Ketika Kebenaran Ditafsirkan
Oleh Sukidi
Demikianlah, kita mengimani Tuhan yang Satu, yang diinterpretasi dan diekspresikan melalui beragam nama, menjadi tuhan-tuhan. Doa harian umat Sikh dimulai dengan kata One Ekhi Omkar, Satu adalah Tuhan dan Realitas Tertinggi adalah Satu. Shema, yang setiap hari dilantunkan umat Yahudi, meneguhkan yang Satu: “Dengarlah, hai Israel, Tuhan kita adalah Tuhan yang Satu…” Umat Islam meneguhkan Tuhan yang Satu melalui syahadah: afirmasi iman kepada Allah sambil me-negasi-kan sesembahan-sesembahan lain. Era awal Kristen, Paul, yang melakukan perjumpaan iman dengan orang-orang Yunani di Athens beserta tuhan-tuhan mereka, memproklamasikan bahwa yang Satu, yang disembah mereka sebagai yang tak diketahui, adalah Tuhan yang Satu yang menciptakan langit dan bumi. One secara esensi, menjadi Many pada tingkat manifestasi. Itulah Kebenaran dan Tuhan, menjadi kebenaran-kebenaran dan tuhan-tuhan ketika diinterpretasi dan dihayati oleh milyaran umat manusia yang berbeda dari segi agama, etnik, ras, dan bangsa.
Komentar
Bukan suatu kesalahan jika setiap orang memahami bahwa agamanyalah yang benar. Ajarkanlah agar mereka tidak saling “betengkar” (Lakum dinukum waliadin), dan saling toleransi antar umat beragama.
Biarkanlah mereka hanya mengimani firman Allah sbb: innadina indallahi hil Islam, daripada memaksakan orang lain untuk mengimani keyakinan kita—yang notabene hanya manusia lemah, tapi merasa hebat—kepada pihak lain agar percaya bahwa semua agama benar.
Naudzubillah min zalik
Pak Sukidi,
Ass. Wr. Wb.
Berbeda agama, maupun cara pandang sudah menjadi sunatullah yang rasanya tidak membuat saya menjadi pusing. Yang membuat saya pusing, seharusnya Anda yang sudah masuk jenjang S2, sebaiknya berpikirnya lebih terstruktur, bukan malah makin tidak jelas.
Yang menjadi pertanyaan kita adalah: apakah bisa kita menggunakan analogi pohon sebagai representasi keberagaman umat manusia. Kalau pohon bisa digunakan sebagai representasi keberagaman, pertanyaan selanjutnya adalah, mana yang harus diakui sebagai yang memiliki kekuasaan penuh terhadap hidup pohon: apakah akarnya atau daunnya? Apabila akar direpresentasikan sebagai tuhan, ya jangan sembah daunnya dong! Atau jangan sembah batangnya, dong, nanti akarnya marah! Wong Mas Sukidi juga pasti marah kalau saya bilang Mas Sukidi itu bukan anak sekolahan. Cuma belajar sendiri doang, S2-nya cuma beli ke Amerika. The ultimate owner or power pasti punya reason sendiri kenapa tidak mau diremehkan seperti itu. Ya nggak?
Saya menyesal, jikalau ketajaman logika kita diarahkan untuk mengurusi Tuhan; tafakkaru fi dzatillah. Islamlib sangat bagus untuk menjaga kekritisan logika kita, agar kita dapat berpikir dengan benar, namun tidak kalah penting adalah bagaimana kita memikirkan hal-hal yang benar. Saya ingin kutipkan saja tulisan saya agar alur logika kita tidak mbulet. Bab 7 PRINSIP I:TAUHID
Katakanlah, “Dialah Allah SWT, Yang Mahaesa [Prinsip I:Tauhid]; Allah SWT pada-Nya bergantung segala sesuatu; Tidak beranak (tidak ada sesuatu pun diderivasikan dari-Nya)dan tidak pula diperanakkan (dianggap berasal dari sesuatu); dan Tidak ada sesuatu pun yang setara dengan Dia. (QS.112:1-4).
TAUHID: AWAL, AKHIR, DAN SEGALA-GALANYA
Agar “Kacang Tidak Melupakan Kulitnya”: Tauhid, Aksioma Tertinggi atau Prima Principia Tauhid adalah bukti atau dalil tertinggi, aksioma tertinggi, dan tidak perlu dibuktikan. Adanya cahaya menyebabkan adanya siang, cahaya menjadi bukti adanya siang, akan tetapi apakah siang menjadi dalil adanya cahaya? Tidak. Ada-tidaknya siang tidak membuktikan ada-tidaknya cahaya. Secara matematis dipahami, bila kita menulis (x+y) berarti (x+y)1, apakah (x+y) merupakan bukti adanya pangkat satu? Tidak. Ditulis atau tidak pangkat satu mutlak ada. Ada (x+y) atau tidak ada, pangkat satu tetap ada. Kita umumnya membuang pangkat satu tersebut, namun bukan karena ia tidak penting melainkan justru karena ia begitu alamiahnya. Allah SWT tentu saja bukan pangkat satu, bukan ka’bah, bukan apapun yang mungkin atau tidak mungkin diimajinasikan. Namun, kehadiran Allah SWT Yang Maha Esa, lebih nyata dari pangkat satu, dan seandainya seisi bumi tidak mengingkari-Nya, tidak berpengaruh apa-apa bagi-Nya. Firman Allah SWT dalam hadits qudsi, “Ana yustadlilu bii wa ana laa yustadlilu ‘alalayya” (Aku menjadi bukti bagi diri-Ku sendiri, dan Aku tak ada sesuatu pun yang akan menjadi bukti atas-Ku). In diagnosis think of the easy first. Kita selalu memahami segala kerumitan dengan berangkat dari hal-hal yang sahaja (simple), jelas (clear), dan paling dekat dengan kesiapan pikiran kita. Secara hakiki, kita tidak dapat membohongi diri, bahwa kita selalu harus memulai dari hal-hal yang telah kita pahami. Ibarat menyantap “jamuan makna”, kita harus memulai dari bagian yang paling mudah kita jangkau lebih dulu. Sebaliknya, kita pun dapat mengembangkan kecanggihan dari hal-hal yang sahaja. Kita bisa memahami operasi perpangkatan, menganggap 34 = 27 benar, apabila kita dapat memeriksa 3 x 3 x 3 x 3 = 27, dan seterusnya sehingga perkalian dikembalikan ke penjumlahan. Kita bisa tertawa menyaksikan acara lawak di televisi, karena sebelumnya telah memahami makna bahasa yang digunakan mereka. Kita dapat menulis dengan lancar, seakan-akan tidak memikirkan satu kalipun bagaimana bentuk suatu huruf yang kita gunakan, karena kita telah mempelajari huruf-huruf tersebut bertahun-tahun. (Anda dapat mengambil contoh apa saja di sekeliling kita tanpa batas). Hal yang lebih sahaja selalu menjadi bukti bagi hal-hal lain yang berasal darinya, walaupun seringkali “kacang lupa kulitnya”. Hal-hal yang paling sahaja dan jelas pada domain tertentu merupakan bukti bagi segala sesuatu yang dikembangkan pada domain itu pula—biasa disebut “aksioma” dalam istilah matematika. Aksioma membuktikan dan dianggap tidak perlu dibuktikan. Aksioma diyakini telah jelas dengan sendirinya. Contoh aksioma: jarak terdekat di antara dua titik selalu berupa garis lurus. Sangat jelas dan pasti benar. Jika hal itu dianggap aksioma, maka pertanyaan yang relevan bukanlah “apa bukti pernyataan itu” melainkan “apa yang dapat kita lakukan darinya”. Namun, setelah diperiksa lagi klausul di atas hanya akan benar dengan syarat-syarat tertentu, yaitu asumsi geometri Euklidan yang hanya benar untuk bidang datar. Oleh karena itu, untuk asumsi lain, yaitu pada geometri non-Euklidan, “jarak terpendek di antara dua titik tidak selalu garis lurus”. Sebagai contoh aksioma lain geometri Euklidan lainnya adalah bahwa jumlah sudut-sudut pada sebuah segitiga sama dengan 180o. Sekali lagi, aksioma ini hanya sahih dalam konteks geometri Euklidan. Misalkan, kita membuat sebuah segitiga ABC pada permukaan bola bumi. Titik A terletak pada kutub utara, sedang titik B dan C masing-masing pada khatulistiwa yang dipisahkan daerah seperempat bola bumi. Apakah jumlah sudut-sudut A, B, dan C sama dengan 180o? Tidak. Akibatnya, aksioma tersebut bukan aksioma sebenar-benarnya, sebab ia hanya benar dalam kriteria-kriteria tertentu. Contoh lain, Nabi Muhammad SAW muncul setelah Nabi Adam as sangat jelas dan pasti benar. Setelah diperiksa lagi, klausul di atas hanya akan benar dengan syarat-syarat tertentu, yaitu asumsi waktu bersifat absolut. Semua aksioma-aksioma apabila ditelusuri lebih lanjut, masih memerlukan aksioma lagi yang lebih tinggi. Waktu selama berabad-abad [oleh Jalur Kiri] dianggap aksioma tertinggi—aksioma mutlak. Kesadaran kita seakan-akan diciptakan untuk menyadari bahwa waktu adalah mutlak sehingga kita pun menyadarinya demikian. Oleh karena ada kontradiksi tatkala kita “membaca diri” dengan tatkala kita “membaca dunia”, kita meninggalkan aksioma waktu mutlak dan mencari lagi aksioma tertinggi untuk membangun semua pengalaman hidup kita. Saat ini, kita tahu bahwa waktu tidaklah mutlak . Tauhid merupakan aksioma tertinggi (the ultimate axiom) dan satu-satunya, yang menjelaskan dan membuktikan “aksioma-aksioma” lain dan segala sesuatu. Sebagai aksioma (self-evident truth) dalam arti yang sebenar-benarnya, Tauhid adalah bukti tertinggi untuk membaca diri dan dunia. Kebenaran hanya satu. Jikalau ditemukan kontradiksi—ada kesimpulan yang bertentangan—dalam suatu konsep, maka konsep itu tidak benar atau penjelasan yang digunakan belum tuntas. Itulah salah satu proposisi yang dapat dibangun atas dasar aksioma tauhid. Tidak menghendaki kontradiksi, itulah salah satu sikap yang hanya dapat dibangun dari aksioma tauhid. Tauhid telah jelas dan jernih dengan sendirinya. “Siapa yang mengenal hakikat dalam Tauhid, maka gugurlah pertanyaan mengapa dan bagaimana,” kata Husain bin Manshur al-Hallaj (858-922 M). Apa yang dijelaskan seluruh buku ini merupakan upaya penulis untuk “menerjemahkan” –bukan membuktikan – konsep itu. Dari realitas hakiki kita berangkat dan kepada realitas hakiki pula kita kembali. Dari titik Tauhid kita berangkat, dan akan kembali pula ke titik itu. Tauhid bukanlah “mengesakan” Tuhan, melainkan lebih tepat dikatakan sebagai usaha menggerakkan kesadaran dari dan menuju kemahaesaan Tuhan. Sebab tanpa atau dengan kita esakan Tuhan tetap Mahaesa. Tuhan tidak menjadi dua karena kita duakan, atau menjadi tiga karena kita tigakan. Perlu ditegaskan di sini, kita tidak akan menggunakan istilah tauhid untuk “mendefinisikan” Tuhan (tafakkaru fi dzatillah), seperti yang telah dilakukan mutakallimun (para ahli teologi) pada zaman dulu. Bagaimana Tuhan didefinisikan padahal Dia Tak Terdefinisikan? Bagaimana Tuhan dipikirkan padahal Dia Tak Terpikirkan? Bila mutakallimun sering menguras energi berdebat untuk membuktikan kebenaran berdasarkan konklusi filosofis, di sini kita hanya akan sebisa mungkin menggunakan konsepsi tauhid untuk membangun kesadaran berdasarkan kesaksian faktual. Prinsip Tauhid yang dimaksudkan di sini digunakan untuk “menerangi diri dan dunia”, merenungi makhluk-makhluk ciptaan-Nya (tafakkaru fi khalqillah), sehingga teranglah bahwa kita “perfectly imperfect”. Keterbatasan, kekurangan (incomplete), dan ketidaksempurnaan (imperfect) pengetahuan merupakan prasyarat untuk mengenal ketidakterbatasan, keluasan, dan kesempurnaan Allah SWT. Anda harus percaya, bukan karena Anda tahu, melainkan justru karena Anda tidak tahu, namun Anda tidak mempunyai alasan sedikit pun untuk membantahnya. Suata ketika Abu Bakar ash-Shiddiq ditanya, “Bagaimana engkau mengetahui Tuhanmu?” “Aku mengetahui Tuhanku dengan (perantaraan Tuhanku).” “Dapatkah manusia mengetahui-Nya (tanpa perantaraan-Nya)?” “Kesadaran akan ketidakmampuan manusia sudah merupakan pengetahuan.” Untuk menghayati Tauhid hendaknya kita berpikir dan bekerja keras sampai ke ujung. Dengan menghayati kebodohan diri, dengan mengekspresikan segala kecerdasan sampai titik ujung, akan lebih terhayati kemahatahuan-Nya. Dengan menghayati kekerdilan diri kita dan dunia, akan hadirlah dalam kesadaran kita keagungan-Nya. Dengan menghayati kefanaan diri dan dunia, kesempurnaan-Nya akan tampak terang benderang pada kesadaran kita. Dengan mengungkapkan segala cinta sedapat-dapatnya, nyatalah bagi kita bahwa cinta kita hanya setetes air dari samudera cinta-Nya. Biarkan akal bekerja maksimal, berpikir maksimal, berimajinasi maksimal. Tentunya bila ada batasnya, ia akan menemukan batas itu. Jika telah tuntas pencarian yang sungguh-sungguh, maka pengakuan “akal memang luar biasa, tetapi tidak sempurna (incomplete)” akan memiliki makna yang sangat dalam – bukan basa-basi. “Kita sama sekali tidak mengetahui apapun. Seluruh pengetahuan kita hanyalah pengetahuan sekolah anak-anak. Yang riil dan alamiah kita tidak akan pernah tahu,” aku Albert Einstein. Seluruh prinsip kebenaran, seluruh benang rajut kausalitas, bermula dan berakhir pada prinsip Tauhid. Prinsip-Prinsip yang ditemukan dan dijelaskan setelah Prinsip ini (dan prinsip apapun yang pernah kita jumpai ) merupakan prinsip-prinsip pendekatan atau penjabaran, prinsip-prinsip turunan, guna membuat prinsip Tauhid lebih terang dan membumi. Ujung penjelajahan intelektual harus dicetuskan dari ‘titik’ Tauhid semurni-murninya, dengan arahan Tauhid setepat-tepatnya, bila tidak, penjelajahan itu menyesatkan.
Gb.6.1 Titik Ba yang benar adalah Tauhid: utuh, padu, dan mendasari dan sekaligus mengatasi segala prinsip-prinsip yang benar.
Kebenaran Mustahil Kontradiktif Kebenaran terbesar adalah bila lawannya merupakan kekeliruan terbesar. Hal-hal yang paling fundamental, ibarat fondasi bangunan, apabila tidak dipahami dengan benar akan mengakibatkan keruntuhan bangunan itu secara keseluruhan. Tauhid ialah aksioma paling fundamental, atau lebih tepatnya merupakan satu-satunya aksioma. Maka, apapun yang bertentangan dengan Tauhid adalah fatamorgana. Sihir, contohnya, mungkin tampak kelihatan riil, tapi karena bertentangan dengan Tauhid ia merupakan bentuk penipuan. Jika prinsip Tauhid diibaratkan dengan cahaya, maka, sebagai konsekensi logis, semua prinsip yang kontradiktif dengan Tauhid adalah kegelapan (ketiadaan cahaya) . Kegelapan itu yang di dalam al-Qur’an disebut syirik, yang bisa sangat samar seperti semut hitam yang merayap di atas batu hitam di tengah malam yang kelam. Jika Tauhid menjadi syarat bagi segala pengampunan dan “tiket masuk surga”, maka tidak ada ampunan apapun dari perilaku syirik. Kebenaran harus utuh. Half truth is not the truth. Keindahan ialah kebenaran, kebenaran keindahan – itulah seluruh yang Anda tahu di atas bumi, dan seluruh yang perlu Anda tahu. Kebenaran, kebaikan, dan keindahan merupakan satu keutuhan. Sesuatu itu indah apabila ia baik dan benar. Keuletan merupakan sikap yang baik dan benar, artinya keuletan merupakan keindahan hidup. Hidup manja sekilas menyenangkan, tapi karena tidak baik dan bertentangan dengan kebenaran, hal itu merupakan keburukan. Kegagalan kita untuk menerima kebenaran sebagai keutuhan merupakan kegagalan kita dalam membaca diri dan dunia. Tauhid melarang “keindahan” aurat di tempat terbuka, sebab keindahan itu membawa keburukan fitrah manusia. Tauhid menegaskan untuk tidak mempercayai paranormal meskipun benar, sebab kebenaran itu cepat atau lambat merusak fitrah rasional manusia. “Barangsiapa yang mendatangi ‘arraf (orang yang dianggap mengetahui masa lalu tanpa metodologi yang konsisten) dan menanyakan sesuatu kepadanya, maka shalatnya tidak akan diterima selama empat puluh hari. Barangsiapa yang mendatangi kahin (orang yang dianggap mengetahui masa depan) dan membenarkan apa yang ia katakan, sungguh ia telah kafir dengan apa yang diturunkan kepada Muhammad ,” sabda Nabi dalam dua buah hadits yang terpisah. Melihat segala sesuatu secara terpisah-pisah, apalagi saling kontradiktif, selalu merupakan bukti ketidaklengkapan dan kegagalan paradigma. Kebenaran mustahil bertentangan dengan kebenaran. Kita tidak bisa benar pada suatu tempat, salah pada tempat lain. Ambil contoh, hukum-hukum Newton benar tatkala diterapkan pada kecepatan-kecepatan biasa, tetapi salah tatkala berbicara pada kecepatan-kecepatan tinggi mendekati kecepatan cahaya. Artinya, hukum-hukum Newton kurang cermat, sehingga dianggap salah. Dalam ilmu pengetahuan yang unggul tidak sekadar lebih pahit daripada yang biasa; itu hampir mencakup segala persoalan. Paradigma yang benar dan paling fundamental akan benar diterapkan di masjid, di pasar, dan di mana-mana. Jika cahaya, sama juga suara, adalah gelombang, maka kita dapat memahami pula relativitas sebagai efek Doppler relativistik/transversal. Meloncat lebih tuntas, bagaimana kita memperlakukan seluruh pengalaman hidup kita, dari bangun tidur sampai tidur kembali, dari lahir sampai mati, dari Adam sampai bayi yang lahir detik ini, dari masalah membersihkan slilit yang terselip di gigi sampai penyelamatan lapisan ozon, dari masalah hubungan kita dengan jerawat sampai hubungan dengan Tuhan, dari A sampai Z, kedalam keterkaitan yang utuh? Tauhid membimbing kita—sekali lagi—untuk tidak menyukai kontradiksi dan –lebih tuntas – mengarahkan hanya kepada satu kemutlakan (al-haqq). Dialah yang biasa kita kenal –dalam bahasa Indonesia – dengan istilah Tuhan. Tidak ada tandingan atau pun sekutu bagi-Nya, dan segala sesuatu bergantung kepada-Nya. Perilaku syirik dapat dijelaskan sebagai invers dari Tauhid, mengarahkan kesadaran bahwa ada lebih dari satu kemutlakan, atau bahkan tidak mengakui adanya kemutlakan (ateisme). Seseorang, misalnya, telah berlaku syirik tatkala menganggap ada tuhan lain selain Tuhan Yang Maha Esa yang sebenarnya, misal Yesus dan Ruh Kudus. Orang-orang ateis berlaku syirik, dengan cara lain tetapi sama saja, dengan memutlakkan pikiran mereka sendiri, padahal hanya Tuhan Yang Maha Mutlak. Sebagai seorang muslim, kita pun dapat dengan mudah terjebak dengan syirik bila kita tidak mengarahkan kesadaran kita secara utuh kepada Allah SWT. Untuk mengarahkan kesadaran pada keesaan Allah SWT., kontradiktif apabila manusia mengesakan (memutlakkan) dirinya. Hanya Allah SWT yang Mahamutlak, kita adalah wujud-wujud fana. Barangsiapa yang di dalam Tauhid merasa seolah-olah sebagai hasil kecerdasan sendiri, maka Tauhidnya itu tidak dapat menyelamatkannya dari api neraka sampai dia mengakui bahwa Tauhidnya merupakan karunia Allah SWT. “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah SWT; fitrah Allah SWT yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah SWT, yaitu agama yang lurus tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. Kembalilah bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang berbuat syirik, yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” Dalam kondisi yang sangat genting dapat saja orang kafir tergugah kesadaran Tauhidnya, seperti Fir’aun menjelang ajalnya, tetapi semua itu tidak bermakna. Firman Allah SWT, “Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilanglah siapa yang kamu seru kecuali Dia, Maka tatkala Dia menyelamatkan kamu ke daratan, kamu berpaling. Dan manusia itu adalah selalu tidak berterima kasih.” Tauhid yang menyelamatkan kita ialah Tauhid yang semurni-murninya – kebenaran, kebaikan, dan keindahan yang konsisten di manapun dan kapanpun.
Hanya Ada Satu Pilihan, Tauhid atau Tidak? Kita telah memperjelas Prinsip I:Tauhid dengan imajinasi sampai ke ujung sesuatu yang dapat diimajinasikan: big bang. Alam semesta muncul dari ketiadaan. Apakah ia muncul begitu saja seperti gajah yang keluar dari kulkas? Dari ledakan mahadahsyat bisa muncul keteraturan yang menawan di alam sampai terjadi kehidupan dengan struktur yang sangat rumit. Apakah hal itu hanya “kebetulan”, seperti Anda saat ini tiba-tiba menjadi presiden Republik Indonesia? Hanya ada satu pilihan, mengakui kemahaesaan Tuhan (kesadaran Tauhid). Selain itu tidak layak disebut jawaban, melainkan keputusasaan, pembangkangan, dan kesesatan. Orang-orang ateis tampak percaya diri dengan menyangkal wujud Tuhan, dan menggantikan kata proses “kebetulan” pada penciptaan dan pengendalian alam. Bila benar, hal itu merupakan sebuah kebetulan yang sangat menakjubkan, sebab kebetulan itu konsisten di mana-mana sehingga tidak layak disebut kebetulan. Maka, intelektual yang benar akan mengakui dan berserah diri sepenuhnya pada Tuhan, yakni Kebenaran itu sendiri –selain Allah SWT hanyalah ilusi. “Seorang narapidana tidak memilih tugasnya,” kata peribahasa Afrika. Tauhid membebaskan kita dari status narapidana. Everything is something you decide to do, and there is nothing you have to do.Tauhid adalah pembebasan yang menuntut kita hanya mematuhi dan berpusat pada prinsip-prinsip kebenaran, dan menentang nilai-nilai selain kebenaran. Prinsip-prinsip kebenaran adalah prinsip-prinsip universal, adalah prinsip-prinsip tauhid. Tauhid menentang dominansi siapapun/apapun atas diri kita, dan juga dominansi diri kita atas orang lain. Tauhid menuntut penegakkan nilai-nilai kebenaran di dunia luar dan terutama dimulai di dalam diri kita sendiri. Tiada engkau mencintai sesuatu melainkan engkau pasti menjadi hamba dari yang kaucintai itu, dan Allah SWT tidak suka engkau menjadi hamba apapun selain Dia. Prinsip Tauhid berarti tidak memiliki sesuatu pun dan tidak dimiliki oleh apapun, selain Allah SWT. Apa yang berada di tangan Allah SWT lebih meyakinkan Anda daripada yang berada di tangannya sendiri. “Hanya kepada-Mu kami mengabdi dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan,” demikian ikrar yang selalu kita baca atau dengar setiap kali shalat.
Ribet amat. Lakum dinukum waliadin!
Salam kenal bapak Sukidi. Tulisan bapak memang menarik, buat orang-orang yang beraliran kepercayaan. Saya setuju bahwa Allah itu hanya sebuah nama yang mewakili sebuah Zat yang bersifat rahman, rahim dan sembilan puluh sembilan nama dan 20 sifat Allah.
Namun agak saya sayangkan, jangan-jangan penulis juga di dalam kebigungan dalam mengimplementasikan tentang keagamaan penulis sendiri. Jelas sudah di dalam Al-Quran bahwa agama mereka buat mereka agamamu untuk kamu. Banyak juga larangan Allah untuk tidak mengejek-negejek agama lain, karena pada saat kita mengejek salah satu Tuhan mereka, maka mereka akan juga mengejek tuhan kita. Jadi menurut saya, cobalah penulis berpikir lagi tentang eksistensi ketuhanan; menurut anda wahyu itu turun dalam bahasa apa? Tuhan itu ada di mana? Terus masalah risalah kenabian/kerasulan itu sampai di mana?
Rupanya Anda sudah terjebak pada kedaan yang menurut Anda telah memaksa kita untuk mengakui kebenaran semua agama. Kenapa kita justru menyerah pada keadaan yang sebenarnya sama sekali tidak benar? Kalau toh ada banyak agama yang menuhankan banyak Tuhan, bukankah akan lebih baik jika pengenalan atas tuhan itu dikembalikan pada parameter yang dimiliki oleh setiap manusia?
Manusia memiliki akal yang dapat digunakan untuk memikirkan realitas Tuhan, keberadaan, dan jumlahNya. Bukankah Tuhan kita telah menunjukkan realitas yang menunjukkan eksistensiNya yang nyata-nyata? Semua tanda menunjukkan bahwa Dia ada dan hanya satu! Adapun tentang namaNya, maka kita harus merujuk pada literatur yang bisa menunjukkan bahwa literatur itu adalah benar wahyu Tuhan, yang bisa dibuktikan dengan menghadirkan kemungkinan-kemungkinan asal datangnya literatur itu. Dan tak dapat diragukan lagi bahwa Alqur’an lah satu-satunya yang layak dijadikan literatur untuk menentukan nama tuhan. Karena literatur lain hanyalah buah pikiran manusia yang dengan mudah dapat direvisi, sedangkan Al-Qur’an tidak!
Maka, saya sarankan kepada Anda untuk lebih cerdas lagi dalam mengeksplorasi Tuhan, dan jangan buru-buru menyerah pada banyaknya literatur yang Anda baca. Hidup dalam beragam kepercayaan bukan berarti harus menyamakan kepercayaan atau menganggap semua kepercayaan benar. Yang harus dilakukan adalah mengatakan yang benar adalah benar, dan yakinilah sekuat hati, dan yang salah adalah salah dan sampaikanlah kepada dunia bahwa itu salah. Tentu tidak perlu dengan menyerang secara pribadi, tapi jatuhkan keyakinannya (atau jangan-jangan keyakinan anda sudah benar-benar jatuh?) karena hidup berdampingan secara damai bukan berarti menganggap semua kepercayaan sama.
Mari luruskan hati dan jernihkan pikiran. Kedamaian dalam beragam kepercayaan hanya akan bisa diperoleh bila aturan yang diterapkan adalah aturan yang benar-benar datang dari Allah SWT, Tuhan seluruh alam, yang hanya Dia yang berhak mengatur kehidupan ini.
Wallahu a’lam bishowab
Pluralitas agama-agama yang ada di dunia merupakan warna-warni kehidupan yang tak dapat dipungkiri lagi. Ketika kebenaran diangkat ke atas; dalam hal wacana banyak interpertasi yang harus diakui kebenaranya. Dalam hal ini kita diajak untuk merujuk pada dimensi wacana keislaman bahwa kebenaran yang mutlak adalah wahyu atau firman Tuhan yang termaktub pada Al-Qur’an. Sedangkan interpertasi manusia atas kebenaran adalah relatif. Namun dalam hal ini pula, kita tidak dapat mengklaim bahwa ajaran dalam agama yang kita anut yang paling benar. Jadi tidak ada istilah truth claim.
Fakta bahwa ada sekian banyak agama tidak harus diikuti dengan pernyataan bahwa semua agama tersebut benar. Sebab esensi beragama adalah meyakini kebenaran ajaran yang dianut. Dalam hal beragama dan mendefinisikan tuhan, hanya ada satu yang benar atau semua salah. Masing-masing penganut agama berhak meyakini bahwa pilihannyalah yang benar dan selain itu salah. Namun ini tidak berarti menjadi saling serang, bahkan di sinilah terjadi saling menghormati pilihan dan keyakinan orang lain, termasuk hak dan kewajiban dalam mengaplikasikan agama dalam kehidupan masing-masing.
Saya kira issu yg ditulis bung Sukidi ini sudah sejak lama tergeser dlm tangga peringkat wacana2 populer kajian agama. Walau begitu, membahas issu pluarlisme agama bukan berarti sudah tdk diperlukan lagi. Namun, pertanyaan saya, jika maksud pencarian teologi pluralisme dlm tiap2 agama itu adalah menciptakan kerukunan antar umat beragama, apakah sejauh ini sudah ada penelitian yg cukup akurat membuktikan bhw teologi semacam itu sudah berhasil mengeliminir kasus2 konflik antar penganut agama dalam level grass root spt di Ambon, Poso, dst. Di kalangan anak2 muda yg memang belum banyak memahami sejarah dan belum pernah mengalami sendiri situasi konflik agama2, dg mudah bisa diyakinkan bhw peluralisme adalah kemestian, dan dg mudah juga bisa menemukan justifikasi Quraninya. Padahal, jika anak2 muda seperti ini memiliki wawasan sosial, kultural dan teologis thd konflik agama2, mereka tdk akan begitu mudahnya memandang teologi pluralisme agama sbg solusi once for all. Cobalah sedikit belajar filsafat sosial dr Marx, Durkheim, Weber, Parsons, Focault, Alpert, Baigent, dll. maka Anda akan menemukan bhw agama atau teologi bukanlah satu-satunya solusi bagi nestapa manusia modern, malah kerapkali menjadi pemicu konflik2 sosial atau bahkan peperangan besar. Persoalan kemanusiaan yg lebih utama adalah moralitas dan utk itulah Nabi Muhammad saw diutus ke bumi. Anda bisa menjadi seorang yg sangat pluralis dlm berteologi, tapi tetap menjadi seorang yg individualis dan hedonis yg dg itu Anda lalu rela merampas hak2 orang lain, kali ini bukan atas nama kebencian thd pengikut agama lain. Anda tentu tahu, bhw ideologi kapitalisme dan individualisme yg dianut di Amerika Serikat misalnya telah menimbulkan nestapa di bagian2 dunia lainnya yg menjadi objek eksploitasi negara ini, baik sumber daya alam mereka maupun sumber daya manusianya. Nah, apakah di Amerika tolerasi agama tdk tercipta—sesuatu yg menjadi tujuan teologi pluralisme? Saya kira toleransi di sana luar biasa bagus, tapi kenapa justru Amerika dibenci oleh semua penganut/tokoh agama dewasa ini: baik Paus, Mandela, Khomeini, dst? Itu karena persoalannya bukan karena kebanyakan orang Amerika itu Kristen, tapi karena mereka itu sangat serakah akibat ideologi mereka yg utilitarian, hedonis dan individualis, dan itulah masalah2 utama yg harus dibicarakan ditingkat teologis dan ayat2 Al-Quran mengenai masalah “keserakahan” atau “kecintaan kepada dunia” yg berlebihan sangat buaanyaakk… TAPI, kenapa aktivis dialog antara agama lebih berasyik masyuk dg soal2 yg kurang signifikansi sosialnya, minimal utk saat ini?
Assalamu`àlaikum Sdr.
Sukidi, saya tertarik membaca tulisan anda, bukan karena kepiawaian dalam menyusun kata, mengolah dan memaksimalkan otak, serta mengadopsi beberapa literatur yang telah anda lumat melalui buku-buku. Ketertarikan saya adalah karena ketergelinciran pemahaman dan pemikiran anda tentang tuhan dan hakekat tuhan itu sendiri. Anda selaku orang muslim, tentunya yakin dengan konsep tuhan yang telah dipaparkan di dalamnya, baik melalui Al-quràn maupun Assunnah. Jangan pula anda berdalil dengan kenyataan yang ada di masyarakat dunia ini tentang sebutan kata tuhan, sehingga harus membenarkan atau paling tidak mengakui akan sebutan-sebutan tuhan oleh ummat lain.
Bahwa pluralisme, saya katakan sekali bahwa pluralisme itu sampai hari qiamat akan tetap ada. Akan tetapi jangan dijadikan sebagai justifikasi untuk melakukan pembenaran terhadap pluralisme dengan segala cabang sektenya. Kalau sekiranya kesyirikan menjadi pekerjaan atau amalan manusia sehari-hari, apakah dengan begitu kesyirikan itu benar? Jadi dengan adanya sebutan terhadap tuhan oleh beragam ummat dengan segala interpretasinya itu merupakan khasanah keilmuan barang kali. Saya katakan itu tidak benar. Contoh misalnya : Konsep syirik dalam islam : Ummat budha memiliki Sang Budha Gautama dengan diabadikan dalam sebentuk patung, maka hal ini jatuh kepada syirik !!!!. Jangan pula anda katakan : Ah, itu kan menurut anda ! bagi orang budha itu kan bukan kesyirikan. Demikian halnya bagi ummat kristiani, tak jauh berbeda dengan konsep ketuhanan yang ada didalam agama budha yang diwujudkan dalam sebentuk patung Jesus misalnya. Barang kali ada yang mencoba menyerang ummat Islam dengan kata-kata : Ah,... orang Islam itu 5 kali sholat, lima kali pula menyembah batu !. Dengan anggapan bahwa Ka`bah itu kan terbuat dari batu. Kan patung juga ?!?! Kalau konsep pemikiran seperti ini, dimana masing-masing individu atau kelompok bebas memberikan tafsiran terhadap terhadap konsep kebenaran maupun ketuhanan apalagi, maka rusaklah dunia ini dan sekaligus sebagai pembatalan tentang diutusnya Nabi atau Rasuloleh Allah Swt. karena tujuan Allah mengutus Nabi/Rasul salah satunya adalah untuk memberikan bimbingan dan pengarahan supaya ummat manusia memiliki konsep tentang ketuhanan yang tidak menyesatkan. Jangan pula anda mengambil atau mengadopsi contoh tentang bagaimana tahapan-tahapan manusia dalam mengenal tuhannya seperti para filsafat-filsafat. (masih segar dalam ingatan kita tentang orang buta melihat gajah !???). Na`udzubillah. Maka dari itu, melalui tanggapan ini saya katakan : Bahwa kebenaran itu plural, itu tidak benar. Karena saya melihat, bahwa arah tulisan anda sangat jelas mendukung tentang teori kebenaran plural. Akan tetapi kebenaran itu adalah absolut,yaitu dari Dzat Yang Maha Benar yaitu Allah Swt, Dialah Allah yang menciptakan apa itu kebenaran, apa itu kejelekan,perkara2 yang baik dan yang buruk, yang halal dan haram,kemudian yang syubuhaat sekalipun,.... seluruhnya dijelaskan oleh Allah Swt. Apa anda nggak yakin dengan Allah sebagai tuhan anda ??? Ma`af ya, anda sekolah S2 sampai nglurug ke Amerika itu, apakah hanya untuk ngobok-obok pola pikir manusia untuk memiliki pemahaman pluralitas ??? kebenaran nisbi ??? seperti kalimat pertama ketika anda membuka situs JIL,....tuhannya semua agama. Kalau begitu rusaklah pemikiran anda. Kalau pemikiran anda ada yang mengikuti, maka anda telah menyesatkan banyak orang (dhollu fa adhollu = sesat lagi menyesatkan). apakah anda tidak takut dengan adzab Allah ???? Berapa lama sih hidup anda ??? ketahuilah perjalanan anda didunia ini semakin hari semakin mendekati kepada kematian. APAKAH ANDA TIDAK PERCAYA TENTANG KEMATIAN ??? APAKAH JUGA TIDAK PERCAYA TENTANG ADZAB KUBUR ??? BALASAN DAN SIKSA DI AKHERAT ??? Tolong pikir dong sebelum buat tulisan atau ngomong. Jangan asbun dan sok banyak baca buku hanya karena banyak mengadopsi perkataan-perkataan tokoh-tokoh yang tak jelas fikrah pemikiraannya. Lebih baik anda ambil firman-firman Allah dan perkataan Rasulullah dalam memberikan nasehat kepada manusia. Fainna Ashdaqol kalam, kalamulloh (Al qur`an) wa khairol hadyi hadyu Muhammadin saw (as sunnah). Masih belum cukupkah anda dengan dua perbendaharaan itu,yang dengannya Allah akan menjadikannya sebagai hujjah bagi manusia ???? selanjutnya saya katakan : Tidak semua yang berkilau itu adalah emas. Demikian tanggapan saya semoga bermanfaat dan dapat mengeliminir tulisan Sdr.Sukidi. Wassalamu `alaikum.
dari : .(JavaScript must be enabled to view this email address)
AS. WR. WB.
Untuk mas Sukidi di Amrik. Anda harus banyak-banyak bersyukur pada Allah karena diberi kelebihan harta dan kemampuan untuk mencari ilmu sampai jenjang S2, bahkan di Amerika. Tapi yang harus Anda ingat, Allah memberikan itu bukan cuma-cuma, tapi Dia akan meminta pertanggungjawaban atas ilmu yang Anda dapatkan.
Mudah-mudahan Allah memberikan hidayah dan kekuatan kepada kita untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat.
AMIIN.
Kalau saya teliti dan pahami esensi dari tulisan Sdr. Sukidi, arahnya sangat jelas, bahwa Kebenaran dan Tuhan itu adalah SATU. Hanya saja, dia menjelaskan, karena penafsiran yang bermacam-macam tentang Kebenaran dan Tuhan itu sendiri (oleh milyaran manusia) sehinga terjadi bias (banyak penafsiran). Lagipula itu kan hanya sebuah nama, tentang bagaimana orang mengekspresikan dan meyebut Tuhan Yang Maha di atas maha.
Siapa sih yang tahu isi hati seseorang tetang keyakinannya? Nobody know, kecuali Tuhan itu sendiri! Siapa sih yang tahu kebenaran yang hakiki? Tidak ada orang yang tahu kecuali Tuhan itu sendiri. Manusia hanya diwajibkan untuk berbuat kebajikan dan menebarkan kebaikan di muka bumi ini, karena kebajikan dan kebaikan itulah yang bisa mendekatkan kepada kebenaran.
Wassalam, yudhi
Bismillahirohmanirohim
Assalamualaikum wr wb
” Pada hari ini (Arafah) Aku sempurnakan bagimu agamamu dan Aku cukupkan nikmatKu untukmu dan Aku sukai Islam menjadi agamamu” (Surah Al Maidah ayat 3)
Berdasarkan ayat diatas ternyata lah hanya ada satu sahaja agama yang diridhai oleh ALLAH swt hingga kehari kiamat ia itu Islam. Selain dari Islam, semua agama adalah bathil.
Tetapi seyoganya diingat, Islam mengajar umatnya untuk hidup berteloransi dengan penganut penganut agama lain dengan harmoni dalam hal hal keduniaan. Jangan menghina agama mereka. Tidak boleh menganiayai mereka.Tidak boleh menyerang mereka selagi mereka taat pada negara dan berikan mereka hak untuk memilih agama yang mereka suka untuk di anuti.
Ingat! Nabi saw tidak pernah menganjurkan orang Islam supaya mengongsi agama mereka (apatah lagi yang bersangkut paut dengan akidah) dengan agama agama lain.
Untuk mencapai kedamaian di dunia ini biarlah kita dengan agama kita dan mereka dengan ugama mereka.
Saya shorkan agar JIL berusaha kearah kerjasama dalam bidang ekonomi, politik, pelajaran, sains, dan teknologi bersama penganut penganut agama lain. Itu lebih baik. Saya yakin manfa’at nya lebih besar di hari muka.
Saya takut kalau kita asyik berpolemik, seperti kata orang Melayu Singapura “yang dikendung berciciran dan yang dikecar tak dapat”.
Sekian terima kaseh
Wassalam
Sa’at bin Mohamed Singapore
Setiap kita memiliki separuh kebenaran. Separuh kebenaran! Manusia hanya memiliki kepingan-kepingan kebenaran yang berserakan dan menginkarnasi dalam tubuh institusi agama, yang sayangnya kerap diklaim sebagai sebuah kebenaran penuh. Agaknya itu yang saya tangkap dari lontaran ide Sukidi. Sangat menarik!
Memang, sang Realitas Tertinggi yang oleh Rudolf Otto dibahasakan sebagai misteri yang menakutkan namun sekaligus menarik ini (mysterium tremendum et fascinan), tidak akan pernah tidak mendapatkan tempat dalam diskursus dan lontaran dialektika masyarakat manusia.
Konsekuensi logis atas pemahaman ini tentunya adalah pengagungan toleransi, penyangkalan diri, dan sikap kerendahhatian tatkala mengalami perjumpaan dengan the others (liyan). Tidak bisa tidak, segala bentuk pemutlakan adalah suatu hal yang konyol—jika tidak dikatakan bodoh—dalam kerangka ini. Apalagi jika berbicara agama. Agama bagaimanapun juga bukanlah tujuan. Agama hanyalah sekadar sarana, sebuah jembatan yang diidealisasikan mampu mengahantarkan para peziarah kepada sebuah konvergensi-sebuah penyatuan-Aku-Tuhan. Dalam kebatinan kerap disebut sebagai “manunggaling kawula gusti”.
Tentu adalah suatu hal yang indah seandainya pemahaman akan pluralitas yang atasnya memunculkan sikap inklusif—seperti ditunjukkan oleh kawan Sa’at bin Mohamed—boleh beredar dan menjadi keseharian pemeluk agama di aras bawah. Alangkah indahnya jika setiap pemeluk agama memegang teguh, dan sadar akan keberadaan kepingan kebenaran yang tiap-tiap hari digenggamnya. Alangkah indahnya jika setiap pemeluk agama mampu mengucapkan kalimat “aku percaya kepada ALLah Swt atau Tuhan Yesus Kristus, atau Sang Budha, atau-atau yang lain…” namun sekaligus memahami dan mengerti akan separuh kebenaran yang dipercayainya itu. Karena bagaimanapun juga, teologi jemaat/pemeluk agama di aras bawah lebih banyak bersifat natural (teologi natural berbeda dengan teologi para akademisi). Hal ini mengimplikasikan saratnya tempelan konservatisme dan fundamentalisme.
Tentu menjadi tugas kita bersama untuk mentransformasi paradigma-paradigma lawas yang hakikatnya alih-alih memanusiakan manusia, malah mendehumanisasikannya. Dan saya tidak tahu bagaimana menjembatani distingsi antara pemahaman akademisi yang cenderung plural, toleran dengan pemahaman aras bawah yang kerap sangar, suka menegasikan agaman lain, sementara di satu sisi mengunggulkan “agamanya”.
Atau mungkin pertanyaannya adalah: Patutkah dicapai sebuah konvergensi? Bagaimana jika dibiarkan saja, senyampang tidak ada yang mendominasi satu sama lain?
Sukses Islamlib! Semoga mencerahkan!
Salam sejahtera,
Agustinus Ndiman Cristopherus Fans berat Islamlib di Jogjakarta.
Setiap agama, setiap kepercayaan, memiliki esensi yang sama, tiada beda. Dalam tataran hakikat, semua agama mengajarkan ketundukan dan kepasrahan total kepada Dia Yang Tak Terbayangkan. Dialah Allah, Tuhan, Buddha, Yahwe, Ishwara, Tao, Eliya, Hyang Widdhi, Satnaam, apapun sebutan mulia bagi Dia Yang Tak Terjelaskan itu. Semua agama mengarah pada Tuhan yang sama. Yang mungkin beda hanyalah bahasa untuk memanggil Nama-Nya dan tata cara/syariat yang menyangkut ritual keagamaan.
Agama beserta syariatnya laksana jalan-jalan untuk menggapai suatu tujuan yang sama, yaitu Dia. Agama bukanlah tujuan, ia merupakan termin yang harus dilampaui agar manusia dapat “bersatu” dengan Dia yang dipuja. Merasa diri bahwa hanya agamanya saja yang benar, sedangkan agama yang lain tidak benar atau kurang benar merupakan cermin keakuan yang masih membumbung tinggi, padahal agama bertujuan untuk melenyapkan ego dan pengingkaran diri. Mempermasalahkan perbedaan agama kemudian berupaya untuk menyeragamkan setiap individu untuk memeluk agama sama, merupakan tindakan kekanak-kanakan. Toleransi terhadap agama yang berbeda tidaklah cukup. Kita harus berupaya untuk mengapresiasi dan berempati kemudian menggali nilai-nilai luhur agama/ajaran manapun, agar kita terbuka terhadap sisi-sisi Kebenaran yang lain, sehingga menyadari bahwa hakikat Kebenaran itu Satu Ada-Nya.
Upaya ini bukanlah mencampuradukkan agama, tetapi lebih merupakan hasrat nurani agar diri ini memiliki pandangan yang luas dan menyeluruh terhadap Kebenaran yang memang Satu Ada-Nya, namun memiliki sisi-sisi yang nampaknya berbeda.
Salam, Syallom, Shaanty, Shaadu, Damai!
Merupakan sebuah kenaifan apabila kita menganggap bahwa hanya Al-Quran sajalah Kitab Suci atau literatur yang paling benar dan shahih, sedangkan kitab-kitab suci lain tidak benar. Al-Qur’an memang benar datang dari Allah, dan keotentikannya tidak diragukan lagi. Al-Quran merupakan kumpulan firman Tuhan yang pesan-Nya diwartakan kepada Nabi Muhammad. Lalu Tuhan mana yang dimaksud, apakah Anda menganggap Tuhan itu di luar diri seorang manusia, apakah Anda beranggapan bahwa Allah itu satu-satunya Nama Tuhan?
Padahal “Allah’ hanyalah salah satu Nama Tuhan, sebelum kedatangan Islam pun nama “Allah” sudah akrab dalam masyarakat Arab. Kita sudah terlanjur berpersepsi dengan konsep-konsep Tuhan di luar diri manusia, lalu memisahkan antara hubungan manusia dengan Tuhan dan hubungan manusia dengan sesamanya. Padahal nyata-nyata bahwa alam semesta ini, manusia, hewan dan seluruh makhluk atau benda mati, semuanya diliputi oleh Tuhan, oleh Keberadaan (Existence). Tidak hanya Al-Quran, tapi termasuk juga wahyu atau kitab suci manapun yang mengajarkan kesalehan dan kebenaran, semuanya diliputi oleh Tuhan dan datang dari Tuhan yang sama. Ketika kita berinteraksi dengan sesama, itu juga berarti kita berinteraksi dengan wujud nyata Tuhan Yang Tak Berwujud. Dan alam semesta inipun merupakan ayat-ayat suci Allah yang harus diselami dengan pengalaman pribadi masing-masing orang. Ini merupakan pengalaman keagamaan setiap individu (yang beragama apapun) yang pasti pengalaman setiap individu itu berbeda satu sama lain, karena bersifat esoteris dan batiniah.
Munculnya berbagai kitab suci dan ajaran agama di dunia merupakan hasil penyelaman manusia terhadap alam semesta, ekspansi dan evolusinya. Alam semesta dan kesadaran manusiapun senantiasa berkembang dan berevolusi. Maka penafsiran kembali terhadap kitab-kitab suci yang ada, termasuk Al-Quran sendiri harus terus diupayakan. Ayat-ayat Al-Quran bukanlah harga mati yang tidak bisa direvisi. Banyak sekali ayat-ayat Quran dan kitab-kitab suci manapun yang bersifat kontekstual, yang harus ditafsiri kembali disesuaikan dengan perkembangan kesadaran manusia dan kebutuhannya, agar bisa menjawab problematika umat manusia. Banyak sekali persoalan kontemporer yang tidak bisa dijawab oleh kitab suci, jika cara kita memahami kitab suci itu secara tekstual dan berkutat pada kulit luarnya saja.
Allah Haafiz
Menarik membaca tulisan Sukidi yang menurut saya menyentak modus keberagamaan saya selama ini. Dikatakan demikian, karena selama ini saya membangun kebergamaan pribadi selalu nihil atau bahkan secara sengaja atau tidak sengaja mengabaikan dimensi penafsiran manusia yang terlibat langsung dan mengkonstruksi konsep kita tentang tuhan.
Memang kalau dipikirkan sampai kapanpun wujud Tuhan yang maha tidak terbatas tidak akan sepenuhnya bisa dicerap oleh kita sebagai manusia yang terbatas, karena di samping secara logis yang terbatas tidak mungkin membatasi yang tidak terbatas. Ini adalah kontradiksi dan mustahil. juga kalau Tuhan yang tidak terbatas bisa dibatasi oleh manusia yang terbatas maka itu bukan lagi Tuhan, tapi makhluk seperti kita. Tentunya ini melahirkan problem teologis yangs serius.
Akan tetapi, meskipun The One ini kemudian menjadi the many ketika ditafsirkan oleh milyaran manusia, tentulah penafsiran tersebut tidak benar semua. Karena tidak semua manusia ketika menafsirkan Tuhan memiliki motivasi yang sama. Katakanlah ada beberapa orang yang menagkap kehadiran Tuhan murni karena kesadaran dirinya, sementara yang lain bisa saja menafsirkan Tuhan karena dilatarbelakangi oleh berbagai interes, seperti politik, ekonomi dll.
Nah dengan demikian, maka kemudian akan ada gradasi atau hirarki penafsiran manusia, tidak hanya sekedar pluralisme penafsiran saja. Saya menggunakan gradasi dalam pengertian ada tingkat kebenaran dalam penafsiran tentang Tuhan itu sendiri.
Gradasi ini di samping karena aneka motivasi interes tadi, juga karakter akal manusia yang cenderung memahami segala sesuatu dalam ruang dan waktu yang khas. Misalnya ketika kita berbicara tentang Indonesia yang dilanda krisis maka itu terkait dengan Indonesia sebelah mana? Dan kapan waktunya? Konsekuensinya proses penafsiran rasional manusia terhadap Tuhan pun akan selalu bersifat terus menerus berada dalam rejim ruang dan waktu serta berkembang.
Meskipun Tuhan tidak pernah dan tidak akan pernah terungkap secara tuntas, akan tetapi penyingkapan yang terus menerus semakin membuka selubung-selubung misteri ketuhanan dan berbagai penyimpangan-penyimpangan, penyalahgunaan-penyalahgunaan atas nama Tuhan oleh manusia. Yang hal ini semakin memperkaya khazanah kita.
Nah demikian seperti yang dikemukakan kawan Agustinus, bahwa model teologi yang diusung oleh Sukidi adalah teologi akademis, maka di samping pengakuan adanya pluralisme kebertuhanan, juga harus ada dialog ilmiah tentang kebertuhanan. Jadi bukan hanya pluralisme kebertuhanan juga harus ada kesediaan untuk mendialogkan secara cerdas konsep kebertuhanan itu sendiri.
Assalamualaikum Wr. Wb.
Semua agama adalah jalan menuju Tuhan Yang Satu, karena keberagaman adalah selera Tuhan.
Barang siapa yang menganggap bahwa Tuhan semua agama adalah beda, maka orang tersebutlah yang tidak mengakui adanya Tuhan Yang Maha Esa.
Klaim kebenaran dalam suatu agama adalah sumber masalah ketidakrukunan. Dan sebagai manusia yang bernalar kita harus menjaga keselarasan beragama (maintenance of religious harmony act).
Wasslamualiakum Wr. wb.
Saya amat sangat setuju bahwa memang tersedia banyak jalan menuju Tuhan. Agama-agama yang ada ibarat jalan. Seperti jalan untuk mencapai Pulau Bali dari Jakarta. Ada jalan darat, udara dan laut. Yang perlu kita sadari bahwa di masing-masing jalan itu ada lagi lajur-lajurnya dan di masing-masing lajur rambu-rambunya berbeda-beda. Pemahaman saya, dalam setiap agamapun demikian. Jadi di setiapo jalan agama ada lajur-lajur yang sering disebut aliran. Di masing-masing aliran ini ada rambu-rambunya yang kita sebut ritual/ritus. Ritus-ritus berasal dari tradisi-tradisi yang ada di masyarakat dimana agama itu dipraktekan. Dan konsekwensinya bahasa yang digunakanpun berbeda-beda. Seperti H2O, orang Indonesia menyebutnya air, orang barat menyebutnya water, orang Jepang menyebutnya mizu. Padahal zatnya tetap sama. Yang beda hanya namanya saja. Jadi di Masjid kita memanggilnya Allah, di Gereja kita memanggilnya Bapa di Sorga, di Vihara kita memanggilnya Budha dan di Pura kita memanggilnya Widhi. Jadi kalau ada yang mengatakan Tuhan yang disembah di Masjid berbeda dengan yang disembah di Gereja atau Vihara atau Pura maka sesungguhnya dia telah menduakan Tuhan. Kaca mata yang dipakai melihat masalah inilah yang banyak menimbulkan ketidakharmonisan di masyarakat manusia.
assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh menurut saya, pada masa kini hanya Islam lah yang benar. karena kita adalah umat nabi Muhammad SAW. dan nabi Muhammad lah yang membawa agama Islam. adapun agama yahudi adalah agama yang dibawa oleh nabi Musa yang masanya telah berlalu. begitupun nasrani yang dibawa nabi Isa.
Komentar Masuk (22)
(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)