Wawancara,
15/09/2003

Dr. Jalaluddin Rakhmat: Kafir itu Label Moral, bukan Akidah

Oleh Redaksi

Fenomena bom bunuh diri yang dilegitimasikan atas nama agama sekarang ini terjadi juga di Indonesia. Biasanya kita hanya mendengarnya di Palestina atau negara-negara Timur Tengah untuk melawan Israel. Tiba-tiba istilah ini menjadi akrab buat kita di negeri kita. Sebenarnya bagaimana sih kok bisa ada bom bunuh diri? Apakah perbuatan ini dibenarkan dalam Islam? Benarkah mereka yang melakukannya demi jihad melawan kaum kafir? Siapakah kaum kafir itu?

15/09/2003 04:42 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (33)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 1 dari 2 halaman 1 2 > 

Memang menarik sekali apa yang diutarakan oleh Kang Jalal, melalui wawancaranya dengan Ulil Abshar Abdala tentang fenomena bom bunuh diri yang sering terjadi akhir-akhir ini di Indonesia maupun yang yang di luar negeri.

Pertama, sebenarnya fenomena bom bunuh diri itu bukan identik dengan Islam. Jauh sebelum bom bunuh diri yang dilakukan oleh orang yang mengatasnamakan Islam terjadi, bom bunuh diri telah dilakukan oleh kelompok-kelompok diluar Islam.

Sangat disayangkan sekali, apabila kasus bom bunuh diri yang terjadi sekarang ini selalu dan selalu dikaitkan dan diidentikan dengan Islam. Walaupun sebenarnya, kita tidak bisa memungkiri bahwa aksi bom-bom yang sering terjadi dilakukan oleh “orang yang mengaku Islam”.

Kedua, kasus-kasus bom yang terjadi sekarang ini seperti di Palestina, Iraq dan bahkan di Indonesia adalah suatu bentuk simbol perlawanan terhadap musuh Islam. Walaupun kita masih saling bertanya-tanya, siapakah musuh Islam ??? Amerika, Israel ataukah umat Islam sendiri yang suka melanggar ajaranNya. Tetapi opini yang terbentuk bahwa musuh Islam adalah semua bentuk yang memerangi Islam.

Ketiga, Islam saat ini adalah Islam yang sangat lemah dan tidak bersatu padu. Islam sering diserang oleh berbagai musuh, musuh yang ada diluar Islam maupun musuh yang ada di Islam itu sendiri. Sehingga terjadi frustasi untuk melakukan perlawanan terhadap musuh Islam. Karena ketidakberdayaannya umat Islam untuk bertahan apalagi menyerang musuh. Akhirnya, timbulah aksi-aksi bom bunuh diri terjadi di mana-mana. Di Iraq, terjadi karena terjepit dengan agresor Amerika, di Palestina terjepit karena penjajah Israel.

Sehingga aksi-aksi bom bunuh diri menjadi jalan alternatif sebagai upaya perlawanan melawan musuh. Itu semua karena disebabkan oleh musuh Islam sendiri yang selalu menyerang (Amerika dan Israel)

#1. Dikirim oleh Hermawan  pada  15/09   06:10 AM

Saya kira bagian yang paling menarik dari pandangan Kang Jalal dalam wawancara kali ini adalah tentang konsep kufr dalam Al-Quran yang lebih banyak berkaitan dengan masalah moralitas ketimbang teologis dalam pengertian sempit.

Saya masih ingat, Kang Jalal pernah menerjemahkan hadis Nabi “la yu’minu ahadukum hatta yuhibba li akhihi ma yuhibbu linafsij” dengan “ateislah orang yang tidak mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai diri sendiri” dan hadis-hadis sejenis, termasuk tentang seorang yg tidur kenyang sementara tetangganya kelaparan yang disebut dlm wawancara.

Upaya Kang Jalal untuk melakukan penelitian serius dan mendalam mengenai konsep kafir dalam Al-Quran sebagai terminologi yang banyak merujuk kepada kategori-kategori moralitas sosial ketimbang aqidah menurut saya akan disambut dengan antusias oleh kawan-kawan yang sudah sangat percaya pada kredensial dan otoritas Kang Jalal dalam ilmu-ilmu agama.

Di sini saya ingin menyebutkan kembali, mungkin Kang Jalal sudah membaca dan masih mengingatnya, bahwa kajian yg cukup serius mengenai konsep “kufr” dalam Al-Quran dg pendekatan tafsir mawdhu’i telah pernah dilakukan oleh seorang doktor keluaran IAIN Jakarta dalam disertasinya di bawah bimbingan Prof. Nurcholish Madjid dan Prof. Quraish Shihab. Namanya Dr. Harifuddin Cawidu.

Disertasi itu kemudian dibukukan dan diterbitkan menjadi, “Konsep Kufr dlm Al-Quran Sebuah Kajian Tafsir Tematik (Jakarta: Bulan Bintang, 1989)”. Sambil meminjam kerangka tafsir tematik, khususnya Binti Syathi dan pendekatan semantik Tosihiko Izutsu, Harifuddin Cawidu tiba pada kesimpulan bahwa term kafir dlm Al-Quran menunjuk kepada 7 (tujuh) makna/pola prilaku, antara lain kafir inkaru an-ni’am, kafir dosa besar, kafir thd kebenaran, dst.. Di antara 7 makna utama term kafir itu, sebagian besarnya menunjuk kepada kondisi moral manusia tanpa memandang kepada keyakinan teologis bahkan agama apa pun yg mereka anut. Jadi, ini meneguhkan temuan Kang Jalal tadi. Wallahu a’alm.

Abu Ahmad

#2. Dikirim oleh Abu Ahmad  pada  15/09   08:10 PM

Saya ingin bertanya kepada Kang Jalal, apakah redaksi JIL bisa meneruskan?

Saya ingin tau bagaimana Muslim bisa mengangkat senjata moderen dan menganggap diri menjalankan Syariah Islam, sebab setahu saya ada pidato Nabi tentang batas-batas perang, yang tak mungkin dipenuhi dengan pemakaian persenjataan moderen baik konvensional maupun biologis, kimia dan nuklir. Semua jenis senjata itu tak bisa menjamin keamanan anak-anak, wanita, orang tua-tua, ahli agama, gedung bangunan dan rumah ibadah serta hewan ternak dan tanaman tani, yang disyaratkan keamanannya dalam pidato Nabi tersebut. Tidakkkah lebih Islami jika ulama Islam dewasa ini menolak segala macam perang?

Selain itu, meski tafsir Kang Jalal mengenai kafir itu menarik dan menyentuh hati, tetap saja di masyarakat kita kata kafir belakangan ini semakin identik dengan Non-Islam, bahkan kadang juga mengandung implikasi rasialis. Jadi ada jarak yang sangat lebar antara kebijakan Kang Jalal dan fanatisisme yang berkembang di masyarakat Muslim secara luas. Inikah yang membuat tingkah polah ummat Islam tidak Islami? 

Sekali lagi, Kang Jalal, tidakkah sebagian besar peralatan perang moderen,  dari sifatnya saja sudah sangat anti Islam? Sangat beda lho, bom nuklir dibanding dengan lembing tombak, meski (seperti kesukaan wong Jowo) lembing tombak itu diberi nama Kiai Sambar Geledhek pun!

Salam awam, Bram.

Catatan Redaksi:

JIL akan meneruskan pertanyaan ini kepada kang Jalal.

#3. Dikirim oleh Bramantyo Prijosusilo  pada  16/09   06:10 AM

Menyimak wawancara Kang Ulil dengan Kang Jalal , saya sangat tertarik sekali , betul sekali , sepertinya perlu penjelasan lagi arti jihad dan kafir di negara kita ini yang sudah dari kecil , kita diajar tentang agama, dimana yang mengajar kita sepertinya begitu-begitu saja, dan masih memandang Jihad dan Kafir seperti kebanyakan sekarang ini ....,sepertinya perlu diperjelas lagi , sehingga tidak bersemangat mengebu-gebu , tapi malah menjadi monster bagi keamanan, kedamaian , dan hidup di dunian ini.

mengenai bom bunuh diri , saya mengira bahwa bangsa kita ini kadang agak ikut-ikut-an , jadi kalau diluar sana ramainya apa ..., ya kita jangan ketinggalan , kalau diluar sana ramainya Bom bunuh diri , yah kitapun bisa ....(ikut-ikut-an), akhirnya kita nih hanya ikut-ikut-an , tapi ngak tahu masalah yang sebenarnya.dan faedah sebenarnya kita ngak dapat.

Semoga kita lebih belajar lagi.

Sekian.

#4. Dikirim oleh nano  pada  17/09   05:09 AM

Saya tidak bermaksud menanggapi komentar anda. Tapi saya hanya ingin bertanya: dimanakah dapat dibeli buku berjudul : Konsep Kufr dalam Al Qur’an Sebuah kjian Tafsir Tematik (Jakarta : Bulan Bintang, 1989) ?? Ini mengingat buku tsb. terbit pada tahun 1989.  Terima kasih atas bantuan anda.

#5. Dikirim oleh nangkathok n n  pada  17/09   08:09 AM

Saya tertarik untuk menanggapi konsep kufr yang dikemukakan Kang Jalal. Konsep kufr dari Kang Jalal tidak sesuai dengan fakta sejarah, hal ini kerena beliau merujuk hanya kepada beberapa ayat Al Qur’an dan hanya satu hadist (meskipun dikatakan telah melihat seluruhnya dari Al Qur’an, tapi tidak menyebutkannya). Padahal sedikitnya ada 444 kata ‘kufr’ dalam Al Qur’an, silakan anda cek.

Tentulah akan lebih akurat untuk mendefinisikan siapa orang-orang kufr itu menurut Rasulullah dengan melihat sekian banyak hadist beliau. Apalagi pendapat yang terjamin kebenarannya adalah pendapat Rasulullah. Bahkan tindakan beliau adalah konsekwensi dari kebenaran pendapat beliau (Rasullauh).

Nah, bukankah kenyataan sejarah membuktikan bahwa perang-perang jihad yang dilakukan Rasulullah bersama para sahabat adalah memerangi orang-orang yang kufr. Berarti mereka yang diperangi itulah yang tepat untuk ‘memperlihatkan’ definisi kufr medalam Al-Quran.

Hafidz

#6. Dikirim oleh hafidz  pada  18/09   02:09 AM

melihat dan membaca pa yang dibilang nano. saya nggak tau itu mbak atu mas, sebab kalau orang jawa bilang o bisa a dan o juga bisa a. dari sini kiranya apa yang jenengan katakan itu adalah hal yang bener dan sesuai dengan kenyataan yang ada, akan tetapi saya lebih berpikiran personal dimana orang sekarang hidupkan tambah susah, oleh sebab itulah ditengah perhelatan hidup yang semakin keras, dalam persaingan menuju cita-citanya, orang cendrung bersikap dan bertindak insta. ekh sorry kayak pengamat aja nikh, habis ngak biasa jadi pengamat sikh, maunya diamati terus sikh…. nggak lah yaouuu…, sorry mas malakh ngekantur nikhhh,dan orang itu ingin tampil beda. tapi semua itu saya rasa memang sudah menjadi dampak dari perkembangan informasi dan teknologi, dimana orang cenderung bersikap dan berpikiran konsumtif. jadi apa yang nano bilang didepan menurut hemat saya adalah sebagai suatu hal yang wajar, kalu itu dilihat dari perorangan, tapi kalau dilihat dari segi yang lain…... tentulah orang akan bilang setuju bahwa pa yang dilakukan orang dalam mencapai tujuannya dengan tindak kekerasan termasuk bunuh diri adalah tidak benar, tapi yakh itulahh nyatanya juga ada tukh yang ngalakuin , dan setelah ditanya dasarnya sang pelaku jawabnya jihad, jadi apa yang dikatakan oleh kangmas ulil dan jalal mengenai tema diatas, yakhhhh gimana kita dapat memperjuangkan arti dari itu semua dengan akal pikiran yang jernih dan bijak itu ajalakh mas. trims. selamt berjuang untuk mengkonvensikan kata jihad dan kufur, semoga tuhan selalu bersama kita semua amin, ekh mas kenalin dong sama mas ulil dan mas jalal, termasuk mas snediri yakh, gimana nikh bontang udah ada belum jaringan islam liberal aku mau gabung nikh…...

#7. Dikirim oleh alwihusen  pada  19/09   12:09 AM

Menanggapi tulisan Kang Jalal, saya berpendapat, bahwa akar jihad dengan kekerasan seperti terorisme memang berakar dalam sejarah Islam politik. Pada masa Rosul, islam politik berorentasi pada pembumian nilai Islam atau berkaitan jihad dalam revolusi akidah. Dan ketika terbentuk komunitas madaniyah pembumian nilai Islam berorentasi pada revolusi sistem sosial atau kemasyarakatan. Pasca kepemimpinan Rosul nilai perjuangan Islam agak bergeser atau mengalami distorsi, yaitu secara eksplisit beorentasi pada kekuasaan. Disinilah muncul berbagai cara mempertahankan dan merebut kekuasaan. Politik Islam terkontaminasi yang semula berorentasi pada pembumian nilai Islam menjadi perebutan kekuasaan. Dari berbagai cara tersebut adalah dengan kekerasan, yang identik dengan terorisme, seperti terbunuhnya khalifah Usman bin Afan. Sedangkan pada sejarah Romawipun yang notabenenya kekuasaan dekat dengan Agamawan, juga terjadi distorsi, yang menyebabkan ketidak obyektifan dalam hukum Agama yang saat itu Nasrani. karena terpengaruh oleh kekuasaan. Awal suatu perpolitikan yang menagrah pada kekerasan. yang juga bentuk dari terorisme. Jadi disini ada suatu kesenjangan motivasi dalam politik kekerasan (terorisme). Yang dari sejarah Islam politik kekerasan yaitu terorisme berorentaasi sebagai perlawanan terhadap kekuasaan atau penguasa, sedangkan pada sejarah barat politik kekerasan atau terorisme berorentasi pada guna mempertahankan dan memperluas kekuasaan.

#8. Dikirim oleh Panduwagung  pada  21/09   08:09 AM

Nangkathok,

Sayangnya Anda tdk menyebutkan di kota mana Anda tinggal. Buku-buku terbitan Bulan Bintang biasanya mudah didapatkan di toko2 buku tradisional (bukan semacam Gramedia, misalnya). Kalau di Jakarta, Anda tentu bisa ke Toko Buku Masagung (Idayu), di Yogya ke Shopping Center, dan di Bandung ke pasar Palasari. Asal Anda rajin bertanya aja. Alternatifnya, anda bisa baca di perpustakaan2 IAIN mana saja. Alternatif terakhir, Anda bisa ke perpustakaan UIN dan minta koleksi judul2 disertasi IAIN Jakarta, Anda pasti akan menemukan disertasi Dr. Harifuddin Cawidu itu. Untuk sementara sekian.

Salam

#9. Dikirim oleh Abu Ahmad  pada  21/09   11:09 AM

ass. wr wb

Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, dan kita berlindung kepada-NYA dari seluruh godaan syetan dan kemungkaran.

Sangat menyentuh apa yang diungkapkan oleh Bp. Jalaludin Rahmat, “kafir itu adalah label moral bukan akidah”

Sungguh sangat disayangkan kalau kata-kata ini dicuapkan oleh seorang yang memiliki pengetahuan agama yang cukup baik.

Secara nyata kafir itu adalah orang yang tidak memiliki akidah, orang yang tidak mengakui adanya Tuhan Allah yang esa dan Rasul Muhammad SAW sebagai rasul akhir jaman dan tidak berdienkan agama islam, bukan orang yang berakidah berarti orang yang mengakui adanya tuhan yang esa, mengapa Bp. mengatakan kafir adalah laber moral dari mana bapak mendapat dalil yang demikian.

Sungguh pemahaman yang demikian ini sangat keliru, dan saya sangat menyangsikan akan keislaman bapak (maaf).

#10. Dikirim oleh dedi sugawa  pada  23/09   11:09 AM

Saya sedih membaca komentar Dedi Sugawa yang menyangsikan keislaman Kang Jalal, hanya karena kang Jalal memberi interpretasi segar terhadap kata kafir.

Angkuh benar sikap Dedi Sugawa (yang barang tentu Muslim tulen) dan keangkuhan itu ternyata meluas. Yang merasa paling benar Islamnya di masyarakat, sangat banyak, bukan Dedi Sugawa saja. Komentar Dedi Sugawa mengingatkan lagi, betapa masyarakat Muslim tidak lagi Islami polahnya.

Dedi Sugawa tidak salah memberi arti pada kata kafir. Tetapi dia tidak menjelaskan apa itu artinya mengakui Allah yang Esa dan kerasulan Muhammad, Damai Allah Padanya. Bagaimana pengejawantahan iman itu dalam hidup sehari-hari? 

Dari komentar Dedi ternyata bahwa menurut dia Islam itu artinya mencurigai sesama saudara dengan sinisme yang amoral. Tega nian dia menyangsikan keimanan seseorang, arogan sekali sikapnya seolah tau batin manusia lain! Sulit bagi saya menemukan dien Islam,  keesaan Allah maupun kerasulan Muhammad pada komentar Dedi Sugawa.

Buat Dedi, saya berdoa untuk Anda, semoga Allah membuka hati dan pikiran Anda untuk menghidupkan Islam dengan semangat Rasulullah yang menghendaki pembaruan dan kemajuan. Janganlah Anda justru membunuh Islam dengan memasang kacamata kuda dalam penafsiran sempit yang tak mengindahkan ayat-ayat Allah lainnya di luar Al Qur’an.

Ayat di luar Al Qur’an? Ya, yang setiap hari ditemukan ayat baru oleh para ilmuwan alim dan ulama. Ayolah kita sadari bahwa ternyata banyak hal yang dulu dianggap Islami ternyata samasekali tidak demikian. Ngotot berpegang pada cara-cara lama yang dirasa benar itu sama dengan tingkah Abu Lahab berupaya menghadang cahaya Islam yang dibawa Muhammad. Abu Lahab dijamin binasa oleh ayat suci.

Salam, Bram.

#11. Dikirim oleh Bramantyo Prijosusilo  pada  25/09   06:09 AM

Assalamualaikum Wr Wb,

Saya setuju dengan pendapat Bung Dedi Sugawa-metro re ke Islaman Kang Jalal.

Dan sudah banyak bukti apa yang dilaksanakan Islam Lib belum ada gunanya untuk “khalayak ramai Indonesia”, malahan sangat bermanfaat bagi non-muslim seperti Muchtar Pakpahan untuk mensetir kemaunnya re “kafir”.

Alangkah indahnya apabila Islam Lib membengkokkan usahanya ke bidang banking industry atau industri lainnya(seperti Bank Muamalat) yang banyak berguna bagi khalayak ramai Indonesia yang masih sangat miskin. Dan saya yakin Islam Lib sangat qualified untuk memperdayakan ekonomi ummat yang makin terpuruk ini.

Untuk Kang Jalal coba bersilaturahmi dengan Bang Imad (Imanuddin) sehingga lebih jelas dengan re kafir dan akidah.

Wassalamulaikum Wr Wb

M.Nasir

#12. Dikirim oleh muhammad Nasir  pada  26/09   12:09 AM

Kang Jalal, bagaimana dengan makna kafir yang berarti ‘menutupi’ atau ‘tutup’?

Orang-orang kafir juga berarti orang yang menutupi diri dari kebenaran Ilahi, yang itu berarti menutup diri dari Islam. Orang-orang nonmuslim juga sah untuk kita sebut sebagai orang kafir, karena mereka tutup mata hati mereka terhadap seruan untuk beriman kepada Allah Yang Esa, Rasul Muhammad dan Kitab Sucinya Al Qur’an. Ini jelas, kafir juga terkait dengan label akidah. Referensi untuk mendukung itu sangat banyak, mulai dari kitab klasik sampai kitab-kitab kontemporer.

Jadi, saya kira Kang Jalal kurang bijak, jika menyebut kafir sebagai (hanya) label moral, tanpa mengatakan bahwa ia juga merupakan label akidah.

Apakah ini karena kebetulan yang bertanya adalah seorang muslim ‘urakan’ semacam Ulil?

#13. Dikirim oleh A. Joko Mulyono  pada  26/09   05:09 AM

Saya merasa prihatin pada Kang Dedi Sugawa dengan tanggapan “Sangi Keislaman Kang Jalal”. Begini Saudara Dedi, keyakinan seseorang tidak akan pernah dapat diketahui orang lain. Yang tahu hanya dirinya sendiri dan Tuhan.  Kita harus selalu berprasangka baik terhadap siapapun. Karena berprasangka buruk akan merugikan kita sendiri. Ibarat api memakan kayu bakar, berprasangka buruk akan memakan apa-apa yang baik, terutama yang ada pada diri kita sendiri.

#14. Dikirim oleh Sarjono  pada  30/09   11:10 PM

Saya sangat menyayangkan perkataan orang pintar setingkan Jalaluddin Rakhmat pada wawancara berjudul “Kafir itu Label Moral, bukan Akidah”.  Mungkin pendidikan saya yang hanya setingkat SMA/SMU tidak setara dengan Jalaluddin Rakhmat. Namun saya sangat menyayangkan orang sepinter dia menggunakan kepinterannya untuk menggoyahkan pemikiran orang awam mengenahi “kafir” yang tidak termasuk dalam akidah.

Kang Jalal memang sudah memakai hukum-hukum yang ada dalam Alquran/hadis. Namun dalil-dalil yang dipakai bukan untuk menerangkan melainkan untuk menggelapkan. Kebanyakan kelompok-kelompok yang anti Islam, punya langkah yang sama dengan kang Jalal dalam memandang hukum-hukum yang ada dalam Alquran ataupun hadis. Mereka membuat orang-orang menjadi tidak paham, atau malah menjadi tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah. Bagi para pembaca yang tingkat pemikirannya/pemahamannya setingkat orang awam, mari kita telaah lagi; kebenaran yang mutlak hanya ada pada Allah SWT. Untuk melengkapi bantahan saya bahwa pernyataan kang Jalal salah dapat disimak dari Alquran surah Al-Kafirun.  Pada surat Al-Kafirun, dengan jelas dibedakan antara yang kafir dengan yang beriman pada sisi akidah. “Katakanlah, hai orang orang kafir. Aku tidak menyembah apa yang kamu sembah”. Di sini dengan sangat jelas diterangkan batas (akidah) antara mereka yang kafir dengan tidak kafir.

Saran saya pada Kang Jalal: kalau jadi orang pintar, jangan menggunakan kepintaran untuk membingungkan orang.

#15. Dikirim oleh Sarjono  pada  30/09   11:11 PM

Bismillahirohmanirohim

Assalamualaikum wr wb

Kenapa sampai begitu sekali ya Dr Jalaluddin membuat statement yang bercanggah dengan keimanan nya.

Surah Al Kafirun jelas sekali membezakan antara muslimun dan kafirun dan begitu juga surah At Taubah ayat 28.

Kalau gitu saya khuatir ya, kalau satu hari Dr Jalaluddin menjadi Gabenor Mekah, nanti orang orang Islam tidak dibenarkan masuk ke tanah haram kerana kita dilabel kafir.

Manakala orang orang non-muslim pula dibenarkan masuk ketanah haram sebab mereka ini mengikut Dr Jalaluddin bukan kafir kerana AlQuran tidak pernah mendefinasikan sedemikian terhadap mereka.

Aduuuh !! macam mana ya.

Wassalam Sa’at b Mohamed Singapore

#16. Dikirim oleh Sa'at bin Mohamed  pada  01/10   11:11 PM

Saya kira ungkapan Kang Jalal itu sah-sah saja, orang namanya mengartikan sebuah kata, kan ya bisa beda-beda. Kafir itu kan kata, julukan, predikat, ya terserah yang mengucapkan. Kalau ternyata ada yang beda mengartikan ya sah-sah saja. Wong itu versinya Kang Jalal.  Kang Jalal pasti juga sadar koq dan maklum kalau dia juga belum tentu yang paling benar, orang lain belum tentu salah. Kalau Kang Jalal merasa benar, itu kan perasaan Kang Jalal saja. Saya juga gak menyalahkan dia.

Sama saja seperti orang surabaya bilang “jancuk”, bagi orang lain ngeri mendengarkan, tapi bagi kalangan muda, itu sapaan terakrab. Siapa yang benar kalau begini ?, kan terserah orang masing-masing. Wong namanya mengartikan kata, lha ya terserah tho !.

Kalau mau dibukukan di kamus bahasa Indonesia, ya diserahkan saja sama yang berwenang, gitu aja kok repot…

#17. Dikirim oleh Abdul Haris Wibowo  pada  02/10   04:10 AM

Saya hanya geli melihat ke-PD-an beberapa saudara yang dengan mudahnya mencap “kafir” pada sesamanya. Pake acara meragukan keislaman seseorang lagi.

Inilah yang memprihatinkan dari corak Islam kebanyakan orang Indonesia yang terlalu mempertahankan dogma-dogma jahiliyah. Umat Muslim yang masih “sarungan” memang tidak pernah toleran pada pembaharuan Islam. Mereka memegang teguh ajaran yang merupakan produk zamannya, zaman jahiliyah. Bukankah zaman menuntut lahirnya pola baru dalam Islam, yang memerdekakan kita dari ke-jahiliyah-an.

Satu hal lagi, menjadi Islam bukanlah dengan penampilan yang “di-arab-arab-kan”. Kayak penyanyi dangdut yang suka bawa-bawa tasbih itu… Menjadi Islam tidak membuat kita tidak lagi menjadi orang Indonesia dengan kemajemukan budaya dan agamanya. Jangan tiru orang-orang Yahudi dan Arab yang primordial, menganggap diri paling benar. Toh Arab tidak lebih baik dari kita.

#18. Dikirim oleh M. Taufik Harrisakti  pada  02/10   09:11 AM

Yth. Kang Jalal,

Saya sungguh sedih dan kaget membaca pendapat Kang Jalal seperti judul tulisan diatas, “Kafir itu label Moral, bukan Akidah”.

Cobalah lihat surat Al Kafirun, satu surat khusus dinamakan dengan “Kafir” yang kita sedang bahas ini. Disitu khan sudah ditulis “Hai orang-orang Kafir, aku tidak menyembah apa yang kamu sembah”. Berarti kafir ada hubungannya dengan akidah.

Untuk itu mohonlah Kang Jalal “baca” lagi ayat-ayat yang lain dan terus pelihara hubungan silaturrahiim dengan Ulama yang istiqomah.

Untuk Islam Liberal, saya harapkan agar perbaikan ummat dilakukan dengan merapatkan barisan, bukan memecah-belah.

Mohon ma’af bila ada yang salah kata.

Wassalam,

#19. Dikirim oleh Febry Eddy  pada  03/10   04:10 AM

Sarjono di Makassar mengutip surat Al-Kafirun untuk menyalahkan Jalaludin Rakhmat yang mengatakan bahwa kafir itu label moral dan bukan akidah. Kutipan ayat yang digunakan Sarjono di Makassar adalah:

“Katakanlah hai orang-orang kafir. Aku tidak menyembah apa yang kamu sembah.”

Jadi kalau orang Islam menyembah Tuhan Yang Esa, maka setiap agama yang menyembah Tuhan Yang Esa bukan termasuk kafir, meskipun bukan Islam.

Sedangkan bilamana ada Muslim yang menuhankan syariah Islam, menuhankan pendapat kiay, menuhankan pendapatnya sendiri, menuhankan kapital, menuhankan baju seragam, menuhankan apa saja selain Tuhan Yang Maha Suci, maka orang itu tidak menyembah sesembahan yang sama dengan yang disembah Muhammad yang menerima wahyu yang dikutip di atas. Jelas, orang yang seperti itu disebut sebagai kafir di ayat itu.

Kenapa banyak yang dengan ringan tangan, sigap menuding dan menghakimi keislaman Jalaludin Rakhmat? Ingin Kang Jalal bikin statemen bahwa semua di luar Islam adalah kafir? Sikap muslim yang gampang berburuksangka itu, bukan pengejawantahan penyerahan diri pada Allah dan pengakuan pada kerasulan Muhammad. Jadi siapa yang kafir? Kang Jalal atau kawan-kawan yang berkomentar dengan penuh syakwasangka?

Marilah kita biarkan Tuhan bekerja sesuai dengan Kehendan-Nya sendiri. Kita tidak perlu dan tidak berhak mengafir-ngafirkan Jalaludin Rakhmat, atau siapa saja. Sebab, iman seseorang adalah urusan pribadinya dengan Tuhan. Kehendak merampok Tuhan dari hak prerogratifnya itu, tentu tidak baik. Jangan diterus-teruskan!

#20. Dikirim oleh Bramantyo Prijosusilo  pada  03/10   06:10 AM
Halaman 1 dari 2 halaman 1 2 > 

Tulis Komentar

Nama:

Surat-e:

Lokasi:

Situs:

Ingat data pribadi saya

Ingin dikirim setiap umpan balik komentar yang masuk?