Khawarij Modern
Oleh Ulil Abshar-Abdalla
Dulu, di zaman klasik, ada kelompok Khawarij yang begitu radikal dan mudah sekali mengkafirkan musuh-musuhnya. Kelompok-kelompok Islam modern yang memakai pendekatan teroretis adalah Khawarij modern.
Komentar
Syabas mas ulil,saya begitu bersetuju,walau ringkas saja luahan hati mas.Saya rasa kita yang ingin langsung perbuatan terror ini berakhir dan percaya ianya dapat dilakukan dengan pencerahan,harus tetap konsisten dan menerangkan kepada orang-orang ini, muslim yang saleh ini bahwa pentafsiran bukan langsung dari Al-Quran tetapi hanya dari konstruksi pentafsiran orang lain yang sebagai contoh almarhum sayyid Qutb.Nah pejuang as-salamah dan pencerahan mari kita bergulat dengan pemikiran yang sekarang ini hanya merugikan islam sebagai agama pendamaian.
Sejarah timbulnya Khawarij dalam sejarah tidaklah berdiri sendiri, ibarat tidak ada api tanpa asap. Mereka adalah sebagian para sahabat Nabi yang hafal Al-Qur’an dengan pemahaman versi mereka. Pun kita fahami bahwa intepretasi sebagian saudara kita yang menurut Ulil Abshar Abdalla, Khawarij Modern tidaklah salah ketika mereka memahami Al-Qur’an sebatas pemahaman mereka. Namun lebih kritis lagi bahwa Khawarij di jaman klasik yang mereka anggap musuh dan kafir adalah kaum muslim sendiri yang mengambil jalan sendiri ketika melihat menyelewengan Islam menurut mereka.
Sedangkan kita fahami bahwa para pelaku tindak kekerasan di era kini, yang mereka musuhi adalah jelas kaum kafir yang memusuhi umat Islam (menurut mereka).
Pondok Pesantren tradisional (seperti yang pernah saya alami) dalam literatur yang diajarkan, akan kita dapatkan pemahaman kafir harbi dan kafir yang harus dilindungi. Nah, secara tidak langsung pun di Pondok pesantren, ditumbuhkan pemahaman Khawarij, yang menurut saya khawarij konservatif. Namun dalam batas wacana.
Sedang kelompok-kelompok dengan pemahaman memerangi orang kafir secara action adalah khawarij radikal.
Terima kasih atas artikel Khawarij Modern anda. Saya,yang bukan Islam,selalu berbesar hati membaca tulisan2 di Islam Liberal umumnya,dan tulisan2 anda khususnya. Saya juga tambah yakin orang-orang yang mengaku Islam,tapi perbuatan mereka bertentangan dengan Islam - misalnya,pelaku-pelaku pemboman Bali dan Jakarta- merupakan kaum minoritas saja di Indonesia.Meski bukan Islam,mayoritas teman-teman dan saudara-saudara saya adalah muslim yang baik.
Angkat topi untuk anda dan JIL !
wassalam
Sewaktu era perang dingin musuh AS adalah Komunis(Pakta warsawa), Osama bin Laden cs adalah sahabat CIA dalam memerangi Uni Soviet di Afghanistan. Setelah keruntuhan blok Komunis dan juga berdasarkan tesis Samuel Huntington AS berbalik berbenturan dengan Islam dengan dalih memerangi terorisme, sehingga mereka yang dahulu teman menjadi lawan. Terlebih lagi dengan sikap standar ganda AS dalam politik luar negerinya, yaitu dengan selalu membela Israel yang membunuhi, mengusir, menghancurkan rumah orang Palestina serta jelas jelas melanggar hukum internasional yaitu resolusi PBB.
Hal-hal inilah yang menimbulkan militansi umat untuk memerangi AS dan sekutunya. Militansi mereka secara umum didasarkan oleh pemandangan yang terjadi didunia adalah ketidakadilan yang diderita oleh saudaranya di Palestina Afghanistan, Irak, Kashmir, Checnya, Bosnia, Moro dll. Sebagaimana disinyalir banyak pihak bahwa master mind dari semua aneksasi AS terhadap negara2 Timteng adalah perselingkuhan antara Tel Aviv dan Gedung Putih yang dimulai dengan penyerbuan Israel ke Palestina, sementara Israel melanggar resolusi PBB dengan tameng veto AS.
Karena merasa dilindungi oleh veto AS “kekurang ajaran” mereka menjadi jadi dengan mencari cari alasan mencaplok Irak, yang hingga kini tidak terbukti memiliki WMD.
Kita semua bisa melihat betapa menderitanya negara yang diinvasi, diembargo oleh Israel besar yaitu AS.
Mungkin dengan sedikit sumbang pikiran ini dapat meluaskan pandangan kita agar menjadi fair dan percaya bahwa seradikal apapun orang jika diperlakukan secara adil tidak akan terjadi konflik, sehingga kita mau mempercayai bahwa menumpas terorisme adalah sangat dimungkinkan dengan cara menghentikan ketidakadilan seperti yang dilakukan negara2 besar seperti AS dan Israel. (Semut pun akan menggigit jika diinjak)
sungguh mudah kita mengatakan introspeksi !! artinya kita harus berani mengakui kekurangan kita bahwa kita mempunyai borok yang selama ini melekat yang mungkin juga sangat disadari. tapi aduh, benarkah itu kita akui, apalagi mereka yang melakukan teror yang berhasil membantai ratusan, ribuan orang tak berdosa, akan sangat bangga telah berhasil menghancurkan “musuh-musuh” tuhan sesuai dengan keyakinannya. pencerahan memang sangat perlu, tapi aapakah hal ini akan mampu menghilangkan minimal mengurangi para pelaku teror ?? apakah ada tindakan lain yang lebih efektif ???
Saya pikir umat Islam sekarang ini adalah produk dari pandangan Islam tradisi dan ide totalitarian terhadap sunnah nabi. Jika metode pembelajaran dikuak lebih dalam, saya pikir umat akan menjadi lebih dinamis. Rasanya perlu dibedah lebih dalam bahwa kultur dan tradisi Arab terlalu berpengaruh dan menjadi patokan dasar dalam beragama sehingga bisa dibilang masa depan Islam adalah produk dari masa lalu.
Di pihak lain, ide totalitarian yang dikembangkan dengan menekan fungsi akal dan temuan ilmu pengetahuan baru dan mengembalikan kepada semua sumber-sumber hukum menjadi kontra produktif. Harapan saya, JIL bisa ikut serta membedah konsep agama yang bersifat tradisi menjadi agama yang terbuka dan dinamis tanpa melupakan nilai-nilai universal yang secara implisit telah dituangkan dalam teks keagamaan klasik.
salam Adi
Sungguh suatu langkah mundur kalau kita mencontoh gerakan Khawarij,yg cenderung tertutup dan senantiasa menyalahkan pihak-pihak yg cenderung berfikiran lain dr kecenderungan utama pada saat itu apalagi ditambah dg komentar yg menghalalkan darah sesama muslim. Pikiran manusia tdk bisa dihakimi, suatu ijtihad meskipun salah lebih utama dari sikap diam dan saling menghujat.Masyarakat Islam Indonesia harus didewasakan dg diskursus-diskursus sehat yg memacu ide-ide baru pengembangan fiqh. Kita tdk dapat senantiasa menganggap masyarakat bodoh dan tak dapat menerima perbedaan pendapat.
“Teror bermula dari kepala, turun ke tangan, dan jatuh di bumi. Ada orang-orang yang membayangkan bahwa seluruh dunia memusuhi dirinya, dan karena itu ia harus membangun benteng, melindungi diri dari serangan. Itulah yang disebut dengan siege mentality, mentalitas bertahan karena merasa dikepung oleh ancaman dari kiri kanan. Dalam keadaan seperti itu, bahasa kemarahan akan tampak lebih menonjol. Sikap bersahabat kepada yang “lain” akan dianggap sebagai kelemahan, kelembekan, karena itu haruslah dijauhi.”
Secara jujur pasti kita tahu siapa saja yang menderita siege mentality yaitu : Israel yang baru2 ini membeli beribu ribu bom pintar dari AS, George Bush yang gila menyerang negara lain, John Howard yang ingin menginvasi ASEAN dengan alasan premptivenya. Semuanya itu adalah karena ketakutan bahaya serangan teroris atau pengembangan reaktor nuklir oleh negara Timteng dan Korut. Padahal secara logika mungkinkah angkatan udara Saddam Hussein, Iran, Suriah menyerang AS, Australia, Inggris ? Yang sangat dimungkinkan adalah hanya Irak menyerang Israel itupun sewaktu persenjataan Irak masih lengkap.
Ketika seorang Yusuf Islam (Cat Steven) menyumbangkan uangnya kepada anak2 Palestina yang menderita dianggap sebagai penyokong terorisme oleh AS dan Israel bahkan beliau diusir dan dikucilkan ketika berkunjung ke Israel dan AS. Bukanlah hal yang tidak mungkin oleh pihak2 yang merasa dirinya “moderat”, orang seperti Yusuf Islam dianggap juga radikal/fundamentalis/ekstrimis hanya karena simpati dan menolong anak2 Palestina yang menderita.
Akibatnya pihak2 yang sependapat dengan Yusuf Islam dsb (atau yang dicap “radikal”) kecewa terhadap kelompok yang mengaku “moderat” karena bermesraan dengan AS, Israel dan sekutunya hanya karena kucuran dana jutaan/miliaran dollar mereka tega melihat saudaranya dibombardir, dibantai, dibunuh, diusir, diperkosa, dijajah sehingga mereka bisa dicap penghianat agama bahkan yang paling keras adalah dituduh kafir.
Pertanyaannya sekarang adalah dimana otoritas kita sehingga berhak hanya melabelkan beberapa pihak saja yang radikal/teroris/ekstrimis sementara ketidakadilan dilakukan juga oleh pihak2 yang mengaku beradab. Sebagaimana diketahui korban bom Bali, Marriot, Kuningan adalah sipil dan pelakunya dianggap teroris, sementara korban pemboman pesawat tempur AS/Israel di Irak, Afganistan, Palestina pun juga adalah sipil tetapi pelakunya tidak dianggap teroris.
Pantaskah kita menyebut Diponegoro Ekstrimis/teroris ?? Sementara kita tidak bisa mengatakan Westerling teroris !
Menjadi radikal/fundamentalis yang berarti berpegang teguh kepada agamanya secara teguh/saklek bukanlah kesalahan. Begitupun sebaliknya jika ada pihak pihak yang ingin mengeliminir kewajiban dirinya thd Tuhan bukanlah kesalahan terhadap pihak lain karena hal itu adalah menjadi tanggungjawabnya sendiri.
Sekali lagi seradikal apapun manusia, sefundamentalis apapun orang dalam beragama jika diperlakukan adil baik oleh “musuhnya” ataupun saudara seimannya yang mengaku “moderat” tidak akan menyerang/ofensif.
Sifat yang tidak terpuji adalah orang yang diam saja ketika Saudaranya dizalimi oleh pihak lain dan bahkan turut serta menjadi kakitangannya.
Islam memang merupakan agama kedamaian, sesuai dengan makna etimologinya yang berarti kedamaian dan keselamatan. Islam sebagai agama kedamaian karena ajaran islam mengandung keadilan dan membenci kezaliman walaupun terhadap orang kafir. Tapi, sebagai agama Allah yang memiliki maruah, maka keluarlah perintah jihad. Makna al-Qur’an yang pleksibel, jihad zaman sekarang berarti membangun Islam dan negara menjadi negara al-madany. Namun bagi negara yang dizalimi atau negara yang diinvasi seperti palestina, afganistan dan iraq, atau negara yang diinbargo oleh amerika, maka jihad membela negara boleh diartikan perang atau fisabilillah. Kita sesama Islam tidak berhak mengatakan mereka sebagai teroris yang memburukkan Islam, semestinya kita hargai mereka dengan mujahid, sambil mengutuk Amerika. Biarlah dunia menilai dan pasti akan menyadari bahwa amerika dan israillah yang patut digelar dengan teroris dunia bukan para mujahid (sebagaimana jejak pendapat di Eropa).
Assalamualaikum.wr wb Dengan kerendahan hati saya coba menanggapi, saya melihat tidak sepenuhnya kejadian itu kesalahan dari pihak Islam + masyarakat Islam baik kelompok maupun individunya, dari sejarah jika dulu ada salah satu dari berbagai aliran spt khawarij… itu berbeda dengan ruang dan waktu saat ini, jika tidak keliru, pergerakan saat itu kalau boleh mencoba mengutip dari tulisan karen amstrong bahwa pegerakan saat itu murni memurnikan al-Quraan artinya pergerakan yang terjadi karena adanya semangat qur’ani untuk mewujudkan tatanan masyarakat sesuai dg konteks zaman kondisi itu tejadi murni dari pegulatan dari dalam komunitas islam sendiri. kondisi saat ini tentu berbeda jika dilihat bahwa munculnya fenomena islam yang “negatif” sudah dari abad pertengahan terkait masalah kepentingan dari luar islam, apakah kepentingan politis ,teologi, keturunan, kultur apapun itu yang jelas kepentingan yang tidak suka keberadaan islam sebagai agama ada di permukaan bumi. ada sebuah pepatah” cacing di iinjak pasti menggeliat” ...“menggeliatnya apa karena kesakitan, ingin kebebasan, tidak suka di intimidasi, karena tak berdaya, bersyukur karena ditindas, bahagia karena akan meninggalkan dunia fana….entah lah karena saya bukan cacing..yang jelas ada gerakan-gerakan… gerakan muncul karena sebab akibat… jika dilihat dari kodisi diatas sudah cukup jelas bahwa kondisi islam saat ini memang dikondisikan dan diposisikan menjadi kambing congek dan kambing hitam
oke kita mengatakan bahwa umat islam saat ini sedang dihujat oleh banyak munculnya terrorisme dan berbagai macam kerusuhan.sehingga muncul asumsi asumsi yang kurang sedap yang beredar diberbagai kalangan.Tentang munculnya istilah khowarij modern sebenarnya saya sependapat dengan statement tersebut. cuma saya kira tidak terlalu mengarah ke radikalisme seperti yang telah dikemukakan oleh saudara ulil.adanya kelompok kelompok teroris itu adalah bertujuan untuk mengkambing hitamkaan umat islam. dan bisa jadi semua ini didalangi oleh sekelompok orang orang kafir ( Yahudi&Nasrani) untuk menghancurkan islam dengan meminjam islam itu sendiri.
saya kira siapapun bisa menafsirkan agama, juga sayyid qutb. kita liberal saja. siapa yang bisa menafsirkan agama silakan saja. islam bukan hanya milik kita. osamah juga berhak memiliki islam. islam tidak diturunkan untuk ihsan, untuk ulil, utuk osamah, untuk sayyid quthub saja, tetapi untuk sipun yang meyakininya sebagai kebenarn. klu kita menyalhkan osama, menuduhnya khawarij, menyalhkan saayid qutb yg salh menafsirkan jihad, sesungguhnya kita juga khawarij. bebaskan osama menafsirkan agama, bebaskan sayyid quthb menafsirkan agama, seperti bebasnya amerika menafsirkan deokrasi, bebasnya australia menuduh indionesia, bebasnya perancis melarang jilbab. kita sekarang sudah bebas, jangan mengikat diri dengan menuduh orang lain. menuduh orang lain salah memahmi agma, dengan sendirinya kita mengkhawarijkan diri kita sendiri.
Sekedar Intermeso : Suatu hari seekor gajah(baca “Amerika”) dengan pongahnya menginjak-injak sarang semut (baca “umat muslim”) hampir di seluruh muka bumi, nah di antara komunitas semut, tentu ada yang mengambil peran sebagai semut prajurit, yang merasa sesama semut bersaudara, jika semut di Irak mati di injak-injak gajah, maka semut yang lain, namanya juga semut yang kecil, mencoba menggigit kaki gajah (baca kedubes Australia), hanya itulah yang mereka mampu, ada juga yang berhasil menggigit kuping gajah (baca gedung WTC), hanya Itulah kemampuan semut-semut yang mengambil peran sebagai semut prajurit. Yang mengheraankan, diantara komunitas semut tersebut, ada yang berperan menjadi pengamat semut, yang justru menjelek-jelekan semut prajurit tersebut, siapa hayo? yang merasa aja dech hehehehehehe
)
Mas, menurut penilaian saya, Anda juga masuk golongan kaum khawarij, kok, alasanya, Anda menyalahkan begitu saja orang islam yang melakukan kekerasan terhadap AS dan Antek anteknya, tanpa melihat akar permasalahannya mengapa melakukan itu, cuma kekerasan yang mas ulil lakukan hanyalah melalui tulisan, jadi gak kelihatan kekerasannya, tapi harus Anda ingat “Lidah/pena lebih tajam dan lebih kejam daripada pedang, hati-hati lho “, Supaya Anda nggak kaget, kalau suatu saat Anda bangun tidur, tau-tau sudah berada di neraka bersama kelompok pemfitnah, karena fitnah lebih kejam dari pembunuhan, ya sekedar menakuti Anda, kalau takut ya syukur, kalau nggak ya emang gue pikirin hehehehehehe
), [ Gusti Alloh Mboten Sare ]
Apa benar orang yang membuat tindakan teror itu adalah orang Islam atau orang yang mengaku Islam, karena segala bentuk kejadian bisa direkayasa, Islam sama sekali tidak mempunyai borok & karena Islam adalah agama yang rahmatan lil alamin. Untuk masalah kafir, orang bukan Islam adalah orang kafir, hal itu sudah sangat jelas termaktub di dalam Al Qur’an sedangkan dsalam Islam sendiri banyak yang kafir karena tidak manjalankan Islam sesuai syariat (Al qur’an & sunnah). Mengenai tindakan yang dianggap teror harus dapat dilihat apa yang melatarbelakanginya, yaitu rasa ketidakpuasan terhadap arogansi barat yang terus menerus menganiaya Islam dengan berbagai daya & upaya.
bismillah, kepada semuanya, yang terhormat sebelum lebih lanjut menanggapi, barangkali perlu kit merenung, bahwa apa saja yg dimiliki manusia, potensi, anugerah, nikmat dan apa saja, pasti akan dipertanggungjawabkan. termasuk apa yg terdetik dalam hati. karena itu, dalam berpendapat, terutama tentang agama, harus senantiasa dilandasi ilmu. bila semua berhak berbicara dan menafsirkan ajaran agama semau gue, maka sama juga dg tdk bertanggung jawab. Karenanya, dalam agama Islam, ada yg namanya ijtihad yg hanya boleh dilakukan oleh orang yg telah memiliki kapasitas keilmuan cukup. kalau untuk memahami alquran saja masih butuh terjemah, gimana mau berijtihad tentang kandngan alquran. karena itu, sekali lagi, ilmu yg paling utama. terima kasih
Saya pikir kekerasan itu terjadi secara merata, bukan di kalangan Islam saja. Kekerasan dengan menganggap manusia lain sebagai kecoak yang dapat dibunuh kapan saja sesungguhnya tidak mesti dianalisis dengan pendekatan aliran keagamaan. Itu merupakan gejala global tentang adanya “barbarianisne” manusia. Kalau dikaji secara utuh, tak satupun ajaran agama yang memberikan justifikasi untuk menyerang atau merusak hubungan kemanusiaan, meskipun juga ada ajaran untuk melawan suatu serangan (kalau ini alamiah. Meski tidak diajari maka manusia mempunyai naluri mempertahankan diri).
Yang membuat manusia tega membunuh atau menyiksa orang lain adalah karena pemikiran adanya keinginan untuk unggul, merasa paling benar serta kepentingan-kepentingan politik, ekonomi. Lalu semuanya itu tidak lupa menunggangi agama, sehingga seolah-olah agama memberikan justifikasi.
Khawarij pada awalnya juga muncul karena pertikaian politik, pada persoalan kekhalifahan.
Orang Islam mengkafirkan muslim lainnya atau penganut agama lainnya tidak menjadi soal. Saya tidak menyesal jika orang kristen mengatakan saya kafir. Itu wajar. Hanya saja, bahwa kekafiran itu sesungguhnya bukanlah menjadi alasan untuk merendahkan orang lain.
Orang atheis pun kalau watak dasarnya baik maka tidak akan mempunyai niat meremehkan orang lain.
Kalau kita mencoba menyelinap di balik sejarah Islam masa lampau (The Ancient History of Islam), kita akan menemukan sebab yang berbeda antara munculnya kaum khawarij zaman dulu dengan sebagian umat Islam yang dianggap sebagai khawarij modern, saat ini. Khawarij klasik (baca: khawarij zaman dulu) timbul disaat terjadi pertempuran antara tentara Muslim dengan tentara kafir. Alkisah, ada salah seorang tentara kafir yang sudah tidak berdaya, dia berada dalam genggaman kaum muslim, sehigga kalau sedikit saja dia melawan, pastilah batang lehernya terpisah dari wadag urip, tertebas pedang tentara Islam. Dalam keadaan terjepit seperti itu, orang kafir tersebut menyatakan diri masuk Islam, dengan harapan dapat memperoleh kompensasi hidup dari tentara Islam. Namun, apa hendak dikata, ternyata salah seorang tentara Islam tidak menerima tasyahud orang kafir tersebut, karena dia merasa kalau itu hanyalah alibi dari orang kafir itu untuk tetap hidup. Diapun mengayunkan pedangnya ke leher orang kafir itu, terbubuhlah dia.
Melihat kejadian itu, salah seorang sahabat melapor kepada Rasul dan menceritakan apa yang telah terjadi kepada beliau. Kemudian Rasul bersabda kepada orang yang telah membunuh si kafir tadi, “Sesungguhnya yang kamu tahu adalah yang lahir saja, adapun urusan hati adalah milik Allah.”
Bertolak dari peristiwa itulah, muncul terminologi ‘Khawarij’ dalam Islam, yang berarti golongan yang keluar. Sebenarnya terminologi khawarij ini merupakan produk muarrikhin, bukan murni dari Rasul. Sehingga, menurut penulis, hal itu masih sarat subjektifitas. Plus, tidak ada keterangan eksplisit dari al-Qur’an dan al-Hadits yang menjadi dalil bagi kita untuk mengklaim bahwa khawarij itu jelek. Yang perlu digaris bawahi adalah bahwa golongan khawarij tidak semudah itu mengecap seseorang kafir. Mereka masih menggunakan parameter yang secara skriptualis terdapat dalam al-Qur’an dan al-Hadits. Jadi, mereka tidak asal tuding, orang ini kafir, orang itu kafir. Karena kalau kita lihat sejarah munculnya Khawarij seperti yang dibahas di atas, founding father Khawarij tidak ingin ada kemunafikan seseorang dalam beragama, beragama hanya untuk kepentingan diri dan dunianya saja, tidak ada hubungan transpersonal yang tulus dengan Tuhannya.
Argumen saudara Ulil lebih tidak relevan,saat dia menengarai bahwa aksi teror yang dilakukan oleh sebagian umat Islam sebagai gejala munculnya Khawarij modern. Dalam pandangan penulis Khawarij merupakan khazanah ideologi dalam Islam. Secara srukturalis religius, tidak ada beda antara Khawarij dengan aliran-aliran teologi yang lain, termasuk ahlus sunnah wal jama’ah. Perbedaan aliran-aliran semacam ini hanyalah terletak pada metodologi-teologis masing-masing. Satu sama lain harus mengakui dan menghargai itu sebagai salah satu khazanah teologis Islam.
Tentang aksi teror yang belakangan marak, penulis lebih cenderung mengamatinya sebagai gejala sosial yang lazim. Mengapa lazim? Karena aksi teror tersebut lebih mengarah kepada reaksi umat Islam terhadap perlakuan keji negara-negara Barat, terutama Amerika Serikat yang selama ini terus berusaha melenyapkan Islam. Mengapa harus menggunakan teror? disaat upaya-upaya diplomatis tak lagi dapat diandalkan, maka hal itu dapat menjadi salah satu alternatif. Kita semua tahu hampir seratus persen pemerintah negara di dunia ini mendukung dan takut terhadap hegemoni Barat, sehingga upaya-upaya diplomatis-persuasif tidak mungkin direspon.
Oleh karena itu, kurang tepat kiranya, jika aksi teror yang marak belakangan ini dipersamakan dengan Khawarij. Karena Khawarij lebih menekankan pada masalah kemurnian teologis, sedangkan aksi teror saat ini merupakan reaksi atas kesewenang-wenangan co-rezim yang tiran. Meskipun secara lahiriah tampak sama-sama radikal, namun keradikalan Khawarij mengacu pada niat suci untuk mentauhidkan Allah. Dan, keradikalan Khawarij terarah pada orang yang patut diperlakukan secara radikal serta melalui pertimbangan syar’i. Lain halnya dengan aksi teror yang belakangan marak, adakalanya mereka salah menentukan target, sehingga orang-orang yang tidak bersalahpun menjadi korban. Padahal Islam sangat mengecam radikalisme yang tidak pada tempatnya. Sehingga para pelaku teror, hendaknya mereorientasi arah gerakan mereka. Dengan demikian kesalahan operasional dapat dinafikan.
Membaca tulisan, pandangan dan pemikiran Ulil Abshar Abdalla saya merasa tidak ada sesuatu yang baru. Alur pemikiran beliau selalu pada kesimpulan bahwa cara berislam orang-orang yang ingin berpegang teguh dan komitmen dengan nilai-nilai Islam yang benar dan murni dianggap salah, dan yang benar adalah yang sesuai dengan pandangan pemikiran yang beliau bawa dan promosikan. Beliau sangat mudah mengeneralisir bahwa aksi teror dan kekerasan serta sikap ekseklusif pasti identik dengan orang-orang Islam yang sholeh. Beliau mungkin lupa, bahwa banyak teror juga dilakukan oleh Non Muslim. Bagi saya, keresahan yang dirasakan oleh Ulil yang terungkap dalam tulisan-tulisannya tidak lebih merupakan gambaran sebuah penyakit yang disebut dengan Inhizamun Nafs, merasa kalah dan rendah diri sebagai seorang Muslim, serta terkagum-kagum di hadapan pemikiran Barat. Wallahu a’lamu bishshowab.
Saya sangat setuju dengan Ulil… ![]()
——-
Komentar Masuk (24)
(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)