Ari A. Perdana: Kesalehan Ritual Tidak Menunjang Pertumbuhan
Oleh Redaksi
Doktrin-doktrin normatif agama dapat menghambat atau menunjang pertumbuhan ekonomi. Peranan institusi-institusi keagamaan dalam menyikapi sistem perekonomian juga sangat penting bagi perkembangan ekonomi. Bagaimana Ari A. Perdana, peneliti Center for Strategic and International Studies (CSIS)
Komentar
Mas, intinya ekonomi itu apa sih? jual beli kan, bisa jasa maupun barang. Kapan ekonomi itu berputar? jika adanya demand, tanpa demand tidak ada istilahnya roda perekonomian. Saya pikir pijakannya mulai dari sini.
Sekarang kita lihat bagaimana Islam mengatur jual-beli, banyak sekali ayat-ayat al-Qur’an yang menjadi guidance untuk masalah ini diantara yang paling kita pahami adalah surat Al-Mutaffifin. Ini sangat populer sekali karena menyangkut etika moral jual-beli bahkan langsung berhubungan dengan konteks spiritual yang secara transendental sulit ditelusuri melalui logika.
Jadi adalah amat sangat salah kalau tingkat kesalehan tidak sebanding dengan kemakmuran. Padahal Allah berulang kali mengancam hambanya yang berbuat curang dalam jual-beli.
Saya sharing pengalaman, bahwa di suatu pasar banyak sekali teori kapitaslis ataupun barat yang tidak jalan alias mentah. Buktinya pada saat banyaknya pedagang yang menghalalkan segala cara demi kemakmuran semata pada saat itu pula atau berselang beberapa waktu maka mereka jatuh bangkrut. lalu kenapa bisa bangkrut alias gulung tikar? teori ekonomi mana yang bisa menjawab fenomena ini?
Kita ini mayoritas Islam dengan berpegang pada Kitabullah al-Qur’an Al Karim dimana sudah lengkap diturunkan bagaimana etika jual beli bahwa dengan dilandasi kesalehan maka harta pun akan berkah dan negara ini pun akan makmur. (Al-A’raf 96). Intinya marilah kita bertaqwa dalam segala hal khususnya dalam berdagang dan berbisnis. Tanpa rasa taqwa maka sangat mustahil perekonomian akan tumbuh pesat.
Mas Fatih, Sebuah buku panduan haruslah sebuah buku yang memandu sepanjang masa. Jika kita menggunakan kemampuan akal/rasio untuk memotong postif dari negative maka kita memilikki pengetahuan yang lebih dari sang penulis/pengarang buku tsb. Dalam kasus ini menanyakan atau berkonsultasi dengan buku seperti itu adalah tidak perlu dan terlalu berlebihan. Jika kita tahu apa yang baik dan apa yang jelek menurut/secara naluri atau melalui kemampuan rasio/ pikiran kita, mengapa kita harus berpegang dan berkonsultasi dengan buku tersebut? Jika anda katakan tingkat kesalehan sebanding dengan kemakmuran, saya mau tanya kurang saleh bagaimana orang Taliban, Pakistan dan Bangladesh; apakah mereka makmur?? Lihat Jepang, Korea dan China mereka makmur, apakah mereka saleh dan takwa sesuai dengan konteks yang anda maksud??
Ukuran kesalehan tidak bisa seseorang yang menilai karena semua adalah hak Allah dan dalam hukum kausalitas dari kesalehan inilah bukan teori manusia yang bicara. Saya contohkan anda mengatakan kurang saleh apanya Taliban, Pakistan, dan Bangladesh, atau taruhlah anda ingin mengumpulkan bukti sebanyak mungkin untuk meyakinkan pendapat anda dengan mencari contoh negara yang lebih ekstrim lagi misal Sudan atau Somalia. Negara-negara tsb tertinggal secara makro ekonomi dibanding negara-negara ras kuning seperti Jepang, Cina dan Korea.
Melihat konklusi seperti ini memungkinkan ditemukannya banyak kesalahan parameter bahkan berakibat fatal. Karena kalau kita jujur kita selalu bicara kesalehan dari bentuk lahir dan itu sah-sah saja hanya tidak bisa dijadikan bukti yang cukup representative dan kuat. Ketiga Negara muslim yang anda sebutkan jelas jauh berbeda tingkat pertumbuhan ekonominya jika dibandingkan dengan lawannya karena dipicu pula dengan perbedaan yang mencolok dalam faktor politik dan keamanan. Suka atau tidak suka factor politik ini mempengaruhi pertumbuhan ekonomi secara makro.
Bayangkan saja Taliban berapa kali harus jatuh bangun diterjang perang saudara, belum lagi dijadikan bulan-bulanan amerika dengan sejuta taktik liciknya mengeruk kekayaan alamnya dengan alasan demokrasi. Bangladesh yang sering tertimpa bencana alam belum lagi konflik internal, Pakistan masih berseteru dengan tetangganya India dan masih dikendalikan oleh amerika. Apakah negeri yang carut-marut karena perang dan masih mudah diadu domba bisa dibandingkan dengan Jepang atau Korea yang mempunyai karakter politik yang kuat? Kenapa anda tidak ambil pembanding semisal tetangga kita terdekat Brunei, mungkin anda lalu mengatakan di negeri itu penduduknya sedikit. Lalu bagaimana dengan Kuwait, UEA,Qatar? Kemudian anda akan mengatakannya lagi bahwa mereka mendapat warisan sumur-sumur minyak sejak terlahir didunia ini maka pantas mereka makmur. Tidak akan ada ujung pangkalnya jika factor lahiriah suatu Negara dijadikan parameter kemakmuran.
Maka jawaban untuk memakmurkan suatu bangsa khususnya Indonesia adalah berpedoman pada al-Qur’an Al-Karim, Kitab ini memberi banyak pelajaran yang luar biasa tidak hanya menyoal perekonomian saja bahkan mencakup segala aspek kehidupan. Seperti dalam firman Allah SWT. Artinya: Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (QS.7/96)
Tetapi apa kenyataannya dengan Negara kita. Untuk menangkap koruptor tingkat kelurahan saja susahnya luar biasa bagaimana mungkin untuk ke tingkat yang dekat dengan kekuasaan. Mereka itulah yang mendustakan ayat-ayat Allah sehingga bagaimana mungkin Allah mau menurunkan rahmat dan berkah dari langit dan bumi. Malah sebaliknya azab Allah yang turun hingga saat ini terasa sulit mengatakan kita sudah keluar dari krisis ekonomi.
Inilah hukum kausalitas yang tidak diyakini oleh agama selain Islam, dan secara transendental tidak bisa ditelusuri logika berfikir karena butuh keimanan yang kuat untuk meyakininya. Tatkala suatu penduduk disuatu negeri berikrar bahwa pedoman hidup mereka al-Qur’an, maka Allah meminta bukti nyata dari ikrar tersebut dan diturunkannya ujian berupa kenikmatan, namun kenikmatan dan kemakmuran ini mereka salah gunakan demi kepentingan segelintir orang dan tidak adanya rasa syukur dari mereka. Apakah mereka kita katakan orang saleh hanya karena factor generalitas umat ini adalah secara lahir muslim. Apakah orang-orang semacam ini dapat dikatakan mewakili umat Islam yang didambakan dalam al-Qur’an ataupun Hadist-hadist Nabi SAW sebagai umat terbaik? Tentu tidak bisa dikatakan demikian. Kalau kita mengatakan saat ini umat Islam adalah umat yang saleh dan bisa menjamin adanya kemakmuran, maka hal itu belum benar karena mereka masih bermain-main dengan al-Qur’an dan tidak mengamalkannya secara sempurna.
Beriman dan bertaqwa adalah berpegang teguh pada al-Qur’an Al-Karim dan tidaklah pribadi yang berpegang teguh padanya melainkan hanya orang-orang shaleh.
Dalam tulisannya, saudara Ari menekankan bahwa kesalehan sosial adalah yang paling utama dalam menunjang pembangunan, sedangkan kesalehan ritual hanyalah bersifat marginal. Sebenarnya, hal ini tidak tepat. Karena hanya melihat dengan tolak ukur pragmatisme jangka pendek. Mungkin benar bahwa Kesalehan sosial itu sangat penting dan menunjang pembangunan, tetapi secara sporadis mengalienasi kesalehan individual/ritual adalah hal yang tidak benar. Alih-alih mengembangkan pembangunan, melaksanakan kesalehan sosial An-Sich justru akan menjadi bom waktu yang sudah dipicu mundur. Tetapi jika Kedua kesalehan itu diintegralisasikan maka akan terbentuk etos kerja yang bagus. tidak saja berorientasi hasil, tetapi juga proses. Jika ini dilakukan, maka akan tercipta pembangunan yang berlandaskan nilai profetik. Opini bahwa tingkat kesalehan ritual tidak terlalu mempengaruhi pembangunan ekonomi juga layak dipertanyakan. Sebuah study tentang perilaku ekonomi kaum Calvinis misalnya, dari sebagian besar mereka yang taat beribadah, kehidupan ekonominya lebih makmur daripada yang tidak. Dan jika pertanyaan selanjutnya yang dilontarkan adalah apakah hal ini dapat kita generalisasi untuk agama yang lain, maka jawabnya tentu saja ya. bahkan dalam konteks agama Islam, bentuk kesalehan ritual yang tidak meninggalkan kesalehan sosial lebih solid dan sempurna dari agama manapun
Saya heran dengan beebrapa penanggap di atas, mereka baca dulu gak sih tuilsan wawancaranya? Mas Ari jelas mengatakan bahwa ia sendiri mengkritik penggunaan wacana kesalehan ritual yang dicirikan dengan ibadah ritual seperti frekuensi datang ke tempat ibadah, tingkat kepercayaan pada suatu konsep rasional, dsb. Yang bisa kita prediksikan dari kesalehan sosial adalah ketika setiap manusia pada dasarnya akan berbenturan dengan keadaan yang berada di luar jangkauannya (time and space), disitulah kemudian manusia mendeskripsikan berbagai bentuk kepercayaan seperti dewa, tuhan, dan mengapresiasikannya dalam bentuk ritual seperti sembahyang, pemujaan, ratapan-ratapan dan lainnya. Intervensi manusia terhadap manusia lain akan bentuk ritual yang bersifat private tersebut hanya akan menimbulkan konflik, apalagi kalau dibarengi dengan pemaksaan atas nama apapun. Beda halnya dengan kesalehan sosial yang melibatkan manusia dengan manusia, yang idealnya adalah perwujudan pula dari kesalehan ritualnya. Takut adalah salah satu sikap preventif dalam menghindari perbuatan berdampak negatif baik bagi dirinya, orang lain ataupun alam sekitar (win-win and win solution), dan takut melakukan perbuatan negatif seperti korupsi, curang dalam berdagang, memalsukan barang, dll, adalah salah satu sikap ritual yang universal, lintas suku, agama dan negara. Karenanya, kesalehan ritual yang baik berdampak pula dalam kesalehan sosial dan ekonomi, dimana transaksi sesungguhnya bukanlah kesempatan memperkaya diri namun bagian dari saling tolong. Salam.
——-
Komentar Masuk (5)
(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)