Reportase,
05/01/2010

Jurus-jurus Metodologis Melawan Pemuja Teks Liputan Diskusi Buku Metodologi Studi Alquran

Oleh Hatim Gazali

Setiap penafsiran terhadap Alqur’an yang hanya berhenti pada teks, berarti telah menyembah teks itu sendiri. Ini penting disampaikan karena akhir-akhir ini banyak terjadi salah pengertian terhadap tafsir klasik, seperti pengertian hifdz al-dîn. Makna hifdz al-dîn dalam konsep al-Ghazali dan al-Juwaini adalah adanya larangan untuk keluar dari suatu agama. Akan tetapi, disini perlu ada pemaknaan baru dengan tetap meminjam bahasa lama. Karena itulah, saya sepakat memberikan pemaknaan baru terhadap hifdz al-dîn dengan kebebasan beragama.

05/01/2010 12:01 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (32)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 2 dari 2 halaman < 1 2

Agama itu jalan Alloh, yaitu pencapaian hakekat dengan cara syariat. Apa syariat (metode) itu dan apa yang disebut hakekat. Jadi bukan persoalan teks, konteks, atau makna semata.

#21. Dikirim oleh sukrisna  pada  15/03   03:05 PM

subhanallah Maha Suci Allah dari apa yang manusia sifatkan kepada-Nya…Nabi Nuhannad SAW adalah manusia pilihan Allah SWT sehingga Allah menjaganya dari setiap kesalahan (dima’sum) berbeda dengan ulama-ulama mereka manusia biasa seperti kita..kalau kita mau menyanggah pendapat mereka tentang penafsiran satu ayat dri ayat-ayat Al Qur’an itu sah-sah saja karena mereka tidak terma’sum lain halnya degan Rasulullah SAW..tetapi perlu kita ketahui metode para ulama itu merujuk pada nilai-nilai yang dipesankan oleh guru-guru mereka dari para tabi’ut tabi’in dan tabiut tabiin dari para tabi’in dan para tabi’in dari para shabat dan para sahabat dari Rasul SAW..jelas di sini ada konsep yang jelas dan berestapet sehingga pemahaman yang disampaikan dari satu generasi le generasi yang lain bisa terjaga kemurniaannya..hanya di tengah2 perjalanan sampainya pemahaman tersebut diselingi oleh para musuh2 Allah Yahudi Laknatullah yang ingin mengotori ajaran2 islam yang murni dengan menyelipi pada bagian silsilah keestapetan memahami agama sehingga estapet pemahaman pun jadi keruh…dengan melihat keadaan seperti itu para ulama dengan sekuat tenaga membersihkan sisipan dari makhluk ang dlaknat Allah yahudi itu dengan membuat formula2 yang benih2nya telah disitir di dalam ayat2 Al Qur’an agar Al Quran itu terjaga kemurniaannya dan itu adalah janji Allah yang akan menjaganya..dengan munculnya ulama2 yang konsen terhadap masalah hifdzud diin ini merupakan kehendak Allah yang Dia sendiri menjanjikan kemurnian Al Qur’an dari perubahan, ta’wil dan tahrif..karena untuk memahami pesan2 Allah dalam Al Qur’an tidak akan sampai oleh kakal kita to karena penafsiran2 akal kita akan beragam tak sama..karena itu dalam kisah perjalanan Nabi Musa as dengan Nabi khidir as dejelaskan apa yang ditfsirkan oleh Nabi Musa as keliru karena itu Nabi khidir as menjelaskan bahwa semua maksud yang sebenarnya adalah datang dari Allah SAW dan Allah lah yang akan memahamkannya pada manusia lewat perantara Rasulnya yang dari jenis manusia agar manusia bisa mengerti bisa melihat dan mencontonya dengan jelas..karena itu peranan ulama yang disebut oleh Rasul pewaris para Nabi..wajar untuk kita ikuti selama tidak ada yang bertentangan dengan konsep2 dalam Al Qur’an dan rumusan-rumuan hadits shahih yang merupakan panduan ke-2 setelah Al Quran bahkan sebagai pelengkap dari Al Qur’an itu sendiri..kemudian sekarang muncul generasi2 baru yang ingin mengadakan perubahan/ tajdid…dengan apa kalian akan mentajdid penafsiran AlQur’an??? dengan rasio cerdas anda yang kecerdasannya terbatas..yang tidak akan sampai pada maqosid yang dimaksudkan oleh Allah SWt tanpa bimbingan dari Allah SWt lewat Rasul dan pewarisnya yaitu ulama..

karena keingian setan adalah menyimpangnya manusia dari petunjuk Al-Qur’an yang diturunkan oleh Allah sebagai manhaj hidup manusia di dunia selama mereka hidup di dunia ini agar mereka lulus dari serangkaian perjalanan kehidupan di dunia ini agar mereka kembali ke tempatnya semula yaitu surga di mana bapa manusia dulu Allah tempatkan di sana.
manusi untuk bisa kembali lagi ke tempat aslinya yaitu surga harus menebusnya dengan ujian dalam hidup di dunia dan tugas manusia adalah ibadah..lalu setan tidak bisa membiarkan begitu saja..ia mulai melancarkan tipu dayanya sejak manusia lahir sampai manusia meninggal agar mereka tidak kembali ke tempat semulanya dengan menjauhkan mereka dari petunjuk Allah manhaj hdup manusia yaitu Al Qur’an dan bimbingan contoh rasul. semoga kita tidak terjebak dalam retorika2 setan yang sangat tidak suka bila kita berpegang teguh pada Al-quran dan as sunah. wallahu ‘alam bishshawab.

#22. Dikirim oleh Abdul Wahhab  pada  26/03   05:38 PM

Allah tuhan segala agama???... bukan, Allah itu tuhan segala makhluk, sedangkan semua agama itu buatan manusia kecuali Islam, satu-satunya agama yang diakui tuhan sebagai jalan keselamatan, sekeras apapun kita berkelit akhirnya semua akan menyaksikan kalau hanya Islam yang selamat, dunia ini menuju Islam, baik sukarela maupun terpaksa. Beruntunglah yang sukarela, merugilah yang terpaksa karena sepanjang masa ia akan merasa tersiksa…

#23. Dikirim oleh majin  pada  28/03   02:12 AM

Logikanya, pada saat anda menulis tulisan anda, anda pakai MS Word yang versi akhir yang bisa membaca versi sebelumnya.Yang lengkap adalah versi yang terakhir.
Demikian juga dengan Qur’an dan Islam. Qur’an Membenarkan kitab yang terdahulu di masanya, melengkapi, menambahkan, untuk menjawab tantangan hidup masa sekarang sampai akhir untuk perdamaian dunia.Aneh, kalau Microsoft sudah mengeluarkan versi baru, tapi anda masih mau pakai versi lama!! tidak akan bisa berkomunikasi. Atau anda mau pakai PC tahun 80an untuk masa kini???Kenapa anda berfikiran mundur, sementara Qur’an mengajak anda untuk maju.

#24. Dikirim oleh Abdul Rahman  pada  18/04   03:42 AM

“Setiap penafsiran terhadap Alqur’an yang hanya berhenti pada teks, berarti telah menyembah teks itu sendiri.” lokgika semacam ini salah. karena kalau anda mendapat surat perintah dari presiden, lalu anda tafsirkan secara tekstual,untuk anda ikuti perintahnya, itu semata -mata karena anda tunduk pada pribadi presidennya, bukan tunduk dan khidmat pada tinta dan kertasnya..

#25. Dikirim oleh andi  pada  14/05   06:18 AM

Yang satu ingin mengamal kan hasil pemikiran yang satunya lagi menjelaskan yg sudah ada. Kehidupan dunia dan akherat sudah diatur oleh Alquran,bukan alquran yg diatur oleh dunia dan akherat itulah kekuasaan Alloh semata.

#26. Dikirim oleh guruh  pada  26/05   09:57 PM

Lihatlah bagaimana mereka memperebutkan kalam tuhan

#27. Dikirim oleh rinan ar-rumi  pada  29/06   11:04 AM

setiap orang bebas melakukan penafsiran dan memiliki pemahaman apapun karena itu hak setiap orang, cuma ketika ada pemikiran dan gerakan kebebasan beragama sepertinya selama ini telah terjadi pemaksaan orang untuk beragama, kalau yang diusung itu kebebasan beragama maka apakah sikap yang terbaik adalah agama itu memang harus dilepaskan saja karena itu menjadi belenggu..? kalau menurut saya bukan agama yang membelengu manusia tapi manusianya saja yang salah dalam memahami agama…

#28. Dikirim oleh Alip  pada  11/07   08:57 AM

anda katakan: [Karena itulah, saya sepakat memberikan pemaknaan baru terhadap hifdz al-dîn dengan kebebasan beragama]. kesimpulan: [hifdz al-dîn = kebebasan beragama] hifdz=menjaga. kebebasan=membuka batasan
jika ungkapan anda kita coba diterapkan pada objek lain selain ad-din apakah masih masuk dalam nalar: menjaga ayam = membuka kandang ayam—> hasilnya ayam pada kabur (gagal), menjaga air = membuka keran air—> hasilnya air pada tumpah (gagal), menjaga anak gadis = membebaskan anak gadis—> anak gadis hamil (gagal), menjaga kebun = membuka pagar—> tanaman rusak di injak2 (gagal).
kalau balik ke ad-din: menjaga ad-din = kebebasan beragama—> (gagal), orang-orang seperti ini bicaranya agama islam, tapi istilah2 yg dipakai lebih banyak istilah para orientalis.

#29. Dikirim oleh difa  pada  14/07   11:20 PM

Pendekatan tekstual yang digunakan harus dilawan dengan pendekatan literal juga. Jadul menyajikan contoh ayat yang kerap digunakan para pemuja teks, inna al-dîna `indallâhi al-Islâm. Terhadap ayat ini tak perlu pendekatan maqashid al-syariah seperti yang dilakukan Moqsith, melainkan cukup pendekatan tekstual. Menurut Jadul, Islam pada ayat tersebut tidaklah merujuk kepada pengikut Muhammad, melainkan juga kepada umat-umat lainnya. Di ayat lain, jelas Jadul, Ibrahim menjadi prototipe dari muslim yang lurus, sehingga Islam harus dimaknai lebih luas dari sekadar pengikut Nabi Muhammad. Karena itulah, menyatukan umat Islam berarti juga menyatukan seluruh umat, termasuk umatnya Nabi Ibrahim dan nabi-nabi setelahnya.

#30. Dikirim oleh ramana  pada  19/07   04:14 PM

jil dan fundamentalis sama saja, selalu menghindari kesimpulan sederhana dan benar, ada yang salah dengan islam, bukan muslim.islamlah yang salah, bukan muslim.

#31. Dikirim oleh hasbi  pada  29/09   07:40 AM

kita terlalu betrtele tele membicarakan hal ini. Sebaliknya kita lihat, banyak rakyat dipadesaan (mayoritas adalah muslim) yang miskin, terjerat kungkungan kemiskinan. Sebaiknya para pemimpin umat/ahli Islam, melihat kondisi ini. Kasihan mereka, untuk urusan kebutuhan phisik saja mereka sangat kurang, apalagi memikirkan kebutuhan bathin. Dan mereka tida perlu tafsir tafsir yang dilangit yang tinggi, tetapi bagaimana memenuhi kebutuhan phisik mereka. Jangan salahkan agama lain (non Islam), yang langsung memberikan pemecahan masalah-nya. Maturnuwun

#32. Dikirim oleh Yanto  pada  30/04   01:42 PM
Halaman 2 dari 2 halaman < 1 2

Tulis Komentar

Nama:

Surat-e:

Lokasi:

Situs:

Ingat data pribadi saya

Ingin dikirim setiap umpan balik komentar yang masuk?