Keberanian dan Kebebasan Beragama
Oleh M. Guntur Romli
Pada periode Madinah, kita sering disuguhi dengan kisah peperangan Rasulullah, namun bukan berarti, peperangan adalah penaklukan akidah. Saya ingin mengutip beberapa riwayat yang dirilis oleh Ibn Jarir al-Thabari dalam tafsirnya mengenai ayat la ikraha fi al-din.
Komentar
</b>“bahwa ayat 256 dari Surat Al-Baqarah yang berbunyi la ikraha fi al-din—tidak ada paksaan dalam agama—sebagai pilihan Rasulullah dalam kondisi yang lemah dan di bawah ancaman.”
Saya juga tidak setuju dengan penafsiran “dangkal” yang mempunyai kecondongan meremehkan akhlak Rasulullah sebagai manusia yang memang pantas dijadikan panutan karena misi sesungguhnya bukan meraih kekuasan politik tetapi memuliakan akhlak manusia yang tercela secara universal. Jadi, ungkapan la ikraha fi al-din—tidak ada paksaan dalam agama— sebenarnya suatu prinsip dasar yang sejajar dengan prinsip tauhid sebagai suatu keyakinan manusia dengan kecenderungan nafsunya masing2 yang ditegaskan atau merupakan penegasan dari ayat “lakum dinukum waliyadiin” (silahkan ceh asbabun nuzulnya saya tidak hafal apakah ayat ini diturunkan duluan atau penegasan dari Qs 2:256 tsb).
Kalau saya simpulkan dari pernyataan Paus tersebut nyata sekali bahwa seorang Paus dari salah satu agama besar masih belum mampu menafsirkan ungkapan kitab wahyu dengan benar malah kecondongannya pada hawa nafsu politik kekuasaan sangat kental. Apalagi menafsirkan kitab suci orang lain yang notabene bukan agamanya. Saya juga menghimbau kepada mereka yang berpikiran terbuka apa sebenarnya kriteria dan sejauh mana kebenaran suatu penafsiran dari orang yang bukan beragama Islam atas Agama Islam? Dapatkah penafsiran atau telahaan agama Islam dari orang yang tidak beragama Islam diikuti atau hanya sekedar wacana referensial saja?
Qs 9 : Pemutusan Total
Kemudian mengenai QS 9 at-Taubah sebenarnya kaum musyrikin yang dimaksud dalam ayat tersebut “mencakup para ahli kitab dari agama Yahudi dan Kristen” yang sudah menyelewengkan ajaran asli agama tersebut dari dasar-dasar monoteisme abrahamik murni yang misinya memuliakan akhlak manusia yang tercela menjadi monoteisme materialistik yang mementingkan politik dan kekuasaan dunia yang akhirnya melahirkan konsep Paus, Kependetaan dan tentunya Model2 Kerajaan spt di Prancis, Ingris, Jerman dan wilayah Eropa lainnya. Di Islam konsep ini diadopsi menjadi konsep Imamiyah Syi’i dan di Kristen pada era perang salib dihidupkan lagi menjadi kelompok Syon dan 9 Ksatria Templarnya (Lucunya masuk di Jawa pengaruh ala Syon dan Ksatria Templar ini di adopsi menjadi konsep Wali 9 hihihihi dan lahir kesultanan2 mulai dari Cirebon, Mataram, dst).
Jadi ungkapan kaum musyikin dan “pemutusan” hubungan atau Baraatum…yang membuka QS 9:1 sejatinya mencakup para ahli kitab (seperti halnya Paus yang salah ucap beberapa waktu yang lalu) yang telah menyelewengkan penafsiran kitab sesuai hawa nafsunya atau malah tidak mampu memaknai penafsiran agamanya dengan benar alias tidak bisa “Membaca” kitab sucinya dengan benar karena sebab-sebab pokok yang berkaitan dengan kepentingan politik kekuasaan di masa itu sampai hari ini maupun karena memang kualitas ruhaninya belum memadai.
Disamping itu, menurut penafsiran saya ada indikasi bahwa QS 9:1 menyatakan pemutusan hubungan total ajaran Islam dari ajaran Kristen dan Yahudi yang sudah terkontaminasi di zaman Nabi dan menoleh ke rasionalitas Yunani, ajaran Budha yang telah direformasi, dan hermetisme Mesir via ajaran Ofirism Phytagorean. Ajaran Budha termasuk kategori ajaran agama Bumi dimana penekanannya pada aspek dharma atau akal budi di masyarakat, sedangkan dari Yunani dan Mesir masuk konsep-konsep teosofis rasional dengan dasar-dasar kuat pada konsep ilmu pengetahuan atau sains naturalis seperti tersirat dalam ungkapan Alif-Lam-Mim-Ra maupun konsep Jiwa Yang Satu dalam Qs 6:98.
Dengan demikian, Islam memang bukan murni dari Arabia tetapi sintesis dari ajaran Tauhid terdahulu yang pernah melahirkan ajaran Monoteisme Abrahamik yang sumber asalnya dari ajaran-ajaran peradaban Kuno misalnya dari lembah Indus (konsep 1/1000 alis nir wuk tanpa jali alias aji saka), Babylonia dan Sumeria (konsep waktu 1 menit=60 detik), dari mesir konsep kalender Matahari dengan 365 hari dan satuan sehari adalah 12+12 jam alias 12 huruf laa ilaha illa Allah dan 12 hrf Muhammadurrasulullah. Selain itu terjadi reformasi sistem kalender masehi menjadi kalender basis Qomariah dan reformasi sistem huruf dari 22 huruf menjadi 28 huruf hijaiah+1 huruf uinifikasi yaitu Laam-Alif sebagai simbologi al-Mahabbah.
Sehingga Islam sebagai agama REformis bagi umat manusia adalah agama yang mereformasi monoteime Yahudi/Kristen sebagai agama langit Abrahamik, ajaran Ofirism Mesir Kuno dan Zoroaster Persia, Manichean, dan politeisme Budha, Siwa, Hindu, Zen, Tao, Konfucius dan agama bumi lainnya yang muncul di belahan Timur Jauh termasuk agama Jawa Kuno.
Demikianlah penafsiran saya tentang QS 9:1 yang berkata tentang Pemutusan Hubungan dengan sumber - sumber ajaran yang terkontaminasi. Makanya, ajaran Islam disebut ajaran tauhid yang memurnikan kembali semua agama dan keyakinan dengan basis yang mampu dibuktikan dengan nyata dengan sains masakini bahwa semua ajaran agama dan sains sumbernya Satu jua. Dan sesungguhnya tak ada pertentangan antara Agama Islam maupun sains modern hanya saja kacamata untuk melihat fenomena-Nya mempunyai filter yang beda, yang satu filternya iqra dan penyucian jiwa, tapi sains cuma Iqra doang, itupun iqra yang sebatas bilangan dan huruf semata.
saya senang dengan artikel dan tanggapan yang panjang ini, walau sedikit berat dan membosankan untuk dibahas.. saya jadi tambah yakin; kalau memang islam adalah agama penyempurna, terutama bila dilihat dari ajaran2 yang serba teoritis di atas.. kemudian saya tunggu follow-upnya.. pesan saya; jangan terlalu sibuk bahas kulitnya, ada banyak orang yang butuh cinta dan kasih sayang dari Anda; keluarga, tetangga (seiman maupun bukan), dan seluruh bangsa dan negara kita ini.. “se-perfect2nya agama, tanpa ada perwujudannya omong kosong” ayo buktikan..
Dari tulisan diatas dapat kita lihat bahwa Islam bukanlah agama perang melainkan agama yang cinta damai. Sehingga saya tidak tau bagaimana keislaman org2 islam yang selama ini mendambakan perang (hahaha). Pendek kata, klo benar tulisan mas atmoon benar (mencakup ahli kitab yahudi dan kristen) mengapa Nabi Muhammad tidak melancarkan perang kepada mereka, koq hanya kaum musrik mekah saja yang diperanginya?
isi artikel ini sungguh bagus dan dapat menambah pengetahuan untuk ku. dan alhamdulillah kini saya makin mantap terhadap isi kandungan kitab suci Al`Quran
——-
Sebuah esei yg baik dan berwawasan luas. Pandangan islam seperti inilah yg sangat diperlukan umat muslim
baru jelas bagi saya asbabun nuzul ayat yang menyatakan tidak ada paksaan dalam agama. thanks artikelnya.
Komentar Masuk (6)
(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)