuffaar ruhamaau bainahum ).Jangan mudah terobsesi oleh Pluralisme, rasionalisme, Demokrasi, HAM, Terorisme, dll. Kita masih punya figur yang harus kita teladani seperti almarhum Bpk. AR.Fahruddin yang yang sangat mumpuni keilmuan dan keulamaannya. ( Kathon Jihady PCM Jetis Ponorogo ).
NU dan Muhammadiyah sama-sama berjuang memperbaiki negeri ini dengan cara-cara yang dimilikinya. Hanya saja NU dan Muhammadiyah belum melakukan apa-apa terhadap kekeliruan yang ada dari pesan Al-Qur’an yang sebenarnya. Padahal hal ini sangat penting dilakukan. Pada akhirnya negeri ini tidak akan berubah dan beranjak dari tempat semula. Cuma begini-begini, mengenal musuh saja tidak. Tidak berani berfikir; tidak membangun dunia; semua perkara selesai karena dialirkan ke hidup sesudah mati. Seharusnya memahami Allah include dengan al-Qur’annya, bukan dzatnya, Ya akhirnya musuh menang tanpa kita bertanding.
mari kita pertahan kan NKRI
Hampir pasti tidak ada tempat bagi pemikiran yang menolak sain dan kemajuan teknologi,NU dan Muhamadiyah perlu memprioritaskan hal ini,kalau tidak ALquran,Tuhan akan jadi lelucon anak anak, dan sekarang sudah terjadi dengan adanya Kartun tentang Nabi Mihammad Saw.
sepakat…NU muhammadiyah memang harus bersatu. bergerak semua berfikir kembali atas dirinya dan memuarakan semua energi dan kepentingannya untuk Islam dan Indonesai. bukan sematauntuk Islam atau semata untuk Indonesai. jika hanya untuk Indonesai ata Islam saja Muhammadiyah atau NU jadi pece. jadi pincang.
sungguh saya apresiasi ketika Muhammadiyah hendak melakukan gerakan islam berbasis budaya, seperti yang dulu sempat membuat tegang dengan komunitas NU. sebaliknya saya berharap besar manajemen organisasi Muhammadiyah yang jauh lebih masif dari NU bisa di segera dikembangkan oleh NU.
atau tinggalkan saja keduanya. mungkin sudah terlalu tua kedua organisasi ini.
indonesai dan islam butuh pemikiran yang lebih jernih.
SELAMAT MUKTAMAR MHAMMADIYAH..
Jika cara pandang dan sikap keberagamaan NU dan Muhammadiyyah yang terbuka dan moderat terus dijaga tidak mustahil kedua ormas Islam tersebut akan melebur dalam alam gagasan yang sama. Gejala tersebut tampaknya sudah terlihat melalui cetusan pemikiran generasi muda dari kedua ormas, namun tampaknya sama-sama mendapat tentangan dari senior mereka.
Komentar Masuk (29)
(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)