Editorial,
10/03/2009

Kapan Muhammad SAW Lahir?

Oleh Abd. Moqsith Ghazali

Begitu tinggi kedudukan Muhammad di hadapan umat Islam, maka momen-momen penting dalam kehidupannya selalu dikenang, dirayakan, dan diperingati. Mulai dari kelahirannya, pengangkatannya sebagai nabi, pendakian spiritualnya yang tak tepermanai berupa isra’-mi`raj hingga migrasinya dari Mekah ke Madinah. Berbeda dengan kematian yang merupakan pertanda kesementaraan manusia dan juga keterbatasan seorang nabi, maka kelahiran Nabi Muhammad dianggap sebagai pertanda kehidupan baru, perubahan sosial.

10/03/2009 10:40 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (85)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 2 dari 5 halaman < 1 2 3 4 >  Last ›

tema lebih menarik tentu saja bukan mempermasalahkan kapan kelahiran nabi beserta perayaannya, tetapi sejauh mana kemudian keteladanan nabi itu teraplikasi dalam kehidupan kita. Tentu saja dalam koridor syariat yang benar. Karena ukuran kita sebagai orang-orang yang mengaku pengikut beliau bukan pada pengetahuan tentang kapan kelahiran beliau melainkan berapa banyak perilaku kita sesuai dengan arahan dan contoh beliau. mari perbanyak melakukan sunnah Rasulullah saw.

#21. Dikirim oleh abinehanafi  pada  17/03   09:29 AM

kita sudah tertipu dengan adanya ceremonmial keagaamaan yang notabene itu tidak ada gunanya bagi tuhan.
Tuhan menurunkan rasulnya hanya untuk memberikan suritauladan bagi umat di dunia tak ada pengecualian. sehingga dalam kehidupan sehari- hari lebih terjamin untuk di akhirat.
maka dari itu apapun cerita para peneliti tentang kehadiran pembawa wahyu kita harus meneliti apa isi dari wahyu tersebut.

#22. Dikirim oleh salman nasution  pada  19/03   06:14 AM

Kata maulid akan membuat alergi sebagian muslim dan membuat kebahagiaan bg sebagian muslim yg lain.
Kalo pgn tahu banyak tentang perihal perayaan/peringatan kelahiran nabi saw semuanya bnyk dituangkan dibuku yg bertuliskan arab alias kitab oleh2 penulis atau sarjana2 islam dahulu yg karya nya bnyk menjadi rujukan bg umat islam dewasa ini..
Kalo cuma bc dr buku2 yg ada di indonesia rasanya krg lengkap,shingga pengetahuan kita msh sempit dan mudah menyalahkan/membenarkan org lain.
Merci…

#23. Dikirim oleh Maulana  pada  19/03   08:58 AM

“Namun, karena di Indonesia sudah mentradisi, secara sosio-kultural saya tetap perlu mengucapkan selamat memperingati Maulid Nabi Muhammad 12 Rabiul Awal 1430 H”

yang pasti mas Abd Muqsith sudah menjalankan sunnah Nabi SAW di sini, yaitu mengedepankan etika. bukankah Nabi SAW bersabda “sesungguhnya aku di utus tak lain untuk menyempurnakan Ahklak (etika)”??. bukankah greeting bagian dari salaam?? bukankah Nabi juga bersabda “layangkanlah salaam (greeting), jalinlah tali persaudaraan, berilah makan org yg membutuhkan, maka kalian akan masuk sorga dengan tentram”??

gak usah teriak2 Bid’ah, toh mas Abd Muqsith jg sudah menjelaskan bahwa peringatan Maulid itu tradisi masyarakat kita secara sosio-cultural. lha kok tradisi masyarakat diteriakin Bid’ah? bukankah yang dicap Bid’ah hanya bilamana berkaitan dgn ibadah mahdah??

bagaimana mau menjunjung syari’at Nabi SAW kalo mengabaikan Inti Pengutusan Nabi itu sendiri.

Wallahu al-muafiq ilaa aqwami thoriiq.

#24. Dikirim oleh Ali  pada  19/03   11:49 AM

saya kira hari lahir tidaklah menjadi soal untuk diperdebatkan, yang penting kita berusaha mencontoh perilaku beliau, dan karena ini sudah mentradisi ya dibiarkan saja, mau bid ‘ah ataupun tidak toh ini tradisi yang baik, sebuah penghormatan untuk Muhammad SAw…..

#25. Dikirim oleh dias ikhsan  pada  19/03   05:09 PM

Tulisan Abd. Moqzith Gazali, meletakkan pemahaman kritis sosio kultur. Perlu diketahui, dalam tradisi Timur Tengah, (maaf komentar jadi saya tidak mencari referensinya..) ikhwal kelahiran bukan merupakan tradisi yang diperingati secara khusus bandingkan dengan barat kelahiran merupakan hal yang special. di Timur Tengah dan sekitarnya kematian justru menjadi peringatan yang di prioritaskan (maaf kalau salah) sehingga berkaitan dengan tulisan di atas, sebagai peringatan miladnya para nabi, memang tidak ada inskripsi dan sumber lainnya yang mencantumkan tanggal kelahiran karena memang saat itu tidak menjadi keharusan. (Ingat di Jawa dulu mbah-mbah saya kelahiran hanya ditulis di belakang pintu- begitu rumah dibongkar lupa tanggal berapa…)
yang penting menurut saya bukan tanggalnya… namun makna pada kelahirannya.. nabi Ibrahim pernah ada, Nabi Muhammad juga lahir, nabi Isa demikian juga yang bisa dipahami dalam bentuk suri tauladan, dan keimanannya, bukan perdebatannya, beliau-beliu adalah hanif-hanif yang mengubah dunia. Setuju???? Jadi kita cukup dengan mengatakan Maha Benar Allah yang menciptakan para junjungan mulia untuk kita.

#26. Dikirim oleh bayu kusumo  pada  21/03   05:14 AM

Bang Soelaiman ana mhn ma’af nih, kalau Bang sulaiman bilang memperingati hari lahir Nabi Muhammad SAW. itu BID’AH, kalau kita mengikuti bid’ah melihat dizaman modern ini kita gak bisa Ibadah dong!!!, kenapa saya bilang gak bisa Ibadah, pada zaman Nabi pernah Nabi menganjurkan pengikutnya sholat memakai celana, sedangkan orang2 sekarang shalat memakai celana gak ada yg bilang bid’ah. kedua pernah Nabi Muhammad menganjurkan Pengikutnya pada saat sholat tidak memakai peci, sedangkan orng2 sekrng tdk memakai peci gak ada yg bilang bid’ah. dan ini hanya contoh kecil aja artinya kalau kita mengikuti bid’ah semua orang pasti gak ada yg bisa ibadah dgn lebih banyak lagi. menurut saya gak usah kita membahas yg tidak menyimpang, lebih baik kita membahas orang meyatakn Islam tetapi Tuhannya Bukan Allah, Nabinya bukan Nabi Muhammad & kitabnya bukan Al-Qur an. trims.

#27. Dikirim oleh yudi  pada  21/03   07:08 AM

Sungguh menarik tema tentang kelahiran Nabi Muhammad SAW, tetapi saya ingin mengingatkan saja, katakanlah kelahiran Nabi merupakan kesimpang siuran sejarah, sebab pencatatan tanggal dan waktu saat itu masih belum menjadi kepentingan yang mendasar. Tetapi yang perlu digarisbawahi adalah : Bahwa problem umat Islam bukan cuma sekedar seputar kelahiran Nabi saja, melainkan bagaiman mengimplementasikan ajaran-ajaran beliau dalam kehidupan sehari-hari..? itu yang menurut saya adalah penting untuk dilakukan.
Yang kedua, bahwa kelahiran Nabi Muhammad SAW saya pikir bukanlah suatu kejadian yang ‘luar biasa’ sebab proses kelahiran Rasulullah SAW-pun mengikuti orang kebanyakan, lain halnya dengan lahirnya Nabi Isa AS yang tanpa bapak itu, atau ‘kelahiran’ Nabi Adam AS yang tanpa bapak dan tanpa ibu. Tetapi sebagao seorang muslim, moment kelahiran Nabi bukan melulu hanya berkutat pada ketepatan tanggal, atau proses kelahiran ‘yang biasa’ itu, melainkan kepada sebuah ” kabar pencerahan” bagi seluruh Umat Manusia, sebagaimana yang telah dijanjikan dalam berbagai kitab-kitab suci sebelumnya..itu saja lain tidak

#28. Dikirim oleh Imam Mahdi  pada  21/03   08:08 AM

Saya dhuafa pemahaman ilmu agama. Tapi, bagi saya, memperingati maulid Nabi merupakan keindahan: mengenang perjuangannya dan melanjutkan pesannya. Saya kira—tidak terlalu produktif—memastikan tanggalnya.
bagi saya, memperingati maulid Nabi adalah menunjukkan cinta kita pada Beliau. Meneladani dan berharap syafaat ketika hari pengadilan tiba. Terlepas urusan bid’ah…bukankah isi maulid dilakukan sesuai ajaran Nabi…pengajian dan dakwah merekatkan ukhuwah Islamiyah. Dan, kita tidak pernah mengkultuskan Nabi hingga menjadi Tuhan seperti di Kristiani misalnya. Dengan begitu, sungguh indah merayakan dan mengenang Nabi.

#29. Dikirim oleh Mihradi  pada  23/03   02:52 PM

Ass.Wr.Wb.
Awalnya penulis membuat kabur masalah kelahiran NAbi Muhammad SAW yg notabene sudah diketahui oleh semua kalangan Umat Islam, jangan-jangan lama kelamaan “siPenulis” meragukan kehadirannya Nabi Muhammad SAW sebagai Pembawa Risalah Islam ini atau agama Islam itu sendiri…? Sudahlah kita tidak usah meragukan apa-apa yg ada pada diri Nabi Muhammad SAW yang pasti kebenarannya krn memang beliau dijamin ALLAH SWT dan dijaga akan perbuatannya dari dosa-dosa, sekian.
Wassalaam

#30. Dikirim oleh Uchon  pada  25/03   12:39 PM

Memahami Islam secara benar dan utuh sesungguhnya tidaklah sulit. Tidak dibebankan manusia dengan kewajiban2 melainkan sebatas kemampuannya. Islam datang membawa kemudahan bukan memberatkan ataupun mempersulit kehidupan manusia, walaupun memang kita tidak boleh ‘menggampang-gampangkan’nya/menyepelekan
nya. Kalau memang mempersoalkan perlu maulid atau tidak dengan tujuan agar Nabi Muhammad tidak dikultuskan seperti Nabi dalam agama lain saya sepakat dan perlu diapresiasikan. Maka menurut saya untuk memahami al Islam secara utuh dan kaffah adalah dengan ‘membaca’ al Quran dan sunah dengan hati yang bersih dari tujuan dan kepentingan tertentu. Wallahualam.

#31. Dikirim oleh djineman_rowoh  pada  27/03   09:00 AM

Saudaraku Yudi.
Meneladani Nabi Muhammad itu harus sesuai dengan syariat yang disampaikan Nabi. Istilah bid’ah itu berlaku dalam syariat Islam. Coba baca Al-Qur’an (misalnya Tafsir Ibnu Katsier) dan As-Sunnah (misalnya Al-Lu’lu’u wal Marjan, Sahih Bukhari dan Muslim), mana ada Nabi Muhammad memperingati hari lahirnya. Juga para sahabat. Misalnya Abubakar atau Umar, gak bakalan ketemu bahwa keduanya memperingati hari lahir.
Soal pakaian dalam sholat, ketentuan agama adalah menutup ‘aurat, bagi laki-laki mulai pusar sampai lutut. Soal bentuknya, agama tidak menentukan. Bisa celana, pakai peci. Jadi, bila kita sekarang pakai celana, itu tidak dikategorikan bid’ah. Karena ketentuan syariat telah kita penuhi, yaitu menutup aurat.
Kenapa, saya serius soal maulid? Pertama, pertanggungjawaban kita kepada Allah di akhirat nanti, saat hisab (Yaumud diin). Ini maulid tidak disyari’atkan, kenapa kalian lakukan? Apa jawab kita Saudara Yudi? Lalu, bila kita tahu hadist Nabi mengatakan ini bid’ah dan setiap bid’ah itu adalah masuk neraka. Lalu, apa hadist seperti ini kita abaikan saja? Bila begitu, berarti kita tidak meneladani, tapi mengotori dengan cara menambah. Bila begitu, apa syariat yang disampaikan Nabi Muhammad itu kurang sempurna? Beranikah kita mengatakan itu? Bagi pelaku atau penyelenggara maulid, sama dengan mengatakan bahwa syariat yang disampaikan Nabi itu belum sempurna, makanya perlu ditambah dengan peringatan maulid. Astaghfirullaahal ‘adziem.
Kedua, Nabi bersabda, bahwa kita sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta akan mengikuti jejak ummat sebelum kita, yakni Kaum Yahudi dan Nasrani. Bahkan, bila mereeka masuk ke lubang biawak pun, niscaya kalian memasukinya. A’udzubillahi min dzalik! Dan itu berarti sesat dan dimurkai Allah. Kecuali bila kita tetap berpegang teguh Al-Qur’an dan As-Sunnah. Peringatan hari ulang tahun itu tradisi Nasrani, natalan. Kenapa kita harus ikuti jalan sesat itu?
Ketiga, mengamalkan syari’at Islam itu, tidak sama dengan menuruti nafsu dan akal. Seperti dikatakan oleh Saudara Mihradi, bahwa memperingati maulid itu keindahan, ukhuwah Islamiah. Itu akal, nafsu. Indah menurut siapa? Ketaatan menurut syariat itu, adalah apa yang disyariatkan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, Titik. Tidak ada kompromi dalam hal ini. Kreasi sebagus apa pun, bila tidak disyariatkan, adalah batal.
Keempat, Allah berfirman. “Katakanlah; bila kalian mencintai Allah, ikutilah aku (Muhammad Rasulullah), maka Allah akan mencintai kalian.”
Bila kita peringati maulid nabi, itu sama dengan mengatakan bahwa itu dicontohkan Nabi. Padahal tidak. Itu sama dengan berbohong atas nama nabi. Orang yang begitu perilakunya, tempatnya di api neraka.
Kita harus membersihkan diri dari hal-hal yang mengotori agama ini. Jadi, masalahnya tidak sepele, tapi serius.

#32. Dikirim oleh isoelaiman  pada  27/03   10:35 AM

Heran saya..!! membaca comment yg masuk.,memperingati Maulid Nabi saja dibikin ribet..!!,bagi saya tdk penting kita harus tahu kapan Nabi lahir secara pasti,tapi lewat peringatan ini apakah menambah kualitas iman kita kepada-Nya?.Saya tdk habis pikir..kenapa memperingati Maulid Nabi dianggap bid’ah..?? saya kira mengikuti teladan Nabi/sunah Rasul kita harus arif/bisa me-milah2 mana yg masih relevan utk kita terapkan pada masa kini dan mana yg harus kita tinggalkan krn sudah tidak sesuai/kadaluarsa.Kita tdk bisa menerapkan semuanya dlm konteks jaman sekarang yg serba modern.Mengomentari masalah bid’ah(dari sdr isoelaiman) anda arogan sekali berkata bahwa tdk ada kompromi dlm menerapkan syariat kalau tdk lewat Al-quran+As-sunnah.Ingat bung..!!Nabi sendiri pernah mengatakan ‘‘tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina’’ artinya KEBENARAN itu ada dimana-mana..!!! dan bukan monopoli Islam SAJA..!!!.
Komentar anda menunjukkan bahwa anda seperti katak dalam tempurung..,yang tdk tahu betapa luasnya dunia ciptaan Allah.kalau anda konsisten dg prinsip anda yakini bahwa segala sesuatu yg tdk ada dlm Al-quran+As-sunah itu bid’ah..Bagaimana dh komputer yg anda pakai yg notabene buatan org barat(yg menurut anda kafir..??)Bahkan segala teknologi yg kita nikmati sekarang ini(listrik,mobil,telpon,Tv dll) ditemukan oleh orang yg bukan beragama islam..?& dijaman Nabi belum ada,apakah ini semua juga termasuk bid’ah??? Anda opurtunis sekali ( kalau tdk mau dibilang munafik..!!) Disisi lain menolak segala sesuatu yg tdk ada dlm Al-quran & As-sunah,tapi diam2 menikmati/menggunakan teknologi buatan barat.
Orang2 spt anda inilah yg membuat islam menjadi agama yg terbelakang/ketinggalan jaman karena menolak segala sesuatu yg baru.
Pendapat saya pribadi, dari awal adalah tdk masalah kalau kita memperingati Maulid Nabi sepanjang dpt meningkatkan kualitas keimanan & mengenang serta meneladani Rasulullah yang bagi saya Beliau adalah seorang pluralis tulen,yg tdk mem-beda2kan muslim & non muslim.Inilah hikmah yg harus kita ambil dlm memperingati kelahiran Nabi
Alangkah baiknya memperingati Maulid Nabi dg pemahaman seperti ini,daripada kita ikut pengajian/majelis taklim yg isi khutbahnya sibuk menghujat agama / kepercayaan lain.

#33. Dikirim oleh Adhyatma  pada  05/04   09:11 AM

Tersebut di dalam kitab I’anathuth Tholibin oleh Sayyidisy-Syaikh Abu Bakar Syatha ad-Dimyathi:-
Telah berkata Imam Hasan al-Bashri (Wafat 116H, pernah bertemu dengan lebihkurang 100 orang shahabat): “Aku kasih jika ada bagiku seumpama gunung Uhud emas untuk kunafkahkan atas pembacaan mawlidKata-kata ulama ini juga boleh didapati didalam kitab an-Nafahatul Miskiyyah fi fadhilathi qiraati maulidi khairil bariyyah karangan asy-Shaikh Muhammad bin Abdullah as-Suhaimi dan juga terjemahannya yang bertajuk Hembusan Kasturi oleh Fadhilatul Ustaz Taha as-Suhaimi.
Selain itu bagi menjawab tohmahan mereka kononnya ulamak silam mencerca sambutan ini, kita bawakan kata-kata yang jelas dari tiga ulamak yang kehebatan mereka diakui semua.
ar-Rasul”.
Telah berkata Shaikh Junaid al-Baghdadi (wafat 297H): “Sesiapa yang hadir mawlid ar-Rasul dan membesarkan kadar baginda, maka telah berjayalah dia dengan iman”.
• Firman Allah : “(Isa berkata dari dalam perut ibunya) Salam sejahtera atasku, di hari kelahiranku, dan hari aku wafat, dan hari aku dibangkitkan” (QS Maryam 33)
• Firman Allah : “Salam Sejahtera dari kami (untuk Yahya as) dihari kelahirannya, dan hari wafatnya dan hari ia dibangkitkan” (QS Maryam 15)
• Rasul saw lahir dengan keadaan sudah dikhitan (Almustadrak ala shahihain hadits no.4177)
• Berkata Utsman bin Abil Ash Asstaqafiy dari ibunya yg menjadi pembantunya Aminah ra bunda Nabi saw, ketika Bunda Nabi saw mulai saat saat melahirkan, ia (ibu utsman) melihat bintang bintang mendekat hingga ia takut berjatuhan diatas kepalanya, lalu ia melihat cahaya terang benderang keluar dari Bunda Nabi saw hingga membuat terang benderangnya kamar dan rumah (Fathul Bari Almasyhur juz 6 hal 583)
• Ketika Rasul saw lahir kemuka bumi beliau langsung bersujud (Sirah Ibn Hisyam)
• Riwayat shahih oleh Ibn Hibban dan Hakim bahwa Ibunda Nabi saw saat melahirkan Nabi saw melihat cahaya yg terang benderang hingga pandangannya menembus dan melihat Istana Istana Romawi (Fathul Bari Almasyhur juz 6 hal 583)
• Malam kelahiran Rasul saw itu runtuh singgasana Kaisar Kisra, dan runtuh pula 14 buah jendela besar di Istana Kisra, dan Padamnya Api di Kekaisaran Persia yg 1000 tahun tak pernah padam. (Fathul Bari Almasyhur juz 6 hal 583)
Kenapa kejadian kejadian ini dimunculkan oleh Allah swt?, kejadian kejadian besar ini muncul menandakan kelahiran Nabi saw, dan Allah swt telah merayakan kelahiran Muhammad Rasulullah saw di Alam ini, sebagaimana Dia swt telah pula membuat salam sejahtera pada kelahiran Nabi nabi sebelumnya.
Rasulullah saw memuliakan hari kelahiran beliau saw Ketika beliau saw ditanya mengenai puasa di hari senin, beliau saw menjawab : “Itu adalah hari kelahiranku, dan hari aku dibangkitkan” (Shahih Muslim hadits no.1162).

#34. Dikirim oleh tjasman al haj  pada  06/04   08:35 AM

Your Majesty Muhammad SAW, kita anggap sebagai siapa? sebagai failasuf atau sufi tentunya beliau tidak ingin diketahui identitasnya apalagi kelahirannya, sebagai penyair tentu beliau hanya ingin mengungkapkan pemikirannya atau sebagai Nabi dan utusan Allah, beliau hanya ingin menyampaikan kebajikan kepada umat manusia agar mengikuti apa yang diperintahkan dan apa yang dilarang oleh Allah SWT. yang terpenting adalah apa yang ingin disampaikan oleh beliau, tergantung kita anggap siapa, beliau?

#35. Dikirim oleh realyan  pada  07/04   04:41 AM

menurut saya tradisi maulid harus tetap ada guna mengingatkan kita akan keteladanan Rasulullan SAW sang revolusioner dunia yang menorehkan sejarah berabad abad lamanya.
namun sayangnya paradigma masyarakat kita tentang ritual maulid sulit dirubah, mereka masih menganggap ritual maulid adalah ajang untuk mencari sesuap nasi. hal inipun tidak lain dikarenakan kondisi negara kita yang sangat susah sehingga mereka harus rela berdesak-desakan di acara maulid untuk mendapatkan sesuap nasi dan seteguk air.

#36. Dikirim oleh izzu  pada  07/04   07:41 AM

bagaimanapun juga, atas nama sejarah SANG NABI, perlu bagi kita mencari dan mendiskusikan, dengan semangat ilmiah dan kebebasan, persoalan mengenai kemungkinan hari, tanggal, bulan dan tahun kelahiran nabi SAW yang paling mungkin (valid). karena bahkan dengan memaparkan begitu banyaknya perbedaan pendapat para sarjana islam lama mengenai hal ini sudah merupakan sebuah cara yang sangat baik untuk menunjukkan bahwa ISLAM, dalam apa yang kita ketahui saat ini, tak pernah hanya berwajah tunggal.

#37. Dikirim oleh abu hasyim  pada  12/04   01:35 PM

Assalammualaikum ww…,Ya Nabi Salam alaikaa..Ya Rassul Salam Alaikaa..Ya…Salam…Masya Allah…semoga yang ada di forum ini…mendapat syafa’at dari Baginda..Nabi besar Muhammad Saw..dan mendapat Hidayah dari Allah Swt…dan petunjukNya ke Jalan yang benar dan Di Ridhoi…...Amin

#38. Dikirim oleh RAIHAN  pada  13/04   03:56 PM

setelah membaca tulisan ini timbul pertanyaan, jadi yg benar mana ya? tanggal berapa Beliau lahir? misal kalau sudah tau yang benar. Lalu untuk apa ya? ...

mohon petunjuk ...

#39. Dikirim oleh ivan  pada  15/04   11:36 PM

kalau emang demikian adanya, terus apa slahnya memperingati maulid nabi pada tanggal 12 rabiul awal, tu kan juga termasuk dari pengamalan ikhtilaf, karena saya yakin ketetapan itu bukan berdasar akal ngaur dari ulama kita.

#40. Dikirim oleh tirmidzi  pada  18/04   07:31 AM
Halaman 2 dari 5 halaman < 1 2 3 4 >  Last ›

Tulis Komentar

Nama:

Surat-e:

Lokasi:

Situs:

Ingat data pribadi saya

Ingin dikirim setiap umpan balik komentar yang masuk?