Wawancara,
06/07/2003

Eep Saefulloh Fatah: Kepada saya, Islam Diajarkan secara Keliru

Oleh Redaksi

Sosialisasi agama pada taraf yang sangat sederhana selalu menekankan etika ketakutan (ethics of fear) ketimbang etika harapan (ethics of hope). Ketundukan
dibangun di atas pondasi ketakutan seorang hamba kepada Khaliqnya. Seolah
kebesaran Tuhan ditentukan oleh semakin kecilnya manusia dan semakin horornya
kosmos metafisik yang mengitari Tuhan.

06/07/2003 05:32 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (15)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 1 dari 1 halaman

Kang Eep, anda merasa bahwa anda mendapatkan pelajaran agama yang keliru, dengan mencontohkan khotib Jum’at yang mengancam anda pada dua pilihan antara neraka dan surga dan komik yang memberikan anda traumatisme. Sebenarnya siapa yang harus disalahkan anda atau guru anda?

Hal-hal yang menyangkut lainnya seperti dalil-dalil menyusul.

#1. Dikirim oleh Juragan Ikan Lele  pada  12/07   08:07 AM

Di mana kelirunya??

Perkenankan saya yang awam dan pewaris “ajaran keliru” ini menanggapi tulisan wawancara Ulil dan Eep SA.

Dalam wawancara itu dituliskan…

ULIL: Apakah sekarang Anda punya evaluasi atas cara mengenalkan Islam yang dulu Anda pernah alami?

Eep Saefulloh Fatah: Saya merasa, Islam diajarkan kepada saya —jangan-jangan juga kepada orang lain— secara keliru. Kekeliruan itu bisa jadi bertumpuk-tumpuk. Misalnya, Islam diajarkan hanya sesuai dengan apa yang dipahami oleh mereka yang merasa punya otoritas untuk mengajar saya ketika itu. Saya ingat, di saat salat Jum’at, para khatib selalu menyampaikan hal-hal yang bernada ancaman atas siapapun; bahwa hidup di dunia ini sebentar, dan setelah itu kita akan berhadapan dengan dua pilihan: entah menjadi penghuni surga atau neraka! Kepada kami disampaikan ancaman, jika kita keliru menjalankan hidup yang amat pendek ini, kita akan menjadi penghuni neraka.

Tanggapan:

Beruntunglah kita yang diajarkan Islam secara “keliru”. Andaikan orang tua dan para khatib menyampaikan ‘ajaran yang benar’, misalnya: “Hidup di dunia ini bebas, silakan saja, yang penting tidak mengganggu orang lain. Yang penting tidak melanggar larangan. Setelah mati, tidak ada apa-apa, kita akan menjadi tanah kembali… Surga dan neraka hanya bualan saja,” silakan ikuti mereka.

Kata-kata “yang penting tidak melanggar larangan” seringkali menjadi jebakan syetan menggelincirkan manusia. Muslim yang baik tentunya selain “tidak melanggar larangan”, juga mentaati perintah. Orang yang ‘yang tidak pernah melanggar larangan,’ tetapi juga ‘tidak pernah mentaati aturan’; maka ia tidak memiliki secuilpun investasi kebaikan. Hatinya ambigu, di satu sisi mengakui ‘otoritas’ pembuatan larangan, di sisi lain tidak mengakui otoritas pembuat perintah.

Bayangkanlah, kalau orang punya anak demikian. [kami berlindung kepada Allah dari hal ini].  Bagaimana kalau istri kita? [kami berlindung kepada Allah dari hal ini]. Bagaimana kalau bawahan kita di organisasi [kami berlindung kepada Allah dari hal ini] Kita pasti stres dan bisa gila. Ya Allah…  jauhkan kami dari mereka!

Selanjutnya, orang yang tidak punya ‘investasi’ kebaikan ini, bagaimana mungkin ia dapat menikmati hasilnya? Orang yang taat dan sesekali berbuat salah ia punya harapan untuk mengharap ampunan pemilik ‘otoritas’ Sang Pembuat aturan.

Adalah wajar, ketika memberikan pelajaran pada anak kecil tidak diterangkan secara njlimet, tetapi dengan bahasa sederhana. Sekarang ajarkan anak-anak kita yang baru TK sampai kelas 6 SD dengan panjang lebar, dalil rasionalitas, landasan ideologis, landasan filosofis, nilai strategis, nilai kultural, dsb. kemudian tunggulah reaksi mereka. Katakan juga kepada anak yang lain…”Ayo anak-anak mari kita sholat supaya kita bahagia dunia akhirat”.

Ditunggu tanggapan baliknya..

#2. Dikirim oleh Wahyudin  pada  14/07   03:08 AM

Ketika din ini diturunkan kepada manusia oleh Allah swt melalui rasul-Nya, sebagian besar manusia-manusia yang kafir itu memang menolak dan memang sudah menjadi tabiat mereka yang senantiasa menyombongkan diri sedangkan yang menerima hanya sebagian kecil saja. Malah yang lebih parah mereka menuduh utusan-utusan Allah itu sebagai orang gila. Dan kalau sudah begitu maka perbuatan buruknya dalam penglihatan matanya adalah perbuatan baik, namun dia tidak sadar kalau dirinya tengah menuju kepada kebinasaan (Na’uzubillah min dzalik). Sudahkah kita mentadaburi Al-Qur’an dan menjadikannya sebagai pedoman hidup kita?

#3. Dikirim oleh indra BDG  pada  16/07   04:07 AM

Apa yang telah dilakukan oleh para guru kita telah sampai pada tempatnya. Bila baik dinilai baik bila kurang maka tetap bernilai baik. Bila salah maka kita tidak hanya perlu mencari di mana hal yang kurang dari yang mereka ajarkan.

Namun satu yang jelas mereka telah berusaha sebaik kemampuan mereka untuk mengajarkan apa yang mereka ketahui tentang al-Islam.

Maka mengkritisi apa yang kurang amatlah baik mencela kesalahan mereka tidak usahlah. Cara kita menjadi murid adalah mengajarkan yang benar dan tidak mendakwahkan Islam dengan cara yang salah menurut yang kita rasa. Bergabung dalam dakwah sebenarnya dengan mencoba mengajar anak-anak kecil mengaji mencoba mengajar mahasiswa bukan hanya mengajar dan pulang tetapi mengajar dengan totalitas maka akan anda peroleh sesuatu yang belum pernah anda pikirkan sebelumnya.

#4. Dikirim oleh hasan  pada  20/07   01:08 AM

Tulisan ini mencoba menggambarkan sekelumit apa yang telah dikemukakan oleh Bung Eep Saefullah dalam wawancaranya dengan Bung Ulil. Secara sekilas ada dua kesan yang dirasakan oleh Bung Eep saat berinteraksi dengan agama - dalam kasus ini Islam. Kesan pertama yaitu dominannya “kekuasaan” para ahli agama atau ulama, dan kesan kedua yaitu begitu “hitam-putih”-nya warna agama. Umumnya, pendidikan agama Islam yang kita dapatkan dimulai dengan kesan dua ini.

Bagaimana kita menerima pengajaran tentang agama dari seseorang atau institusi yang sangat sakral. Mereka seakan tak pernah salah dan luput dari kesalahan. Kesakralan mereka kemudian membawa kesan yang kedua yaitu ketika agama menjadi alat vonis. Instrumen-instrumen agama menjadi indikator benar atau tidaknya seseorang atau sekelompok. Dan saat justifikasi sudah dijatuhkan, bila mereka berbeda mereka pasti salah dan ada garis pemisah yang langsung ditarik.

Betapa kita sering mendapatkan praktek otoritas keagamaan yang begitu melembaga dan sangat mencengkram. Walau memang jelas, Allah memberikan fasilitas predikat “Ulama”, namun itu bukanlah status otoritarian, namun status mereka hanya pembuka jalan. Para ulama adalah para pembuka pintu ilmu dan hikmah, selanjutnya terserah kita memilih pintu yang mana. Namun sayangnya, saat ini cukup sedikit ulama yang mampu dan mau seperti itu, membuka semua pintu dan membiarkan ummatnya memilih pintu sendiri.

Saya teringat sebuah Hadis yang saya kutip dari Hadis 40 Imam Nawawi, di mana rasul dengan jelas menerangkan “Mintalah fatwa dari hati nuranimu, walau seluruh mufti telah memberikan fatwanya”. Artinya, fungsi otoritas ada pada pribadi masing-masing orang, bukan pada sekelompok orang saja. Maka ketika fungsi ulama berubah menjadi otoriter, agama menjadi hitam-putih. Maksudnya yang ada hanyalah “kita” dan “mereka”. Kita adalah para penganut Islam yang benar, dan mereka para penganut Islam yang salah atau bid’ah.  Pengalaman psikologis seperti ini juga saya rasakan ketika berinteraksi dengan islam pada awal kehidupan saya. Sosok ulama atau ahli agama yang begitu mengakar kuat dalam benak saya akan kemampuan dia, menjadi kabur saat kami menyaksikan ternyata dia juga bisa berbuat salah dan khilaf. Dan agama yang begitu hitam-putih, membuat saya harus menjaga jarak dengan banyak elemen pemeluk agama islam yang lain, hanya karena perbedaan instrumen-isntrumen agama saja.

Jadi, marilah kita membangun sebuah pola pendidikan yang baru, yang sudah mulai dikembangkan saat ini. Pola pendidikan yang menekankan pada etika dan moralitas hidup, tanpa harus banyak debat kusir tentang masalah khilafiyah. Sedari awal kita harus mampu menggambarkan Islam yang bukan hitam-putih, karena ternyata Islam itu Warna-warni…....

#5. Dikirim oleh mahyiddin  pada  21/07   03:07 AM

Sebagai seorang muslim yang dibesarkan di daerah mayoritas non-muslim, saya merasa sangat beruntung karena tidak harus datang belajar baca Quran tiap sore ke mushola atau masjid ketika usia SD. Tapi oleh orang tua dipanggilkan seorang guru ngaji ke rumah beberapa kali seminggu.  Karena saya menganggap guru ngaji tersebut adalah representasi dari Islam saya menganggap Islam itu jorok. Mengapa? Karena guru ngaji kalo datang ke rumah pakai sarung yang baunya tidak bisa dikatakan harum (kalau tidak bisa beli minyak wangi mbok ya dicuci dua hari sekali), belum lagi bau ketiaknya, jika makan penganan yang disajikan makannya, orang Jawa bilang, kecap. Kalau menguap tidak pernah menutup mulut bahkan sampai mengeluarkan bunyi yang tidak sedap didengar. 

Yang parah adalah ketika saya menanyakan sesuatu mengapa begini, mengapa begitu, kalau sudah terdesak dan tidak bisa memberi jawaban maka muncul kalimat sakti “ya sudah peraturan.” Ehh sebenarnya ada yang lebih amat sangat parah, yaitu ketika dengan bangga dia bercerita kalau si anu dan anu dan anu (menyebut nama teman-temannya yang ada di kota tempat saya tinggal) itu kelompok saya sedangkan si ini, si itu bukan.

Setelah masuk ke PT “sekuler” di pulau Jawa ternyata saya mendapat gambaran yang berbeda ternyata Islam tidak se"ndeso” yang saya bayangkan, sebagai akibat dari maraknya kegiatan keislaman di kampus “sekuler” tersebut. Yang pada akhir merubah cara berpikir saya, ternyata kalau Islam akan berbeda jika dibawa oleh orang yang berbeda pula. Maka sesungguhnya yang harus direparasi adalah orang Islamnya bukan Islamnya.

Jangan karena mendapat perlakuan buruk oleh kyai, ustadz ataupun guru di jaman dahulu maka kita mengambil kesimpulan bahwa ajaran Islam harus diganti atau tafsirnya disesuaikan dengan perkembangan jaman sehingga yang tadinya tidak boleh menjadi boleh dan yang tadinya boleh menjadi tidak boleh asalkan diterima oleh masyarakat “modern.”  Oleh sebab itu umat Islam Indonesia harus dibebaskan dari segala bentuk belenggu otoritarianisme tersebut sehingga tidak akan muncul “pemberontakan” yang pada akhirnya malah akan makin menjauhkan umat Islam dari ajaran Islam itu sendiri.

#6. Dikirim oleh teddie harjadi  pada  21/07   04:07 AM

Memang waktu kita Kecil dan tinggal di desa, seringkali keterbatasanlah yang membelenggu kita, dan dengan keterbatasan itu ditambah pula ketidakmauan untuk menambah pengetahuan. Nah jadi lingkup itulah yang kita gauli. Lingkup itu pula yang membelenggu semua yang ada di dalamnya, baik itu kecil, besar, tua, muda, miskin, kaya, laki, perempuan.

Pengetahuan yang terbatas itu pula yang diturunkan kepada generasi yang ada di lingkup itu, tanpa mau tahu dan mau untuk melihat keluar dari lingkup itu atau keluar melihat ke dunia yang ternyata sangat luas, dan sangat beragam, serta sangat indah ini. Nah ketika kita keluar dan melihat keluasan tersebut dan kita masih terbekas kesempitan yang pada kita, dan ketika kita melihat warna-warni atau keberagaman itu, kita sangat tidak terima dan kadang bingung.

Nah dari situlah ketika orang berbeda pendapat dengan kita dan kita merasa paling benar, maka kita akan mudah sekali menuduh orang itu sesat, kafir, menghina agama, menghina Allah, tidak beriman dll, sampai pada menjatuhkan hukuman paling mengerikan yaitu “hukuman mati.” Nah dari pengajar yang merasa dirinya sudah sangat mengetahui itu, diturunkan kepada kita, kitapun bisa berkelakuan seperti itu, tanpa kita mau belajar lagi dan belajar lagi, dan kadang orang yang kita hukum hanya berbeda pendapat itu juga orang yang mau belajar dan kadang juga mungkin lebih dari kita pengetahuannya.

Karena pembekasan itu sudah ada di dalam diri kita dari kecil dan kalau kita tidak mau menambah pengetahuan yang luas ini , maka kesempitanlah yang akan membelenggu kita. Karena banyak juga contoh-contoh yang ada, karena tidak mau belajar lebih, orang salah menghukum. Maka saya kira guru yang paling baik adalah guru yang mau menayakan kepada hati nuraninya “Apakah saya sudah layak untuk mengajar?” Sehingga tidak terjadi Kekeliruan kepada yang diajar walaupun itu terjadi di desa.

Sekian

#7. Dikirim oleh Nano  pada  22/07   05:07 AM

Tidak begitu beda dengan sebagaimana yang terjadi pada Kang Eep, saya juga merasakan bahwa ketika pertama kali “disentuhkan” dengan agama Islam, saya merasa “dijejali” dengan klaim-klaim kebenaran yang sepihak dan absolut. Agama Islam yang “diajarkan” kepada saya pertama kali memang bukan secara langsung saya dapatkan dari orang tua, tapi dari lingkungan desa kelahiran saya yang seratus persen penduduknya Islam.

Dengan kesadaran akan keadaan lingkungan dan sempitnya akan pengetahuan dunia luar maka saya pun merasa secara otomatis menjadi bagian dari lingkungan saya. Ketika lingkungan saya hidup dalam lingkup agama Islam yang berpandangan dengan dokrin-dokrin kebenaran agama menurut “guru agama’ di desa bahwa agama Islam adalah agama yang paling benar dan “Tuhan” mendikhotomi kehidupan atas surga dan negara yang sangat ekstrem maka begitulah “agama” yang saya anut.

Juga ketika diajarkan oleh “guru agama” di desa bahwa “mereka” dari pihak lain beragama Islam tapi beda “aliran” keyakinan,  “mereka” itu akan ditahbiskan sebagai orang dari golongan yang salah dan disisi “Tuhan” dianggap kafir. Sebuah klaim kebenaran yang menjejali, menghantui dan menakuti saya sehingga saya pun tidak bisa untuk membantah.

Agama Islam pun akhirnya saya yakini sebagai “agama” yang absolut paling benar sekaligus ajaran dengan “dogma” yang paling menakutkan. Ini terjadi sampai saya “seminggu” memasuki sebuah “IAIN” ternama di Kalimantan Selatan.

Lepas dari “IAIN” tersebut saya lalu memasuki perguruan tinggi ternama milik pemerintah yang ada di Jatinangor. Saya memasuki kehidupan “komunitas” kampus yang sangat pluralistik dan multikultural. Agama yang ada ternyata bukan hanya “Islam” menurut klaim kebenaran yang selama ini saya anut. Aneh saya mendapati bahwa setiap orang juga yang beragama ternyata tidak mengklaim bahwa agama mereka yang paling benar. Bahwa agama mereka begini-begini. Mereka hidup penuh toleransi terbuka dan demokratis.

Saya mulai sadar dan mempertanyakan “kebenaran” agama versi yang selama ini saya anut.

#8. Dikirim oleh syamsuri  pada  03/08   11:08 AM

Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Saya mah mau numpang nanya saja sama kang Eep. Pertanyaannya: Apa beda (atau bagaimana membedakan) antara iman terhadap ajaran agama dengan” egoisme spiritual”. Apa memang ada bedanya? Bagaimana peta/kondisi kejiwaan orang yang benar-benar beriman dengan yang punya “egoisme spiritual” (istilah ini saya pungut dari tulisan seorang pakar di koran, mungkin kang Eep pernah baca)

Terimakasih.

Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

#9. Dikirim oleh Bandar Jengkol  pada  02/09   06:09 AM

Saya sependapat dengan kang Eep. Selama ini kita telah terlalu lama keliru dalam memahami agama kita Islam. Akibatnya kita rasakan sekarang ini. Sebagian besar umat Islam berada dalam kondisi “memprihatinkan”, tidak hanya tertinggal dalam IPTEK, ekonomi, politik ds. Tapi juga dalam memaknai kehidupan itu sendiri. Kita “marah” ketika umat non-Islam “lebih maju” dari kita, kita “putus asa” ketika “musuh-musuh Islam” meledek kita dengan segala kecanggihan berfikirnya, kecanggihan Ipteknya, ekonominya dsb.dsb.

Lalu kita seperti biasa ber-apologi bahwa kehidupan diakhiratlah tujuan utama hidup kita; bahwa mereka-mereka orang non-Islam yang menguasai dunia sekarang ini akan jadi penghuni neraka jahanam, dan kita penghuni surga. Lalu sambil mengutip ayat berjihad, sebagian dari kita dengan sangat yakin menyerukan “PERANGI” musuh-musuh Islam jahanam itu, kaum kafir Amerika dan konco-konconya dengan Bom disana disini. Tidak apa-apa kita mati karena kita akan jadi syuhada disurga nanti.

Kalau begitu marilah kita semua bikin BOM dan kita hancurkan saja orang-orang kafir itu dengan bom, apapun bomnya, lebih bernilai dengan bom bunuh diri….......  Untung saja tidak semua orang Islam berfikir dan berperilaku seperti itu. Masih banyak yang mau berjihad dengan OTAK walaupun masih keok. Masih banyak yang mau berjihad dengan cintakasih, dengan empati kemanusiaan, dengan nurani, dengan akal jernih. Masih untung bukan? 

Masih untung ada umat yang tidak terjebak dengan gendang mainnya musuh-musuh Islam beneran (musuh Islam itu memang ada kok, pintarnya bukan main-main, saking canggihnya kepintaran meraka, kita jadi bener-bener goblok dibikinnya, sudah begitu hilang akal lagi, lalu marah sampai ubun-ubun dan putus asa (Nah, padahal putus asa itu dosa besar).  Lalu sambil teriak Allahu Akbar, kita (sebagian dari kita) BOM dar der dor. Mudah-mudahan pengorbanan itu benar diterima Allah Yang Maha Mengetahui, Sumber Kebenaran Yang Hakiki, Zat Yang Maha Pengampun, Pengasih dan Penyayang. 

Tapi apakah benar kita harus benar-benar garang seperti itu, di zaman yang rumit seperti sekarang ini. Apakah benar Allah Maha Berencana menginginkan kita bertindak seperti itu? Wallahu.  Hanya Dia Yang Maha Tahu.  Lho, maaf ya….... saya jadi fikir-fikir lagi, jangan-jangan di akhir tanggapan ini saya jadi malah kurang sependapat dengan kang Eep, bahwa sebenarnya tidak ada yang keliru, karena kita masing masing memang punya persepsi berbeda tentang agama kita Islam yang sangat kita cintai ini. 

Yang mungkin keliru barangkali karena kita punya kebiasaan kurang mau mawas diri!  Kita senang jadi Tuhan kok, kita secara tidak sadar sering meng-Tuhankan diri kita sendiri, lalu tentu yang lainnya selain kita salah…. penghuni neraka jahanam!  Layak di bom, layak di kafirkan! Padahal takabur itu (secara tidak sadar sekalipun) tidak disukai Allah Maha Perkasa kan ?  He..he…he….barangkali di sini saya mulai setuju lagi dengan kang Eep.

Barangkali maksud kang Eep benar bahwa sudah sangat lama kita umat Islam (dan pasti umat non-Islam pun) mendapat pendidikan/dakwah dsb. yang memang mungkin..mungkin lho keliru. Buktinya kan cukup jelas sekarang ini, “agama” (bukan Islam saja) tampaknya hanya jadi mainan kita saja..kasarnya pelarian saja…...(katanya si Marx?). Maaf ya pak Ustadz. Juga maaf seribu maaf kepada sohib-sohib. Terutama mohon ampun semoga Allah SWT dapat memaafkan saya, jangan-jangan pandangan saya ini sangat keliru besar. Bagaimana kang Eep yang cendekia, tolong pencerahannya. Saya lagi bingung nich. 

Hatur nuhun santosa. Wassalamu ‘alaikum wr. wb.

#10. Dikirim oleh djati s.  pada  02/09   06:10 AM

Kita harus sadar pola pikir yang berbeda-beda dan penafsiran ajaran agama yang keliru. Bagaimana mungkin membakar rumah atau membunuh manusia harus memangngil nama Tuhan “Allah hu Akbar” Salah apa itu Tuhan????

Cobalah kita selalu berpikiran positif. Sebab masuk Sorga/Nerkaa tidak ada satupun manusia dimuka bumi yang menjamin kita akan ke sana hanya Tuhan yang Tahu.

#11. Dikirim oleh Charles Manurung  pada  12/09   04:09 AM

Assalamu’alaikum,

Saya bersyukur bahwa guru ngaji saya yang ndeso dengan segala kelebihan dan kekurangannya telah mampu menjadikan saya sampai saat ini bisa membaca Alqur’an meskipun tidak sampai menguasai bahasa Arab.

Saya bersyukur karena orang tua saya yang telah menunjukkan sebuah agama yang benar dan lurus, sehingga sampai saya berkeluarga saya merasa kehidupan keagamaan saya telah menjamin kebahagiaan di Dunia dan di Akherat nanti.

Saya merasa bersyukur diberitahu ayah saya tentang kondisi surga dan neraka, sehingga jelas sekali saya akan memilih surga untuk tempat hidup saya di akhir jaman nanti.

Saya bersyukur karena orang tua saya mengajarkan agar menikah dengan yang se-iman dengan saya. Dan sekarang saya telah mendapatkan Istri yang muslimah dan berjilbab lagi.

Saya bersyukur orang tua saya dan juga guru ngaji saya yang ndeso mengajarkan bahwa Islam adalah agama yang damai, anti kekerasan dan sangat-sangat toleran. Bahkan guru ngaji saya yang ndeso itu malah mengatakan “Sangatlah aneh agama lain mengajarkan toleransi kepada Islam” Mudah-mudahan beliau selalu mendapatkan rahmat-Nya.

Dan sekarang saya bersyukur untuk selalu menjaga agar tidak menyakiti orang lain apapun agamanya, saya berteman dengan semua orang dengan baik dan menerima perbedaan.

So, saya pikir tidak ada yang salah apa-apa yang telah diajarkan oleh Orang Tua saya dan Guru Saya. Saya merasa ajaran Isalam adalah benar, karena mengajarkan saya untuk tidak menyakiti orang lain.

Jadi mengapa kita tidak menyukurinya, mengapa semakin modern jaman semakin melihat Islam selalu salah….

Kepada teman-temanku non muslim, Anda tidak usah gelisah kalau kami umat Islam mengatakan bahwa agama kami adalah yang paling benar, karena andapun berhak mengatakan hal yang sama terhadap agama anda. Ini berkaitan dengan keyakinan, dan kalau anda tidak melakukannya hanya karena ingin dilihat sebaga agama yang sangat toleran, ya itu juga pilihan anda.

Yang penting saya dan juga Anda ingin hidup berdampingan dengan baik membangun bangsa dan negara ini.

Semoga Allah selalu merahmati kita semua.

Wassalam,

Muhammad DF

#12. Dikirim oleh Muhammad DF  pada  13/09   02:09 PM

Seperti sudah menjadi ‘common sense’ bahwa agama yang kita anut adalah proses hereditas yang diajarkan secara turun temurun. Begitu juga pengalaman saudara Eef Saefullah Fatah seperti yang ia tuturkan dalam dialog bersama saudara Ulil Abshar Abdalla.

Sepertinya juga benar, bahwa agama yang kita yakini, kita pahami dan hayati merupakan perwujudan yang kita terima melalui sebab eksternal, baik itu orangtua, sekolah, lingkungan, dsb.

Padahal sebenarnya kita tidak pernah diajarkan agama sama sekali. Agama yang kita terima melalui hereditas bukanlah agama itu sendiri, tetapi pemahaman agama yang menjadi ‘common sense’. Mengapa?

Agama inheren di dalam diri kita. Tidak seorang manusianpun mampu menghindar dari agama. Pembentukan pemahaman, penghayatan, dan tindakan keberagamaan kita merupakan hasil sosialisasi. Tentu itu bukan agama. Itu hanyalah ekspresi agama bersifat duniawi yang profan.

Agama itu sakral. Kita harus mampu memisahahkan wilayah sakral dan profan dalam lingkup agama. Agama yang ada dalam diri hanya bisa diapresiasi melalui dialog batin manusia dan agama yang inheren dalam dirinya. Tak satupun manusia mampu mengajarkannya. Dalam agama dan dirinya, manusia adalah pengajar tunggal keberagamaannya. Ia tak butuh pengaruh eksternal. Sosialisasi agama hanyalah pengantar untuk bekal pemahaman agama. Namun keberagamaan tercerap secara alami. Manusia tidak bisa mengajarkan agama.

Oleh karena itu, kita sesungguhnya tidak pernah diajarkan agama!

#13. Dikirim oleh Adi Bunardi  pada  11/01   05:01 AM

“.....Tak satupun manusia mampu mengajarkannya” Maaf! saya ingin bertanya “Anda seorang MUSLIM???” Ini penting!!!

#14. Dikirim oleh Ibnu Solahudin  pada  16/08   08:08 AM

Mas Adi, kalau agama tidak pernah diajarkan, lalu apa fungsinya nabi, rosul, wali, dan alim ulama? Adalah kewajiban beliau-beliau untuk mengajarkan agama kepada kita, dan adalah hak kita untuk menerima dan mengamalkan ajaran itu, atau menolaknya.

Dalam proses penerimaan/penolakan ini juga sangat terpengaruh oleh “kekuatan” Allah SWT dalam menggerakkan hati kita. Dialah yang berhak untuk menentukan apakah kita termasuk dalam hamba-Nya atau bukan. Jadi, kesimpulannya ada 3 komponen yang berperan penting dalam proses pembelajaran agama yang tidak bisa dihilangkan salah satunya: 1. Para pengajar agama, 2. Diri kita sendiri, 3. Kehendak Allah SWT. “Agama itu sakral. Kita harus mampu memisahahkan wilayah sakral dan profan dalam lingkup agama.” Kalimat ini juga cukup menggelitik hati saya. Betapa selama 13 abad, khilafah Islam berhasil menguasai hampir setengah dari bumi Allah. Apa gerangan yang terjadi dibalik kesuksesan Islam ini? Tentu saja penerapan Islam dalam segala aspek kehidupan. Disini, Islam bukan hanya sekedar agama seremonial belaka, tapi juga berisi aturan hidup baik secara individual, sosial, maupun bernegara, yang dijalankan dalam kehidupan sehari-hari.

Hasilnya? Bayangkan, dalam kurun waktu 13 abad hanya terjadi sekitar 100-an tindak kejahatan, betapa manusia ketika itu bukan hanya berada dalam tingkatan kebudayaan tertinggi, tapi juga berakhlak mulia karena tunduk pada “aturan-aturan” Islam yang memang sempurna. Sekarang, selepas keruntuhan khilafah Islam, agama hanya dianggap sebagai seremonial “sakral” dan tidak diimplementasikan essensialnya dalam kehidupan sehari-hari. Hasilnya? Berapa ribu tindak kejahatan yang terjadi dalam setahun, contoh, di Indonesia saja? Jadi? Masih ragu terhadap penerapan Islam dalam seluruh aspek kehidupan? Marilah kita kembali ke Islam secara kaaffah.
——-

#15. Dikirim oleh Boby Juliyanto  pada  15/05   03:05 PM
Halaman 1 dari 1 halaman

Tulis Komentar

Nama:

Surat-e:

Lokasi:

Situs:

Ingat data pribadi saya

Ingin dikirim setiap umpan balik komentar yang masuk?