Kolom,
14/04/2010

Jiwa Besar NU untuk Muktamar Muhammadiyah

Oleh Saidiman Ahmad

NU dan Muhammadiyah adalah organisasi besar dengan harapan yang sangat besar. Jika kedua organisasi ini dibiarkan stagnan dan terus-menerus mempertahankan sikap statis, maka yang akan merugi adalah seluruh bangsa. Dengan kebesaran yang ada, kedua organisasi ini sejatinya tidak membutuhkan pengakuan dari manapun. Sehingga kampanye menjaga citra sebenarnya adalah percuma. Yang dibutuhkan dari kedua organisasi ini adalah gebrakan-gebrakan dinamis untuk transformasi sosial ke arah yang lebih baik.

14/04/2010 09:44 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (29)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 2 dari 2 halaman < 1 2

tulisannya cukup bagus untuk takaran kaum liberal dan tapi belum tentu baik untuk NU dan Muhammadiyah sebab cenderung SUBJEKTIF…

#21. Dikirim oleh jhon hendri  pada  28/06   03:20 AM

Jum’at (2 Juli 2010) pagi insyaAllah saya dan rombongan dari Fakultas Kedokteran dan Kesehatan Universitas Muhammadiyah Jakarta akan berangkat ke Yogyakarta untuk menyaksikan Muktamar Muhammadiyah [mohon doa ya, semua:)]. Saya pribadi memiliki harapan besar terhadap penyelenggaraan Muktamar organisasi Islam terbesar yang telah berumur 1 Abad itu, semoga Muhammadiyah segera menjadi organisasi yang turut memperjuangkan tegaknya Khilafah Islamiyah di muka bumi ini, karena Islam adalah jalan hidup dan Khilafah adalah solusi dari setiap permasalahan yang terjadi di atas bumi ini. Muhammadiyah yang sejatinya bermakna “Pengikut Nabi Muhammad SAW” sudah seharusnya meneladani Rasulullah dalam segala aspek kehidupan, termasuk dalam kehidupan bernegara.

“Selamat Muktamar, MUHAMMADIYAH-ku.
Aku bangga menjadi bagian generasi mudamu.”

—————————————-
Sudah Saatnya Kita Berubah!
—————————————-

#22. Dikirim oleh El Ayn Morve  pada  30/06   10:04 AM

saya tidak setuju dengan wacana liberalisasi…......ormas ormas islam…...pokok islam tetep islam…........

#23. Dikirim oleh mustadito  pada  04/07   02:22 AM

lha pendiri NU dan Muhammadiyah dulu aj pernah satu pondok dan saling menganggap keduanya guru kok malah yang pengikutnya ribut2 terus. yang dibicarakan cm masalah bid’ah ato ngga, pkai qunut ato ngga. weleh…weleh…dunia dah modern kok malah ngomongin yg ngga penting banget sih.

#24. Dikirim oleh paijo  pada  09/07   03:38 PM

tulisan yang bagus, dewasa. kini jaman dimana smua pihak dituntuk dewasa

#25. Dikirim oleh edy  pada  11/07   09:25 AM

Prinsip dlm dien ini adlh sami’na wa atho’na, alquran dan sunnah sdh jelas tak terbantah, knp qta harus berfikir jauh utk mengungkapnya?

#26. Dikirim oleh Arifin  pada  12/07   01:00 PM

Sebenarnya pluralisme apalagi sih yang diinginkan? Asalkan kita tidak menganggu agama lain itu sudah cukup…....bersahabatlah dengan saudara2 sebangsa yang beragama lain dengan sangat baik secara konteks sosial…...kalau sudah berkaitan dengan masalah agama….harus jalan sendiri2….. pluralisme itu tidak perlu!....nanti malah merusak akidah…....menghargai agama lain itu saja sudah cukup! ga usah berpikiran semua agama itu sama….agama2 di indonesia sudah jelas berbeda….
islam adalah yang terbaik bagi muslim, kristen adalah yang terbaik bagi umat nasrani dst….....wajar bagi muslim menganggap paham kristen kurang tepat. wajar bagi umat nasrani menganggap paham islam kurang tepat. biarlah ada perbedaan pendapat…..yang penting secara sosial kita harus bersahabat baik dengan umat2 lain. nggak usah menganggap semua agama itu sama baiknya….nanti malah menganggu akidah…...

#27. Dikirim oleh Yudi  pada  18/07   02:10 PM

tulisan yang bagus..memang sudah saatnya NU dan muhamadiyah memikirkan pengkaderannya… kurang faham kalau muhamadiyah.. tapi kayanya gejalanya hampir sama kayaknya..‘disana-sini terutama dunia kampus pada dasarnya banyak beratburan generasi2 yang memiliki faham akan 2 organisasi tersebut.. tapi kebanyakan dari mereka terkadang malu untuk mengakui bahwa mereka adalah generasi penerus organisasi itu..
saya kader NU, saya menaruh harapan yang besar agar dikepemimpinan kyai Said ini NU benar-benar memikirkan generasi penerusnya.. saya fikir perlu ada sistem pengkaderan yang lebih jelas lagi NU.. menurut saya dan beberapa kawan saya keberadaan IPPNU dan IPNU belum cukup maksimal keberadaanya untuk mengakomodir kebutuhan pengkaderan NU… apa lagi ansor yang sering kali hanya digunakan sebagai motor politik pencalonan saja..monggo NU kembali ke khittoh…
matur sembah nuwun, salam satu jiwa

#28. Dikirim oleh dki  pada  27/07   08:25 PM

Anda menulis tidak menggunakan standar ilmiah dan tidak mengalami langsung peristiwa muktamar. Buktinya data yang anda tulis salah tentang perolehan suara Hasyim Muzadi. Mbok dicek dulu sebelum terbit..ini sangat tidak ilmiah dan anda perlu belajar verifikasi data..mas selamat menulis

#29. Dikirim oleh Dono  pada  04/10   03:59 PM
Halaman 2 dari 2 halaman < 1 2

Tulis Komentar

Nama:

Surat-e:

Lokasi:

Situs:

Ingat data pribadi saya

Ingin dikirim setiap umpan balik komentar yang masuk?