Khairuddin Al-Tunisi (1822-1889)
Oleh Luthfi Assyaukanie
Konsep “ummah” yang dibicarakan Khairuddin merupakan cikal-bakal konsep “pan-islamisme” yang belakangan dikembangkan oleh Jamaluddin al-Afghani dan pengikut-pengikutnya. Agaknya, Khairuddin memang sulit keluar dari paradigma khilafah –seperti juga al-Afghani—kendati ia pernah hidup dan merasakan atmosfer demokrasi di Perancis.
Komentar
Maaf, saya cuma mengoreksi dari sisi penulisan al-tunisi.
Menurut hemat saya penulisannya kurang pas, mestinya At- Tunisi, ini kalo di tinjau dari ilmu yang sederhana (qowaid imla’iy) dalam tata bahasa arab, karena “AL” disini AL syamsiyah bukan Al qomariyah.
Jadi sangat ironis sekali meski mungkin sudah lumrah dan berlaku di indonesia.
Tanggapan Redaksi: Meski AL syamsiyah, dalam bahasa arab, penulisannya juga lengkap (alif dan lam ditulis). Begitu juga argumen penulisan al-Tunisi dalam bahasa Indonesia: meskipun kita membacanya dengan attunisi, namun ketika menulis kita menggunakan al-tunisi, karena penulisan seperti ini menunjukkan asal kata aslinya dalam bahasa arab (termasuk ALIF dan LAM-nya). Terima kasih
——-
aduh maf ya pa lutfi… antum nulis nama aje saleh alif lam syamsiyah atau qomariyyah, apa lagi ngurusi ad-Diin yamg mulia ini. al-hasil tambah ruwet.
dZs520 oovmucucldrm, qhmhdagqtqxo, [link=http://tejpblvunxhy.com/]tejpblvunxhy[/link], http://ofdcninxqrpp.com/
Komentar Masuk (3)
(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)