Ketuhanan yang Berkebudayaan
Oleh Saidiman Ahmad
Sejak Juni 2008, perayaan hari lahir Pancasila juga sekaligus adalah peringatan tragedi Monas. Barangkali kita akan menyatakan bahwa tragedi Monas adalah bentuk kekurangajaran terhadap Pancasila, dasar negara yang dipercaya mampu menyatukan Indonesia. Mereka yang tiga tahun lalu mengejar, memukul, menendang dan mencaci maki massa Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) yang hendak merayakan Pancasila itu adalah kelompok anti-Pancasila. Apakah mereka benar-benar tidak punya tempat dalam kontruksi ideologi Pancasila?
Komentar
Kalau Bung Hatta berkata negara ini bukan negara agama, itu bisa dipahami karena ia adalah seorang tokoh nasional yg kebetulan menduduki jabatan politis sebagai wakil presiden. Jadi mustahil bagi seorang Sorkarno dan Moh. Hatta memerintahkan penulisan kalimat Indonesia adalah Negara Agama dalam dokumen resmi kenegaraan.
Namun realitas menunjukkan bahwa penduduk ataupun Warga Negara dari sabang merauke adalah para pemeluk agama. World View mereka jelas sangat didominasi oleh keyakinan keberagamaan mereka masing-masing. Negara pun dalam hal ini berprilaku sebagai sebuah entitas publik yg sangat bersifat agamis. Buktinya setiap perayaan hari-hari besar keagamaan selalu dirayakan secara rutin setiap saat. Walaupun secara simbolik-seremonial namun ini sudah cukup membuktikan bahwa manusia-manusia indonesia adalah manusia beragama, dan tidak keliru jika wadah yg mempersatukan manusia-manusia beragama itu disebut sebagai negara agama.
Seharusnya setiap orang termasuk penulis (author) dapat memahami realitas ini. Banyak sekali disekitar kita dijumpai agenda-agenda yg bersifat keagamaan baik di lembaga formal maupun informal yg dibingkai dengan nuansa keagamaan. Bahkan bisa dikatakan kegiatan pendidikan dari mulai tingkat dasar sampat tingkat perguruan tinggi, sepenuhnya mengajarkan pendidikan keagamaan kepada setiap anak didiknya, belum lagi dunia pendidikan pesantren.
Dengan beberapa hal diatas, akan sangat naif jika masih ada yang mengatakan bahwa negara ini bukan negara agama. bagaimana hal ini bisa luput dari perhatian kalangan liberal? padahal dalam jargon-jargon yg disebarkan selalu menyebut sebagai kalangan islam substantif yang tidak mempermasalahkan segala hal yg berbau simbolik, seperti meributkan negara ini apakah negara sekuler atau negara agama.
Apa yg dimaksud dari “Ketuhanan yg berkebudayaan” itu? Sementara kebudayaan itu hasil karya/buatan manusia dan kebiasaan2 hidup atau habit pada dimensi ruang dan waktu, apakah Tuhan disuruh tunduk kepada buatannya manusia, apa tidak terbalik? seharusnya “Kebudayaan yang berKetuhanan”, itu baru yang lebih pantes. Kebudayaan itu harus tunduk dan patuh kepada Sang Pencipta alam, karena kebudayaan itu hidup di alam ciptaan Tuhan. Satu misal bila kebudayaan itu menganut faham LIBERALISASI FREE SEX, apakah Tuhan juga harus merestui? menurut logika masyarakat yang beradab dan beragama itu sesuatu yang tidak mungkin. Tetapi kalau JIL berkeinginan merubah atau menghapus sila pertama “Ketuhanan Yang Maha Esa” diganti dengan faham yang lebih LIBERAL usul saja kepada MPR, anggapan mereka Ketuhanan Yang Maha Esa itu sebagai sila penghalang/tidak sesuai dengan faham LIBERAL dan kebebasan yang dianut oleh JIL.
Memangnya AKKBB itu Pancasilais, gt? Yg disebut Pancasilais itu yg bgmn, sih? Kalau org yg sukanya mengacak-acak agama Islam itu Pancasilais, gak?
AKKBB itu memang pancasilais.
Indonesia bukan negara agama, yang saya tangkap dari maksud tersebut, Indonesia tidak cenderung terhadap satu agama saja. Indonesia tidak kental terhadap satu aliran keagamaan saja. Indonesia bukan negara Islam karena di dalamnya terdapat berbagai macam agama. Indonesia juga bukan negara Kristen, karena masih ada agama yang lain.
apa makna Tuhan menciptakan manusia, jika bukan ingin memberikan kesempatan dan kehormatan kepada manusia itu sendiri? melalui anugerah penciptaanNya, Tuhan menunjukkan betapa Ia sangat memuliakan manusiaNya. berketuhanan yang berbudaya saya kira tidak bermaksud menomorduakan Tuhan di bawah manusia. justru dengan berperilaku kemanusiaan, itu menunjukkan upaya manusia menghormati Tuhan. karena Tuhan pun sangat memanusiakan manusia..
Masih yakin nih ama pancasila? bukankah mayoritas pejabat sekarang adalah yg sudah melahap penataran P4? Bangga ama Pancasila? Bukankah Pancasila adlah rumusan manusia biasa yg lemah n sangat terbatas, mirip dg san min tju i di Cina era Sun Yat Sen? Rakyat sudah cerdas tidak bisa ditipu oleh antek antek penjajah Barat yg tetap ingin negeri ini tak berdaya dan dihegemoni asing… Mari berpikir objektif ... hanya Islam dlm naungan Khilafah dg syariahNya yang bisa membabngkitkan dan mensejahterkan lahir batin…ayo berpikir cerdas.. jangan membebk pada asing dong!
Faktanya adalah negara berdasarkan syariat islam telah gagal.
Mengapa muslim ngotot sekali dengan syariat islam?????
apa hebatnya syariat islam????
potong tangan pencuri,rajam pejina,polisi moral yang gentayangan.muslimah yg dipaksa pake jilbab????
Desakralisasi.
Negara yang setiap penduduknya menganut agama dan banyaknya kegiatan keagamaan disuatu negara tidak berarti negara itu bisa disebut Negara Agama,pengertian negara agama adalah negara yang diatur oleh syariat agama.Lha kalau ada 10 agama,gimana ngaturnya? apakah yang minoritas mesti mengikuti syariat yang mayoritas?
Banyak fakta bahwa masyarakat di negara2 yang tidak terlalu peduli dengan agama justru masyarakatnya berkelakuan sangat beradab, saling menghargai,hampir tidak ada korupsi, negaranya aman,yang miskin disubsidi,dan masyarakatnya sejahterah dan saling menghormati, sesuatu kondisi kemasyarakatan yang diidam2kan oleh agama itu sendiri,padahal disana orang akan menaikkan alis jika kita bertanya agamanya apa… dan fakta yang lain menunjukkan bahwa banyak negara yang berlabel agama (khususnya negara mayoritas pemeluk islam) justru sedang mengalami kemerosotan sosial dan ekonomi,saling bunuh,saling perang,banyak korupsi,menunggangi agama demi kepentingan pribadi dan golongan, dan yang paling parah hilangnya rasa toleran terhadap sesama manusia demi membela agamanya.Agama seperti pisau bermata dua, kadang bisa membuat kebaikan dan kadang bisa menghancurkan,kehancuran terjadi karena agama sering dipaksa kewilayah publik yang semestinya agama adalah urusan private.
Bagi saya bukan persoalan apakah Indonesia ini adalah negara agama, negara sekular, atau bahkan negara ateis sekalipun. terlalu membuang-buang energi memperdebatkan masalah konsep sebuah negara, padahal substansi negara adalah mampu mengayomi rakyat sehingga mencapai taraf kehidupan yang sejahtera. itu hanya bisa dilakukan kalau kita sebagai manusia sadar akan peran dan fungsinya diatas bumi ini. saya yakin apapun agama dan aliran kepercayaan yang dianut, pasti sama ingin mencapai kehidupan yang penuh kedamaian dan kebahagiaan, entah di dunia (saja) atau di akhirat (bagi yang meyakini keberadaannya)....
Kesejahteraan rakyat jauh lebih penting untuk dicarikan solusinya hingga bisa keluar dari kelaparan, kemiskinan, kesengraan dan penderitaan. Sampai saat ini, masih belum terasa bagi masyarakat miskin mana agama yang selalu mengajarkan tentang kasih-sayang (rahmah), selalu mengembar-ngemborkan cinta-kasih, kesejatian hidup, kebahagiaan hakiki, dan nirwana. Semua masing di langit tak berujung…..
Mestinya orang yang beragama juga harus berbudaya. Bung karno melihat pada waktu itu sudah banyak kelompok kelompok agama yang menggunakan kepentingan agama untuk politik, sehingga penekanan “kebudayaan” menjadi penting. Dalam sejarah, selama berabad abad, agama sering berpotensi sebagai sumber konflik yang berkepanjangan atau berakhir dengan balas dendam . Sampai sekarangpun masih ada manusia di belahan bumi ini tak pernah belajar dari sejarah ini.Jikapun belajar hanya melihat dari satu sisi , agamanya saja, sehingga dendam akan terus membara. Oleh sebab itu beragama juga harus memperhatikan tumbuh kembang dan dan dinamisnya perubahan sosial yang seringkali terjadi akibat perbedaan nilai dan norma. Demikian juga sebaliknya bersosial harus melihat juga dinamika agama. Berbudaya berarti menghargai perbedaan dan boleh saja mengembangkan agama tetapi dengan basis proses dialog dan penyadaran bukan pemaksaan dan kekerasan. Kaum beragama berkewajiban mendidik pada pengikutnya untuk menjalankan syariatnya bukan membenturkannya dengan nilai sosial. Dengan demikian bagi umat yang beragama dan berbudaya, dakwah seyogyanya lebih mengarah pada fastabiqul khairat antar umat beragama, dan bukan saling menyerang, misalnya berlomba lomba melawan kemiskinan, ketidak adilan, diskriminasi dan korupsi.Wassalam
BINTANG, faktanya adalah negara yg berdasar Syari’at Islam telah gagal, kt anda. Contohnya negara mana, hayo…? Satu aja, deh…! Tapi Syari’at Islam yg kaffah, ya…? Mengapa kaum kafir, musyrik, munafik, zindik, & fasik ngotot menolak Syari’at Islam, sih? Apa yg salah, hah…? Hahaha…!!!
Bapak2,khususnya tuan saidiman ahmad silahkan bpk berpikiran sesuka hati,scr intelektual,scr logika dan segala macam secara tapi ingatlah pikiran bpk akan di pertanggungjawabkam di hdpan TUHAN kelak dan ini PASTI.Dlm keimanan thd agama di ajarkan beriman kpd yg goib,dan ini klo dipkir scr logika,intelektual tidak akan masuk akal contohnya adanya Tuhan,malaikat,setan, mukzizat para nabi,karomah semua d luar nalar manusia.Ada pendapat ketuhanan yg berkebudayaan..masyaallah berani sekali orang yg berpikiran bgtu,agama yg mengajarkan berketuhanan di minta untk mengikuti pikiran manusia.Bukankah dari nabi adam sampai nabi muhammad di utus agar manusia bertauhid menyembah dan meng-ESA-kan namaNYA dan untuk itu para nabi disertai mukzizat.Klo tuan saidiman atau bpk2 merasa pikirannya bnr mengalahkan para nabi,tolong tunjukan kpd kami,umat suatu tanda mukzizat atau karomah dari THN yg membenarkan pikiran SECARA2 bpk.Jadi manusia di ciotakan untuk BERIBADAH KPD THN bukan THN mengikuti pikiran manusia.Betul juga kata HABIB RIZIEQ SYIHAB bahwa orang2 yg menyamakan Tuhan,menyamakan agama keingkarannya KPD ALLOH melebihi IBLIS,maksudnya iblis walaupun ingkar tapi masih mengakui ketauhidan ALLOH,takut kpd NYA,mengakui Al quran.Bagaimana dengan tuan saidiman dan kawan2..takutkah…atau nga masuk logika..atau secaraaaa….intelektual nga bisa
Memang perlu digarisbawahi lagi bahwa yang disebut NEGARA AGAMA adalah negara yang dasar konstitusinya berdasar pada agama tertentu. NEGARA BUKAN AGAMA tidak berarti bahwa negara itu tidak mengakui adanya agama. Agama tetap diakui dan dilindungi agar eksis, tetapi tidak dijadikan dasar konstitusinya.
Berkembangnya kelompok yang masih terus-menerus memperjuangkan agar NKRI diubah menjadi negara Islam kalau kita telusuri adalah kesalahan pemerintah yang membiarkan kelompok seperti ini tetap eksis di negara RI. Seharusnya ketika sudah diputuskan bahwa NKRI adalah harga mati, tidak lagi boleh ada kelompok yang menginginkan bentuk negara yang lain. Ini bukan persoalan membatasi keinginan individu atau kelompok, tetapi ini persoalan bentuk negara. Tidak boleh ada anggapan bahwa karena DEMOKRASI seakan-akan orang boleh melakukan apa saja. Demokrasi memang bernuansa ada kebebasan, tetapi jika ada individu melakukan kebebasan tanpa batas maka yang akan terjadi adalah berbenturan dengan kebebasan yang dimiliki oleh individu yang lain.
Di sini lah akhirnya dibuat kesepakatan-kesepatakan yang salah satu hasilnya adalah bentuk negara NKRI. Bentuk lain dari kesepatan itu adalah adalah adanya UUD, UU dan aturan lain yang mengatur harmonisasi hubungan antar individu di dalam komunitas besar yang disebut NEGARA. Hal-hal seperti ini yang seringkali dilupakan orang ketika kita membicarakan masalah Demokrasi dan kebebasan.
Kembali kepada bentuk Negara kita yang bukan negara agama, sudah selayaknya setiap individu yang masih ingin tinggal dan menjadi warganegara NKRI, tidak lagi meributkan masalah ini. Kalau sekiranya sudah tidak nyaman dengan bentuk NKRI, ya sudah pindah saja ke nagara lain yang bentuknya sesuai dengan keinginannya sendiri, jangan memaksakan kehendak sendiri.
saya termasuk orang yang percaya bahwa agama adalah jalan hidup bukan sebagai aliran atau jalan politik. Kita bisa melihat bagaimana saat Rasulullah SAW mendirikan masyarakat madinah dan membuat perjanjian dengan komunitas2 beragam yang tertuang dalam piagam madinah, piagam madinah tidak sama sekali berisi pernyataan bahwa madinah merupakan kerajaan, imperium apalagi negara yang berasaskan Islam secara formal, tetapi hanya berisi kesepakatan2 damai agar saling melindungi dan mengayomi.
LEBIH BAIK ANTI PANCASILA DARIPADA ANTI ISLAM
coba kalo g ada AKKBB, JIL dkk pastinya kekerasan di negeri ini berkurang….
@edo
LEBIH BAIK ANTI ISLAM DARI PADA
tidak manusiawi,tidak adil dan tidak beradab
tidak berkeadilan sosial
tidak menjaga persatuan
tidak toleran terhadap umat lain,
merasa benar sendiri
merasa lebih suci
tidak lembut, tidak tawadu
beku.kaku,rigid dan taklid buta
beribadah karena ada pahala
beribadah karena ada iming2 surga
beribadah karena takut neraka
DAN MENDAHULUKAN AGAMA DARI PADA NILAI2 KEMANUSIAAN,.....
yang berfaham anti-Islam is better, taubatlah….
yang mengira negara bersyariat Islam gagal, lihat fakta sejarah, yang bikin gagal adalah pengkhianatan dan konspirasi musuh2 umat Islam.
yang mengira agama is nonsense, ingatlah, agama itu dasar dari semua nilai-kemanusiaan yang berasal dari HIDAYAH TUHAN SEMESTA ALAM, ALLAH SUBHAANAHU WA TA’AALAA. Mari belajar dan amalkan Al-Quran dan Sunnah Rasulullaah Shollallaahu ‘alaihi wa sallam.
1. Pancasila
2. UUD 45
3. NKRI
4. Bhineka Tunggal Ika
masih mimpi jadikan onta sebagai lambang negara?
Pancasila sebagai Dasar NKRI dalam berbangsa dan bernegara, adalah yang terbaik. Al-Qur’an dan Al-Hadits sebagai dasar ibadah bagi umat islam, adalah yang terjamin kebenarannya sepanjang masa. Ilmu pengetahuan dan teknologi, peradaban manusia, kesadaran akan nilai-nilai dan prinsip-prinsip universal terus berkembang. Kita sebagai umat islam, dalam menafsirkan Al-Quran dan Al-Hadits jangan mandeg atau cuma mengafirmasi ulama-ulama jaman baheula. Ayolah, dibutuhkan keberanian, keterbukaan dan akal-pikiran yang jernih untuk mengkaji ulang tafsir Al-Qur’an. ( itupun kalo kita masih mencintai ajaran islam yang universal sepanjang jaman). Jangan Parno (paranoid,red.) atao alergi terhadap hal2 baru, dikit2 bilang sesat, dikit2 bilang kafir, dikit2 bilang murtad. ( itu ucapan sudah basi banget, biasa dipake penguasa sejak jaman daulah-daulah, masih saja latah dipake sampe sekarang). Islam yang damai, santun dan berkembang, itu yang dibutuhkan sekarang.
Komentar Masuk (20)
(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)